"Sumpah lo malu-maluin banget, jijik gue liatnya." cibir Jaehan yang masih berdiri mengosongkan kandung kemihnya.
Manusia laknat itu sedari tadi mencibir marah karena Justin yang hanya melongo saat diajak ngobrol sama tante, berakhirlah para tante meminta mereka pergi saja. Dikiranya Justin adalah anak polos yang takut main sama tante, alasannya tak mau merusak moral anak polos.
Padahal Jaehan kan mau kenal lebih dekat dengan tante, ahh... kata Justin sih gadis manis, tapi Jaehan penasaran, kenapa gadis manis main sama tante-tante? Dan lagi, sepertinya gadis manis itu adalah ketua dari tante-tante, terbukti dari semua yang gadis manis itu ucapkan, akan disetujui oleh semua tante.
Masa bodoh, Jaehan setuju saja dengan sebutan gadis manis, karena memang benar adanya. Manisnya mengalahkan primadona kampus yang kini sudah tak ada apa-apanya lagi dibandingkan gadis manis.
"Ya sorry, gue terlalu speechless aja liat gadis manis tadi."
"Lah, sejak kapan lo suka daun muda anying? Bukannya lo suka wanita dewasa?"
Jaehan mendekat ke wastafel dengan alis terangkat heran.
Dengan mendesis kesal Justin menuntaskan aksi mengeringkan tangannya.
"Lah lo juga katanya nggak minat sama Tante, ngapain tadi ikut gabung?"
Keduanya saling menatap tajam lewat cermin besar di hadapannya, pertama kalinya untuk mereka bertengkar dan berebut wanita, walau mungkin sebenarnya tak ada keseriusan dalam perengkaran mereka.
Selama ini selera mereka sangat berbeda, jika Justin suka wanita dewasa, Jaehan malah suka wanita polos yang imut dan manja. Terbukti Jaehan yang suka pada primadona kampus yang selalu berlaku imut di hadapan masyarakat. Kalau Justin malah jijik, cuma karena Jaehan sudah terlanjur bucin, jadi susah membedakan mana bibit unggul, mana remahan rengginang.
Sebenernya keduanya bersyukur saja, jika selera mereka berbeda, setidaknya akan kecil kemungkinannya untuk berebut. Tapi kenapa sekarang malah jadi mau semua sama gadis manis sih?
"Udah lah buruan keluar yuk, balik lagi sama Tante, boleh juga main sama Tante, siapa tau bisa jajanin."
"Yakin? Kalau Tante minta bobo bareng lo mau?" Justin tertawa mengejek begitu wajah Jaehan tampak kaget, matanya membelalak ngeri.
"Heh, lo udah pernah main bobo-boboan sama tante-tante lo yang sebelumnya ya?"
Justin menggeleng menyesal, niatnya melontarkan pukulan tajam, balasannya malah skak mati yang tak bisa ditangkis. Berakhirlah Jaehan yang terus mengejek Justin yang dibilang suka bobo sama tante.
Sudahlah bodo amat, pusing Justin kalau harus meladeni manusia kardus macam Jaehan.
***
Sudah 4 hari berselang, Justin dan Jaehan tak absen mengunjungi cafe tempat para tante nongkrong untuk arisan, tapi sayang sungguh sayang. Walau keduanya nongkrongin cafe sampai menjelang malam, para tante ataupun gadis manis tak tampak batang hidungnya, kemana mereka gerangan?
Menyesal rasanya, Justin sudah seperti orang bodoh kala itu, karena imbasnya ia maupun Jaehan belum mengetahui nama gadis manis, tidak dengan nama, tidak dengan nomor telepon, sial amat sial.
"Pokoknya ini salah lo, siapa suruh cenggo macam orang i***t, Tante jadi nggak mau main sama kita kan!"
Sedari tadi Jaehan mengomel tanpa henti, sejak terakhir kali mereka keluar dari kamar kecil, gerombolan tante sudah tak ada jejaknya, mereka pergi sebelum keduanya kembali nimbrung. Bahkan sampai sekarang pun sosok para tante dan gadis manis tak diketahui keberadaannya, kemana mereka harus mencari?
"Salahin aja terosss!" dumel Justin kesal, "udah balik aja lah gue"
Rasanya terbebani, sudah 4 hari mereka menunggu kehadiran gerombolan arisan, dan sudah 4 hari pula Jaehan marah-marah tak jelas. Ini manusia sejak kapan sih mulai berani marah-marah pada Justin? Lupa siapa yang memberi asupan makanan bergizi?
Apa dikira cuma dirinya saja yang kecewa? Justin juga kecewa! Sejak kapan dirinya melempem dihadapan wanita dewasa? Biasanya kan Justin jadi bad boy yang digilai wanita dewasa. Apa begini sifat asli Justin jika menyukai seorang anak gadis? Jadi sosok pendiam dan pemalu? Menarik juga.
Efek gadis manis sugguh besar, pokonya Justin harus terus mencarinya!
"Ya gue ikut sat, b*****t, kita kesini kan naik mobil lo!" dengus Jaehan seraya menyeruput habis sisa kopinya, untuk anak rantau sayang menyisakan minuman, harus dihabiskan, biar tid mubazir.
Alasan saja terus! Jaehan kan memang pelit, fakir dan anak udik. Begitulah ejekan Justin padanya. Keduanya sudah tak saling sakit hati lagi walau berbalas hinaan, buat apa sakit hati? Walau sudah ngamuk dan maaf-maafan pun bakal tetep saling hina lagi kok.
"Lo kalau mau berhenti nyalain lampu rem kek, main berenti aja!" dumel Jaehan yang kesal karena menabrak punggung kokoh Justin yang sekeras pohon.
Justin masih diam, dan membuat Jaehan mengikuti arah pandangnya.
"Lah, si Yeni tuh?" celetuk Jaehan. "Sama gadis manis!" Tambahnya.
Jaehan kembali menengok kearah wanita bernama Yeni, benar saja Yeni sedang berdiri di dekat sebuah mobil dengan gadis manis. Mereka saling melambaikan tangan, dan si gadis manis memasuki mobil itu.
Sontak Justin berlari kearah mobilnya, di belakangnya jaehan membuntuti tak mau ditinggal.
"Lo mending sini aja, tanya sama Yeni ada hubungan apa dia sama gadis manis!"
Justin mendadak menghentikan langkahnya lagi, Jaehan yang tak berancang-ancangpun nyaris menabrak Justin lagi, namun keningnya langsung ditonyor oleh Justin. Memang ini lelaki satu tak ada hormat-hormatnya pada sesama teman, rasanya Jaehan sudah siap membuka mulut untuk mengumpat, namun si Justin sudah melesak kedalam mobilnya dan membunyikan kalakson berpamitan.
"Emang kampret sialan itu bocah!"
Akhirnya Jaehan pasrah dan melakukan perintah Justin dengan patuh, mengikuti dan menemui Yeni bucinnya Justin Flitz. Siapa tahu dari Yeni, Jaehan bisa mengetahui nama gadis manis, syukur-syukur dapat nomornya.
***
"Ngapain lo nanyain dia?"
Selidik wanita bernama Yeni, matanya memicing menelisik, kedua lengannya bersidekap terlipat rapi dan menantang di depan d**a.
"Ya mau kenal aja Yen, elah!"
"Lo jangan macem-macem ya, Gue nggak mau kasih tau!"
Jaehan mendengus kesal, dirinya dan Yeni memang tak pernah akur, bagaimana mau akur? Yeni selalu jijik menatapnya, karena tatapan jijik itulah Jaehan kadang minder dan tak mau mendekat. Tak tahu juga Yeni benci dan jijik karena apa, dia tidak tahu alasannya, sadar diri dan langsung jaga jarak saja. Kecuali Yeni yang ada maunya dan mulai mendekat dulu, tentu untuk menanyakan info tentang Justin. Apa lagi kegunaan dari lelaki jelata macan Jaehan di mata Yeni? Tak ada, hanya sebagai alat untuk menjembatani antara dirinya dan Justin saja. Nasib ya nasib.
Mau tak mau Jaehan harus memutar otak, Yeni memang bukan lawan yang mudah ditaklukkan, walau tak berhubungan dengannya pun, wanita jutek itu tak suka memberi informasi cuma-cuma pada orang yang tak disukainya, terutama Jaehan.
"Tuker informasi aja gimana? Lo nggak penasaran tentang Justin?"
Jaehan menyeringai bangga, di sebrang sana Yeni tampak berbinar, walau gayanya masih angkuh seperti awal, namun matanya tak bisa berbohong. Orang ini memang sudah bucin akut pada Justin.
"Heh Udin! Emang lo punya info apa?" ucapnya ponggah.
Jaehan menghela nafas kesal, enak saja panggil-panggil Udin! Walau namanya memang memiliki konsonan kata Udin, tapi ia kan sudah mempatenkan nama Jaehan sebagai nama panggilannya, enak saja main ubah-ubah!
"Ni sebenernya gue mau marah ya lo panggil gue gitu, tapi gue maafin asal lo ngasih info tentang cewe tadi!"
Yeni tertawa garing, setelahnya tangannya terulur menyentil jakut Jaehan yang hendak berucap. Berakhirlah lelaki itu tersedak dan terbatuk dengan mata membelalak kesal.
"Jangan main-main lo sama gue, buruan ngomong!" Ancam Yeni penuh penekanan.
Ingin rasanya Jaehan menguliti nenek sihir cebol di hadapannya, namun peran wanita ini di kampus cukup menyeramkan. Tantenya adalah ketua yayasan, salah-salah surat DO bisa dikirim kerumah orang tuanya, bisa jantungan Bapak sama Mamaknya di kampung.
Lagi-lagi Jaehan menahan amarah saat Yeni menjambak rambut Jaehan anarki, Yeni memang wanita bar-bar dan suka cari perhatian, itulah kenapa Justin amat sangat tak suka dengan Yeni. Ngomong-ngomong soal Justin, andai dia di sini, tidak mungkin Yeni menampilkan taringnya, dan tak mungkin pula Jaehan akan menerima perlakuan bar-bar Yeni.
"Iya, iya gue bilang! Lepas dulu ini dong... akkhhhh..." ringis Jaehan pasrah.
Rasanya perih-perih ngilu kulit kepalanya saat ini. Sia-sia rasanya rambutnya diberi perawatan shampo mahal yang diirit-irit, dan kalau habis diisi ulang dengan air keran.
"Buruan!"
Dengan mengusap kepalanya halus Jaehan memicing benci pada Yeni, mau tak mau ia harus memberi umpan besar agar Yeni mau membuka mulutnya. Dan bammm putri duyung impiannya akan berada dipelukan saat Yeni sudah memberi info besar.
"Justin udah putus sama pacarnya."
"Beneran?!"
Seketika raut judes Yeni sirna, matanya berbinar penuh minat, bahkan kedua tangannya mengenggam erat tangan Jaehan. Hingga lelaki itu meringis kesakitan karena kuku-kuku panjang Yeni yang menusuk kulit tangannya.
"Seneng sih boleh aja, tapi jangan remes tangan orang dong, remes yang lain kek!" Sinis Jaehan seraya menarik paksa tangannya.
"Najis!"
Yeni masih tersenyum bahagia, Jaehan yakin betul, di dalam benaknya, wanita itu pasti sedang merancang rencana untuk kembali mendapatkan Justin yang kini sedang jomblo.
'Maaf Justin, gue harus menjadikan lo umpan, selamat menikmati siksaan ikan piranha.'
"Jadi, kasih gue info cewe itu dong!"
Yeni memutar bola matanya malas, berdehem dan membenarkan posisi duduknya.
"Namanya Rose, Roseanne."
Hening, keduanya diam, bahkan Jaehan kini mengedipkan matanya lugu. Sedang Yeni menatap kesal pada Jaehan yang diam saja. Mulut Jaehan terbuka siap memberi respon untuk info lainnya, namun Yeni hanya diam memicing sadis.
"Terus?"
"Ya udah, namanya Rose, kan gue udah kasih tahu!"
Kampret... geregetan rasanya ingin meremas-remas otak si Yeni, info apa ini? Hanya nama? Dikira nama Rose cuma satu di dunia ini? Kalau hanya nama saja sih Jaehan bisa mengarang dan menamai sendiri si gadis manis!
"Ya kasih info lebih dong, nomor telepon kek, alamat kek, status kek, lo gitu ya, gue kasih info kelas kakap, lo kasih info kelas ebi!"
Baru saja Yeni hendak membuka mulut, yang Jaehan yakini siap mengumpat, namun tiba-tiba raut wanita itu berubah berbinar. Mau tak mau Jaehan menoleh untuk mengikuti arah pandang wanita bar-bar itu. Pantas saja, si pangeran Justin datang.
"Justin~" lirih Yeni dengan gaya centilnya.
Kalau gini sih bukan hanya Justin, Jaehan juga siap muntah karena geli dan jijik.
***
"Jadi lo tau alamatnya?"
Justin mengangguk tak yakin, namun sepersekian detik setelahnya menggeleng. Maunya ini anak apa? Macam anak perawan yang disunting lelaki tak dikenal saja, plin-plan!
"Jadi gimana le, cah bagus, tole tau ndak?" Ucap Jaehan dengan nada jawanya yang lumayan kental, memang sebenernya Jaehan anak Jawa asli.
Justin yang masih menyetir mobilnya hanya melirik tajam, lalu kembali fokus pada jalanan.
"Jangan bilang lo gamau bagi informasi sama gue?" Selidik Jaehan tajam. "Heh gue kan bagi info nama si gadis manis, lo gamau bagi info?!"
"Kayaknya kita salah paham deh, dia bukan gadis manis."
Kening Jaehan berkerut dalam, satu alisnya terangkat siap mendengarkan ucapan lanjutan Justin.
"Dia sudah punya buntut."