Demi Rose

1786 Kata
Mood Justin benar-benar jelek, setelah kemarin menyaksikan kenyataan pahit tentang gadis manis impiannya. Ditambah si uler keket Yeni yang mengelendotinya—Justin yakin si uler keket tahu bahwa Justin sudah jomblo dan dari gerak-geriknya wanita itu berniat kembali melancarkan aksi pendekatan—rasanya mood Justin benar-benar di dasar tanah. Saat Justin mengikuti gadis manis, ia mendapati bahwa gadis manis pergi ketempat penitipan anak. Dalam hati, Justin masih berharap jika gadis manis hanya menjemput adik? Ponakan? Sepupu? Tapi saat pemandangan di mana keduanya sangat akrab, bahkan si bocah lelaki itu memeluk dan mencium bibir gadis manis rasanya Justin putus harapan. Memang Adik Kakak ciuman bibir ya? Walau usia si bocah mungkin masih balita, namun saudara cium bibir kan tak terlalu lumrah, apalagi di tempat umum. Walau waktu hampir malam hari sih, tapi tetap saja ini aneh! Dari gelagatnya juga seakan mereka terlihat seperti seorang Ibu dan Anak. Apa kali ini Justin kembali menyukai wanita dewasa? Bukan seorang gadis sebayanya? Tapi kenapa wajah dan penampilan wanita itu terlihat masih sangat muda? Dan lagi, Justin tak akan maju jika wanita yang ia sukai sudah berkeluarga, pasti bakal panjang masalahnya. Justin berbagi sedikit informasi dengan Jaehan, lelaki kardus itu tak bisa di harapkan banyak. Setelah memberi informasi kejombloannya pada Yeni—dan seakan melemparnya pada kolam buaya—hanya info nama saja yang Jaehan dapat, payah memang! Tapi setidaknya Justin tahu nama wanita cantik itu, Rose, Roseanne. Sangat cocok dengan parasnya yang rupawan, dari namanya saja terdengar sangat ayu. Justin juga berbagi sedikit informasi tambahan pada Jaehan, yaitu informasi betapa patah hatinya ia saat menduga jika Rose sudah memiliki buntut alias anak. Karena patah hatinya itu, Justim memutuskan untuk kembali menemui Jaehan dan tak melanjutkan mengikuti Rose. Memiliki buntut tentu saja mempunyai beberapa kemungkinan. Bisa saja Rose sudah bersuami dan balita itu adalah anaknya. Atau Rose sudah pernah menikah, memiliki anak dan bercerai. Atau balita itu hanya adiknya, adik yang kelewat dekat hingga berciuman layaknya ibu dan anak di depan umum. Atau, kemungkinan lain, Rose adalah babysitter alias nanny yang menjemput anak majikannya? Kemungkinan terakhir ini sih sangat ngawur alias tak masuk akal. Tak mungkin wanita secantik dan sekharismatik Rose adalah seorang babysitter. Kalau menurut Justin, Rose adalah wanita terpelajar, malah bisa jadi pengusaha sukses. Justin tertawa geli dengan kemungkinan-kemungkinan yang ia simpulkan sendiri, setelahnya lelaki itu meraih ponselnya. "b*****t! Telat dah gue!" Pekiknya kencang. Hari ini memang dia masuk kuliah pagi, dan karena terlalu asik memikirkan tentang Roseanne yang semalam belum sempat ia pikirkan karena lelah. Justin akhirnya terhanyut dan lupa daratan, kalau absen tak datang alamat dapat D karena dosen hari ini memang sangat killer. *** Dengan waktu yang sama, hari ini tepat seminggu sejak ia bertemu dengan gadis manis alias Rose. Hari ini Justin bertekat kembali datang dengan harapan arisan memang dilakukan seminggu sekali. Namun Justin harus kembali menelan kekecewaaan, suasana cafe saat ini memang ramai, namun ramai karena ada perlombaan game, dan cafe di penuhi para gamers yang mayoritas lelaki. Jadi dapat dipastikan jika hari ini tidaklah mungkin Rose dan tante yang lain berkumpul untuk arisan. Mendesah kesal Justin memasuki mobilnya. Sebenarnya untuk apa ia berusaha begitu keras? Toh Rose belum tentu tertarik padanya, terakhir kali saat bertemu pun Rose terkesan cuek, hanya berusaha ramah saja, tak lebih. Sungguh tidak mencerminkan rasa ketertarikan. Menelungkupkan wajah di antara lengannya yang berada di atas kemudi, Justin menghela nafas kasar. Jika Jaehan sudah menyerah dan berniat kembali mengejar primadona kampus—yang diyakini olehnya belum memiliki buntut—berbeda dengan Justin, walau kini ia kecewa, namun di lubuk hatinya ia masih ingin berusaha mendekati Rose. Sosok wanita yang ia kira masih muda, sosok yang membuatnya melewati batasan dan keteguhan hatinya sendiri, bahkan Justin memanggilnya gadis manis. Sempat Justin berfikir, jika Rose memang masih muda atau sebaya dengannya, Justin akan menerimanya, ia akan melupakan ucapan dan keteguhan hatinya yang hanya akan mencintai wanita dewasa. Demi Rose Justin akan melupakan keyakinannya itu dan mendekati Rose secara normal. Namun kenapa baru saja Justin hendak berubah, ternyata kenyataan begitu pahit? Pahit karena sosok bocah balita yang ia yakini memiliki hubungan dengan rose. Tiba-tiba Justin mengangkat wajahnya, memutar kunci mobil dan menyalakan mobilnya. Ia harus memastikan sesuatu, dan sebelum ia benar-benar menyerah dan putus asa, Justin akan berjuang dulu dan menemukan kenyataan yang sebenarnya. Ia harus bertemu dengan Rose. Disinilah Justin berakhir, tempat penitipan anak di mana terakhir kali ia mengikuti Rose. Dari suasananya cukup lengang, ada beberapa pasang orang tua anak yang berpisah ataupun bertemu di gerbang penitipan, begitulah kesimpulan yang Justin tarik dari pemandangan di hadapannya. Waktu berangsur berjalan, terasa membosankan untuk Justin terus menunggu. Di pangkuannya terdapat beberapa makanan ringan, bahkan Justin sempat memberhentikan mang-mang batagor yang kebetulan lewat. Diliriknya jam yang melingkar ditangannya, pantas saja ia bosan menunggu, sudah 3 jam berlalu, dan tak ada tanda-tanda kehadiran sosok Rose. Dorongan untuk kembali ke cafe dan ikut perlombaan game saja semakin memenuhi pikiran Justin. Dari pada di sini menanti yang tak pasti, mending mencoba peruntungan dengan bermain game, lumayan kan kalau menang, bisa membantu Jaehan memperbaiki gizi. Nyalakan, matikan. Dalam hati Justin berharap ini adalah adegan drama, di mana pemeran utama menunggu pemeran wanitanya dengan putus asa. Namun saat ia hendak pergi sosok itu tiba-tiba datang, dan akhirnya mereka bertemu. Saling mengenal, semakin dekat, menjalin hubungan, dan .... "Haha jijik banget pikiran lo." cibirnya pada diri sendiri. Nyatanya ini adalah dunia nyata, yang kata cak lontong tak seindah drama korea. "Mending balik aja deh, rebahan lebih enak," gumam Justin seraya menyalakan mobilnya, sekali lagi ia menatap gerbang penitipan, namun masih tak ada tanda-tanda Rose. "Baiklah, ayo pulang saja!" *** "Lo suka sama Rose, Din?" Jaehan mendesis kesal, siapa lagi yang memanggilnya Din, alias Udin kalau bukan Yeni? Wanita itu pasti menguping obrolan antara Jaehan dan Justin. Dengan tersenyum manis hanya pada Justin, Yeni mendudukkan diri di sampingnya yang hanya dibalas tatapan super dingin dan super jijik oleh Justin. Namun Yeni mana peduli, selama Justin jomblo, dan pacarnya tak seseram Sarah, Yeni pasti tak akan mundur. Memacari Justin Fritz adalah impian banyak mahasiswi di sini, terlebih Justin cukup 'kaya', tampan, modis, dan kata kebanyakan wanita adalah seorang 'boyfriend material' namun sayang, ia hanya tertarik dengan wanita dewasa. Memang Yeni tak berani pada Sarah, walau wanita itu tak mengakuinya langsung, namun Justin maupun Jaehan yakin jika Yeni dan sarah pernah beradu, entah adu bacot atau adu kekutan. Yang pasti semenjak Yeni mengumpat pada sarah yang menjemput Justin saat usai UAS, selang beberapa hari Yeni tak lagi mendekat pada Justin. Lebih tepatnya wanita itu menghindarinya, jadi sudah bisa dipastikan jika itu ulah Sarah kan? Jaehan lah yang paling yakin, sosok Sarah sangat dominan, tatapannya sangat tajam bak kucing betina yang kebelet kawin. Auranya saja sangat mengintimidasi, dan hanya Sarah saja lah pacar Justin yang tak terlalu dekat dengan Jaehan. Sedang pacar-pacar Justin yang terdahulu cukup dekat dengannya. Para tante biasanya mempunyai sifat mengayomi, dan penyayang. Bahkan Jaehan juga ikut kecipratan, sering mendapat traktiran gratis dan barang-barang gratis yang di beri cuma-cuma oleh tantenya Justin. Namun beda halnya dengan Sarah, itu tante satu serem, susah diajak akrab. "Mau gue bantuin?" Jaehan yang awalnya kesal kini tersenyum menggoda, namun senyuman menggodanya dilayangkan pada Justin yang kini memicing tajam menatap Yeni. Dapat Jaehan yakini jika Justin juga terkejut dengan penuturan Yeni, yang secara tak langsung mengisyaratkan jika dirinya mengenal Rose. "Lo kenal sama Rose?" "Deket?" Tambah Jaehan saat Yeni mengangguk mantap. Lagi-lagi Yeni mengangguk, walau kali ini tak terlalu yakin. "Kenapa lo nggak bilang dari kemarin-kemarin Yen... tau gitu kan gue nggak usah tongkrongin kafe tempat Rose arisan!" Jaehan tertawa puas melirik Justin, ucapannya adalah sindiran untuk Justin yang memang benar-benar menongkrongi kafe untuk menunggu Rose hingga 2 minggu lamanya. Kalau Jaehan sih jujur sudah tak terlalu tertarik, mendengar embel-embel buntut saja ia sudah siap dan mantap untuk mundur. Tak sanggup rasanya harus menyukai tante-tante, apalagi yang sudah beranak. Walau sebenernya benefit-nya banyak, tapi Jaehan mau yang masih muda saja, setidaknya kalau diajak bobo masih tahan lama. Bangsat memang otak lelaki kardus ini. "Sumpah lo niat banget sih." Ledek Yeni dengan tawa gelinya. Tak tahu saja yang sedang ditertawakan adalah Justin, lelaki yang dicintainya, kalau tahu yang suka pada Rose adalah Justin, apa Yeni masih sanggup tertawa mengejek macam ini? "Eh, dia beneran udah punya anak?" Sela Jaehan yang memang penasaran dengan status Rose. Sejenak Yeni terdiam dengan alis bertaut merapat, lalu setelahnya ia mengangkat kedua bahunya. "Bisa dibilang gitu kali ya?" Jaehan mengangguk-angguk, matanya kembali melirik wajah Justin yang sudah semakin masam saja. "Terus suaminya masih?" "Lo tanya sendiri aja deh, gue kasih nomornya nih. Lo bisa pacarin dia, malah lebih bagus" kekeh Yeni. Justin membolakan matanya lebar, menatap tajam Jaehan yang kini terkekeh mengejek. "Nggak usah deh Yen, takut ganggu bini orang." Seketika bibir Justin menukik kebawah, mengundang tawa puas dari Jaehan yang kini menggebrak-gebrak meja karena bahagia. "Lo kenapa deh?" Yeni menatap jijik, semakin mempererat dekapan tangannya pada lengan Justin. Cari-cari kesempatan saja ini wanita bar-bar. "Traktir seminggu!" ucap Justin tanpa suara. Jaehan menggeleng angkuh, jari telunjuknya terangkat dengan bibir yang berucap 'bulan' tanpa suara. Di sebrang sana Justin mendesah kesal, traktir makan Jaehan satu bulan bisa saja setara dengan bayar cicilan mobil sebulan, walau nyatanya mobilnya dibeli tunai oleh papa OKB-nya. Lelaki kardus macam Jaehan mana mau menyia-nyiakan keadaan? Jika tahu akan ditrakir, tentu si kardus itu akan makan lima sampai tujuh kali dalam sehari. Namun bayangan Justin bisa kembali mendengar suara Rose terngiang di telinganya. Demi nomor Rose ia mengangguk pasrah, terpaksa deh bohong lagi sama mama, minta duit tambahan entahlah untuk apa, nanti akan Justin agendakan. Maafkan Anakmu yang laknat ini ma. "Eh Yen, jadi minta nomor Rose deh, gue bakal dapat rejeki nomplok, lumayan bisa trakir Rose makan enak." ringis Jaehan seraya menyodorkan ponselnya pada Yeni. Apes, memang apes, kenapa Justin harus berteman dengan kardus macam Jaehan sih? Lihat teman susah malah dimanfaatkan, dan gilanya lagi, mereka selama ini berteman benar-benar tidak sehat! Setiap hari nista-nistaan, ejek-ejekan, bahkan memeras uang, tapi kok mereka masih berteman lengket ya? Justin yakin pasti si kardus pakai aji-aji semar mesem agar Justin tetap mau dekat-dekat dan berteman dengan si kardus. Namun getaran di pahanya dan alis Jaehan yang naik turun mengejek, cukup membuat senyuman terbit diwajah Justin. Pasti getaran itu berisi pesan yang didalamnya berisi nomor Rose. Benar saja, Justin tersenyum sumringah, tangannya sibuk mengetik nama yang cocok untuknya menyimpan nomor Rose. Tante Rose. Entah kenapa Justin merasa dirinya amat liar saat menamain kontak Rose dengan embel-embel tante. Dalam hatinya ia berharap Rose akan benar-benar menjadi tante, dan gelar 'simpanan tante-tante' siap ia sandang jika memang Rose sudah berkeluarga nantinya. Demi Rose, Justin akan melewati batasannya, semua demi Rose.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN