i***t Membawa Bahagia

1333 Kata
Jika ada acara penghargaan dengan nominasi 'lelaki ter-alay tahun 2020' rasanya Justin akan menjadi pemenang utamanya. Kenapa begitu? Karena lelaki itu kini sedang berguling-guling seperti anak perawan yang sedang gundah gulana apakah harus menghubungi pujaan hatinya, atau tidak. Sejak sore tadi ia mendapat nomor Rose—walau dengan terpaksa karena harus merelakan uang jajannya selama sebula full, dan bohong dikit sama mamanya—Justin masih setia berguling-guling dengan senyum bodohnya di ranjang serta ponsel menampilkan ruang obrolan bersama Rose. Tapi bodohnya ruang obrolan itu masih kosong, alias Justin tak berani mengirim pesan. Menulis, hapus. Menulis, hapus. Hanya kegiatan itu yang dilakukannya. Setelah bosan berhadapan dengan ruang obrolan kosong, Justin beralih ke layar kontak 'Tante Rose' hanya menatapnya saja tak berani memencet tombol hijau untuk melakukan panggilan telepon. "Hayooh ngapain lo!" Justin terlonjak kaget, bahkan ponsel keluaran terbaru dengan aksen tiga boba-bobaan yang di sebut kamera itu terlempar. Dengan wajah merengut siap meluncurkan lahar panas, Justin menyoroti tajam wanita yang terbahak-bahak menatapnya geli. Kakak wanitanya masuk kamarnya tanpa permisi, dan bangs— tak tega Justin untuk meneruskan menghujat Kakaknya, jadi ia urung mengutarakan kekesalannya. "Apa sih lo ah! Ngagetin aja!" Wanita berparas bagai kopi paste-an Justin itu masih tertawa, reaksi Adiknya saat marah selalu membuatnya kecanduan, jadi terus-terusan ia menggodanya. "Itu Mama udah buatin s**u hilo, biar makin tinggi lo." Justin menunjuk pintu kamarnya, dengan hidung kembang-kempis menahan amarah. Siapa saja yang menyinggung tinggi badannya, rasanya ingin dipites-pites saja! Bagi Justin, tinggi badan adalah salah satu pesona utama lelaki, karena Justin adalah sosok yang mudah terpengaruh, ia sering minder saat diejek pendek oleh Kakaknya. Padahal Justin termasuk tinggi kok! Sama Papanya saja tinggian Justin. Padahal Papanya bule, yang tingginya diatas rata-rata orang Indonesia Satu tandangan mengenai p****t sang Kakak menggiring wanita medusa itu keluar dari kamar Justin. Menganggu saja, kan Justin sedang memupuk keberanian diri untuk mengirim pesan pada Rose. Mata Justin seketika membelalak, seluruh keluarga Justin memang dikaruniai bentuk mata bulat. Karena matanya yang sudah besar itu, kini bola matanya seakan mau lompat dari kelopaknya. Tangannya bergetar gugup, di layar ponsel tertera nama 'Tante Rose' dengan gambar gagang telepon berwarna merah, dan detikan angka yang terus berjalan. Sial! Sejak kapan Justin menghubungi Rose? Setelah ia menyadari jika mereka terhubung dalam panggilan, Justin baru saja bisa mendengar suara samar itu. Dari tadi kemana saja! "Hallo?" Suara itu terus berulang, dan dengan bodohnya Justin hanya menempelkannya di telinga dengan senyuman i***t. Justin kehilangan taringnya, seakan dia bukan lagi bad boy incaran wanita dewasa lagi. Kalau modelan begini, bukankah Justin lebih pantas di sebut ABG yang sedang kasmaran? "Hallo? Kalau tak ada kepentingan aku matiin ya?" "Jangan matiin tante Rose!" Justin berteriak lantang, namun setelahnya membekap mulutnya sendiri. "Tante? Kamu siapa kok panggil aku tante?" Bodoh! Sudahlah Justin pasrah saja, pasti Rose jijik padanya yang macam orang gila ini. Lagian kenapa mulutnya terpeleset manggil Rose dengan sebutan Tante sih? Semua gara-gara Justin yang berulang-ulang membaca nama kontak Rose di ponselnya! Tamat sudah! *** "Bang putra mau tunangan, kamu ikut kan?" Justin menggeleng lemah tak berdaya, tangannya bahkan hanya mengaduk-aduk malas makanannya di piring. Biasanya lelaki itu sangat menggilai makanan, tapi sarapannya pagi ini terasa tak menggiurkan. Semua karena Rose, kenapa efek Rose sebesar ini sih padanya? Setelah Justin memanggil Rose dengan sebutan tante, Justin segera memutus sambungan telepon mereka, gugup rasanya. Namun ada secercah harapan saat Rose mengiriminya pesan, namun lagi-lagi pesan Rose membuat Justin semakin merasa dirinya adalah the real i***t in the world. Rose kembali menanyakan siapa dirinya? Kok panggil dengan sebutan tante? Dengan penuh pemikiran, akhirnya Justin membalas pesannya dan mengaku bahwa dirinya adalah lelaki yang pernah ikut arisan bersama dengannya. Tapi sampai saat ini belum ada balasan. Sudah pasti Rose jijik padanya, huhuhu. "Kamu ubek-ubek lagi itu makanan tanpa dimakan, Mama jamin nggak ada lagi jatah sebiji nasipun buat kamu besok!" Justin otomatis menukikkan bibirnya turun, kenapa semua tidak ada yang beres sih? Dengan wajah cemberut, Justin mengunyah makanannya dengan dramatis. Mengundang tawa jenaka dari Kakak dan Papanya yang sifatnya sebelas duabelas, Suka bully! "Tunangan dateng, lamaran dateng, nikah dateng lagi? Gamau ah, aku ikut pas nikahan aja." Memang serumit itu alur pernikahan di keluarga Mama. Pakai segala tunangan dulu dengan tukar cincin, lalu naik tingkat lamaran alias menentukan tanggal untuk menikah, baru deh hari H pernikahan. Ribet dan panjang, kalau Justin yang jadi Bang Putra, yakin sudah tidak kuat menunggu, kelamaan! "Ya sudah, kalau kamu nggak ikut lamaran Bang Putra. Tapi Papa, Mama, Kakak nginep di Semarang loh ya, nggak apa sendirian dirumah?" Sendirian .... Sendirian .... Sendirian .... Otomatis kata itu mengalun merdu di telinga Justin, kalau di tinggal sendirian, berarti .... "Berapa lama emang di Semarang?" Mama tampak merapikan piring bekas makan Kakak dan Papa. "Seminggu ya Pa? Soalnya Papa, Mama juga deket sama keluarga calonnya Bang Putra, jadi mau sowan juga kesana." "Iya, Fritz biar di rumah aja, kan kuliah, Papa juga masih wira-wiri Jakarta-Semarang kok buat kerjaan." Yasssssss! Seketika mood Justin naik hingga atap paflon, Walau Papanya memanggil dengan nama yang tidak disukainya pun, Justin seakan tak sadar, terlalu euphoria ketika mengetahui bahwa dia akan ditinggal sendirian. Ditinggal di rumah sendirian selama seminggu, artinya akan ada pesta seminggu penuh di rumahnya ini. Rasanya Justin sudah tak sabar menunggu masa itu. Pesta, pesta, pesta! "Berangkatnya kapan Ma?" Ucap Justin dengan wajah yang dibuat setenang mungkin. Jangan sampai ketahuan jika ia bahagia. "Nanti sore, beneran nggak ikut? Jangan macem-macem loh ya? Awas aja ketahuan nakal, tak sunat dua kali!" Merengut seram, Justin membatin apa nasibnya kalau ketahuan macam-macam, kan tidak lucu kalau wajah tampan tapi disunat dua kali, bisa habis total asetnya. "Siap! Jangan lupa uang jajan aja ya Mama manis~ " walau bergidik ngeri, Justin tetap bahagia, tinggal jangan sampai ketahuan saja, semua akan beres kan? Kalau Justin sudah menggunakan mode manis manja macam ini, Mamanya tentu hanya diam membisu dengan senyum gemas. Justin yakin, sebelum keluarganya pergi, pasti ATM-nya sudah dapat transferan yang cukup untuk beli minuman. Senang rasanya, bisa mulai pesta lagi, setelah Justin harus berpuasa selama 5 bulan lamanya karena ancaman dari Papanya. *** Suasana kantin siang ini sangat sejuk, berkat pepohonan besar yang di tanam di sekitar kantin outdor, membuat udara siang menjadi kian sejuk saja. Keduanya duduk denfan Justin yang bersemangat menceritakan maksud hatinya. "Yakin kita pesta lagi? Lo kan lagi masa puasa?" "Ooo, ooo" Justin menggoyangkan telunjuknya di depan wajah Jaehan. "Keluarga besar gue ke Semarang semua buat acara lamaran Abang Sepupu, jadi sudah pasti kompleks rumah gue steril." Jaehan tertawa semangat, kapan lagi mereka pesta begini, kalau tak ada kucuran dana dari Justin mana mampu sih anak indekos udik macam Jaehan bisa pesta-pesta. "Tapi bokap lo kan bilang wira-wiri Jakarta-Semarang?" "Alahhh percaya lo? Jauh coy, yakin deh gue, bokap pasti nggak sempet balik rumah, itu pekerjaan udah macam istri kedua. Mana mungkin bisa mengalihkan fokus ke manusia yang hanya sekedar anak ini?" Jaehan tertawa makin semangat, pokonya dia setuju-setuju saja sama ucapan Justin, yang penting beneran pesta deh. Dan lagi, mereka akan mulai pesta pembukaan malam ini, tepat setelah keluarga Justin pergi jadi dia harus cepat-cepat cari manusia yang akan meramaikan pesta. "Segitu bahagianya ya lo? Sumringah banget? Udah macam fakir miskin kayak gue aja." "Jangan salah sangka le, tole, lihat," Justin menodongkan layar ponselnya kepada Jaehan dengan bangga. Sedang Jaehan berseru terkaget-kaget bukan main. "Rose bakal ikut pesta? Sumpah lo?!" Dengan tersenyum ponggah, Justin menarik ponselnya bangga. Benar kata Jaehan, Rose akan datang kerumah Justin untuk ikut berpesta. Ketakukan Justin jika Rose akan jijik padanya ternyata salah, Rose bahkan membalas dengan ramah pesannya, walau agak telat. Namun dari pesan itu, mereka semakin intens mengobrol. Entah dapat dorongan dari mana, Justin memberanikan diri mengundang Rose untuk datang kepestanya. Bagai mimpi yang terwujud, Rose menyanggupinya, wanita itu akan datang! Ini sih namanya 'i***t berujung bahagia' Tak sabar rasanya menatap kecantika Rose, Rose pakai baju macam apa ya? Rasanya Justin sudah tak sabar untuk kembali mendengar suara manis, manja nan sexy milik Rose. 'Tante Rose, Fritz menunggu'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN