Pesta

2089 Kata
Tepat setelah keluarganya melambai tangan dan keluar dari gerbang besar kompeks perumahannya, Justin segera meraih ponsel di kantong dan memberi instruksi untuk bala-balanya segera masuk k egerbang kompleks. Senang rasanya menatap deretan mobil mulai beriringan masuk, sangking senangnya kaki Justin bahkan berjingkat-jingkat bahagia. Justin adalah pangeran pesta, si bocah yang kalau di rumah selalu berpenampilan polos nan lugu ini akan berubah drastis saat diluar kandang, apalagi kalau masuk diskotik. Semua jenis alkohol yang mampu ia beli sudah pernah dicicip, semua jenis musik sudah ia goyangkan di dance floor. Oke, yang masalah musik hanya dilebih-lebihkan saja, Justin tak semaniak itu pada goyangan. Duduk dipojokan dengan segelas alkohol yang terus terisi saja sudah cukup oke kok. Goyangan yang dimaksud Justin hanya sebatas goyangan kepala, bagaimana bisa bergoyang heboh di dance floor, dulu Justin selalu diawasi Sarah kalau pergi dugem. Sekedar info, Justin dan Sarah berpacaran cukup lama, dua tahun, selama dua tahun itu ia baru terjun menjadi maniak pesta, jadi Sarah yang selalu mengawasinya dengan ketat. Tuh kan, Justin jadi ingat Sarah lagi. Namun semua hingar-binggar pesta yang ia rasakan, kini hanya bisa ia lihat dari kejauhan. Semua karena Papanya memergoki belang dari bocah polos Fritz. Sebenarnya sang Papa sih tak masalah, tapi apesnya Mama memergoki saat Papa sedang menasehati. Berakhirlah Justin dipingit dari dunia malam dan pesta, sudah 5 bulan lamanya ia dipinggit, akhirnya malam ini ia akan merasakannya kembali. "Wohooo, tuan rumah menyambut" seru Jaehan sebagai perwakilan tamu. Justin tersenyum ramah, mambungkuk sekilas berperan menjadi pemilik rumah yang baik, lalu setelahnya melakukan high five menyambut sobat-sobat dugemnya. "Masuk dulu gih, lo jadi perwakilan yang punya rumah, gue mau hubungi Rose dulu." Jahean mengacungkan jempolnya, lalu berbisik lirih, "Kolam renang boleh dijamah kan?" Kini Justin yang mengacungkan jempol. Sontak Jaehan berseru semangat sembari masuk kerumah istana Justin. Kalau kolam renang boleh dijamah, berarti Jaehan akan berenang bersama tamu-tamu wanita, pasti seru ini! Justin menatap punggung Jaehan yang tampak bahagia, kenapa rasanya ia seperti Ibu yang ikut bahagia saat anaknya bahagia ya? Tapi, Ibu mana yang bahagia melihat Anaknya melakukan maksiat? Menggeleng pelan Justin masih menempelkan ponselnya ditelinga. "Hallo?" "Eh, hallo, udah di mana?" "Aduh maaf Justin, aku agak telat, kayaknya lambat-lambatnya 30 menit lagi baru bisa otw, gimana?" Walau agak kecewa karena tak bisa cepat-cepat melihat wajah Rose, namun Justin tatap akan sabar. Rose mau datang saja sudah sangat luar biasa, tentu tak akan ia siakan momen ini. "Nggak masalah, nanti kalau udah deket kabarin aja, biar aku sambut." Nah kan, Justin pakai Aku Kamu, namanya juga sedang kasmaran, logat-logatnya harus disesuaikan dong. "Yaudah nanti aku kabarin ya, aku lanjut bentar." "Oke, kutunggu, bye..." *** Pesta malam ini benar-benar pecah, walau Justin tetap menjaga kesadaran karena menunggu pujaan hatinya. Namun Justin ikut senang saat setiap sudut lantai satu rumahnya dipenuhi sobat dugemnya. Kolam renang, dapur, ruang tamu, ruang tv, semua dihuni manusia. Rasanya Justin si pangeran pesta sudah mulai hidup kembali. Segelas vodka kembali Justin tenggak, dan dering alarm pada ponselnya yang sengaja ia set selama 25 menit akhirnya berbunyi, sumringah wajahnya seketika. Bukankah saat ini Justin terlihat sangat-sangat bucin, hanya menunggu rose saja sampai memasang alarm! Dan berselang beberapa menit dari dering alarmnya, ponsel Justin kembali berdering, sebuah pesan dari Rose yang mengatakan sudah dekat. "Gue jemput bidadari dulu ya." Ditepuk pundak Jaehan yang sedang ditepian kolam renang dengan bertelanjang d**a dan koloran saja. Setelah lelaki itu mengangguk, Justin berjalan semangat menuju gerbang rumahnya. Menunggu dengan senyuman lebar, rasanya sudah tak ada kegugupan diwajah Justin. Alasannya karena alkohol yang ia minum, Justin memang akan melupakan malu-malu kucingnya setelah meneguk alkohol, dan karena cairan itu, kini Justin merasa percaya diri. Seakan wajah i***t itu sudah hilang, Justin kini menatap mobil yang mulai menepi dengan wajah cool. "Sorry banget ya, aku telat." lirih Rose yang terlihat tak enak hati. Justin hanya tersenyum, matanya berkedip-kedip kagum, mulutnya bahkan mengangga. Penampilan tatenya malam ini sangat menawan, sangat, sangat, sangat, menawan. "Oh iya, ini ada sedikit untuk permintaan maaf." Rose menyodorkan sebotol wine pada Justin. Sedang Justin mengernyit heran, Rose memberikannya wine? Apa dia tak masalah minum di rumahnya sampai teler? Tersenyum bahagia Justin mempersilakan Rose untuk masuk. Lelaki itu bahkan menempatkan tangannya dibelakang pinggang Rose tanpa menyentuh, berusaha menjaga Rose yang saat ini memakai heels. Maklum pekarangan rumah Justin lumayan bergelombang oleh kerikil-kerikil kecil yang tertanam di lantai semen. Benar saja, pertahanan Rose goyah karena kerikil itu, beruntung Justin segera menahan pinggang Rose sehingga wanita itu tidak terjatuh. Rose menatap Justin dan mengulas senyuman super manis, entah karena pengaruh alkohol atau karena ia berdebar malu, pipinya kini bersemu merah. Dari jarak sedekat ini, Justin makin yakin, jika Rose sangat, sangat cantik. Wajahnya mulus bak p****t barbie, aroma yang menyeruak dari badannya sangat harum dan manis. Namun seketika ia tersentak, mengenduskan hidungnya kearah badannya sendiri. Hari ini dirinya tak bau kan? Tadi Justin sudah pakai parfum banyak-banyak belum ya? "Makasih ya, kalau kau telat menahanku pasti aku akan udah jatuh." kekeh Rose setelah sampai dilantai keramik rumah Justin. Justin kembali sadar, dan hanya membalas dengan tersenyum malu lalu melepas dekapannya pada Rose. Dalam hati ia bersyukur, karena Papanya yang aneh menanam kerikil disemen, dia jadi bisa memeluk Rose. Whopp! Awal yang bagus, hari pertama bersama saja Justin sudah bisa memeluk Rose! Hehe. Besok-besok Justin akan meminta papanya untuk menanam batu yang lebih besar lagi saja. Siapa tahu Justin bisa naik tingkat dengan menggendong Rose. "Selamat datang tante..." Rose dan Justin serempak menoleh, dari samping rumah dengan jalan berrumput, Jaehan mendekat dengan bertelanjang dâda, Lelaki itu memang sedari tadi berenang. Mata Justin memicing, itu si manusia kardus sedang menginjak rumput import yang dibeli mamanya. Justin saja tak boleh menginjaknya, kalaupun menginjak dan ketahuan, pasti telinganya akan berubah warna menjadi merah karena dipelintir, tapi ini manusia kardus sialan! "Oh hai, kamu yang kemarin dicafe juga? Iya kah Justin?" Wajah siap meledak Justin berubah melembut, bahkan lelaki itu tersenyum manis menatap Rose. "Iya, dia Jaehan." "Jangan panggil tante lah nyet!" Kesal Justin sinis kearah Jaehan, berbanding dengan ekspresinya kepada Rose. "Tak apa, aku kan memang tante?" Mengucapkan kalimat itu, Rose tersenyum sangat manis kearah Jaehan. Sedang Justin yang di sampingnya hanya bisa menatap senyuman manis Rose yang diberikan untuk orang lain. Kretekkk... Dengar suara retakan kan? Iya, itu suara retakan hati Justin. Tak rela Rose tersenyum pada lelaki lain! Tak rela Rose dipanggil tante oleh orang lain! Rose adalah wanita pertama yang disukainya sekaligus ia panggil tante. Rasanya tak rela jika wanita yang disukainya dipanggil tante oleh orang lain! Justin kan memanggil tante karena terdengar liar saja, kalau Jaehan jelas tak boleh! Pasti di otaknya hanya ada pikiran câbul saja. Dasar bucin! *** Dalam hati Justin mencibir kesal, apa-apaan suasana ini? Kenapa kesannya Jaehan sedang menusuknya dari belakang? Saat ini mereka sedang duduk bertiga di sofa dekat kolam renang, namun yang membuat kesal adalah Jaehan! Bukannya dia sudah menyerah pada Rose? Tapi kenapa ini si kardus cari-cari perhatian Rose sih?! Keduanya asik berhaha-hihi-hoho, sedang Justin dikacangin, benar-benar sialan ini. Sebenarnya Justin bingung harus membicarakan apa dengan Rose, dia tak jago memulai obrolan, serta tak jago memilih topik yang akan mempertahankan obrolan keduanya. Tiap kali membuka obrolan, selalu saja Jaehan ikut nyaut, berakhir Jaehan yang lebih asik dan nyambung dengan Rose. Sialan!!! Karena kesal, Justin menenggak alkohol terus-terusan dengan lirikan tajam pada Rose dan Jaehan yang masih asik tertawa disela obrolannya. Menyebalkan sekali! Justin membeku, Rose kini menatapnya tajam, sangat tajam, dan... errrr.. sexy. Ditambah kini tangan Rose menepuk pelan lengan Justin, ini beneran ada bidadari disebelahnya? Ya Tuhan... Justin belum mati kan? Kenapa ia bisa melihat bidadari? "Kenapa? Kamu udah mabuk?" Mata Justin mengerjap, indera penciumnya kini sedang dimanjakan, namun berbeda dengan jantungnya yang tersiksa. Aroma harum Rose yang mendekat kearahnya seakan sedang menggelitiki hidungnya, sangat lembut dan menggairahkan. Beruntung suara musik sangat kencang, sehingga Rose harus mendekat untuk mengajak berbicara, dan beruntung lagi, musik yang kencang itu akan menyamarkan suara detak jantung Justin yang tak kalah kencang. "Hah?" Gagap Justin begitu Rose kembali menepuk lengannya. Justin terlalu terbuai, sehingga ekspresi i***t itu muncul kembali. "Gue cabut dulu deh ya, kalian ngobrol dulu berdua." Jaehan memotong obrolan keduanya, dengan alis yang dinaik turunkan menggoda. Walau rasanya sangat ingin mengamuk dan mencakar-cakar wajah Jaehan, namun Justin tak kuasa menahan senyum, setidaknya itu manusia kardus pergi jauh-jauh deh. "Mau naik? Ngobrol ditempat yang lebih tenang?" Justin yakin, saat ini dirinya sudah hampir dikuasai sepenuhnya oleh cairan laknat itu, terbukti dari mulutnya yang begitu entengnya mengucapkan kalimat gila. Mengajak Rose ngobrol ditempat tenang katanya? Yang benar saja! ini pesta, mana ada tempat tenang, kalaupun ada, pasti bahaya. Keduanya kan sudah berkali-kali menenggak alkohol, sepasang sejoli beda gender berduaan ditempat sepi adalah kegembiraan untuk sêtan! Namun lirihan dan senyuman dari Rose membuat Justin terperangah, ia bahkan dilema, dihadapannya adalah bidadari atau sêtan? Kenapa wanita rupawan ini menyambut bisikan sêtan dari Justin? Jika dia adalah sêtan, Justin berani bertaruh, Rose adalah sêtan terupawan sejagad raya bumi dan persetanan. "Boleh." Boleh katanya? Tentu Justin tak mau menunggu waktu lama, ditandaskan segelas alkohol ditangannya, dan segera ia beranjak mengulurkan tangannya, yang disambut baik oleh Rose. Keduanya naik kelantai dua dengan bergandengan, noted! hanya berdua! Karena lantai dua sama sekali tidak boleh dijajah oleh para penikmat pesta itu. *** "Kamu ternyata pendiam ya?" Rose membuka obrolan seraya berjalan menyusuri ruang baca dilantai 2. Rumah Justin memang memiliki ruang baca dilantai 2, letaknya sangat strategis, karena jika berjalan sedikit kearah balkon akan dapat langsung mendapat pemandangan kolam renang. Disitulah saat ini Justin berada, dengan mata yang terus mengikuti pergerakan Rose, sedangkan Rose sedang menyusuri deretan buku yang tersusun rapi di rak yang tertanam di dinding. "Nggak juga..." lirih Justin seraya menggaruk kepalanya canggung. "Jadi.." Rose mendekat kearah Justin dengan senyuman menawannya. Tolonglah, kalau Rose terus-terusan senyum begini, bisa-bisa Justin mati dengan senyuman i***t! Tak kuat menahan pesona menawan dari tante Rose. "Kamu bukan bocah polos ya ternyata?" Ledek Rose dengan tawa lugu, ya lugu, bagi Justin senyum atau tawa Rose selalu tampak tulus dan lugu, serta menawan tentunya. Justin mencebik kesal, jika diingatkan dengan saat itu, rasanya kesal. Tapi wajar saja sih, Justin memang menjadi i***t bodoh saat itu, memalukan. "Aku nggak polos ya, aku akan segera menginjak 21 tahun!" Kesal Justin dengan wajah menggemaskan. Karena wajah menggemaskan itu, Rose mencubit pipi Justin gemas. Membuat si kucing kuning alias Justin tersenyum-senyum sipu. Namun saat Rose mengusap rambut Justin dan mengucapkan kalimat. "Menggemaskan sekali sih..." Justin memicing kesal, dia tak mau terlihat menggemaskan! Justin mau terlihat dewasa, macho dan sexy! Dengan gerakan cepat Justin mendorong badan Rose hingga pinggangnya menekan pinggiran balkon. Badannya semakin merapat pada Rose, wajahnya semakin mendekat dengan tatapan lekat. Siapa saja, cepat sadarkan Justin dari mabuknya! Sebelum lelaki lugu ini akan menyesali perbuatannya. "Aku tak suka disebut menggemaskan!" lirih Justin pelan, sangat pelan, lelaki itu hanya berbisik, karena jarak keduanya yang sangat dekat. "Aku sudah dewasa." Tambahnya. Diluar perkiraan, Rose malah tersenyum, wajahnya tak tampak panik atau apapun, hanya menampakkan senyum menawannya seperti biasa. "Oh ya? Menurutku kau menggemaskan." Lagi, Rose menyentuh pipi Justin dengan memberikan cubitan lembut. Tak bisa! Justin harus melenyapkan persepsi Rose bahwa Justin menggemaskan! Tak mau jika ia akan diperlakukan bak bocah kecil, ia mau Rose menganggapnya sebagai lelaki! Lelaki yang layak menjadi pendampingnya. Ditepis tangan Rose lembut, mendekatkan wajahnya semakin menempel pada wajah Rose, mata Justin mengerjap saat hidung runcing Rose menempel pada hidungnya. Memiringkan wajahnya dengan tatapan langsung menuju mata Rose, dan dipangkas habis jarak keduanya. Tentu ciuman adalah bukti, jika Justin adalah lelaki dewasa, Justin tak mau dianggap menggemaskan bak anak-anak, tak mau! Akan Justin tunjukkan, jika lelaki bernama Justin ini adalah good kisser, seperti yang sering dieluh-eluhkan wanitanya dulu. Justin benar-benar mencium Rose, bukan ciuman kelas paud atau TK, ciuman kelas kakap, saling beradu lidah karena Justin sang good kisser yang berhasil memimpin keadaan. Dalam hati Justin sumringah, dengan Rose membuka mulut dan mengalungkan kedua lengannya di leher Justin adalah tanda, jika Rose menyukai ciuman ini. Setelah menangkap sinyal itu, Justin melancarkan aksi lain, ciuman bukan hanya sekedar kedua bibir dan mulut yang bertemu dan menyecap, namun sentuhan adalah setingkat lebih tinggi dari ciuman itu sendiri. Diedarkan secara perlahan dan penuh damba tangannya mengusap punggung rose, memberikan sentuhan lembut dan penekanan untuk merapatkan keduanya. Tangannya kembali bergerilya menuju titik lain, Rose hanya diam dan hanya terus menikmati cumbuan keduanya. Hingga tangan Justin menyentuh dâda Rose dengan kakunya, bertepatan dengan terlepasnya secara paksa penyatuan bibir mereka. Didorong pelan badan Justin, namun Rose kini tersenyum kearahnya. "Kau sudah on hanya karena ciuman?" Jederrrr!!! Reflek Justin menangkupkan kedua tangan diselangkangannya, dan tawa lantang Rose menyeruak bersamaan dengan wajah memerah Justin. Apa bêrgairah cepat adalah kesalahan? Batin Justin merana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN