Kira-kira pukul 12 siang, dengan matahari yang sudah memuncak, Justin baru saja mengerjapkan matanya. Dengan berkedip-kedip mengumpulkan kesadaran, Justin menatap langit-langit kamar yang asing, kamar bercorak ungu muda dengan aroma lavender. Ahh.. setelah menyadari warna ungu muda adalah warna kecintaan si medusa Jeny—kakak kandung Justin—membuatnya bisa bernafas lega, setidaknya ia masih dirumahnya. Pening di kepalanya belum juga reda, sekelebat ingatan pesta malam tadi membuat Justin tersenyum bahagia.
Pesta adalah belahan jiwanya, dan saat ia bisa meraskan bermacam-macam alkohol yang terus mengalir menyapa tenggorokannya, membuat Justin kembali tersenyum. Namun seketika keningnya mengernyit.
Rose!
Seingatnya semalam ia dan rose... berciuman?!
Buru-buru Justin bangkit dari tidurnya, melupakan denyutan pening yang mendera kepalanya. Masa bodoh dengan kepala sialan yang berisi pikiran kotor ini! Ia harus memastikan, semalam memang ada pesta dan ia berciuman dengan Rose, atau semua hanya mimpinya saja?
Matanya menangkap pemandangan rumahnya yang.....
Jeng, jeng, rapi! Tak ada kekacauan apapun dirumahnya!
"Jadi cuma mimpi?"
Mendesah kesal Justin menyugar rambutnya frustasi. Sialan! Umur udah bangkotan begini kok masih mimpi jorok ya? Tapi wajar saja kan? Justin tidak sebangkotan itu. kalau ibarat mangga, Justin adalah mangga setengah matang yang sebentar lagi akan masak sempurna, seger, manis, walau agak-agak masam. Tapi biasanya banyak diburu, apalagi kalau dicocol dengan sambal rujak, beuh sedap. Ini kenapa Justin jadi pengen rujak pedes yaa? karena tergoda dengan imajinasinya, ditelan liurnya dengan susah, tenggorokannya kering dan pahit.
"Hauss..." desah Justin seraya berjalan ke dapur dengan tangan yang menggosok-gosok lehernya.
Ngomong-ngomong, berarti semalam ia hanya mimpi minum alkohol? Jadi semua tak benar terjadi? Tapi kok kepala Justin pening ya? Dan sisa-sisa alkohol seakan masih melekat di tenggorokannya. Tapi kenapa rumahnya rapi, bersih kinclong seakan tak terjadi apa-apa? Kalau semalam terjadi pesta, tak mungkin rumahnya bersih. Pasti ada bekas botol alkohol, dan sisa-sisa pesta. Tapi ini rumah rapi, sangat tidak mungkin Jaehan yang membersihkan rumah. Manusia itu tak akan melakukan kebaikan tanpa ada imbalan, jadi sudah 100% ini bukan perbuatan Jaehan.
Hidung Justin mencium aroma harum masakan begitu memasuki dapur, hidungnya masih normal kan? Mengendus-endus akhirnya ia memastikan. Seingatnya keluarganya tak memiliki ART, karena mamanya yang mendalami peran ibu rumah tangga. Lalu siapa yang memasak makanan seharum ini?
"Ini apa-apaan sih?" Gumamnya begitu matanya menangkap beberapa piring yang tertata rapi dimeja makan, dan tentunya piring itu berisi masakan yang menguggah selera.
Sontak Justin panik, apa keluarganya tak pergi ke semarang? Jadi ini benar-benar hanya mimpi? Padahal Justin sudah bahagia saat ditinggal sendirian dirumah. Hiks.
"Kamu udah bangun?"
Mata Justin membelalak lebar, menoleh dengan panik kearah belakangnya, sumber suara yang begitu merdu, kok macam suara...
"Rose?!"
Kini mulut Justin ikut terbuka lebar, namun buru-buru ditangkup. Ingat, harus jaga tampang agar tetap tampan! Matanya menjelajah, naik turun memastikan jika dihadapannya benar-benar nyata. Sungguh kini dihadapannya adalah pemandangan yang sangat indah. pegunungan, laut, kalah indahnya dengan pemandangan ini!
Dihadapannya Rose berdiri dengan kaos hitam kebesaran yang Justin yakini adalah miliknya —terbukti tulisan JF yang tercetak didada sebelah kiri dari baju itu—rambut yang tergulung didalam handuk putih—entah handuk siapa, karena handuk Justin berwarna abu—serta kaki jenjang nan ramping Rose tanpa penghalang, yang Justin yakini saat ini Rose mengenakan celana pendek, atau celana dalam? atau bahkan tak memakai celana?
'Terkutuklah kau Justin!!!' Teriaknya dalam hati.
Meneguk ludah susah payah, Justin mengusak matanya. Tak percaya dengan pemandangan menakjubkan dihadapannya, ini benar-benar Rose? Jadi yang semalam itu bukan mampi?
"Mandi dulu atau makan dulu?" Rose tersenyum manis seraya mendekat kearah Justin.
Otomatis Justin memundurkan langkah, matanya turun menatap kondisinya. Biasanya Justin tidur tak mengenakan baju, dan naasnya ia benar-benar bertelanjang d**a, namun yang paling parah, kini ia hanya memakai celana boxer bergambar angry bird kado dari Jeny.
Demi dewa! Justin bertekad akan membuang boxer ini jauh-jauh. Masa bodoh dengan sopan santun, walau boxer itu adalah kado dari Jeny, Justin bertekad akan melenyapkannya tanpa sisa! Tapi tidak sekarang, saat ini ia masih butuh untuk menjaga asetnya. Bahaya kalau burung didalam kolor burungnya terbang.
"Aku mandi dulu!!" Teriak Justin dengan wajah memerah.
Lelaki yang mengaku bad boy kecintaan wanita dewasa itu, kini tertunduk layu dengan wajah memerah bak udang rebus bumbu asam manis. Mengambil langkah seribu, Justin berlari menuju kamarnya. Hilang sudah daya tariknya, kenapa Justin harus pakai celana boxer gambar angry bird sih?!
Kenapa?!!!
Kenapa?!!!
Kenapaaa??!!!
***
Wajah Justin teramat masam dengan beberapa kali merem melek, namun tangannya masih aktif menyuapkan masakan Rose yang luar biasa enak. Sebenarnya Justin berniat mau membatu, alias tak mau berkomunikasi dengan Rose karena terlalu malu akibat insiden boxer. Tapi karena ini masakan enak luar biasa, Justin jadi terus-terusan mengunyah, dan berseru memuji koki cantik dihadapannya, gagal sudah niat membatunya.
Disebrang sana Rose tak henti-hentinya tertawa geli dengan tingkah Justin. Justin pasrah saja deh, image nya dihadapan Rose sudah tak berbentuk lagi. Semalam ia menicum Rose padahal mereka tak ada hubungan apapun, dan paginya ia kembali berulah dengan berkeliaran dirumah tanpa pakaian. Ya, ya, masih dengan sehelai pakaian, alias celana boxer motif burung. Sialan!
"Jadi... semalem..." Justin melirik Rose ragu-ragu.
Namun Rose malah menopang dagunya dengan mata mengerling usil. Jangan lupakan senyumnya yang begitu fresh. Tak salah memang Justin menyukai Rose, wajah pagi hari Rose tanpa makeup pun sangat cantik. Malah bagi Justin lebih cantik Rose tak memakai makeup.
"Semalem apa?"
Makin saja Justin salah tingkah, kini Rose malah menggodanya dengan membalikkan pertanyaan. Terus Justin mau membalikkan apa? Sekarang saja nyalinya menciut dihadapan Rose.
"Semalem kamu mabuk, terus muntah," akhirnya Rose menerangkan, mungkin kasihan dengan wajah tak berdaya Justin.
"Tepat setelah nyium aku." tambahnya.
Sontak Justin melotot, makin ciut saja nyalinya, dan makin pasrah saja ia. Image-nya benar-benar sudah hancur sehancur-hancurnya. Ya dewa, kenapa Justin jadi aneh dan melempem sih saat dihadapan Rose? Padahal ia kan berniat menaklukkan hati wanita menawan ini.
"Jadi kita.. ciuman?"
Rose mengangguk enteng, seakan ciuman mereka tak berarti apapun. Karena ke entengan itu, hati kecil Justin terisak, apa ia memang tak semenarik itu di mata Rose? Batinnya merana.
"Oh iya, maaf ya aku pinjem baju kamu nggak ngomong dulu, abis baju aku kotor kena muntahan."
"Hah??"
Bodoh kau Justin! bodoh!!!!
"Nggak apa kok, namanya juga mabuk."
Semakin Rose tersenyum, semakin hancur harga diri Justin dihadapan tante idamannya ini. Apakah sekarang saatnya Justin balik kanan bubar jalan? Atau mundur dan memaerkan tangisan dan lelehan ingus?
Tidak! justin bukan lelaki yang mudah menyerah!
"Terus kamu tidur dimana semalem? Rumah kok udah rapi?"
Rose menandaskan jus mangganya hingga kosong, kembali tersenyum dan menyenderkan punggungnya kesenderan kursi.
Pergerakan Rose membuat Justin fokus mengikuti gerak-geriknya. Dihadapannya Rose begitu sexy hanya dengan mengenakan kaos oblong. Sisi gila Justin pun tumbuh, kenapa suasanyanya terasa mereka seperti sepasang kekasih yang sedang sarapan bersama ya? Tapi saat Justin menyadari badannya yang membungkuk lemah, bukan sepasang kekasih yang cocok untuk keduanya, lebih kepada seorang nyonya dan b***k yang tak mempunyai keberanian menghadapi majikannya.
"Semalem kamu bawa aku kekamarmu, mau tidur di puk-puk sama dikasih s**u katanya," Rose menghentikan ucapannya untuk menahan tawa, namun gagal karena tawanya pecah juga. Menatap Justin dengan tatapan jenaka, "Dan ya, aku yang memberishkan rumah."
Jeon membeku, benar-benar membeku. Rose membersihkan rumah padahal ia adalah tamu istimewanya! Lagipula, apa benar Justin membawa Rose kekamar? Dan apa-apaan dengan puk-puk dan dikasih s**u woy?! Ini beneran Justin mengatatakannya?!! Wahhhh b***t sekali kau Justin Fritz!!!
Meringis geli seraya menyeka sudut matanya, Rose kembali tertawa jenaka.
"Kamu kalau mabuk lucu ya, hiburan banget buat aku." tambah Rose dengan tawa yang masih terdengar begitu mengejek bagi Justin.
Sedang Justin sudah benar-benar pasrah. Niat hati memamerkan pesona ketampanan dan ke-sexyan-nya, namun semua hancur sudah. Mungkin bagi Rose, Justin adalah bocah menggemaskan yang gila. Tapi ngomong-ngomong.. Justin beneran dipuk-puk dan dikasih s**u tidak ya?
"Rose?!"
Tersadar dari lamunannya saat terdengar suara derit kursi, buru-buru Justin menahan langkah Rose yang hendak meninggalkannya. Rose yang merasa namanya dipanggil, menghentikan langkahnya dan menatap Justin.
"Emmm.. boleh nggak aku tanya?"
"Tentu,"
Menimbang-nimbang dengan seksama, Justin berkali-kali menelan ludah dengan gugup.
"Kamu udah nikah? Udah punya anak?"
***
"Ohhhhh, kemarin malam kami balik, nggak ada yang nginep kok emang. Lo teler parah, sumpah malu-maluin banget, ehh iya, gue sempet rekam juga nih," Jaehan yang diintrogasi kini nyerocos macam kaleng rombeng, dan sialannya lagi itu manusia kardus menyodorkan ponsel yang katanya berisi rekaman video Justin yang teler.
"Eitz... nggak ada yang gratis bro.." seringai Jaehan mengejek.
"Jiangkrikkk!"
Ini manusia, kenapa otaknya hanya berisi duit sih?! Bagaimana Justin tidak mengatainya udik dan fakir, kalau sama sohib sendiri saja perhitungannya bukan main! Tapi ya beginilah memang kelakuan manusia kardus itu, Justin sudah maklum saja walau sering membuat naik darah. Selembar uang bergambar presiden dan wakilnya terpaksa melayang begitu saja. Dan dengan sigap dan gesit ditilep bahagia oleh Jaehan.
"Cuk!! Apa-apaan nih?!!" Teriak Justin ngegas!
Sudah tak peduli lagi dengan tempat mereka nongkrong, mulutnya sudah gatal ingin mengumpat. Namun belum sempat umpatan kekesalannya terlontar, Jaehan sudah lebih dulu membekap mulutnya untuk tak mengabsen nama binatang di hutan.
"Diem b*****t! Lo mau diusir lagi sama bang Joni?!"
Bibirnya otomatis merapat, Bang Joni adalah pemilik cafe tempatnya nongkrong. Walau Bang Joni berbadan kekar penuh otot dan tato, namun peraturan dicafenya tak boleh ada yang mengabsen nama binatang hutan ataupun berkata kasar. Jika ada yang melanggar, akan di black list sebulan penuh. Mana tahan!
"Ini gue ngapain din.. ah elah malu-maluin banget sih!" Ratap Justin frustasi, dibentur-benturkan keningnya kearah meja.
Justin ingin lenyap saja dari peradaban dunia ini.
Dari video yang Jaehan tunjukan, dirinya yang sedang mabuk melucuti pakaiannya sendiri. Tentu saja hanya menyisakan boxer gambar burung marahnya. Parahnya lagi, Justin menangis meraung meneriakkan 'Rose, mau cium lagi!'. Tidak hanya itu, video yang ditunjukkan oleh Jaehan juga berisi rekaman dimana ia memeluk Rose dengan erat dan muntah di baju wanita itu. Lengkap kan? Fix, ini saatnya ia mengemasi barang dan pergi jauh karena malu.
"Hadehh Just, Just, lo emang kalau mabuk kagak main-main yak beringasannya," Jaehan yang kembali menonton video laknat itu, kini terbahak-bahak mengejek Justin yang frustasi.
Hilang sudah pesona mematikan Justin, mungkin kedepannya, dimata Rose, Justin adalah bocah gila, sinting, tak punya malu.
"Terus lo semalem ngapain sama tante Rose?" Dinaik turunkan alisnya menggoda.
Namun Justin hanya bisa mendesah kesal, ya mana ia tahu semalem ngapain sama Rose. Sadar saja enggak!
"Semalem tante nyuruh kita balik, kira-kira jam 3 apa ya," Jaehan sempat berfikir, lalu kemudian mengangguk memantapkan ucapannya.
"Lah ngapain kalian disuruh balik?"
"Kata tante nggak enak sama tetangga kalau pada nginep semua. Ya iya lah, semalem kan cowo cewe tumpuk baur jadi satu, mungkin tante takut terjadi yang enggak-enggak karena pada teler. Habis nasib lo kalau pak RT datang."
Justin mengangguk, memang pikiran Rose beda dengan pikiran pemuda macam dia. Tapi anehnya kenapa Rose tidur dirumahnya?
"Tapi Rose tidur dirumah gue loh, kenapa nggak pulang ya?"
"Ya mana gue tau, tanya sendiri lah," dengus Jaehan kesal. Matanya sudah aktif mencari mangsa, dedek gemes baru meletek, yang gampang dimodusin.
"Gue tanya tentang statusnya aja nggak dijawab," cicit Justin lemah.
Jaehan menatap soib gilanya dengan alis bertaut.
"Status apa nih?"
"Status apa Rose udah nikah apa belum, nggak dijawab. Tapi Rose bilang dia emang punya anak, hiks... kandas sudah..."
Jaehan sontak tertawa, mengejek Justin yang kini merengek macam bocah. Walau bagi Jaehan memang Justin masih tergolong bocah. Dirinya juga sih.
"Yaudah sih, lo deketin aja, lumayan kan udah ada bonus buntutnya."
"Kampret! Nggak ikut nyumbang benih kok disuruh ikut rawat!"