Cinta Monyet

2531 Kata
"Kak Justin, ini buat kakak," Justin memicing dengan wajah tanpa ekspresi. Dihadapannya seorang gadis belia menyodorkan sebuah kotak yang kalau diterawang, sepertinya sebuah bekal berisi makanan. Ditatap lagi gadis belia dihadapannya, kenapa belia? Karena pasti dia lebih muda dari Justin, mungkin mahasiswa baru? Karena dari gerak-geriknya terlihat tak berpengalaman. Hahh jelas bukan levelnya. Namun, dilirik lagi bekal makanan itu, Justin belum sarapan karena kuliah pagi, keluarganya masih di Semarang, jelas tak ada yang memberinya makan. Saat melihat kotak bekal yang beruap dan pasti masih hangat itu, perut karet Justin meraung-raung. Justin adalah manusia lurus yang tak menolak makanan, semua masuk. "Lo nggak taroh racun disini kan?" Gadis itu menggelengkan kepala kuat-kuat, dengan wajah tertunduk sipu. "Enggak kak, ini higienis kok, sumpah deh!" Buugg. Kotak bekal yang baru saja hinggap digenggamanya kini terlempar, mata Justin menatap nanar masakan yang berceceran. Isinya nasi dengan mie goreng. Aduh, mie yang dicetak didalam bekal adalah mie level dewa yang enaknya tidak ketulungan, apalagi kalau mienya ind*mie, dan dimakan pakai nasi. Kalori ditambah kalori adalah surga! Tanpa sadar Justin mengecapkan mulutnya. Namun itu mie beserta nasi-nasinya sudah terkapar ditanah, karena saat ini Justin memang duduk ditaman. Ditatap pelaku yang menonyor bekal makanan Justin, eh bekal makanan yang on the way menjadi miliknya, namun gagal. Justin hanya bisa menghela nafas saja melihat pelakunya. "Pergi!" Justin memutar bola matanya malas, Yenita alias Yeni si pembawa onar adalah pelakunya. Gadis pemberi bekal itu menunduk semakin dalam, melirik Justin sekilas seakan meminta pemelasam, lalu pergi. Namun belum juga gadis itu berjalan sampai 5 langkah, Yeni memanggil gadis itu lagi. Sebenarnya Justin tak tega melihat wajah murung gadis itu, tapi kalau ia ikut campur, pasti urusannya akan panjang. Justin tak siap jika gadis belia itu akan berakhir menempel makin erat padanya. Padahal Justin sama sekali tak berniat memelihara belia. Justin hanya lelaki suci yang berhati emas, dimana hatinya sering terenyuh karena merasa kasihan dengan sesama. Melihat iklan j*linan kasih saja Justin terenyuh, berkhirlah ia menyisihkan uang jajannya untuk membantu sesama. "Pungut tuh makanan lo! ..Justin!" Pekik Yeni yang kini beralih fokus pada Justin. Karena malas dengan ocehan Yeni, Justin pergi begitu saja meninggalkan perdebatan itu. Kepalanya sedang pening, tak mau mengurusi masalah lain yang membuatnya semakin naik darah. "Justin mau kemana?" "Cari tante-tante!" Balas Justin sekenanya. "Ihh!" Yeni menghadang langkahnya dengan merentangkan kedua tangan. "Nggak boleh cari tante-tante!" Wanita bar-bar itu terus menghalangi Justin dengan badan cebolnya. Kanan, kiri, Justin terus mencoba mengelak, namun Yeni malah semakin menekankan badannya kearahnya. "Apa sih?!" "Kamu itu apaan? Kenapa ninggalin aku?" "Buat apa gue nungguin lo? Emang lo siapa?" Yeni mencebik kesal, namun wanita itu malah merangkul lengan Justin posesif. "Mau kemana? Ikut ya.." Digaruk kepala Justin dengan kesal, Justin sedang pusing, frustasi, sekaligus galau. Pusing yang ia rasakan adalah karena pesta yang ia gadang-gadang akan dilakukan setiap malam berakhir gagal ia canangkan. Papanya benar-benar pulang untuk mengecek keadaan rumah. Walau tak sempat saling bertemu, namun jejak kemeja dan sepatu papa yang tergeletak menyadarkan Justin jika papanya memang pulang. Justin tak mau disunat dua kali karena ketahuan, ia terpaksa tak melakukan pesta lagi. Serta kegaluan hatinya adalah karena Rose, sejak terakhir kali ia bersama Rose dirumahnya, Rose tak ada kabarnya lagi, wanita itu hilang jejak. Ditelpon tak diangkat, dikirim pesan tak dibalas. Frustasi rasanya memikirkan kemana perginya, apa Rose benar-benar ilfeel pada Justin dan tak mau menemuinya lagi ya? Awalnya Justin berniat menyerah, saat ditanya apa Rose memiliki anak, Rose mengangguk, bahkan wanita itu tersenyum manis pada Justin, seperti sedang bangga tentang statusnya. Tentu karena adanya buntut, Justin merasa keberatan, bertekad akan melupakan Rose. Namun baru berselang 2 hari, Justin sudah kalah. Entah kenapa ia rindu pada Rose, ingin kembali melihat wajah cantik dan senyuman memabukkannya. Justin memutuskan untuk berfikir sempit, kalau untung-untungnya mereka bisa semakin dekat, mungkin itu hanya sementara. Karena Justin merasa perasaan akan mudah berubah-ubah, bahkan Sarah-pun berubah tak mencintainya lagi. Justin memutuskan menahan diri, namun dengan tetap memastikan apakah ia benar-benar menyukai Rose. Tapi ini Rose dimana!!! Hiks.. Dilirik Yeni yang kini tersenyum kearahnya, ahh.. bukankah Yeni dan Rose saling kenal? Dulu Jaehan kan dapat nomor Rose dari Yeni. Seketika sebuah bohlam kuning berpijar diatas kepalanya. Dengan tersenyum manis dan dibuat seberlebihan mungkin, Justin melepaskan rangkulan Yeni pelan-pelan. Tentu tak mungkin ia berbuat kasar saat sedang merayu untuk minta ditolong. "Mau ngopi sama gue nggak?" "Mau!!!!" Buset dah, Justin memundurkan kepalanya kaget, ini wanita satu memang beringasan, ditambah suaranya yang melengking membuat telinga Justin berdenging-denging. *** Dengan terpaksa, Justin mengajak Yeni untuk ngopi-ngopi. Sekedar menggali informasi sedekat apa Yeni dengan Rose, dan kenapa wanita itu menghilang tanpa jejak. Semoga saja Yeni tahu sesuatu. "Boleh tanya nggak?" Yeni mengangguk antusias, mencondongkan badannya merapat kepenghalang antara keduanya, yaitu meja. "Lo temenan sama Rose?" Alis Yeni bertaut, wanita itu memundurkan badannya dengan raut tak suka. Mungkin Yeni kesal karena Justin menanyakan wanita lain, dan bukan dirinya? Wanita itu kini memicing, seakan sedang menelisik Justin yang hanya diam tanpa ekspresi. "Nggak temenan juga sih, emang ada apa?" "Jaehan suka sama Rose katanya, bisa bantuin pdkt nggak?" Kembali Yeni menatap menyelidik, wanita ini memang sangat jeli dan hati-hati, rasanya akan sulit menggali informasi darinya. Kalau Yeni tak bisa diharapkan, Justin akan meminta bantuan ahli IT untuk melacak keberadaan Rose! Daripada Justin harus mati penasaran dan dibakar rindu, lebih baik Justin berbuat sedikit kriminal dengan melacak Rose secara ilegal. Tak apalah uangnya kembali terkuras, setidaknya ia harus berusaha mendapatkan hati Rose. Rasanya Justin seakan hilang pesona saat mendekati Rose, namun itu memberinya tantantangn untuk semakin merapartkan diri pada sosok Rose yang digilainya itu. "Bisa!" Seru Yeni semangat. Oh wow, semua sangat diluar ekspektasi. Awalnya Justin beranggapan Yeni akan alot memberi informasi, tapi nyatanya wanita itu mudah dikibuli juga. Tersenyumlah Justin dengan bahagia. Begitupun Yeni yang ikut tersenyum mengimbangi Justin. Namun senyuman keduanya memiliki maksud dan tujuan yang berbeda tentunya. "Oke, kasih alamat Rose." "Eitz.. aku belum selesai ngomong," Kini Justin yang memicing curiga, dihadapannya Yeni tersenyum-senyum. Yang Justin yakini pasti ada pikiran laknat dibalik senyumnya itu. "Bisa, tapi ada syaratnya," Tuh kan... benar dugaan Justin, memang manusia disekitar Justin semuanya kurang ajar. Kemarin Jaehan yang meminta imbalan, kini Yeni pun sama saja? Jangan-jangan jodoh tuh dua manusia. Jika Jaehan si manusia kardus disatukan dengan Yeni si ulet keket, maka anaknya jadi apa ya? Kardus berbulu? "Pfftt..." tanpa sadar Justin tergelak dengan lelucon garingnya. Namun tak mau larut, segera dinetralkan wajahnya kembali seperti semula. "Kamu semangat banget? Oke, jadi aku anggap kamu mau memenuhi syaratnya! Lusa jemput aku dirumah, bye!" "Hehhh Yenita! Mau kemana lo?? Ini alamatnya Rose mana?!!! Woyyyy!!" Mendesah kesal seraya mengusak rambutnya, Justin yang awalnya berdiri—karena Yeni yang kabur begitu saja—kini kembali mendudukkan diri. Namun bunyi ponselnya membuat fokusnya teralih. Senyuman lebar menggembang otomatis ketika membaca pesan yang ternyata pengirimnya adalah Yeni. Bukannya Justin suka berkirim pesan dengan Yeni, namun isi pesan wanita ulet itu kali ini adalah berisi sebuah alamat. Ehh... Justin memicing membaca berulang alamat itu, lahh ini alamat siapa??! Rose apa Yeni? *** Justin mencebikkan bibirnya kesal. Tak hanya Rose yang hilang tanpa kabar, Jaehan juga tak dapat ditemui. Dirumah kontrakan tak ada, dihubungi tak diangkat, kemana manusia kardus itu?! Walau mereka selalu bertengkar dan saling hina, namun keduanya memang saling ketergantungan. Jaehan tak bisa jauh dari ladang gizinya, dan Justin tak bisa jauh dari ladang keenceran otak manusia kardus itu. Karena nyatanya selama ini peran Jaehan lumayan besar dalam kehidupannya. Dibalik sifat matrealistis Jaehan, lelaki itu sering membagikan pendapat dan saran yang cocok untuk Justin terapkan pada dunia percintaannya. Dengan suara radio yang melirih mengalunkan lagu bergenre koplo, Justin melajukan mobilnya menuju alamat—susulan— yang Yeni berikan. Hari ini adalah hari janjian paksanya dengan Yeni. Sekedar info, alamat pertama yang Yeni berikan memanglah alamat rumah Rose. Sebuah komplek perumahan mewah yang untuk masuk melewati gerbangnya saja harus mendapatkan izin dari seseorang yang akan ditemui. Tentu saja Justin disepak bebas oleh satpam, karena memang ia tak memiliki akses untuk menuju rumah Rose. Mereka tak memiliki janji temu. Malang sungguh malang nasibmu Justin. Satu tikungan terakhir hingga ia masuk kekomplek perumahan Yeni. Kompleknya juga termasuk perumahan elit, memang keluarga Yeni memiliki rekam jejak keluarga kaya. Tantenya saja ketua yayasan dikampus, wajar saja jika Yeni tinggal diperumahan elit. Justin berhenti tepat dihadapan Yeni yang berdiri dengan gelisah, wanita itu segera masuk tanpa diminta. "Lama ih!" rengek Yeni seraya menambah kecepatan AC mobil. Tangannya mengetikkan sebuah alamat pada maps mobil Justin. "Kita udah telat, ini alamatnya," Justin masih menatap Yeni tajam, matanya tadi sudah sempat menelisik penampilannya. Wanita itu terlihat formal dengan gaunnya, sedang Justin hanya memakai kaos oblong hitam favoritnya dan dibalut jaket kulit, serna celana cargo slimfit. Penampilan kedunya tentu bertolak belakang, saat ini Justin lebih tampak macam supir. "Ayo jalan." Yeni berkedip polos, namun malah membuat mood Justin kian turun saja. "Lo suruh gue kesini buat apa hah? Jadi supir? Sorry, turun aja lo!" "Enggak kok!!!!" Yeni menggeleng dengan wajah khawatir, tentu wanita itu takut Justin akan marah. "Aku minta anter keacara keluarga digedung serbaguna." What! Apa-apaan ini?! "Please... kamu nggak akan nyesel deh sumpah, makan gratis lagi. Aku juga ajak Jaehan kok, entah dia datang apa enggak." Justin memicing, kenapa jadi ada Jaehan? Kan Jaehan tak dapat dihubungi, lalu bagaimana Yeni bisa meminta manusia kardus itu datang juga? Tangan Justin terulur mengeraskan volume musik koplo dari radio. Oke, mari ikuti dulu apa mau Yeni, jika mencurigakan, cukup pulang saja kan? "Ihh kamu suka musik beginian?" Lirih Yeni setelah memasang seat belt-nya. Justin hanya mengangguk, melajukan mobilnya seraya bergumam tak jelas mencoba mengikuti musik yang bahkan tak ia ketahui. Satu bentuk penolakan lembut Justin ketika tak menyukai wanita yang semobil dengannya adalah menyalakan musik koplo. Justin tahu, jika anak muda zaman sekarang gengsi jika menyukai musik koplo yang identik dengan gendang yang mendayu itu—karena jujur Justin juga tak menyukainya. Itulah kenapa kini ia mengencangkan volume radio, ia mau Yeni geli padanya. Dihadapan orang yang bukan incarannya, Justin tak keberatan dicap lelaki kurang keren. Bodo amat. *** 30 menit perjalanan yang membosankan akhirnya dilalui. Semua karena macetnya jalanan Ibu Kota yang menyebalkan. Justin bertekad akan pindah jauh setelah wisuda nanti, pergi jauh merantau kepulau lain yang belum banyak terjamah manusia, pasti akan seru. Apalagi jika bersama wanita yang didambakannya, pasti surga dunia. "Kamu ikut turun ya? Jaehan didalam juga nih," Yeni melepaskan seat belt-nya lalu menatap Justin. Sedang Justin mengernyit kesal, bagaimana bisa Jaehan didalam gedung serbaguna yang kini ramai itu? Sementara Justin menghubungi pun tak ada respon. Tanpa berucap Justin turun dari mobil, untung pintu mobilnya akan terkunci otomatis begitu tak ada tanda-tanda manusia didalamnya. Jadi tak perlu ia menunggui Yeni untuk turun. Jangan tanya apa merk mobil keren Justin, tanyakan saja pada Papa OKB-nya! Matanya menyapu beberapa orang berlalu lalang, pakaian mereka terlihat rapi. Otomatis Justin menurunkan pandangannya, jika ia masuk dengan jaket kulit ini apa tak dianggap preman yang hendak mengacaukan acara? "Tungguin dong!!" Yeni merangkul lengan Justin tanpa permisi. Namun segera dihempas oleh Justin, mood-nya benar-benar jelek, dan tak akan ia bermurah hati pada Yeni yang notabennya tak masuk list sahabat ataupun teman. Hanya kenalan, tak lebih! Namun terpaksa Justin menunggui Yeni, saat dipintu masuk dihadang dan ditanyai kartu undangan. Justin tak mempunyai kartu undangan, terpaksa dia harus menunggu Yeni, hahhhhhh. "Makanya tungguin aku." gerutu Yeni seraya mengeluarkan kartu undangan. Justin kembali melesak masuk saat mereka sudah diberi akses. Segera Justin menajamkan fungsi matanya, manusia kardus adalah incarannya. Lihat saja, saat Justin menemukannya, akan ia piting lehernya hingga nafasnya diujung batas. Emosi rasanya ketika disisihkan oleh sohib sendiri. Oke, Justin memang begitu mellow. Sebenarnya Justin berniat menyerah, tamu diacara ini memakai dresscode yang kini serempak warnanya. Saat ini Justin seakan menjadi kuning telur diantara putih telur yang lebar. Hanya dia yang memakai pakaian yang beda sendiri, serba hitam. Karena dresscode itulah Justin susah menemukan Jaehan. Berkali-kali Justin mencoba menghubungi Jaehan, namun tak kunjung mendapat jawaban. Ini manusia kardus, siap-siap akan Justin loak-kan! Lihat saja, Justin tak akan lagi memberi tunjangan ladang gizi. Gizi buruk, gizi buruk deh itu manusia. "Loh Fritz, kamu disini?" Jeon menoleh begitu lengannya disentuh, yang menyentuh lengannya adalah Claudia. Sepupu jauhnya yang merangkap sebagai cinta monyet Justin. Tentu kehadiran Claudia disini membuat Justin memutar otak dan memutar kenangan, lagipula kenapa Claudia disini? Jika memikirkan tentang Claudia, dialah wanita yang membuat Justin menyukai wanita dewasa. Claudia juga yang membuat Justin membenci panggilan Fritz, Claudia yang paling suka memanggilnya Fritz, dan sekarang Justin membenci panggilan itu. Justin menyukai Cludia saat ia duduk dikelas 6 SD, sedang Claudia sudah duduk di kelas 3 SMA. Claudia sangat memesonanya kala itu, dan wanita yang berhasil membuat Justin menangis sapanjang malam adalah Claudia. Justin menangis tersedu saat Claudia dilamar seorang pengusaha, Claudia menikah setelah lulus SMA, dan saat itu Justin baru duduk dibangku SMP. Justin bahkan belum sempat mengutarakan cintanya. Jika diibaratkan tanaman, Justin adalah rumput yang sedang berjuang mengimbangi sebuah pohon mangga, namun saat ia mulai tumbuh, seorang petani membabatnya habis, dan menggantikan dengan pohon durian. Sakit. "Hey? Kok ngalamun?" Justin mengerjap, kenapa kenangan itu kembali muncul, kesal rasanya karena sampai sekarang ia belum bisa merasa lega dan enteng hati saat bertemu Claudia. Rasanya Justin masihlah lelaki yang lemah. "Oh ya, kamu mau ketemu tante? Itu disana, Jeny juga tuh." Justin mengikuti uluran tangan Claudia, dan benar saja Papa, Mama, dan Jeny sedang bersenda gurau disana. Namun Justin jadi berfikir keras, kenapa mereka disini? Bukannya mereka di semarang? Ahh, Justin jadi ingat, tadi sebelum ia pergi, Justin melihat sepatu Papanya dirumah. Berarti Papa memang sempat pulang lagi. Oke, wajar saja keluarganya disini, acara di semarang pasti sudah selesai. Lagipula, cuma tunangan tak mungkin benar-benar berlangsung selama 5 hari kan? "Yaudah ya aku pergi dulu, Nana merengek minta pulang." Justin menurunkan pandangannya, seorang gadis kecil merengek-rengek seraya menarik gaun Claudia. Ahh.. Claudia memang sudah memiliki Putri yang cantik. Sungguh apes hari ini, mood jeon benar-benar didasar tanah, dan kini bahkan ia harus kembali bertemu dengan cinta monyetnya. Kembali Justin melamun, mengabaikan Claudia yang bahkan kini sudah beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari Justin. Dengan masih berdiri ditengah kerumunan, Justin menatap sekeliling, suasana sangat ramai. Saat ia menatap keluarganya, ia menyadari sesuatu, keluarganya juga mengenakan dresscode yang sama dengan tamu undangan. Jadi ini acara apa? Apa keluarganya juga diundang keacara ini? Ahh mungkin rekan bisnis Papanya. Terus? Kenapa Jaehan disini juga? Ahh... iya, Justin ingat jika Yeni bilang ini acara keluarganya. Jadi selama ini Papanya dan keluarga Yeni saling kenal? Ewwwww... semoga Papanya tak menganut pemikiran kuno yang menjodohkan anaknya dengan anak rekan kerjanya. Justin tak mau! Tak akan mau!! "Loh, Justin?" Justin mengerjapkan matanya, didalam keramaian seperti ini membuatnya sedikit sesak nafas. Justin memang terbiasa sendirian, semua karena sifatnya yang dulu sempat menjadi introvert. Justin mengenal dunia luar dan mulai melangkah sedikit nakal karena Sarah, sebelumnya ia hanya anak rumahan yang mudah panik dikeramaian. Itulah kenapa Justin tak suka datang diacara yang ramai macam ini—tadi ia sempat lenggah, tak memikirkan jika tempat ini akan sepenuh ini. Kecuali saat berpesta, saat berpesta Justin akan menenggak alkohol, dan otomatis kesadarannya menipis. Namun saat ini, Justin benar-benar sadar, ia tak sedang dibawah pengaruh alkohol. "Hey, Justin!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN