Dua puluh Lima

1418 Kata

“Irsyad!” pekik Runa. Kursi yang ia duduki terdorong hingga jatuh ke belakang. Kaget. Reaksi yang Runa alami begitu melihat suaminya menghadiahkan bogem mentah ke wajah Dito. “Saya udah bilang sama kamu, jauhin keluarga saya,” ucap Irsyad, satu tinjuan kembali bersarang di perut Dito. Lelaki yang mengenakan t-shirt polo berwarna navy itu tak sedikitpun melawan malah menyunggingkan senyum tipis persis seperti beberapa waktu lalu saat Irsyad memukulinya.  Beberapa orang yang sedang menyantap makanan di sana menatap bingung dengan kejadian itu. Tak ada yang berusaha menahan Irsyad atau menjauhkan lelaki yang diliputi amarah itu dari Dito, Runa yang melihat suaminya kalap itu berusaha memisahkan seorang diri. Di tariknya lengan Irsyad agar tak terus menerus memukuli Dito.  “Irsyad berhenti!

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN