Empat

2112 Kata
“Mama, ngapain sih pagi-pagi kesini?" Tanya Irsyad. Pagi ini ia benar-benar tak suka dengan kehadiran Dini dirumahnya. "Mama kangen Akia, kenapa? Kamu kok kayaknya enggak suka sekali lihat Mama disini," tanya Dini. "Kenapa harus pagi-pagi sih, Ma?" Tanya Irsyad. Rasa kesalnya masih belum hilang karena kedua orangtuanya datang dan menggangu pagi intimnya bersama Runa. "Kalau Mama datang malam memang boleh? Pagi aja kamu kesal gimana kalau malam, kamu mau Mama ketok-ketok pintu pas kalian lagi enak-enaknya," ucap Dini yang kemudian menyeruput teh manisnya. Runa yang baru meminum s**u di gelasnya langsung tersedak mendengar ucapan Dini. Irsyad yang duduk di hadapan Dini langsung mengambil langkah panjang mendekati istrinya. "Pelan-pelan," ucap Irsyad sambil menepuk-nepuk punggung Runa yang tengah terbatuk-batuk di dekat pantry. "Mama kalau ngomong suka enggak di saring deh," omel Irsyad pada Dini. "Iya, sama kayak kamu," sahut Tama yang sejak tadi sibuk dengan koran pagi yang baru di antar. Runa yang mendengar mertuanya bicara kembali terbatuk. Dini menepuk bahu suami yang duduk di sampingnya, sedangkan Irsyad mengambil air putih untuk Runa. "Papa kalau ngomong suka benar ya, Yah," bisik Runa seusai meneguk air minumnya. Irsyad yang diledek sang istri menarik hidung Runa dengan gemas. "Kamu itu bukannya belain suami," protes Irsyad. "Sakit, ih," protes Runa. Bibirnya maju beberapa senti, tangannya menepis jemari Irsyad yang masih menjepit hidungnya. "Kalian udah tahu kalau Gendis kecelakaan?" tanya Dini. Runa dan Irsyad yang berada di pantry menghentikan senda gurau mereka. Runa yang terlebih dulu menghampiri Dini menarik kursi dan duduk menghadap mertuanya. "Beberapa hari yang lalu aku lihat di berita, sekarang kondisinya gimana, Ma?" Tanya Runa. "Run... bukannya tadi kamu mau masak?" Tanya Irsyad, menyela. "Ah, iya... Ma, aku tinggal masak dulu ya," ucap Runa yang segera kembali ke dapur. Irsyad mendekati Dini, mengambil tempat tepat disisi Mamanya. "Ma, tolong jangan bicarakan Gendis lagi," pinta Irsyad dengan suara berbisik. Ia tak ingin nama  Gendis hadir lagi di hidupnya, apalagi di depan sang istri. Ia tak ingin membuat Runa teringat tindakan Gendis yang sebenarnya begitu menyakiti hati Runa dan Irsyad. "Iya, iya maafin Mama," ucap Dini. **** "Kita mau kemana?" tanya Runa yang terus memperhatikan jalan dari dalam mobil. "Nanti juga tahu," jawab Irsyad sambil tersenyum. "Kenapa Kakak enggak di ajak?" tanya Runa, lagi. "Biar main dulu sama nenek dan kakeknya, kasihan Bundanya butuh refreshing," jawab Irsyad, sebelah tangannya yang bebas mengusap puncak kepala perempuan yang duduk disampingnya. "Emang aku kenapa sampai harus di kasihani?" tanya Runa, tangannya terlipat diatas d**a sambil menatap suaminya dengan sinis. "Jangan gitu, ah posenya, bikin konsentrasi aku ilang aja," ucap Irsyad yang tengah melirik ke arah d**a besar Runa yang tercetak jelas. "Dasar m***m," ucap Runa, tangannya meninju-ninju pipi Irsyad dengan pelan membuat Irsyad tertawa. Diraihnya tangan Runa, digenggamnya jemari lentik itu dengan begitu lembut hingga membuat Runa terdiam, aliran darah yang terasa begitu hangat mengalir di tubuh ketika Runa merasakan sentuhan itu. Irsyad mengemudikan mobilnya sambil mengenggam tangan Runa, hanya sesekali ia melepaskan untuk menganti gigi atau menarik rem tangan, selanjutnya ia akan kembali menarik tangan istrinya untuk ia genggam. Ia seperti tak ingin kehilangan perempuan itu. "Yah, aku enggak akan loncat dari mobil kok," ucap Runa saat Irsyad kembali meraih tangannya. "Iya aku tahu, kok," sahut Irsyad dengan santai. Dan terus memperhatikan jalanan. "Tangan kamu pas aja buat di pegang sama tangan aku, klop gitu," lanjut Irsyad sambil memutar kemudi ke kanan. "Emang yang dulu enggak pas?" tanya Runa, wajahnya mendekati Irsyad dengan alisnya yang naik turun menggoda Irsyad. "Apaan sih kamu," sahut Irsyad yang sepertinya tak suka dengan pertanyaan jebakan yang Runa lontarkan. Runa kembali menyandarkan di kursinya. Membuang napas dengan cepat dan memandangi jalanan yang tak begitu padat. "Apa kabarnya ya dia?" tanya Runa entah pada Irsyad atau pada angin. Irsyad tak merespon ucapan Runa. Ia hanya diam terus memandangi jalanan, membuat Runa melirik sedikit dari ujung matanya. "Kamu enggak cari tahu tentang kabar dia, Yah?" tanya Runa lagi. "Buat apa, aku udah enggak ada urusan sama dia. Ada kamu, ngapain aku cari-cari tahu tentang dia," sahut Irsyad. "Jadi kalau aku udah enggak ada, kamu cari dia lagi dong, Yah?" Tanya Runa kepalanya sudah dimiringkan, menanti jawaban yang akan Irsyad berikan. Irsyad membuang napasnya dengan kesal, ia menyesali jawaban yang ia berikan sebelumnya. Ia lupa bahwa perempuan memiliki begitu banyak pertanyaan jebakan yang siap dilontarkan kapan saja, dimana saja dan dalam situasi apa saja hingga membuat para adam hanya bisa menggaruk kepala, kebingungan. "Maksudnya enggak gitu, Sayangku," sahut Irsyad yang berusaha menekan kekesalannya agar tak meledak di depan istrinya itu. "Terus maksudnya apa?" tanya Runa lagi, wajahnya sudah terlihat mendung. Membuat Irsyad yang melihat raut itu memukul stir mobil untuk melampiaskan semua emosinya. "Kok aku gemas ya, Run , rasanya mau aku cubit bibir kamu yang manyun itu," gerutu Irsyad sambil meremas genggaman tangannya. "Jadi kamu mau melakukan KDRT?" tanya Runa lagi yang membuat Irsyad semakin kehilangan kata. Ia benar-benar tidak bisa menebak pikiran perempuan, terutama perempuan satu ini. Kenapa pembicaraan mereka bisa menjadi berbelok  kesana kemari dalam hitungan detik saja. Mengerikan, perempuan dengan semua taktiknya. "Iya enlggak, nih dengar ya cantikku, sayangku, maksud aku bukan mau nyiksa kamu, enggak.  Maksud aku, aku gemas karena kamu begitu cepat merubah topik. Tadi kamu 'kan nanyain kabarnya Gendis, kenapa sekarang jadi ke KDRT sih," ucap Irsyad panjang lebar. "Memang kapan aku nanyain Gendis?" tanya Runa dengan mata menyipit. Aish salah lagi, batin Irsyad. Kalau begini terus ia bisa kena stroke saat menghadapi Runa. "Iya-iya aku salah, udah jangan bahas-bahas itu lagi ya, ‘kan kita lagi kencan, Run " ucap Irsyad dengan nada yang sedikit meninggi akibat menahan keinginannya untuk mengamuk. "Kencan apaan? Kamu enggak inget umur ya, Pak tua?" sindir Runa. Berdecak kesal Irsyad mengalihkan pandangannya ke arah Runa. Perempuan yang memakai kaos putih polos itu tersenyum menunjukkan deretan gigi sambil mengangkat jari membuat tanda peace. "Kamu suka naik kuda enggak, Run," tanya Irsyad. Mobilnya memasuki salah satu tempat wisata yang di dalamnya juga terdapat penyewaan kuda. "Aku baru lahiran enam bulan, Syad, kamu mau ajak aku naik kuda? Tega banget," ucap Runa. Kepalanya bergeleng-geleng tak habis pikir. "Lah, siapa yang ngajak kamu naik kuda, aku 'kan cuma tanya kamu bisa naik kuda atau enggak," sahut Irsyad. Membuat Runa mendengkus, ingin rasanya ia menggaruk wajah Irsyad saking kesalnya. "Aku enggak suka naik kuda," jawab Runa ketus, wajahnya berpaling ke arah jendela. "Kamu sukanya jadi kuda ya, Run?" Ledek Irsyad. Wajah lelaki itu sedang cengengesan, ia menjawil dagu Runa yang cemberut. "Kamu kapan mau insyaf? m***m banget," omel Runa. Cubitan kecil di lengan membuat Irsyad memekik kesakitan "Emang aku m***m apa sih, Run?" Sungut Irsyad yang masih kesakitan. "Iya itu tadi, maksudnya apa bilang aku sukanya jadi kuda," sahut Runa emosi, dagunya terangkat tinggi menantang suaminya untuk menjawab pertanyaannya. "Iya, terus dimana mesumnya," balas Irsyad. "Y-ya disitu lah pokoknya,"jawab Runa tak bisa menjelaskan hal yang ia maksud. "Kamu tuh yang udah m***m," ledek Irsyad. "Ayo turun," ajaknya saat mobil mereka terparkir di sebuah lahan parkir yang cukup luas. "Ini tempat apa?" Tanya Runa yang masih memperhatikan sekitar dari dalam mobil. "Turun dulu aja, nanti juga tahu," jawab Irsyad. Lelaki itu keluar dari mobil lebih dulu dibanding Runa. Perempuan itu meraih tas yang berada di jok belakang dan segera keluar menyusul suaminya. Irsyad sudah berdiri di dekat Runa saat perempuan itu keluar dari mobil. Irsyad meraih jemari Runa dan menariknya menjauhi mobil. "Kita mau apa disini? Ini bukannya tempat pacuan kuda?" Tanya Runa yang terlihat bingung. Ia sempat melihat baleho besar bergambar sebuah logo berwarna hitam putih itu menggambarkan seseorang yang sedang menungangi kuda. "Iya," jawab Irsyad ia mengganti kaitan di jemarinya dengan rangkulan dibahu Runa. Keduanya berjalan beriringan dengan jarak yang begitu dekat. Hubungan keduanya memang sudah semakin intim walau terkadang masih ada rasa cangung di diri Runa. "Kan aku enggak mau naik kuda," protes Runa yang melepaskan diri dari Irsyad. "Iya tahu, kita enggak naik kuda kok, kita cuma makan aja, ada  restoran milik temanku disini," sahut Irsyad, tangannya sudah bertolak pinggang karena kesal dengan sikap Runa. Apalagi saat rangkulannya di lepas, perempuan itu pun menjauh sambil melipat tangan di atas d**a dan wajah cemberut seperti anak kecil. Benar-benar  kesabaran Irsyad di uji saat ini.  Runa itu menggemaskan tapi mengesalkan. "Untuk apa jauh-jauh meninggalkan Akia cuma untuk makan!" omel perempuan itu. "Untuk menyenangkan kamu, aku rasa kamu perlu refreshing," sahut Irsyad yang mulai tak sabar menghadapi istrinya. "Aku enggak butuh refreshing, aku cuma butuh Akia," ucapnya lalu kembali ke mobil. Berusaha masuk ke dalam mobil yang masih terkunci. "Buka!" Bentak Runa pada suaminya yang tengah menyipit ke arahnya. *** Runa dengan kesal berjalan masuk ke dalam rumah. Waktu yang harusnya ia gunakan untuk mengasuh anaknya terbuang sia-sia karena ulah suaminya. Dengan wajah di tekuk perempuan itu langsung menuju ruang tengah dimana anaknya sedang bermain dengan kakek dan neneknya. Runa duduk bersebelahan dengan Tama di atas karpet tebal yang ada di ruang tengah. Ia meraih bayinya, memangkunya dan menciumi kepala bayi berambut hitam legam itu. Ia seperti telah dipisahkan bertahun-tahun dan baru berjumpa lagi saat ini. Tama dan Dini yang kaget dengan kehadiran Runa mematung bersamaan menatap menantunya. “Kamu kenapa ada disini? Bukannya Irsyad ngajak jalan-jalan?” tanya Tama heran. Setelah sarapan tadi Irsyad meminta tolong pada kedua orang tuanya untuk menjaga Akia beberapa jam, ia mulai khawatir dengan keadaan Runa yang sepertinya kelelahan dan tak pernah keluar rumah untuk bersenang-senang. Lelaki itu ingin mengajak sang istri melakukan “kencan” sejenak sekaligus melepas lelah yang selama ini menyerang keduanya. “Enggak jadi, Pa, kalau nanti Akia nyariin aku, Mama dan Papa yang repot,” jawab Runa sambil menatap Akia. Bayi itu sedang mengenggam telunjuk Runa, menggoyangkan jemari Ibunya dengan sangat riang, terlihat dari senyum yang tercetak di wajahnya. “Irsyad mana, Run?” tanya Dini, matanya mencari anak lelakinya yang tak kunjung muncul. “Enggak tahu, Ma,” jawab Runa singkat, ia masih diliputi kesal yang akhirnya berdampak pada tidak peduli dimana keberadaan lelaki itu. Tama bangun dari tempatnya, ia berjalan ke arah luar rumah untuk mencari keberadaan Irsyad. Didepan pintu Tama celingak celinguk karena tak mendapati sosok Irsyad. “Kok enggak ada ya, Run, tapi mobilnya ada, itu anak kemana sih?” tanya Tama dari depan rumah. “Biarin aja, Pa, palingan ngerumpi sama tetangga, hari minggu ‘kan pada di rumah,” jawab Runa yang menggendong Akia mendekati mertuanya. Dini yang mengekor di belakang Runa mengernyitkan keningnya tak percaya dengan yang di katakan Runa barusan. “Ngerumpi?” tanya Dini “Iya, Ma, biasanya bapak-bapak disini suka meet up, nanti main kartu atau karambol di rumah Pak RT,” jawab Runa membuat Tama menggelengkan kepala sambil terkekeh. “Terus Irsyad ikutan?” tanya Dini lagi. Ada rasa tidak percaya yang terlihat saat wanita itu bertanya. Runa mengangguk. “Hebat Irsyad mau kumpul-kumpul begitu, dia pasti kalah tiap main kartu deh,” ucap Dini. Tangannya menutupi mulut yang tertawa membayangkan anaknya bermain kartu. “Masa sih, Ma?” tanya Runa tak percaya, karena selama ini jika suaminya pulang dari acara temu kangen bapak kompleks wajah gembira selalu ditunjukkan lelaki itu. Pernah suatu kali Runa bertanya pada suaminya kenapa malam itu ia terlihat begitu senang, Irsyad menjawabnya dengan hal tak terduga, “habis bikin mochi di rumah pak RT jadi cemong tepung” itu yang di katakannya dengan senyum sumringah. “Ya kamu pikir aja, Run, ngapain bapak-bapak bikin mochi malam-malam, kurang kerjaan,” ucap Dini sambil cekikian tak habis pikir dengan kepolosan Runa. “Jadi aku di bohongi sama Irsyad dong, Ma?” tanya Runa memastikan. Dirinya baru menyadari selama ini ia dikerjai oleh sang suami. "Coba aja nanti kamu tanya, susunan kartu itu kayak gimana," suruh Dini. Runa terdiam memikirkan saran Dini. Melihat Tama dan Dini tertawa sedemikian kerasnya kemungkinan memang Irsyad memang tak tahu tentang permainan kartu. "Rame banget, pada kenapa sih?" Tanya Irsyad yang baru datang dengan kantung plastik putih di tangan. "Enggak ada apa-apa lagi cerita lucu aja," jawab Tama yang berusaha menyudahi tawanya. "Kamu bawa apa?" Tanya Dini mengubah topik obrolan agar Irsyad tak mengetahui dirinya sedang dibicarakan. "Di kasih Pak RT, bolu pisang, katanya sih anaknya yang buat,"ucap Irsyad. Di letakkannya bungkusan putih itu dimeja ruang tamu. "Kakak, lagi apa hemh?" Sapa Irsyad ke anak perempuannya. Jarinya mendekati wajah Akia. Namun sebuah tepisan yang cukup kuat sudah menghentikan niatnya untuk mengelus wajah mulus Akia. "Cuci tangan dulu sana sama ganti baju, baju kamu bau rokok tahu tiap dari rumah Pak RT," ucap Runa. Matanya melotot menatap garang ke suaminya. "Iya... iya, Nyonya," ucap Irsyad. Lelaki itu segera pergi menjauh menuju kamarnya untuk menjalankan titah ratu hatinya. Tama tersenyum sedangkan Dini terkekeh sendirian melihat pasangan itu bertengkar. "Kalian lucu deh, akurnya kalau di ranjang aja ya?," tanya Dini menggoda. Runa yang berada disana sampai tersipu malu mendengar ucapan mertuanya.    ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN