Tiga

1640 Kata
Runa menatap Irsyad dalam diam. Kedua telapak tangannya mengerat, rahangnya mengetat, amarahnya memuncak mendengar ucapan Irsyad. "Aku tau aku salah, aku lalai dalam menjaga Akia-," ucap Runa dengan deru napas yang tak beraturan. Setiap kata terucap dari mulutnya maka remasan di telapak tangannya semakin mengerat. "-mungkin aku memang bukan perempuan yang baik, tapi aku sedang berusaha menjadi ibu yang baik bagi Akia," lanjutnya. "Tapi mana buktinya, kamu ninggalin Akia, kamu tidur sampai enggak sadar kalau Akia jatuh," omel Irsyad dengan penuh emosi. “Akia nangis lho, Run, telinga kamu di sumpel apa sampai enggak dengar?!” bentak Irsyad. "Aku manusia Irsyad bukan robot! Seharian ini aku menahan kantuk, tapi apa yang bisa aku lakukan kalau mata aku ini enggak mau melek!" ucap Runa dengan emosi yang meledak. "Aku lelah menjaga Akia semalaman yang terus rewel dan-" "Jadi kamu enggak ikhlas begadang malam-malam demi anak kamu sendiri!" Bentak Irsyad memotong ucapan Runa. Runa tersentak, ia bingung bagaimana cara menjelaskan pada Irsyad, bukan begitu maksudnya, sama sekali bukan begitu. "Bukan begitu maksud aku, Syad!" balas Runa tak mau kalah. "Terus maksud kamu apa, hah?!" tanya Irsyad dengan dagu terangkat, menantang istrinya. "Ya aku juga butuh istirahat, Irsyad, aku juga butuh tidur kayak kamu yang setiap malam bisa dengan nyenyak tidur, enggak terganggu dengan suara tangisnya Akia," ucap Runa sedikit menyindir Irsyad. Irsyad terdiam. Matanya menatap tajam ke iris coklat di depannya. "Oh...jadi sekarang kamu salahin aku, gitu,” ucap Irsyad dengan tangan bertolak pinggang. "Ya sekarang kamu pikir aja! Kamu bilang kamu ragu aku bisa jadi ibu yang baik, terus gimana dengan kamu! Apa yang udah kamu lakukan buat Akia, apa!" Bentak Runa. Wajahnya bahkan sudah memerah karena emosi. Suhu ruangan seolah meningkat karena kemarahan kedua orang itu. Pertengkaran hebat yang terjadi pertama kalinya di rumah ini. Padahal dulu tak pernah mereka perang mulut seperti sekarang ini. "Aku kerja juga buat kalian, Run, aku lelah seharian di kantor," ucap Irsyad. Tangannya bergerak menyapu wajahnya. "Tugas kamu cuma di rumah jaga Akia, udah itu aja yang aku minta sama kamu, hal sepele yang semua orang bisa tapi kamu-" "Sepele kata kamu!" teriak Runa memotong ucapan Irsyad dengan kesal. "Dengar ya, Tuan Irsyad yang terhormat! Aku dirumah juga bukan goler-goleran doang! Kamu enggak sadar itu baju yang kamu pakai, siapa yang nyuci, ngejemur, setrika?! Kamu pikir ini ruangan bersih dan rapi cuma pakai simsalabim abrakadabra, hah!" cerocos Runa dengan urat-urat di lehernya yang terlihat menonjol. "Aku udah tawarin babysitter sama kamu! Kamu bilang kamu yang akan urus semua kebutuhan Akia. Kamu sanggup. Oke aku turutin, aku tawarin asisten rumah tangga , kamu tolak, kamu bilang bisa kerjain semuanya dan uangnya bisa untuk tabungan Akia nanti, demi Tuhan, Runa,  gaji aku itu cukup untuk sewa babysitter, ART dan tabungan Akia dalam waktu bersamaan." Giliran Irsyad yang menyerocos panjang lebar membuat Runa merasa di hakimi. Semua terkesan salahnya, keadaan ini semua akibat kesombongannya merasa mampu melakukan segalanya seorang diri. Runa menitikkan airmatanya. Malu, sedih, merasa bersalah, kecewa pada diri sendiri, marah semua ia rasakan bercampur menjadi satu. "Maafin aku—,” ucap Runa dengan wajah menunduk.  "—memang aku yang salah—" lanjutnya sambil menghapus airmata yang melewati bibirnya. "—ku—" tangis Runa semakin pecah tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia menjatuhkan diri, berjongkok di depan Irsyad menutupi wajahnya. Irsyad menghela napas panjang, ia meraih bahu Runa, menyuruh istrinya bangun dan segera memeluknya. Mengusap punggung wanita yang sedang menumpahkan air matanya. "Aku enggak bermaksud menyalahkan kamu, Runa," ucap Irsyad yang menciumi puncak kepala Runa "Tapi tadi kamu nyalahin aku, Syad," omel Runa sambil memukul pelan d**a Irsyad. "Iya iya oke, aku juga salah, aku minta maaf," ucap Irsyad. Runa terus menangis dalam dekapan suaminya. Tangannya melingkari pinggang Irsyad, jemarinya meremas kemeja sang suami dengan sangat erat, wajahnya yang terbenam di d**a Irsyad menyebabkan bagian depan kemaja itu basah hingga terasa sampai ke permukaan kulit Irsyad. Hari semakin petang, tangis Runa tak kunjung usai. Irsyad terus mengusap rambut dan punggung istrinya, mencoba menenangkan Runa tanpa bicara sepatah katapun agar keadaan tak semakin keruh. "Stok airmatanya udah habis belum, Bun?" Tanya Irsyad yang mulai melunak. Pukulan di d**a diterima Irsyad. Lelaki itu tersenyum tipis sambil mendekap kepala Runa. "Udah ah, jangan nangis lagi ya, capek ini berdiri terus," ucap Irsyad yang membelai lembut lengan atas Runa. Irsyad mendorong tubuh pelan menjauhkan Runa dari dirinya. Menghapus airmata perempuan dengan mata bengkak di depannya dengan perlahan. "Maafin aku ya," ucap Irsyad, ia mengecup kedua mata Runa dengan perlahan. Beralih ke kening Runa dan berakhir di bibir lembut istrinya. **** Runa duduk di atas ranjangnya dengan selimut tebal yang menutupi pinggang hingga kakinya. Ia tersenyum melihat dua orang yang kini begitu berarti dalam hidupnya sedang terpejam bersama di atas sofa yang terletak di sudut kamar. Runa menurunkan kakinya, menyentuh permukaan lantai yang membuat telapak kakinya terasa membeku. Ia berdiri lalu menguncir rambutnya, dinginnya ruangan ber-AC langsung terasa di kulit tengkuknya. Ia mengusap bagian belakang lehernya beberapa kali untuk memberikan rasa hangat disana. Runa bergerak dalam cahaya minim dari lampu di atas nakas. Ia mendekati Irsyad yang tertidur sembari mendekap Akia. Dua orang itu terlihat damai dalam tidurnya masing-masing. Runa tersenyum sambil menatap gendongan yang terpasang di tubuh Irsyad. "Pintar," gumam Runa dalam hati saat melihat Irsyad yang tidur sambil menggendong anaknya. Perempuan itu mendaratkan ciuman tepat di puncak kepala Akia setelahnya ia membelai rambut Irsyad. Irsyad dan Akia bergerak bersamaan setelah menerima sentuhan Runa. Dengan mata terpejam keduanya merubah posisi kepala masing-masing. Senyum Runa kembali mengembang melihat keduanya. Puas melihat kedua orang itu tidur dengan nyenyaknya, Runa beranjak dari tempatnya dan pergi ke kamar mandi. Selesai membersihkan diri, ia keluar kamar menuju dapur. Membuka lemari es untuk melihat isi di dalamnya. Mendapati lemari es yang hanya terisi sosis dan nugget membuat Runa berdecak kesal. Runa beralih ke tempat penyimpanan berasnya. Ia mencuci bersih beras dan memasaknya. Setelah menekan tombol cooking, ia meninggalkan dapur dan pergi ke kamarnya mengambil dompet yang tersimpan di dalam lemari pakaiannya. Dilihatnya, Irsyad masih tertidur di sofa, begitupula dengan yang Akia terlihat pulas berada di dekapan sang ayah. Runa bergegas keluar kamar, ia membuka pintu depan dan langsung disambut angin pagi yang membuatnya bergidik. Ikat rambutnya ia lepas, rambut hitam sebahunya terurai menutupi tengkuknya. Ia berjalan sendiri di tengah langit yang mulai membiru untuk membeli beberapa bahan makanan di tukang sayur yang biasa berjualan  di taman komplek. Setengah jam pergi berbelanja, akhirnya Runa kembali ke rumah, dilihatnya Irsyad belum juga keluar kamar. Runa yang datang membawa kantung plastik hitam langsung menuju dapur, mengecek nasinya yang baru saja matang. Aroma nasi yang baru matang langsung menguar memenuhi ruangan. "Daun bawang, bawang bombay, paprika, cabai, daging ayam, wijen, wortel, jamur, " ucap Runa. Tangannya bergerak mengeluarkan isi dari kantung plastiknya. Ia lalu membersihkan daging ayam dan memasukkannya ke dalam wadah. Ia menyimpan d**a ayam itu ke dalam lemari pendingin. Setelah itu ia sibuk memotong sayuran dan bahan-bahan lainnya. Inilah yang ia sembunyikan dari Irsyad sejak lama. Ia bersikap bodoh seperti tak tahu apapun selain mendadar telur dan menggoreng sosis. Ia melakukan penyiksaan perut dan lidah sekaligus mengetes Irsyad mengikuti perkataan almarhum ibunya dulu tentang lelaki baik yang bersedia memakan masakan istrinya sekalipun rasanya tak enak. Runa terkekeh sendiri sambil mengupas wortel. Ia selalu geli jika mengingat kelakuan bodohnya yang berpura-pura tak bisa membedakan gula, garam serta penyedap rasa, dan bodohnya Irsyad percaya akan kebohongan Runa. "Kenapa ketawa sendirian, enggak ngajak-ngajak?" tanya Irsyad yang sudah memeluk Runa dari belakang. "Geli, Yah," ucap Runa saat Irsyad menyusupkan wajah ke leher Runa. Keduanya sudah berbaikkan pasca perang kemarin. Setelah berbicara banyak hal. Akhirnya di putuskan Irsyad akan kembali mencari ART untuk membantu Runa di rumah. Tapi tetap urusan anak yang menghandle adalah Runa. "Geli mulu, apa-apa geli, di peluk gini geli, di pegang su— " Belum usai lelaki itu berbicara, pukulan yang cukup keras mendarat di b****g kanannya.  "Pagi-pagi kenapa ngomongnya jorok sih," omel Runa. "Memang aku ngomong apa?" goda Irsyad sambil menghirup aroma rambut istrinya. "Enggak tahu, ah," ucap Runa kesal. Ia melepaskan diri dari kungkungan Irsyad, berjalan menuju ke wastafel dan mengambil jamur yang sudah di cuci. "Kamu masak apa?" tanya Irsyad sambil mengikuti langkah Runa. "Omurice buat sarapan kita," jawab Runa tanpa menghentikkan aktivitasnya memotong jamur. "Bisa emang?" Tanya Irsyad sambil terkikik, meremehkan. Terakhir kali Runa membuatkan nasi goreng untuknya, nasi goreng itu benar-benar di goreng hingga gosong. Bukan lagi kecoklatan karena kecap tapi sudah menjadi hitam seperti arang. Lalu sekarang ia ingin membuat omurice? Paling juga nanti bentuknya berantakan, batin Irsyad. Runa memutar tubuhnya menghadap ke Irsyad, tangan kanannya yang memegang pisau mengarah ke Irsyad, matanya memincing marah kepada pria dengan d**a telanjang itu. "Kamu meragukan kemampuan aku?" ucap Runa dengan wajah menakutkan. "Enggak kok," jawab Irsyad dengan sedikit rasa takut istrinya khilaf. Ia meraih tangan kanan Runa kemudian menyingkirkan pisau itu jauh-jauh. Bahaya kalau ada setan lewat dirinya bisa berakhir di TPU terdekat. "Udah ah, jangan ngomel-ngomel," ucap Irsyad yang semakin mendekatkan dirinya pada Runa. "Lagian kamu kenapa sih kok kayaknya ragu banget aku bisa masak," ucap Runa kesal "Enggak ragu, kok," sahut Irsyad. "Pret ah," ucap Runa membuat Irsyad tertawa. "Cium nih kalau masih ngomel-ngomel," ucap Irsyad yang memajukan wajahnya ke Runa siap membungkam bibir Runa. "Irsyad ih, m***m banget sih." Runa berusaha menghindar namun gerakan Irsyad lebih cepat. Ia menangkap pinggang Runa dan mengangkatnya ke atas meja pantry, Runa yang kaget memekik tertahan. "Mau kemana sih, senang banget lari-lari," ucap Irsyad. Ia menatap istrinya yang kini sedikit lebih tinggi darinya. "Kamu kenapa senang banget ngejar-ngejar aku?" Tanya balik Runa yang menangkup kedua pipi Irsyad. "Kan aku mau minta ini," jawab Irsyad. Ia menarik kepala Runa, melumat habis bibir Runa. Runa tak lagi menolak kini ia malah tersenyum dalam cumbuan Irsyad, semakin lama keduanya semakin membara. Gerakan tubuh keduanya membuktikan ada hasrat yang tertahan sejak lama. "Kalian kalau mau bikin adik buat Akia jangan di dapur!”Pekik Dini yang melihat kelakuan anak dan menantunya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN