Dua

2705 Kata
Dua lapis tirai yang terpasang di jendela kamar membuat cahaya dari luar tak mampu menerangi ruangan. Pemilik ruangan yang masih terlelap diatas ranjang empuknya tak menyadari matahari sudah tampak, menggantikan bulan dan bintang yang semalaman sudah berjaga.  Runa masih saja menikmati kehangatan selimut tebal yang menemaninya sepanjang malam. Ia bergerak, merubah posisinya, kini tubuhnya menghadap sisi kiri membelakangi jendela. Selimut tebal yang  menutupi kaki sampai perut ditariknya semakin ke atas hingga menutupi bahu, dirinya yang tak kuat dengan udara dingin berusaha melindungi kulitnya dari suhu air conditioner yang menunjukkan angka dua puluh derajat celcius. "Runa," panggil Irsyad lembut.  Lelaki yang sudah bersiap berangkat kerja itu duduk di sisi ranjang. Tangannya mengusap lembut bahu Runa yang tetutup selimut berwarna abu-abu itu. "Hemh," gumam Runa. Bukannya bangun perempuan itu malah semakin mengeratkan selimutnya. Irsyad tertawa kecil melihat wajah istrinya yang tertidur. Diraihnya remote AC yang ada di atas nakas, di matikannya pendingin ruangan yang membuat tubuh istrinya bergelung di dalam selimut. "Semalam begadang?" Tanya Irsyad. "Hemh," sahut Runa dalam keadaan setengah sadar. Ia mengusap wajahnya beberapa kali tanpa berniat membuka kedua matanya. "Kakak semalaman melek terus, aku baru tidur subuh tadi," ucap Runa. Kembali mengetatkan selimut ke tubuhnya, suaranya terdengar lemah dan parau, sepertinya ia benar-benar kurang tidur. Irsyad mengusap rambut perempuan itu sambil menghirup napas dalam. "Kakak aku titipin ke Mama dulu ya?" Ucap Irsyad. Mendengar ucapan suaminya, Runa langsung bangun terduduk di sebelah Irsyad, matanya yang masih mengantuk ia paksa untuk terbuka lebar. Tangannya bergerak mengusap wajah beberapa kali agar kantuknya hilang, mengandalkan jemari ia merapikan rambutnya yang berantakan. "Enggak usah, aku enggak ngantuk kok, kamu mau berangkat ya? Aku buatkan sarapan dulu," ucap Runa. Dengan terburu-buru Runa beranjak dari kasur, saking terburu-buru keseimbangannya tak terjaga, tubuhnya limbung, untung dengan sigap Irsyad menangkap tubuh istrinya itu. “Duduk dulu,” saran Irsyad. Runa memegangi dahinya, kepalanya terasa sedikit pusing karena bangun dari tidur dengan gerakan tiba-tiba seperti tadi. “Enggak apa-apa kok,” ucapnya. Perlahan Runa mulai melangkah, berjalan mondar mandir di dalam kamar, tak jelas arahnya ingin kemana. Irsyad yang masih duduk di sisi ranjang mengamati istrinya itu dengan prihatin. "Runa," panggil Irsyad lembut. Matanya mengawasi Runa yang mondar mandir di kamar tanpa arah yang jelas. “Iya… iya sebentar, aku lagi mikir dulu,” sahut Runa. Berpikir apa? Sejak tadi yang Irsyad lihat bukan perempuan yang sedang berpikir, sejak tadi Runa hanya  berjalan kesana kemari tak jelas juntrungannya dan terlihat benar-benar bingung harus melakukan apa. Senyum menghiasi wajah Irsyad. “Kamu mau ngapain?” tanya Irsyad membantu Runa menentukan hal yang akan dilakukan. “Ah, iya… aku mau buat sarapan dulu,” jawab Runa. Ia cepat-cepat menarik handle pintu, namun setelah pintu terbuka, ia malah membalikkan tubuh menghadap ke arah Irsyad yang masih duduk di ranjang. "Kamu mau makan apa sandwich?  telur ceplok? telur dadar? ah... sosis goreng aja ya?” tanya Runa beruntun. Irsyad berjalan menghampiri Runa, didorongnya bahu Runa menuju ke kursi yang ada di depan box Akia. Runa mengikuti tanpa banyak bertanya. Sampai di kursi, Irsyad mendorong kembali bahu Runa agar perempuan itu duduk. Irsyad menarik celana bahannya yang mengetat di bagian paha lalu menurunkan tubuh, lutut kirinya kini menyentuh lantai dan menjadi tumpuan agar tubuhnya tak jatuh. Kedua tangannya meraih tangan Runa dan mengelusnya lembut. “Aku udah sarapan, kamu tidur aja ya, Kakak aku titip di rumah Mama, nanti kalau ka—” "Jangan, aku udah cukup kok tidurnya," potong Runa yang sudah berdiri di hadapan Irsyad. Irsyad menarik pergelangan tangan Runa, menyuruh perempuan itu kembali duduk. Sentilan di kening membuat Runa mengaduh, ia meringis sambil mengusap bagian yang terasa sakit. "Muka masih ngantuk gitu, di bilang cukup tidur, udah deh, kamu nurut sama suami, kamu tidur dulu, Kakak aku titip di Mama," ucap Irsyad yang bangkit dan mengambil tas milik Akia yang tersimpan dilemari. Melihat Irsyad yang mengemasi perlengkapan Akia, Runa bergegas ke kamar mandi. Ia mencuci wajahnya dengan cepat, demi apapun ia tak mau anaknya di titipkan ke ibu mertuanya, bisa di pandang buruk dirinya nanti. Ia tak mau sampai ada ucapan bahwa ia tak becus mengurus anak dan suami. Lagipula masa iya, suaminya kerja ia enak-enakkan tidur sedangkan anaknya di titipkan ke mertua, apa kata dunia. Runa keluar dari kamar mandi tepat saat Irsyad ingin menggendong Akia. Gendongan bayi bahkan sudah terpasang di tubuh lelaki yang sudah rapi dengan outfit kerjanya itu. Dengan langkah lebar Runa yang sudah mengenakan kaos milik Irsyad langsung mengambil alih Akia yang sudah digendong ayahnya. "Aku udah segar, udah enggak ngantuk lagi, Kakak sama aku aja ya, Ayah berangkat aja, udah siang juga 'kan, udah sana buruan berangkat," ucap Runa yang sudah menggendong Akia. Satu tangannya mendorong Irsyad agar bergegas pergi. "Kamu yakin?" Tanya Irsyad tak percaya. "Yakin, biasanya juga aku yang jaga Kakak, udah sana berangkat," usir Runa secara tidak langsung. "Iya udah, kalau kamu ngantuk—" "Enggak kok enggak, nih aku melek," potong Runa lagi, matanya sengaja ia buka lebar-lebar di hadapan Irsyad untuk meyakinkan Irsyad bahwa dirinya tidak mengantuk. Irsyad menghela napas. "Aku berangkat, hati-hati ya di rumah," ucap Irsyad, ia melepaskan gendongan bayi dari tubuhnya kemudian menyerahkan pada Runa. "Iya," sahut Runa. "Kakak cantik, anaknya Ayah, jangan nakal ya, nanti Ayah pulang kita main ya," pamit Irsyad pada anaknya. Akia menjawab ucapan Ayahnya dengan senyuman. Wajah bayi itu terlihat sumringah sekali membuat hati Irsyad menghangat. *** Runa duduk di sofa dengan Akia di pangkuannya. Ia baru selesai menyusui Akia. Bayi lima bulan itu semakin lama semakin kuat menyusu. Irsyad pernah menawarinya untuk memberikan s**u formula  pada Akia, namun ia tolak mentah-mentah. Ia sudah berniat untuk memberikan ASI eksklusif sampai Akia berumur enam bulan. Jadi apapun kata orang tentang kehebatan s**u formula, ia tak akan peduli, baginya asi saja sudah cukup untuk Akia sekarang. Alunan musik dari ponsel memenuhi ruang keluarga. Mengalun lembut membuai Runa, kelopak matanya sesekali turun. Tanpa sadar ibu satu anak itu ikut tertidur bersama Akia. Rasa kantuk benar-benar menghantui Runa hari ini. Biasanya, walaupun begadang semalaman ia masih bisa membuka mata pagi harinya. Tapi hari ini, entah kenapa matanya benar-benar tak bersahabat. Kepala Runa semakin lama bergerak turun, kadang bergoyang ke kanan kadang ke kiri karena ketidakmampuannya menyeimbangkan diri saat kantuk melanda.  Saat menyentuh punggung sofa ia terkaget, matanya mengerjap berusaha membuka sepenuhnya. Dikumpulkannya seluruh nyawa yang sempat melanglang buana. Ia menepuk kedua pipi untuk menyadarkan dirinya sendiri. Bahaya kalau ia tertidur disini, anaknya yang terlelap dipangkuannya bisa terjatuh. Mata Runa bergerak ke benda berbentuk bulat yang menempel di dinding. Benda berwarna putih dengan dua tangan hitam yang bergerak mengitari angka-angka, menunjukkan pukul sepuluh pagi, ia lalu mengarahkan matanya ke wajah Akia, anaknya tidur begitu pulas. Terlihat nyaman di pangkuan sang ibu.  Iri rasanya. Runa juga ingin merasakan tidur senyaman Akia. Tapi apa daya ia tak bisa melakukannya sekarang. Runa memasang gendongannya, ia berjalan menuju meja makan. Menyusui membuatnya cepat lapar, rasanya sebanyak apapun ia makan tetap saja perutnya tak kenyang. Sepertinya semua makanan bersarang di payudaranya bukan di lambungnya."Sebentar aja, Ka, Bunda makan dulu ya," pinta Runa dengan suara selembut mungkin agar Akia tak bangun. Ia mengambil dua butir telur dari kulkas. Menyalakan kompor gas dan menuangkan margarin ke atas teflon. Menunggu sebentar sampai teflon panas dan memecahkan telur diatas teflon. Sambil menunggu telur matang Runa mengiris tomat dan timun. Tak lama telur-telur matang dan ia menatanya diatas roti tawar.  "Kakak bobo aja ya, Bunda wakilin makannya," celoteh Runa sambil cekikikan. Ia memakan rotinya dengan tergesa-gesa, khawatir anaknya bangun dan ingin menyusu. Sampai ia selesai makan, Akia masih tidur pulas di gendongannya. Runa kebingungan harus melakukan apa agar dirinya tidak mengantuk. Runa  melihat sekelilingnya, ruang keluarga yang berantakan, cucian piring yang menumpuk, belum lagi pakaian kotor di ruang cuci, baju bersih juga mulai menggunung meminta di setrika. Akh, aku benar-benar bodoh menolak bantuan asisten rumah tangga yang ditawarkan oleh Irsyad. Runa berjalan menuju kamar dengan lesu, dipindahkannya Akia ke dalam box bayi agar anaknya tidur dengan nyaman. Saat berbalik, ia melihat kasur empuk dengan selimut tebal yang masih berantakan di atas kasur, rasanya pasti begitu nyaman jika berbaring disana. Akh, tidak… tidak, itu cucian numpuk, Run. Udah teriak-teriak minta dibersihin. Runa keluar kamar dan mulai merapikan piring bekas makan dan langsung mencuci semua peralatan makan yang ada di cucian piring.  Selesai itu ia mengumpulkan pakaian kotor dan memasukkannya ke dalam mesin cuci, sambil menunggu pakaiannya selesai dicuci, Runa mulai membersihkan setiap bagian rumah. Selama membersihkan ruangan, mata Runa sesekali mengawasi Akia yang tertidur di kamar. Pintu kamar yang terbuka memudahkan ia mengamati anaknya. Kalau Akia bangun dan menangis pun ia dengan cepat  menghampiri. Itu juga yang menjadi alasan ia hanya membersihkan lantai satu saja. Untuk lantai dua itu urusan Irsyad sepulang kerja nanti. Kalau suaminya tak lelah, Irsyad yang akan membersihkan lantai atas tapi jika suaminya terlihat letih, Runa yang mengambil alih sedangkan Irsyad yang menjaga Akia. Pekerjaan rumah ditutup dengan kegiatan menjemur pakaian, setelah semuanya selesai Runa kembali ke kamarnya untuk merebahkan diri. Akia sudah ia pindahkan dari box ke atas ranjang, siang ini ia ingin berbaring disamping Akia setelah cukup lama tidur selalu terpisah, sesekali bolehkan ia tidur didekat anaknya sendiri. Sebagai ibu rumah tangga rasanya pekerjaan tak kunjung usai, belum lagi ia harus memasak. Ya walaupun rasa masakannya selalu kacau. Runa terkikik, perempuan yang sudah berbaring tengkurap di samping anaknya itu membayangkan wajah suaminya jika jam makan tiba. Lelaki itu akan menarik napas panjang saat berhadapan dengan piring berisi masakannya. Menatap piring sebentar dan tersenyum ke arah Runa. Sungguh itu semua membuat Runa berusaha keras menahan tawa melihat penderitaan suaminya. "Kasian Ayah kamu, Bunda kerjain terus, Kak," ucap Runa pada Akia. "Nanti kalau kamu udah besar, udah mulai makan, Bunda berhenti kasih makanan aneh ke Ayah," lanjut Runa sambil mengusap wajah tenang Akia. Runa mengusap-usap wajah Akia dengan lembut, semakin lama ia ikut mengantuk, gerakan tangan di pipi Akia perlahan-lahan melemah bersamaan dengan pulasnya Runa di samping sang anak. *** Kerutan muncul di kening Irsyad saat dirinya tiba di rumah, pintu utama rumahnya itu tak terkunci, bahkan sedikit terbuka hingga dirinya dengan mudah memasuki rumah dengan langkah tergesa-gesa takut terjadi sesuatu pada keluarga kecilnya di dalam. "Runa," panggil Irsyad. Tak ada sahutan. Ia membuka kancing lengan kemeja, menariknya hingga siku, kakinya melangkah ke bagian dalam  rumah. Tiba di ruang tengah ia melemparkan tas ransel begitu saja. Irsyad bergerak ke kamarnya baru sampai di depan pintu dari dalam kamar terdengar suara seperti benda yang terjatuh dan tak lama tangisan Akia terdengar. Irsyad buru-buru memasuki kamar, dilihatnya Akia sudah tengkurap di atas lantai dengan tangisan yang begitu kencang. Dengan langkah lebar Irsyad menghampiri Akia dan langsung menggendongnya, Runa yang masih berbaring dengan mata terpejam tak bergeming sedikitpun. Telinganya seperti disumpal hingga tak mendengar suara tangis anaknya yang begitu lantang. "Runa, kamu gimana sih jaga anak!" Bentak Irsyad membuat istrinya tersentak dan langsung bangun dengan wajah bingung. "Kenapa, Yah?" Tanya Runa kaget "Sini Kakak aku susui dulu," ucap Runa begitu mendengar Akia menangis, ia hendak mengambil Akia namun Irsyad malah membawa Akia ke luar dan menuju mobil. "Irsyad! Kamu mau bawa Akia kemana?" Tanya Runa sambil mengejar Irsyad yang sudah keluar pintu rumah. "Rumah sakit," jawab Irsyad singkat. Ia membuka pintu penumpang depan, menarik Runa untuk masuk ke dalam. Runa mengikuti, ia meraih Akia saat Irsyad meletakkan Akia di pangkuannya. "Iya, siapa yang sa—" belum selesai Runa bertanya pintu mobil sudah di tutup oleh Irsyad dengan kencang hingga menimbulkan bunyi berdebum, lelaki itu  seperti tak mau mendengar Runa bicara. Mobil Irsyad keluar dari rumah dan berpapasan dengan seorang satpam dan tetangga samping rumahnya yang sedang berbincang. "Pak, saya titip rumah sebentar," ucap Irsyad dari dalam mobil. "Mau kemana, Pak?" tanya tetangganya, heran melihat Irsyad yang baru datang sudah akan pergi dan terlihat panik. "Rumah sakit, titip rumah dulu ya, Pak," ucap Irsyad yang diangguki kedua orang itu. Irsyad mengemudikan mobil dengan cepat, anaknya terus menangis sepertinya Akia merasa kesakitan. Runa yang biasa malu-malu menyusui anaknya di depan Irsyad sudah tak peduli lagi. Ia membuka kancing bajunya hendak menyusui Akia. Namun, Akia menolak ia sama sekali tak mau menyusu, membuat Runa bingung. "Kenapa Kakak enggak mau menyusu sih, Sayang?" Tanya Runa pada anaknya yang terus menangis. Wajahnya bingung, ditambah Irsyad yang terlihat mengetatkan rahangnya, lelaki itu sejak tadi hanya diam tak menjelaskan apapun. "Irsyad, keningnya Kakak kenapa?" tanya Runa dengan wajah yang semakin bingung melihat kening Akia yang memar. Namun sayangnya, pertanyaan Runa sama sekali tak di jawab oleh Irsyad. Mobil Irsyad sampai di rumah sakit, Runa semakin bingung melihat Irsyad memarkirkan mobil tepat di depan pintu UGD dan terburu-buru mengambil Akia dari pangkuannya. Suamianya bahkan meninggalkan dirinya dan berlari masuk UGD sambil menggendong Akia. Irsyad menidurkan Akia di salah satu bed rumah sakit dan langsung di tangani oleh petugas kesehatan yang sedang berjaga. "Irsyad, Akia kenapa?" Tanya Runa dengan nada khawatir. Irsyad menarik Runa mendekap istrinya dan berjalan ke luar UGD. Irsyad mendorong Runa ke sudut ruang tunggu. "Harusnya aku yang tanya ke kamu, kenapa Akia bisa jatuh seperti itu," ucap Irsyad sambil mengancingi baju Runa, perempuan itu sepertinya lupa mengancingi bajunya kembali setelah berusaha menyusui Akia di mobil tadi. Amarah terlihat jelas dari mata Irsyad, membuat Runa ketakutan tapi ia lebih takut saat mengetahui Akia jatuh. "Akia ja-jatuh?" tanyanya gugup. Irsyad tak menjawab dan meninggalkan Runa. Lelaki itu masuk kembali ke UGD untuk mengetahui kondisi anaknya. Sedangkan Runa, kakinya terasa lemas, airmatanya mengalir, ia tak tahu bahwa anaknya terjatuh, ia menyesali keteledorannya, ia takut sesuatu terjadi pada anaknya. Irsyad mengambil alih Akia dari pangkuan Runa. Ia turun dari mobil sambil menggendong putrinya. Ia tak memedulikan Runa yang murung dan merasa bersalah karena kecerobohannya menjaga sang anak. "Akia sakit apa Pak Irsyad?" Tanya Pak Burhan yang di mintai tolong menjaga rumah oleh Irsyad. "Tadi jatuh, Pak, tapi sudah enggak apa-apa, maaf saya jadi merepotkan bapak, terima kasih banyak," ucap Irsyad. "Sama-sama, Pak, saya pulang dulu," pamit Pak Burhan. "Sehat ya Akia," lanjutnya sambil mengusap kepala bayi perempuan yang terlelap di gendongan ayahnya. "Mang Asep, terimakasih ya," ucap Irsyad pada satpam kompleks. "Sama-sama, Pak," sahut Mang Asep yang juga pergi bersama Pak Burhan. Irsyad masuk ke dalam rumah setelah tetangga dan satpam kompleks pergi. Ia menuju kamar diikuti Runa yang berada di belakangnya. "Irsyad," panggil Runa takut-takut setelah Irsyad meletakkan Akia di dalam box. "Hemh," ucap Irsyad yang duduk di samping box Akia. "Maaf," ucap Runa, berjalan mendekati Irsyad. "Minta maaf sama Akia, jangan sama saya," jawab Irsyad dengan ketusnya. Jantung Runa berdebar begitu mendengar sahutan suaminya,  sudah lama ia tak mendengar kata "saya" dari mulut Irsyad saat berbicara dengannya. Ia sadar telah membuat Irsyad marah, ia pun menyesal karena lalai menjaga Akia. Irsyad bangun dari kursi dan pergi meninggalkan Runa di kamar. Runa yang tak berani lagi mendekati Irsyad, duduk di kursi bekas duduk Irsyad. Ia meraih jemari mungil Akia, mengusapnya perlahan. Beralih ke kening sang anak yang terlihat memar akibat benturan. Runa meneteskan airmatanya, ia benar-benar menyesal membuat anaknya sakit seperti sekarang. "Maafin Bunda ya, Kak," ucap Runa sambil terisak. "Bunda yang salah, enggak benar jagain Kakak," ucap Runa lagi. Lama ia bersama anaknya, berbincang dengan lembut.  Menatap Akia dengan penuh rasa bersalah, andai saja ia tidak ketiduran, andai saja ia mengikuti saran Irsyad, anaknya pasti tak akan terluka dan kesakitan. Andai saja. Runa keluar dari kamar dengan mata sembap, suasana rumah begitu hening. Matanya tertuju pada Irsyad yang sedang duduk di sofa dengan mata terpejam. "Syad," panggil Runa. "Hemh," sahut Irsyad. Runa menghela napas panjang. "Kamu udah makan?" Tanya Runa dengan hati-hati. "Belum," jawab Irsyad singkat. "Mau makan apa?" Tanya Runa lagi. "Memang kamu bisa masak apa selain telur dan sosis?" Tanya Irsyad ketus. Membuat Runa menundukkan kepala. "Iya aku tahu aku enggak bisa apa-apa, maaf," ucap Runa, lirih. Irsyad membuka matanya, langit-langit rumah yang pertama kali ia lihat, ia menghirup napas panjang yang terdengar berat, kemudian dengan malas ia bangun dari tempatnya untuk  menghampiri Runa yang berdiri di depan pintu kamar. "Saya udah bilang ke kamu, Akia dititipkan saja ke Mama, tapi kamu nolak terus, sekarang kamu lihat kening anak kamu memar begitu," ucap Irsyad dengan nada suara yang mulai meninggi. "Iya aku salah, aku minta maaf," ucap Runa. Wajahnya semakin menunduk tak berani melihat kemarahan Irsyad. "Saya jadi ragu sama kamu, sebenarnya kamu bisa enggak sih jadi Ibu yang baik," ucap Irsyad setelah itu pergi meninggalkan Runa yang masih terperangah setelah mendengar ucapan Irsyad.  bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN