Aku sudah tidak keluar kamar beberapa hari. Terhitung dari semenjak aku bersesi tegang dengan Hayam Wuruk, mungkin hari ini adalah hari ke-4 aku tidak keluar kamar.
Dia menyuruhku untuk tidak mengikutinya kan? Aku hanya melakukan perintahnya. Bukan salahku untuk berdiam diri di kamar. Aku hanya melakukan perintahnya dengan sangat baik. Bahkan aku melakukannya hingga ia tak akan melihat wajahku sama sekali.
Hari ini juga akan menjadi malam puncak pergantian tahun. Meskipun aku hanya di dalam kamar, aku bisa mendengar betapa berisiknya keadaan di luar karena sangat sibuk.
Aku kadang ingin membantu. Namun, para dayang-dayang bersikukuh untuk tetap menyuruhku berada di dalam kamar. Mereka mengatakan jika aku mendapat pekerjaan maka sama saja dengan menurunkan derajat calon permaisuri.
Padahal sama-sama manusia. Sama-sama makan nasi.
Dan sore ini, aku hanya bisa kembali menghembuskan napas sambil menatap matahari yang mulai turun melalui jendela kamar.
Jendela kamar tempat Hayam Wuruk kabur saat pagi hari. Semenjak saat itu aku memutuskan untuk tidak pernah mengkhawatirkannya lagi. Karena aku yakin dia lebih bisa diandalkan. Jadi mengkhawatirkannya sama dengan sia-sia.
"Duk duk duk"
"Masuk."
"RATUUUUUU!"
Nertaja langsung menghambur ke pelukanku. Setelah makan siang waktu itu, kami sama sekali tidak pernah berjumpa lagi. Selain karena aku tidak pernah keluar kamar, Nertaja juga sangat sibuk.
Aku merasa senang karena akhirnya ada teman.
"Ayo keluar!"
"Eh? Maksudnya?"
"Ayo keluar istana. Malam ini kan puncaknya pergantian tahun. Hari ini hanya akan menjadi sehari dalam setahun. Kamu yakin kamu tidak mau keluar?"
Aku lalu menimbang-nimbang ajakan Nertaja. Jika aku keluar, aku akan bertemu dengan Hayam Wuruk. Jika aku tetap di sini, aku akan mati kebosanan.
"Baiklah, ayo!"
Aku menggunakan pakaian yang lebih sopan sedikit. Nertaja mengalungkanku sesuatu.
"Apa ini?"
"Pengenal bahwa kamu adalah anggota kerajaan."
Aku sebenarnya terkadang tidak merasa pantas dengan pemberian Nertaja serta Hayam Wuruk. Aku kan, belum resmi jadi anggota kerajaan.
"Aku belum resmi Nertaja. Aku tidak akan menggunakannya hingga aku menjadi anggota keluarga kerajaan secara resmi."
Aku lalu menanggalkan kalung itu dan memberikannya kepada Nertaja. Nertaja hanya tersenyum lembut dan meletakkannya di meja rias.
"Aku berharap suatu hari akan melihatmu menggunakan kalung itu."
Aku tersenyum tipis menanggapi perkataan Nertaja.
"Nah, sudah selesai. Ayo berangkat."
Aku dan Nertaja melangkahkan kaki untuk keluar bersama. Namun, ketika tiba di gerbang kerajaan, Nertaja menyuruhku berhenti.
"Tunggu, seseorang lagi akan ikut bersama kita."
Aku hanya mengangguk pelan. Aku agak takut jika orang itu adalah Hayam Wuruk. Tapi siapa lagi yang akan kami tunggu selain ia?
"Maaf membuat kalian menunggu."
Ternyata benar, yang datang adalah Hayam Wuruk. Aku langsung gugup setengah mati.
"Kakanda! Mengapa kamu lama sekali? Berterimakasihlah kepada Ratu yang tidak meninggalkanmu. Jika aku jadi dia, aku akan langsung pergi ketika melihat mukamu."
Ga, gaboleh ketawa gaboleh ketawa ntar gue diusir.
"Eh, iya.
Terimakasih Ratu."
Aku tetap memandang lurus yang mengisyaratkan aku-sangat-bosan hingga ada yang menggenggam tanganku.
Ternyata pelakunya adalah Nertaja.
"Ayo berangkat!"
Aku dan Nertaja jalan bersama terlebih dahulu, Hayam wuruk di belakang kami, dan dibelakangnya ada beberapa pengawal kerajaan.
Kami memutuskan untuk menonton pertunjukkan rakyat. Seperti wayang-wayangan.
Dan kali ini, yang mereka tampilkan kebetulan adalah cerita antara Ken Arok dan Ken Dedes.
Dari yang diceritakan. Awalnya, Ken Arok sendiri adalah salah satu orang kepercayaan dari akuwu (bupati/pemimpin sebuah daerah) sebelumnya.
Akuwu? Aku uwu? WKWKWKWK
.g
Lalu, ia berjumpa dengan Ken Dedes yang merupakan istri dari akuwu tersebut. Ohiya! Nama akuwu itu sendiri adalah Tunggul Ametung.
Tunggul Ametung sendiri memperistri Ken Dedes secara terpaksa. Aduh gimana ya jelasinnya?
Oke, oke. Awalnya, Ken Dedes merupakan seorang yang sangat cantik pada masanya. Banyak lelaki yang melamarnya. Namun, semua lamaran yang ditujukan kepadanya ia tolak.
Kecantikannya itu terdengar sampai ke Tunggul Ametung. Trus Akuwu satu ini mencari tau tentang Ken Dedes hingga menemuinya. Baru sekali liat, udah mau dinikahin.
Gila sih gue jadi Ken Dedes lari sejauh-jauhnya pls ngeri alig.
Next, Ken Dedes nyuruh akuwu ini buat nunggu bokapnya yang lagi bertapa. Eh, karena si akuwu ini ga tahan lagi buat nikahin Ken Dedes, akhirnya Ken Dedes di culik. Dan mereka pun menikah.
Bokapnya Ken Dedes marah besar. Yaiyalah wong anaknya yang katanya cantik banget itu diculik tiba-tiba. Mana, katanya akuwunya ini udah tua.
Yah, mungkin posisinya serasa lagi di culik om-om umur akhir 50an (":
Trus posisi bokapnya ini adalah pendeta buddha. Oh iya! Nama bokapnya sendiri adalah Mpu Purwa. Selain diculik anaknya, rumahnya juga di porak porandakan.
Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.
Next, mereka nikah. But not happily ever after. Karena semenjak tau daughter nya diculik, Mpu Purwa ngomong gini.
"Barangsiapa yang telah menculik putriku, maka ia akan mati akibat kecantikan Ken Dedes."
Serem. But, masih sereman hidup gue.
After all, Tunggul Ametung punya orang-orang kepercayaan pastinya. Sama seperti Hayam Wuruk yang mempercayai Patih Mada. Maka salah satu orang kepercayaan Tunggul Ametung adalah Ken Arok.
Kehidupan Ken Arok lebih complicated lagi.
Dari yang aku pahami dalam sekali menonton, ia adalah anak dari pasangan antara Dewa-manusia,
Mulanya, terdapat sepasang pasutri baru. Bernama Gajah Para dan Ken Ndok.
Lalu saat suaminya pergi ke sawah, istrinya diperkosa oleh seorang Dewa yang bernama Dewa Brahma dan membuatnya mengandung Ken Arok.
Karena hal itu, suaminya mengembalikan ibunya Ken Arok kepada keluarganya. Dan mereka pun berpisah.
Ketika Ken Arok terlahir, ibunya merasa malu dan membuang Ken Arok di kuburan. Lalu,ia dipungut oleh Lembong, seorang pencuri.
Lembong mengajarinya mencuri. Namun disamping itu, Ken Arok juga menggembala sapi. Suatu saat, sapi yang ia kembalakan itu hilang.
Dan ia sendiri kabur karena takut diamuk oleh Lembong.
Mungkin bener emang kata Joker. Orang jahat terlahir dari orang yang baik yang tersakiti. Sampai bagian ini Ken Arok sebenarnya orang baik. Tapi, karena terhimpit keadaan ia menjadi orang jahat.
Lalu ia kembali diangkat menjadi seorang anak oleh Bango Samparan. Semenjak saat itulah, ia menjadi seorang kriminal dan penjudi bersama dengan sahabat barunya yang bernama Tita.
Semenjak saat itu, ia menjadi buronan Tungul Ametung. Namun, di sisi lain Tunggul Ametung pun takjub kepadanya karena ia sangat cerdik dan susah tertangkap. Dan, karena memiliki kenalan seorang pendeta yang bernama Lohgawe, Ken Arok pun tertangkap.
Bukan sebagai buronan, melainkan sebagai orang kepercayaan Tunggul Ametung karena ia juga mempercayai Lohgawe. Jadi dia ditangkap bukan untuk dihukum, tapi menjadi orang kepercayaan Tunggul Ametung.
Di bagian ini, aku ga paham sama pola pikirnya Tunggul Ametung tapi yaudahlah.
Semasa di Tumapel, Ken Arok berteman dengan Kebo Ijo. Seorang bangsawan di Tumapel. Beberapa waktu kemudian, Tunggul Ametung menikah dengan Ken Dedes. Seusai pernikahan mereka, Tunggul Ametung memperkenalkan Ken Dedes ke semua orang-orang. Tak terkecuali Ken Arok. Awalnya, ia biasa saja.
Namun, saat Tunggul Ametung melakukan perjalanan, yeah you can say it like "picnic", Ken Arok membantu Ken Dedes untuk turun dari kereta. Namun, angin yang berhembus sangat kencang membuat bajunya Ken Dedes tersingkap.
Dan saat itulah, Ken Arok melihat auratnya Ken Dedes yang bersinar.
"Jika ada perempuan yang seperti itu, itulah Nariswari. Perempuan utama yang akan menjadikan siapa saja suaminya menjadi Maha Raja."
Ucap Lohgawe. Rupanya ia juga menjadi ayah angkat Ken Arok.
Ayahnya Ken Arok banyak bener mana gonta-ganti lagi.
Selanjutnya, Ken Arok berambisi untuk memperistri Ken Dedes. Selain karena kecantikan Ken Dedes, ia juga diberitahu oleh Lohgawe bahwa Ken Dedes akan menjadi Ibu dari Raja-Raja tanah Jawa berikutnya.
Ia lalu membunuh Tunggul Ametung menggunakan keris dari Mpu Gandring. Kris tersebut seharusnya dibuat selama setahun. Tapi karena tidak kuat menunggu lagi, ia membunuh Mpu Gandring dengan menancapkannya hingga Mpu Gandring itu sendiri tewas.
Dalam sekaratnya, Mpu Gandring mengucapkan kutukan bahwa keris itu nantinya akan membunuh 7 orang raja, termasuk Ken Arok sendiri dan anak cucunya.
Setelah melakukan pembunuhan terhadap Mpu Gandring, ia kembali ke istana dan memberikan keris itu kepada temannya, yaitu Kebo Ijo. Setelah itu, temannya menyombongkan hal itu.
Ketika malam tiba, Ken Arok kembali melakukan pembunuhan terhadap Tanggul Ametung. Seketika sang akuwu tewas dan ia naik tahta menggantikan Tunggul Ametung.
Esoknya, pemilik keris a.k.a Kebo Ijo yang tertancap itu dihakimi dan dibunuh karena dituduh telah membunuh Tunggul Ametung. Ia menjadi kambing hitam dari perbuatan Ken Arok.
Setelah itu, Ken Arok memperistri Ken Dedes dan mempunyai beberapa buah cinta.
Namun, anak dari Ken Dedes dan Tunggul Ametung yaitu Anusapati, melakukan balas dendam terhadap Ken Arok menggunakan keris yang dibuat oleh Mpu Gandring. Keris itu masih disimpan oleh Ken Dedes.
Akhirnya, Ken Arok pun mati.
Aku sukses dibuat ternganga akan cerita yang ditayangkan malam itu. Diceritakan pula sebenarnya Ken Dedes mengetahui bahwa suaminya telah dibunuh oleh Ken Arok. Namun ia tetap diam karena mereka saling mencintai. Mengingat pernikahan antara Ken Dedes dan Tunggul Ametung adalah pernikahan paksa.
Aku benar-benar ternganga untuk beberapa saat hingga aku ditegur oleh Nertaja.
"Ceritanya sangat menarik, bukan?"
Aku mengangguk semangat.
"Jika begini caranya, aku tidak tau siapa yang jahat. Karena di sini menceritakan bahwa semuanya jahat."
"Bukankah semuanya akan menjadi jahat dan akan menjadi baik pada waktunya?"
Aku kembali tertegun dengan perkataan Hayam Wuruk. Benar juga, semua akan menjadi berkebalikan pada waktunya.
Sama seperti awalan, pasti akan ada akhiran.
Entah kenapa kepalaku terus mengiang-ngiang kata-kata itu. Lalu kami melanjutkan berkeliling.
"Tapi, kenapa kalian juga antusias saat menonton pertunjukkan tadi? Bukankah ini bukan yang pertama kalinya untuk kalian?"
"Itu adalah cerita leluhur kami, Ratu. Di tonton berpuluh-puluh kali pun kami tidak akan merasa bosan."
"Ah, aku mengerti."
Enak ya jadi mereka. Mereka bisa langsung tau tentang apa yang terjadi dengan leluhurnya di masa lampau. Aku hanya tau sampai nenek saja. Nenek buyut keatasnya aku tidak tau apa-apa.
"Ah, Ratu. Bisa kita bicara sebentar?"
Tanya Hayam Wuruk. Lalu Nertaja seakan-akan mengerti situasi dan langsung meninggalkan kami berdua.
"Ada apa?"
"Maafkan aku, tentang beberapa hari yang lalu. Aku hanya sedikit kecewa. Apakah rasaku hanya bertepuk sebelah tangan, Ratu?"
Aku terdiam beberapa saat. Masalahnya aku juga tidak tau. Aku tidak terlalu suka permasalahan yang berurusan dengan perasaan. Tanpa jatuh cinta saja aku sudah sering sakit hati. Apalagi jika aku sampai jatuh cinta.
"Aku terbiasa hidup tanpa perasaan senang, bahagia, jatuh cinta, dan semacamnya. Aku tidak tau bagaimana rasaku kepadamu."
Hayam Wuruk menarik tanganku dan menuntunku ke area yang tidak terlalu ramai penduduk. Dan memberhentikan langkah kami, namun ia tidak melepaskan tangannya dari tanganku. Malah menggenggam tanganku yang satunya juga."
"Kalau begitu, izinkan aku membuatmu jatuh cinta kepadaku. Apakah itu boleh?"
Napasku tercekat.
"Aku bukanlah seseorang yang mudah jatuh cinta. "
Sambung Hayam Wuruk. Tiba-tiba saja aku teringat lagu dari Virgoun.
Memenangkan hatiku bukanlah suatu hal yang mudah.
"Akupun begitu, Hayam.
Memenangkan hatiku juga bukanlah suatu hal yang mudah. Kamu masih mau mencoba?"
"Iya, aku akan mencoba."
Lalu ia mengangguk yakin. Mungkin ia menganut prinsip yang penting yaqueen.
"Dan, ketika perasaanmu berubah untukku. Katakan kepadaku."
Lanjutnya.
"Kenapa begitu?"
"Karena aku akan terus mengingat hari itu. Hari dimana gadisku membalas perasaanku."
Aku tertawa lucu sekaligus tergelitik.
"Ayo kita temui Nertaja."
Ucapku singkat mengalihkan pembicaraan. Lalu Hayam Wuruk mengangguk pelan dan berjalan masih dengan menggenggam tanganku lembut.
Ya Tuhan mau baper tapi ini leluhur sendiri.
Aku lalu melihat sebuah gelang yang dijatuhkan oleh salah satu pemudi. Ia belum terlalu jauh dari posisi kami berdiri.
"Eh, punten teh. Tadi gelang tetehnya jatuh."
Aku laku menyerahkan gelang yang sudah kupungut dari tanah tadi. Entah mengapa, jika sedang gugup maka pelafalan koreaku yang akan keluar. Jika dengan orang baru, pelafalan Sunda ku yang keluar.
Padahal aku terlahir di Indonesia bagian Jawa Timur.
"Eh, terima kasih. Eh, ndoro?!"
Orang-orang sekitar kami langsung menoleh ke arahku. Aku melupakan fakta bahwa aku pernah ikut bersama Nertaja dan Hayam Wuruk untuk berbagi sembako.
"Ah iya. Terimakasih kembali."
Aku tersenyum dan buru-buru membalikkan badan. Hayam Wuruk yang menyadari situasi langsung menarik tanganku. Nertaja yang awalnya mau menghampiriku pun ikut berbalik karena adegan selanjutnya adalah banyak orang yang menghormati kami berkali-kali. Terkadang ini malah membuat risih.
"Maafkan aku."
"Tidak apa Ratu, ini bukan salahmu"
Lalu Nertaja menepuk bahuku pelan. Semenjak kapan ia ada di sampingku? Seakan paham dengan sorot mata kebingunganku, Nertaja tersenyum tipis.
"Aku melihat pertunjukkan kecil tadi. Saat kurasa pertunjukkan itu selesai, aku langsung mengunjungi tokoh utamanya."
Mukaku sedikit panas mendengarnya. Hayam Wuruk kembali menarik tanganku dan kami melanjutkan perjalanan.
Orang-orang masih menunduk ketika kami lewat.
"Inilah terkadang aku tidak ingin ikut campur ketika terjadi sesuatu dengan rakyat. Aku ingin melihat bagaimana mereka menyelesaikannya. Jika benar-benar tidak ada jalan akhir, barulah aku akan turun tangan."
Ucap Hayam Wuruk secara random panjang lebar kepadaku. Aku mengangguk paham.
Selanjutnya, agenda malam ini adalah penerbangan lampion. Syukurnya,di zaman saat ini tidak ada tiang listrik. Jadi tidak perlu takut akan ada kebakaran karena lampion yang menyangkut di salah satu tiang listrik.
"Sebelum menerbangkannya, kamu harus mengucapkan permohonan."
Ucap Nertaja sembari memberiku satu lampion.
Aku tidak punya hal yang diharapkan.
Aku tidak tau mau memohon apa.
Hingga akhirnya lampion itu terbang. Aku hanya menunggu yang terbaik dari terbaik. Aku sudah pasrah.
Selesai menerbangkan lampion, aku, Nertaja, serta Hayam Wuruk memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan, kami berbicara sedikit tentang penerbangan lampion tadi.
"Apa keinginanmu, Ratu?"
"Kurasa, jika itu dikatakan, itu malah tidak akan terjadi."
Nertaja mengangguk.
"Kalo kamu?"
"Aku hanya berdoa agar semuanya tetap tenang seperti sekarang. Aku tidak tau mengapa, tapi semenjak kamu datang, rasanya bebanku berkurang sedikit meskipun kamu tidak membantu apa-apa."
"Dan membuat masalah sedikit."
Tambahku melengkapi kalimat Nertaja, kami pun tertawa kecil.
Aku lalu mengalihkan pandanganku kepada Hayam Wuruk yang terlihat sangat serius melihat ke depan.
"Hayam Wuruk, apa permintaanmu?"
"Ehm, aku mengatakan ini karena banyak yang bilang bahwa omongan itu doa."
"????"
Ekspresi yang sama muncul di wajahku dan Nertaja.
"Aku berdoa agar, kita selalu bersama, selamanya."
***
Kata-kata singkat Hayam Wuruk itu membuatku kembali tidak keluar kamar. Sekali berbicara langsung membuat jatuh dan sekalinya berbicara lagi langsung membuat terbang. Menyebalkan tapi yaudahlah.
Ingat, semua itu akan 'yaudahlah' pada waktunya.
Iya, itu reminder di gawaiku agar terbiasa untuk berlapang d**a dan tidak merasakan sakit yang berlebihan lagi.
Yah, meskipun masih kerap terjadi.
Aku mengabaikan pikiranku semula dan fokus dengan pertunjukkan yang ada. Dengar-dengar, pertunjukkan ini akan berakhir esok hari.
Gapapa Ratu, gapapa. Ini hari terakhir. Pasti kamu kuat Ratu.
Yang aku herankan dari tadi adalah, beberapa rakryan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku mengerti.
"Ndoro, ini ada kiriman dari salah satu rakryan di sana."
"Ah, iya. Terimakasih."
Aku tersenyum gigi hingga mataku menyipit. Selain karena merasa bosan, itu juga dikarenakan paras dayang-dayang tersebut.
Cangtip banget.
Dayang-dayang tersebut balas senyuman yang sayangnya tidak bisa ku artikan. Karena kebetulan sedang merasa haus, aku langsung meminum minuman itu. Baru satu tegukan, aku mendengar suara panik yang memanggil namaku.
"RATU, JANGAN!"
Nertaja lalu melempar gelas beserta isinya ke lain arah. Yang kutahu, minuman itu adalah teh.
"Kamu minum berapa banyak?"
Tanya Hayam Wuruk terdengar khawatir. Ia menggenggam erat tubuhku dan menatap mataku dengan tatapan panik. Sama khawatirnya dengan Nertaja yang sekarang sibuk memanggil tabib istana untuk menyelidiki apa yang barusan ku minum. Pertunjukkan langsung dibubarkan.
Dan dalam seketika tempat pertunjukkan itu hanya ada aku, Nertaja, Hayam Wuruk, serta dayang-dayang yang membersihkannya dan para tabib yang menyelidiki minumanku.
"Hanya--satu teguk?"
Aku mulai pusing, badanku mulai kehilangan keseimbangannya. Hayam Wuruk dengan sigap mau menggendongku tapi aku mencegahnya. Kurasa, aku masih kuat berdiri untuk saat ini.
"Ratu, muntahkanlah selagi kamu bisa."
Perintah Nertaja dengan suara yang masih was-was. Aku langsung memuntahkan isi perutku. Setelah meminum itu aku sangat pusing dan mual.
Detik berikutnya, aku tidak sadar diri.
***
Aku merasa seseorang mengelap keringatku. Ah, ternyata dahiku sedang dikompres menggunakan air hangat.
"Kakanda! Ratu telah bangun."
Aku langsung melihat muka cemas Nertaja dan Hayam Wuruk.
Ah, lagi-lagi aku menjadi beban.
Aku mendudukkan diri dan Hayam Wuruk yang awalnya menatap jauh keluar jendela langsung ikut mendudukkan diri di sebelahku.
"Maaf kan aku, a-aku."
"Sshh."
Hayam Wuruk mengisyaratkanku untuk diam.
"Tidak apa, tidak apa. Ini bukan salahmu."
Lalu Hayam Wuruk menarikku ke dalam dekapannya. Jika aku menjadi Nertaja, pasti jiwa uwuphobiaku sudah menjerit, menangis, dan meraung.
"Yang salah bukan kamu Ratu, salah satu rakryan menyebarkan ujaran kebencian kepadamu."
Jelas Nertaja.
"Ah, rakryan yang waktu itu?"
Nertaja mengangguk, Hayam Wuruk nampak bingung. Sepertinya hanya ia satu-satunya yang tidak tau tentang apa yang terjadi.
"Permisi Ndoro, hamba ingin menjelaskan tentang racun apa yang diminum oleh nak Ratu."
Hayam Wuruk menggeser badannya agar tabib tersebut bisa lebih dekat denganku.
"Kami tidak menemukan hal yang salah dengan teh tersebut."
Aku membelalak. Begitu juga dengan Nertaja dan Hayam Wuruk.
"Lalu, bagaimana bisa ia muntah dan tidak sadarkan diri? Ia juga sampai keringat dingin!"
Hayam Wuruk membentak tabib di sampingnya. Padahal jelas-jelas tabib itu berusia lebih tua darinya.
"Maaf Yang Mulia, kami pun tidak tau bagaimana bisa Nak Ratu sampai menjadi sakit begini."
Nertaja memicingkan matanya.
"Kalian semua..
MAU KAMI DEPAK DARI KERAJAAN?!"
Nertaja yang berteriak, tabib yang di bentak, aku yang kaget.
"Jangan buat kami semakin hilang kepercayaan kepada para tabib. Aku yang akan mencari tahunya sendiri."
Nertaja langsung beranjak dari duduknya. Aku awalnya mau menahannya, tapi sayangnya tanganku kalah cepat dan membuat Nertaja meninggalkan ruanganku lebih awal.
Aku menatap sendu tabib itu. Ia sudah terlihat tua, mengapa ia masih melakukan kejahatan? Itu tidak mungkin. Hayam Wuruk sendiri terlihat sangat bingung. Ia benar-benar tidak tau bahwa aku memiliki hubungan yang buruk dengan rakryan nya.
Aku lalu teringat beberapa drama kolosal tentang racun. Ada beberapa racun yang tidak diletakkan di dalam ramuan minumannya. Tapi racun tersebut dioleskan ke cawannya.
"Permisi, tabib istana, apakah kalian juga melakukan penyelidikan terhadap cawan yang pecah?"
Tabib yang awalnya sudah berwajah murung, kembali berseri-seri lagi.
"Maaf Nak Ratu, kami tidak melakukannya. Tapi kami akan melakukannya. Hamba permisi dulu Yang Mulia."
Tabib itu langsung pergi keluar dan lari hingga tergopoh-gopoh. Aku memandangnya dengan rasa kasihan. Ia sudah tua, tapi karena ada kenangan yang buruk dengan tabib di masa lalu yang pernah membunuh Raja Majapahit sebelumnya, ia juga ikut terbebani hingga saat ini.
"Ratu, bisa ceritakan sesuatu untukku? Yang membuatmu bisa begini?"
Hayam Wuruk mengambil alih fokusku. Namun aku kembali dibuat kebingungan setelahnya.
"Nertaja tidak cerita apapun?"
"Tidak."
Jika Nertaja tidak cerita apapun, pasti karena ada sesuatu, kan?
"Jika Nertaja saja tidak mengatakan apapun, bagaimana aku bisa mengatakannya kepadamu, Hayam Wuruk?"
Lalu Hayam Wuruk kembali terdiam. Membuat keheningan semakin mendominasi.
"Mungkin, ia tidak cerita karena masih terlalu sibuk?"
Aku hanya menoleh lesu ke lelaki itu. Tidak, aku tidak ingin menjadi beban lagi. Aku akan berjuang sendiri.
"Aku tidak apa. Bukankah kamu sendiri yang berkata akan ikut campur tangan rakyatmu apabila tidak ada jalan akhir?"
"Itu rakyatku, Ratu. Kamu itu calon istriku, bukan rakyatku lagi."
ADOH ADOH BENTAR WOY BENTAR INI BARU SADAR BENTAR INI NAPAS DULU NAPAS PEGANGIN TOLONG.
Aku kembali menghela napas. Di satu sisi aku hampir tersenyum. Di satu sisi aku hampir gila jika lama-lama diperlakukan seperti ini.
Ingat Ratu. Ga boleh baper. Dia itu kakek moyang.
TAPI KALO GA BAPER IKI CARANE PIYE????
"Kamu harus berjanji untuk satu hal."
"Apa itu?"
"Apapun yang terjadi, jangan bertindak sampai aku benar-benar sekarat."
Hayam Wuruk tampak terkejut. Jika diingat-ingat, aku sudah hampir sekarat di sini sebanyak dua kali.
"Baiklah. Aku akan mulai bertindak jika kamu mulai tiba-tiba berubah menurut sudut pandangku. Tidak menerima penolakan, ini perintah."
Aku hanya memasang wajah tembok. Lelah bertikai dengan Raja satu ini.
"Terserahmu saja.
"Sebenarnya, aku sempat terlibat perdebatan dengan salah satu rakryan mu yang ingin menjodohkanmu dengan adiknya sendiri."
Ucapku mulai bercerita. Sepertinya aku tidak bisa memendam ini sendirian terlalu lama juga meskipun Nertaja juga tau. Tapi aku kasihan dengan Hayam Wuruk yang tertinggal berita calon istrinya sendiri, bahkan sampai sekarat begini.
Hah, tadi aku bilang apa tentang diriku? Calon istrinya? Sepertinya aku benar-benar gila.
Hayam Wuruk terlihat berpikir.
"Ah! Rakryan Putra? Kenapa ia melakukan hal itu kepadamu?"
Aku mendecak sebal.
"Tentu saja karena aku datang, ia semakin tidak punya kesempatan untuk mendekatimu dan menjodohkan adiknya denganmu. Ini adalah urusan kalian namun kenapa aku yang di racuni?"
Aku menunjukkan raut wajah kesal. Aku tidak tau apa-apa di sini. Kenapa aku terus yang mendapat imbasnya?
"Kamu takut aku menghukum mati rakryan itu?
Aku mengangguk pelan. Bagaimanapun juga, pasti ia memiliki keluarga untuk diberi nafkah.
"Aku akan lepas tangan. Namun jika kamu semakin sering sakit, aku akan turun tangan. Pikirkanlah dirimu sendiri Ratu, jangan sakit lagi."
Kali ini Hayam Wuruk mengacak rambutku sedikit. Bukannya keluar, dia malah ikut tiduran di kasurku.
"Kenapa malah tidur di sini?"
"Selama ini juga aku tidur di sini, tapi kamu tidak sadar."
"HEEEE?"
Aku langsung memukul tangan Hayam Wuruk kuat-kuat. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa ia tertidur pulas di samping perempuan yang juga tidak sadar?
"Omong-omong, sudah berapa lama aku tidak sadar?"
"Sangat lama, Ratu. Mungkin sebulan juga ada."
"HEEEE??? NANI? (APA?)"
Tidak perlu kaget. Lintas minat di kelasku memang Bahasa Jepang.
"Malam ini mau tidur lagi denganku?"
Aku langsung menggeleng cepat.
"Tidak, tidak. Keluar kamu sana."
Aku mulai mendorong-dorong dan memukuli kecil badan Hayam Wuruk. Ia hanya berpura-pura kesakitan sambil mengaduh-aduh.
"Iya-iya, aku pergi. Jangan kesakitan lagi."
"Aku tidak janji. Uruslah rakryan mu dengan benar."
Lalu ia tersenyum tipis.
BISA GA SIH GAUSAH SENYUM-SENYUM GITU INI HATI YA BUKAN BAJA GAMPANG LEMAHH.
Tiba-tiba ia mendekatkan kepalanya ke arahku.
Mau apalagi kakek moyang satu ini?
Ia mengecup keningku sekilas. Dan tersenyum lembut.
Halo jantung, masih di tempat?
"Sehat selalu, Ratuku."
Aku hanya bisa mematung.
Ia memanggilku dengan Ratu sebagai nama, atau sebagai panggilan?
Seharusnya aku tidak menggunakan nama Ratu, hiks.
Perutku rasanya seperti ada sesuatu namun aku tidak tau itu apa. Seperti ada sesuatu yang terbang? Lalu Hayam Wuruk meninggalkan kamarku dengan tenang. Aku hanya menatap bagian belakang tubuhnya dengan nanar.
Aku kenapa?