Perayaan Tahun Baru (1)

2190 Kata
Hari ini adalah perayaan hari pertama. Aku masih menyandang status "pengangguran". Padahal, aku sudah lumayan bisa membaca dan menulis. Hayam Wuruk dan Nertaja terlihat sangat sibuk. Itu dibuktikan saat beberapa kali aku melihat mereka mengurus berbagai macam hal dan bolak balik keluar istana. Karena bosan, aku hanya rebahan tiap hari di kamar dengan tatapan kosong. Kesurupan abis nih gue. Aku mulai memutuskan untuk keluar dari kebiasaan rebahanku. Toh, jika rebahan terus, aku yakin tidak akan sehat untuk tubuhku. Pagi hari yang sejuk, tanpa polusi udara. Terasa sangat menyegarkan. Aku tersenyum dan membiarkan rambutku tertiup oleh angin.  Udara segar ini mengingatkanku pada rooftop sekolah ketika malam hari. Ketika aku malas pulang, biasanya aku menyendiri di sana. Bedanya, aku hanya bisa melakukan hal itu ketika malam hari. Di sini, aku bisa merasakannya hampir setiap saat. "Ratu? Sedang apa?" Tiba-tiba aku mendengar suara orang itu. Suara seseorang yang aku lupa terakhir kali kapan ku dengar. "Eh, Hayam Wuruk? Ada yang bisa kubantu?" Ia hanya tersenyum ke arahku. "Coba tersenyum." Aku tersenyum dengan sedikit keterpaksaan, rasanya aneh. "Yang tulus." Aw aku terpelatuq. Aku lalu menunjukkan senyumku dengan gigi karena mengurangi rasa gugupku yang ditatap oleh Hayam Wuruk. Jujur saja, mana ada perempuan yang tidak kalah dengan pesona Raja satu ini. Ialah pemenangnya! "Terima kasih." Aku lalu mengerutkan alisku. "Terima kasih? Untuk apa?" Lalu Hayam Wuruk mendekatkan mukanya ke telingaku. "Aku baru saja mengisi energiku." Begini, aku tidak masalah jika ia mengatakan hal itu--masalah sih sebenarnya karena jantungku terguncang. TAPI JIKA BERBICARA BEGITU DAN DENGAN JARAK SEDEKAT ITU JANTUNGKU TERGUNCANG DENGAN DAHSYAT. Aku menatap Hayam Wuruk setengah tidak percaya. Rasanya telingaku ikutan terguncang akibat suara-beratnya yang Masya Allah Subhanallah itu. "Aku harus kembali bekerja. Sebentar lagi pembukaan acara perayaan tahun baru akan dimulai. Mau ikut denganku?" "TENTU SAJA!" Akhirnya, aku tidak gabut lagi. Hayam Wuruk langsung menggandeng tanganku. Yah, berhubung sudah banyak yang tau tentang hubungan kami, aku hanya mencoba terbiasa, meskipun tidak ada ketulusan di antara kami, meskipun mungkin ini hanya lelucon bagi dirinya dan bagi diriku.  Mari kita nikmati sesaat liburan yang menyenangkan ini. Bahkan jika pun ini mimpi, bolehkah aku berharap tidak akan pernah di bangunkan? Mimpi ini indah. Aku bisa istirahat banyak di sini.  Aku bisa melakukan apapun, tawa tanpa batas, tangis yang terlupakan, masalah-masalah yang tidak rumit, ini menyenangkan. Eh, rumit sih, tapi rasanya aku tidak sendirian melewati itu semua. Ada Hayam Wuruk, Nertaja, hal-hal yang tidak kudapatkan dari kehidupanku sebelumnya. Keluarga. Hayam Wuruk menggandeng tanganku menuju sebuah tempat perjamuan. Di sana aku melihat Nertaja dan beberapa orang lainnya. Sepertinya mereka termasuk golongan Nertaja-Hayam Wuruk jika dilihat dari pakaiannya. Golongan bangsawan bray. "Dimana ibunda?" Tanya Hayam Wuruk kepada Nertaja. Aku memberikan senyum polos kepada beberapa orang yang duduk tidak terlalu jauh dari kami. "Ia sedang keluar." Lalu Nertaja mendatangiku. "Ratu, aku rindu. Aku lelah karena urusan tahun baru yang tidak selesai-selesai. Aku rindu dengan teh hangat di sore hari yang ku minum denganmu. Selepas perayaan tahun baru, kita harus minum teh lagi ya!" Aku mengangguk kecil dan menepuk punggung Nertaja. "Tentu saja. Jangan lupa kita juga harus membicarakan pangeran tetangga sebelah." Aku tertawa sedikit dan bisa melihat Hayam Wuruk dengan muka cemburunya. Selepas menyapa keluarga Hayam Wuruk, aku dan ia kembali berjalan-jalan mengawasi jalan acara yang akan di mulai. Hayam hanya mengecek beberapa bagian. Tiba-tiba ia berhenti membuatku yang menggenggam tangannya tertarik dan terjatuh tepat di pelukannya. Aku pernah melihat adegan ini di drama korea. "Apa maksudnya pangeran kerajaan tetangga?" Ia masih menatapku yang ada di pelukannya. Bahkan ia mengunci pergerakanku. Aku pernah melihat adegan ini di drama korea .2 "Nertaja mengatakan ia tertarik dengan lukisan pangeran dari negara-negara tetangga. Kenapa? Apakah kamu cemburu?" Hayam Wuruk lalu melepaskan tangannya dan meninggalkanku sendiri. Aku lalu mempercepat langkahku agar bisa menyesuaikan dengan langkah kaki Hayam Wuruk. "Apa ini? Kamu cemburu?" "Sudah tahu masih bertanya." Aku sukses dibuat mematung karenanya. "Hayam Wuruk! Tunggu!" *** Aku dan Hayam Wuruk masih berjalan bersama. Bahkan kami juga melewati banyak tempat yang Nertaja dan aku kemarin kunjungi. Namun, aku melewati wilayah baru juga kali ini. Hayam Wuruk menyapa banyak rakyatnya yang tersebar di wilayah Majapahit. Aku saja sampai berpeluh banyak karena kelelahan. "Kamu lelah?" Pake nanya lagi, YAIYALAH. Eits, mana mungkin aku mengatakannya kepada orangnya langsung. Tentu saja itu hanya isi hatiku. "Dari yang kamu lihat?" "Jika begitu, pulanglah bersama pengawalku. Aku masih akan menyapa rakyatku lagi. Sebenarnya aku mengajakmu karena aku ingin mengenalkanmu kepada semua orang. Bahwa mereka sudah mempunyai seseorang calon Ratu dengan paras yang ayu." Aku menunduk, aku bisa merasakan panasnya mukaku. Tidak, aku tidak menyukainya. Menyukai seseorang adalah perkara yang sulit bagiku. Tapi kalo urusan baper, perempuan normal mana yang tidak baper dengan perlakuan selembut ini? "Jika begitu aku akan menemanimu. Sayang sekali bukan jika mereka tidak melihat calon ratunya ini barang sekali sebelum menjadi Ratu sungguhan?' Hayam Wuruk awalnya terlihat mengkhawatirkanku, namun selanjutnya ia terkekeh geli. "Ada-ada saja calon istriku." ASJDKFL WOY PEGANGIN TOLONG. Aku hanya tersenyum kecil untuk menanggapinya dan melanjutkan melewati desa-desa bersama Hayam Wuruk, tanpa kami sadari bahwa awan mulai gelap. "Wah sayang sekali, padahal akan ada banyak acara saat siang hingga malam." Aku melihat raut cemas Hayam wuruk. "Apa acara yang akan diselenggarakan saat siang hari?" "Acara makan besar. Jadi nantinya para rakyat akan datang dan makan di istana." "Wah, akan mubazir jika mereka tidak datang." Aku lalu terdiam berpikir sejenak. "Bagaimana jika nanti akan betulan turun hujan, semua makanan dibungkus dan dibagikan kepada rakyat?" Hayam Wuruk mengerutkan alisnya. "Dibungkus?" "Doh, ituloh di apa ye namanya? Dikemas lalu dibawa pulang." Hayam Wuruk ber-oh ria lalu tiba-tiba membelalakkan matanya.   "Kenapa aku tidak memikirkan hal yang sama? Memang, mengambilmu menjadi istriku bukanlah hal yang salah." Lalu ia mengacak rambutku. Iya, hingga saat ini rambutku tergerai. Aku tidak terlalu suka mengikat ke atas rambutku. Jika ada yang menegur soal rambut barulah aku akan melakukannya. Dan, hujanpun turun. Lucunya lagi, pengawal Hayam Wuruk tidak membawa kereta. Akhirnya kami pun berteduh sembari menunggu pengawal mendapatkan sesuatu yang tidak akan membuat kami basah. Aku menunggu. Menunggu. Dan menunggu. AKU BOSAN. "Hayam Wuruk." Lalu ia menoleh kepadaku. "Pernah main hujan?" "Main hujan? Kurasa tidak pernah. Kenap--" "Jika begitu, ini akan jadi yang pertama bagimu." Aku lalu menarik Hayam Wuruk untuk keluar dari tempat kami berteduh dan merasakan segarnya air hujan. Benar, air hujan memanglah salah satu rahmat dari Tuhan. Aku berlari dan dikejar oleh Hayam Wuruk. Sedangkan para pengawal pun melakukan hal yang sama. Tapi mereka menjaga jarak di antara kami. Aku berlari dengan riang dan dikejar oleh Hayam Wuruk. Hingga tibalah saat ia menangkapku dan menarikku ke dalam pelukannya. Tatapannya sangat dalam. Dari tatapan itu aku tau dan percaya,  He really needs me, He really wants me, And, he really loves me. *** Semenjak hari kemarin, kami jadi agak sedikit canggung sebenarnya. Hanya saja kami mencoba terlihat "baik-baik saja." Setelah kejadian itu (re: bermain hujan dengan Hayam Wuruk), kami benar-benar lupa bahwa kami masih di bumi. Kami juga lupa dengan pengawal yang mengikuti kami di belakang. Saat mereka berpapasan dengan kami, aku tau dari muka mereka menunjukkan senyum jahil semacam "cie ciee" tapi tentu saja mereka tidak mengatakannya selain karena Hayam Wuruk adalah rajanya, zaman Majapahit belum ada kata-kata tersebut. Dan di hari kedua ini, hari dimana para bangsawan (termasuk keluarga kerajaan) membagikan sembako, makanan, uang, dan berbagai macam hal yang bermanfaat bagi kaum dan rakyat kecil. Aku berdiri terapit oleh Nertaja dan Hayam Wuruk. Aku benar-benar sudah diperkenalkan kepada masyarakat luas. Tiba-tiba, ada giliran seorang anak kecil yang tiba. "Halo dik!" Aku tersenyum riang ketika melihatnya. Kebetulan ia tidak dilayani Nertaja karena Nertaja sendiri sedang melayani orang tua anak tersebut. Karena merasa gemas, aku mengambilkan sebuah manisan untuk anak kecil tersebut. Dan tanpa sengaja, tanganku kembali berpapasan dengan tangannya Hayam Wuruk. Aku yang terkejut langsung menatap Hayam Wuruk dan ia pun melakukan hal yang sama. Gila, ini awkward banget. Tanpa mengurangi rasa gemasku kepada si adik, aku tersenyum sebentar kepada Hayam Wuruk dan langsung memberikan manisannya. "Makan ini boleh. Tapi jangan banyak-banyak ya? Nanti gigimu berlubang." "Terima kasih banyak Yang Mulia!" Dia terlihat kegirangan dan langsung menceritakan hal tersebut kepada ibunya. "Bu! Nanti jika Dika sudah besar, Dika ingin menikah dengan seseorang seperti calon permaisuri!" Ibunya tersenyum ramah kepadaku. Aku terkekeh geli. Sedangkan Hayam Wuruk memberikan tatapan tidak bersahabat kepada anak itu. Aku tau, tatapan itu hanya untuk bercanda. "Selama kamu tidak nikah sama calon permaisurinya, le. Ibu ikhlas. Soal'e kalo kamu nikah sama calon permaisuri, ada yang marah nanti hihihi." Lalu kami kompak menatap raut wajah Hayam Wuruk yang tidak menunjukkan persahabatan. Lalu karena ditatap seperti itu, wajahnya melunak dan terlihatlah senyumnya. "Maaf ya adik, kakak ini sudah menjadi hak milik orang lain." Ucap Hayam Wuruk sembari merangkulku. Seketika tawa pun meledak antara Nertaja dan rakyat yang sedang kami layani. Aku hanya terkekeh dan meninju pelan tangan Hayam Wuruk. "Sudah ada pawangnya ya dik, maaf." Nertaja menyambung di bagian akhir. Lalu rakyat tersebut berterima kasih kepada kami serta pamit. "Apakah ada kemungkinan kamu akan menyukai anak kecil seperti itu?" Karena kaget dengan pertanyaan Hayam Wuruk yang random itu, aku langsung menoleh dan menatap mukanya. Mumpung belum ada rakyat yang datang lagi untuk meminta sembako. "Aku menyukai mereka dari sisi kakak dan ibu. Tidak mungkin aku menatap mereka sebagai lawan jenis karena aku sendiri tidak tertarik dengan seseorang yang umurnya jauh lebih muda dariku." Hayam Wuruk menghela napas panjang. Aku hanya memperhatikan gerak-geriknya tanpa niatan untuk bertanya. "Jika begitu, jangan dekat-dekat dengan laki-laki dewasa lain." Aku mengerutkan alis. "Lalu bagaimana denganmu? Apakah aku harus menjauhimu?" "Kecuali aku." Nertaja hanya mendecakkan lidah melihat tontonan gratis di sampingnya. "Kakanda, ketahuilah jika kamu terlalu mengunci seorang gadis, maka ia akan jenuh dan meninggalkanmu." "Benarkah itu Ratu?" Lalu Hayam Wuruk menatapku lekat-lekat seakan-akan mengatakan "Jangan coba-coba untuk meninggalkanku." "Aku tidak begitu. Namun tidak ada yang tahu tentang takdir kan?" Tiba-tiba saja Raja satu ini menangkup mukaku lagi dan berbisik kecil. "Iya, aku percaya dengan takdir. Aku percaya dengan takdir jika ia akan menyatukan kita berdua." Kadang aku merasa cringe dan baper disaat Hayam Wuruk menjadi gombal. Beda dengan Nertaja yang meskipun ia hanya penonton, ia ikutan baper. Namun kali ini mungkin karena menjadi obat nyamuk, ia langsung izin ke kamar kecil. Aku lalu menatap kesal Hayam Wuruk dengan perbuatannya barusan. "Kamu itu berbahaya. Jangan lakukan itu lagi." Titahku kepada Hayam Wuruk. Ia hanya menampilkan senyuman kecil. Ketahuilah Ratu. Kamu lebih berbahaya terutama jika kamu pergi secara tiba-tiba. -H *** Setelah membagi-bagikan sembako, Nertaja mengajakku untuk makan siang bersama. Mengingat saat ini juga sudah menunjukkan siang yang terik. Tetapi, kami hanya makan berdua karena anggota kerajaan yang lain masih banyak urusan. Nertaja sendiri juga masih ada, namun ia bilang ia akan makan dulu karena sudah terlalu lapar. Ia juga takut jika aku melewatkan makan siang karena tidak ada teman. Huhu Nertaja. Aku terharu. Di tengah-tengah makan siang, aku juga mengobrol sedikit dengan Nertaja. "Ratu." "Hm?" "Apa kamu tau perbedaan antara suka dan cinta?" Aku menolehkan tatapan heran ke arah Nertaja. Aku tidak pernah pacaran di masa depan, bagaimana bisa aku tau tentang perasaan yang semacam itu. Aku terlalu sering berpacaran dengan buku. "Aku tidak tau hal yang seperti itu. Kenapa memangnya?" "Kurasa, aku jatuh cinta." Aku langsung menatap Nertaja dengan tatapan "HAAAA?" "Dengan siapa? Asal mana? Apakah ia tampan?" Aku langsung menghujani Nertaja dengan pertanyaan seperti ibu-ibu komplek yang baru mendapat teh baru. "Dia hanyalah rakyat biasa. Jadi kurasa, kita tidak bisa bersama." Nertaja tersenyum dan meminum airnya. Aku mengerutkan bibir. "Memangnya kamu tidak jatuh cinta dengan kakanda?" Aku terdiam. Entahlah, cinta itu terlalu rumit jadinya aku tidak tertarik. "Ada sebuah lagu di masa depan yang mengatakan 'Kata pujangga, cinta itu luka yang tertunda. Walau awalnya selalu indah. Kalau bukan jodohnya, siap-siap tuk terluka.' Jadi sebelum jatuh cinta, aku berpikir dulu. Aku hanya tidak mau terluka." "Kakanda menceritakan sesuatu yang terjadi pada kalian kemarin." Ucap Nertaja secara random. Aku yang tau kemana arah pembicarannya hanya bisa menatap arah lain dengan perasaan kesal. Apakah tidak ada yang bisa ia bicarakan selain hal itu huhu aku malu. "Dan, apakah kamu masih belum mencintainya?" "Aku sebenarnya bingung, dan tidak terlalu tertarik dengan cinta karena aku sendiri tidak pernah mengalami hal seperti itu.” "Tetapi Ratu, jadi kamu dan kakanda, perasaan kalian, itu apa?" Aku termenung sejenak. "Aku tidak tau perasaan pasti Hayam Wuruk kepadaku. Namun, aku juga tidak tau perasaanku ke Hayam Wuruk." Tidak, aku tidak melupakan tentang adegan kemarin. Hal itu terjadi begitu saja. Hujan, perasaan yang bagus, dan spontanitas. Hal itu terjadi begitu saja. Senang? Tentunya aku merasa senang. Itu adalah yang pertama bagiku untuk menatap lawan jenis seintens itu meskipun aku berada di perkumpulan yang nakal. Tapi aku tidak tau akan jadi yang ke berapa di Hayam Wuruk. "Lalu yang kemarin itu, apa Ratu? Kamu menganggapku apa?" Suara ini. HAYAM WURUK KENAPA KAMU SELALU TIBA DI WAKTU YANG SALAH. Aku langsung menoleh ke belakang dan dapat melihat raut wajah kecewa Hayam Wuruk. Ia langsung membalikkan badannya, tidak jadi makan siang. Aku langsung menoleh khawatir pada Nertaja. Dan dari tatapan mata Nertaja itu, aku membaca "Kejarlah". Aku mulai berjalan di belakang Hayam Wuruk secara mengendap-endap. Lalu ia secara tiba-tiba menoleh ke belakang dan menatapku dengan dingin. "Jangan mengikutiku. Aku sibuk." Aku lalu diam seribu bahasa. Oh, gini rasanya kecewa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN