Rumah

2691 Kata
Setelah tiga hari perayaan ulang tahun Hayam Wuruk dilaksanakan, baru hari ini aku bisa berbicara dengan Hayam Wuruk serta Nertaja secara pribadi. Aku menarik napas sebelum memulai pembicaraan. "Haaa bagaimana ini? Sekarang aku tidak tau harus memanggilmu apa. Jika aku memanggilmu Raja, itu bukanlah panggilan yang tepat. Jika aku memanggilmu kakanda, kan aku bukan adikmu lagi?" Ucapku yang mencoba meringankan suasana sebelum masuk ke inti pembicaraan. Rupanya dalam tiga hari aku bisa menerima keadaan ini. Yah, terima kasih kepada beberapa penenang yang tanpa sengaja terbawa ke masa ini. Hayam Wuruk dan Nertaja tampak saling pandang. "Panggil saja aku kakanda. 'Kan kamu juga calon istriku?" Tidak semudah itu (: "Tidak, aku akan memanggilmu Hayam Wuruk saja mulai sekarang." Jawabku dengan ketus. "Itu, tidak buruk." Sahut Nertaja. "Lagipula, kamu tau Ratu, kenapa kakanda menginginkan kamu tetap memanggilnya dengan sebutan itu?" Hayam Wuruk yang awalnya kalem langsung berdiri hendak menahan perkataan Nertaja. Namun aku dengan sigap memberikan tatapan sinis ke Hayam Wuruk-jika ia mencoba menghalangi adiknya. "Itu dikarenakan kakanda adalah sebutan untuk seorang istri kepada suami." Aku hanya memasang ekspresi datar. Sedangkan Hayam Wuruk menurunkan matanya. Sebenarnya yang Raja di sini itu aku atau dia sih? Kenapa dia terlihat takut begitu? "Kakanda, aku tau kamu sangat ingin dipanggil begitu oleh Ratu. Tetapi mengapa menunda hingga tiga tahun kedepan?" "Di usia sekarang, aku yakin aku belum dewasa. Aku juga yakin, Ratu akan sangat terkejut apabila kita menikah esok." Aku langsung melempar tatapan sengit. Sudah tiba-tiba terpilih, dilaksanakan besok lagi. Jika benar begitu, aku akan menjadi pengantin yang kabur. "Tidak kok. Aku hanya bercanda." "Bercandamu tidak lucu." Tepat setelah mengatakan hal itu, Hayam mengerucutkan bibirnya seolah-olah dia lagi ngambek. Aww lucu banget hyung membuatku gemas ingin menabok. Mengabaikan Hayam Wuruk, aku beralih pada Nertaja. "Aku sudah bisa sedikit membaca dan menulis lho! Apakah benar-benar tidak ada pekerjaan untukku?" Nertaja tampak berpikir.  Merasa diabaikan, Hayam Wuruk tiba-tiba menggebrak meja. Ini Raja satu kenapa sih Ya Tuhan.. "Aku tau! Kamu harus berlatih menjadi permaisuri. Karena kamu calon permaisuri, kamu juga harus belajar etika. Kamu adalah Ratu di masa depan." Astaga. Benar juga. Ketika aku menjadi Ratu, aku harus benar-benar menjaga sikapku. Kali ini aku setuju dengan Hayam Wuruk meskipun tadi ia menyebalkan. I stan with you hyung Inilah mengapa dari banyak cerita kolosal yang k****a, permaisuri biasanya sudah menyiapkan diri sedari kecil dan sudah dipastikan menikah dengan putra mahkota. Lalu aku siapa bisa dan harus melakukan hal seperti ini? "Aku akan mengajarimu sedikit." Ujar Nertaja dan mempersiapkan dirinya. Sedangkan aku dan Hayam Wuruk menontonnya. Jika di kerajaan barat, mereka biasanya menggunakan buku diatas kepala mereka, lalu ditambah buku lagi, dan apel. Itu semua untuk melatih cara berjalan yang anggun. Bagaimana dengan di Majapahit? "Pertama-tama, kamu harus lebih memperhatikan posisi dudukmu." Aku lalu melihat kakiku yang duduk bersila di atas kursi. Lalu aku nyengir kuda. "Ah, benar juga. Hehe maaf." Aku langsung menurunkan kakiku dan dibalas kekehan kecil dari Hayam Wuruk. "Selanjutnya, kamu perlu menggunakan bahasa yang halus. Jika kamu menggunakan bahasa biasa, rakyat akan mengira kamu pemarah, judes, jahat, dan tidak sopan." Ckckck, opini publik. "Ketiga, kamu harus menggunakan bahasa formal agar mereka segan denganmu. Jika kamu sering menggunakan bahasa yang informal, mereka akan mengira kamu lemah dan mudah terkelabuhi. Sisi lainnya, mereka akan tidak menghormatimu karena menganggap kamu adalah temannya." Mereka akan tidak menghormatiku. Mereka akan tidak menghormatiku. "Ayolah, kemana Ratu yang humble? Masa dimintain PR aja ga boleh?" "Rat, kok tadi gue nanya nomor 5 lu ga noleh sih? Pura-pura b***k?" "Kak Ratu! Kemaren PR aku yang kakak kerjain salah satu. Kok bisa sih? Sengaja ya?" Iya, mereka tidak menghormatiku. Aku paham sekarang. "Ratu?" "Ah, iya. Aku tadi, aku tadi teringat tempat asalku." "Memangnya, tempat asalmu itu bagaimana?" Tanya Hayam Wuruk sembari menumpu kepalanya diatas kedua tangan. Akhirnya, saat ini tiba juga. saat dimana aku harus mengatakan kepada mereka bahwa aku berasal dari masa depan. Lalu aku meletakkan daguku di tangan yang kuletakkan di atas meja. "Jika ku beritahu, kalian harus berjanji untuk tidak kaget serta mengusirku. Bersikaplah seperti biasa." "Yah, bukan janji yang susah." Hayam Wuruk menimpali. Baiklah, sekarang aku langsung memanggilnya dengan nama. Ini kocak. "Kalian percaya dengan masa depan?" Tanyaku dengan ragu. Sekali lagi, salah-salah aku yang akan di hukum mati. "Tentu saja. Ada kamu dan aku di sana. Kita juga menikah di sana." Saat ini aku benar-benar ingin melakban mulut Hayam Wuruk agar diam dan tidak menimpali apapun. Sedangkan Nertaja? Ia hanya rolling eyes menghadapi kebucinan kakandanya. "Aku berasal dari sana." Mereka berdua langsung memasang ekspresi kaget seperti ini "O¤O" "Kamu adalah pengantinku yang datang dari masa depan?" Ga gitu konsepnya hey. "Tidak, waktunya lebih jauh lagi. Aku datang dari enam abad yang akan datang." "Abad?" Iya, tentu saja. Mana mungkin mereka paham bahasa generasiku. "Maksudku, 600 tahun yang akan datang. Abad sendiri adalah kata yang berasal dari generasiku. Satu abad terdiri dari 100 tahun." Jelasku panjang lebar. "Ah jangan bercanda! Mana mungkin--" "Mungkin saja kakanda. Engkau tidak melihat pakaiannya saat pertama kali kita bertemu dengannya? Dan barang-barang yang ia kenakan?" Nertaja membela kesaksianku. Hayam Wuruk pun tertunduk lemas. Iya, inilah faktanya. Mari kita lihat apakah mereka membuangku, membunuhku, atau membiarkanku. "Tapi kamu tidak berbahaya kan?" Aku menatap Hayam Wuruk yang menatapku juga dengan lemas. "Tentu saja. Aku juga terlempar ke sini tanpa alasan yang jelas. Secara tiba-tiba dan mengejutkan." "Bagaimana ceritanya hingga kamu bisa sampai ke sini, Ratu?" Tanya Nertaja dengan raut muka penasaran. Aku mulai menjelaskan bahwa semua ini berawal dari bersin. Rasanya ingin mengutuk diri sendiri yang sangat sensitif terhadap debu. "Lalu saat kamu membuka mata setelah bersin, kamu sudah ada di sini?" "Tidak, aku meminum obat dulu karena aku takut terjatuh. Saat aku melihat keluar, tiba-tiba aku sudah di masa ini. Setiap kali aku ingin pulang melalui Candi Bajang Ratu, kalian mencegahku. Itulah kenapa aku berkali-kali ingin ke sana, jika kalian ingin tahu." "Obat?" Ah iya, mana mereka tau obat itu apa. "Em, kurasa saat ini namanya adalah penawar." Nertaja manggut-manggut sedangkan Hayam Wuruk memberikan tatapan bersalah. "Maafkan aku. Aku tidak ta--" "Iya tidak apa. Aku menyerah kepada semesta." "Maksudmu, Ratu?" Kali ini Nertaja yang bertanya. "Tidak apa. Aku merasakan pengalaman baru ketika aku di sini. Aku tidak perlu belajar banyak seperti di masa depan. Lagi pula jika aku kembali sekarang, bagaimana dengan pernikahanmu?  Aku tidak tertarik untuk membuat nama seorang Raja dipandang buruk di masyarakat karena kehilangan calon pengantinnya sendiri." Hayam Wuruk tersenyum mendengar jawabanku. Senyum yang selalu ia tunjukkan ketika berada di depanku. "Jadi, kamu akan menetap?" "Aku tidak tau. Jika semesta menginginkan aku kembali ke masa depan, aku akan melakukannya. Namun saat ini aku tidak melakukan percobaan untuk kembali lagi." Ucapku dengan pasrah. Terlalu banyak kejadian di sini. Kurasa, jika aku berhasil kembali pun aku akan menjadi orang gila. "Bagaimana masa depan itu Ratu?" Tanya Hayam Wuruk mengalihkan pembicaraan. "Yah, tergantung. Kebetulan aku mendapatkan kehidupan yang buruk hingga aku bisa terlempar ke sini." Aku lalu menundukkan pandangan, Nertaja menatapku sendu. "Tidak begitu kok. Jika kehidupanmu adalah kehidupan yang buruk, kamu pasti tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan kami. Kamu adalah seseorang yang beruntung, Ratu. Kamu pantas untuk mendapatkan kebahagiaan." Nertaja, aku terharu. Nertaja lalu berdiri dan memelukku erat. "Ratu, tetaplah di sini. Jadilah saudariku." Nertaja lalu menggenggam tanganku. Aku membalasnya dan tersenyum. "Aku tidak berjanji tentang aku tetap akan berada di sini. Tapi aku juga tidak mengatakan bahwa aku akan berusaha untuk kembali ke masa depan. Aku akan berusaha menetap hingga saat pernikahan telah tiba." Hayam Wuruk yang semulanya senyum-senyum sendiri tiba-tiba mengerutkan alisnya. "Kenapa hingga pernikahan tiba? Aku mau kamu tetap di sini hingga akhir hayat. Tidak menerima penolakan." Aku menundukkan pandanganku. Jika itu terjadi, seharusnya aku bertemu dengan orang tuaku dulu untuk yang terakhir kalinya. "Yah, aku tidak tau mana yang terbaik. Tapi ku harap semoga jalan yang ku tempuh adalah jalan yang terbaik." Nertaja kembali menatapku dengan tatapan sendu. Aduh, mana tega. "Tetaplah berada di antara kami, Ratu. Aku kesepian." Ah, aku jadi ingat sesuatu. "Nertaja, Raden Sotor itu nugu--siapa?" "Raden Sot--" "Raden Sotor adalah saudara tiri kami. Ia lebih muda dariku namun lebih tua dari Nertaja. Jaga jarak dengannya, aku tidak mau terjadi perkelahian dengan saudara tiriku karena memperebutkan seorang gadis. Karena aku tidak akan pernah membiarkanmu jatuh ke tangannya. Cukup ayah, tidak dengan gadisku." Aku melongo mendengar penjelasan Hayam Wuruk yang lebar dan ketus. Berbeda dengan Nertaja yang memberi muka kesal karena omongannya di potong oleh Hayam Wuruk. Lalu Hayam Wuruk berdiri dan berlutut di depanku.  Jantungku tiba-tiba workout. "Karena itu, tetaplah berada di sini, Ratu. Aku membutuhkanmu." *** Tiga hari lagi akan dimulai perayaan tahun baru. Perayaan ini dimulai selama seminggu sebelum tahun baru hingga hari ketiga setelah tahun baru. Sebenarnya, aku juga masih agak sedikit bingung dengan tahunan Saka. Seingatku, tahun baru Saka biasanya terjadi pada sekitaran bulan Maret. Pantas tidak jauh beda saat pertama kali aku tiba di sini. Terakhir kali aku berada di masa depan adalah ketika Februari 2020, mengingat ulang tahunku yang baru saja terjadi pada tanggal 14 Februari. Benar. Akan lebih baik jika aku memilih peminatan IPS, hiks. Setidaknya aku tidak akan buta arah di sini. Arah jalan hidup. "Haaah." "Kenapa menghela napas?" Aku langsung menoleh ke asal sumber suara. Lumayan terkejut bahwa suara itu bukan berasal dari Hayam Wuruk. Akhirnya! second lead male! "Ah! Asisten!" Iya nampak terkejut mendengarku mengatakan "Asisten". Tapi saat pertama kali bertemu dengannya-- ah maksudnya ketika pertama kali ia menyentakku, ia benar-benar terlihat seperti asistennya Hayam Wuruk. "Asisten? Apa itu asisten, Ratu?" "Asisten-- aa, ra-rakyan! Apakah kamu bukan rakyan?" "Rakryan, Ratu." Ah benar juga. Nama mereka mirip dengan kata "Rakyat". Yah, tidak salah sih. Kan, mereka juga seperti DPR. Dewan Perwakilan Rakyat. "Ah, iya itu. Kamu rakryan ya?" "Iya, aku memanglah rakryan. Aku yang kemarin kesusahan mengurus Yang Mulia Maha Raja dan juga Ratu." "Ahahaha." Tawaku garing. Mau bagaimana lagi? Kami pingsan seharusnya ia memanggil orang lain. Bukan merepotkan diri sendiri. "Bagaimana keadaanmu Ratu? Kamu tidak terjatuh dari Candi lagi?" Tumben banget ada yang bicara informal. Mana manggilnya langsung pake nama lagi. "Ah, yah. Begitulah." Kedatangan second lead male yang ku nanti-nanti tidaklah sesuai ekspektasi. Entah mengapa aku jadi kesal sendiri. Hawa-hawanya ga enak nih .999 "Ratu, dari yang aku tau kamu ini berasal dari desa terpencil. Kenapa kamu bisa tiba di sini? Apakah kamu memang berniat menggoda Maharaja?" Aku terbelalak kaget. Apa-apaan maksud orang ini. "Jaga omonganmu." Aku mulai menurunkan suaraku dan mendinginkan auraku.  Aku ga suka ya kalo dijatohin. "Apakah itu salah? Bukankah kamu memang berniat menggoda Maharaja? Lihatlah! Sekarang bahkan kalian akan menikah padahal kalian baru bertemu sekitar setengah bulan." Aku mulai mengacuhkan omong kosong rakryan satu ini. Hal ini sudah sering terjadi di masa depan. "Kamu tuh pinter, anak baik-baik. Kenapa temenannya sama orang-orang ga bener gitu sih?" "Semua cowo diembat. Kalo dia bunting gue ketawa deh." "Ya kan geng nya isinya begitu. Kalo masih ada yang sama sekali ga kesentuh ya kaget sih gue." Ck. Dasar omongan netizen. Aku juga baru tau bahwa netizen seperti itu juga sudah hidup sedari zamannya Hayam Wuruk. Tapi aku tidak tau mana yang lebih parah. Temanku memang b***t semua. Mereka nakal. Tapi mereka baik. Itu yang membuatku memutuskan untuk berteman dengan mereka. Itu lebih baik ketimbang punya teman anak baik-baik namun toxic. Tau nya hanya menjatuhkan. Aku alergi orang-orang seperti itu. "Dilihat dari segi manapun Ratu, kamu benar-benar tidak cocok jadi putri mahkota. Bicaramu tidak ada halus-halusnya. Gaya duduk yang tidak sopan, cara jalanmu saja sembrono. Kamu masih percaya diri menjadi permaisuri? Menghilang lah." Sebenarnya, agak salah jika kamu memancing emosi seorang anak dengan ranking 1 paralel. Anak yang ambisius. Anak yang ingin menang. "Jika aku suatu saat menjadi permaisuri yang sukses. Maka jangan kaget jika aku akan menamparmu atas hal yang kamu lakukan hari ini." Aku lalu berdiri, menatap orang itu. Ternyata baru ku sadari ia lebih pendek dari pada tinggiku. Mau ketawa takut dosa. Lalu aku tersenyum jahat dan bisa melihat getaran ketakutan di wajahnya. Aku lalu meninggalkan rakryan itu sendirian. Jika aku mengatakan hal ini kepada Hayam Wuruk, akankah ia selamat? "Masalah hidup dia apasih? Kok tumben ada yang begitu." Aku mendumel tidak jelas sepanjang jalan. Hingga akhirnya aku menabrak seseorang. Huh kecerobohanku. "Ratu?" Ternyata itu adalah Nertaja yang sedang berjalan-jalan juga. "Ah! Halo Nertaja!" "Kamu baik-baik saja?" "Memangnya aku terlihat tidak baik?" Setelah berbicara singkat, kini aku dan Nertaja terduduk di taman istana. Kurasa ini akan menjadi tempat favoritku di sini. "Kamu tadi terlihat kesal setelah berbicara dengan salah satu rakryan. Apakah kamu tidak apa?" "Ah, kamu melihatnya?" Lalu Nertaja mengangguk cepat. Jika aku mengatakannya, rakryan itu bisa selesai hidupnya. Jika aku tidak mengatakannya, aku merasa bersalah kepada Nertaja "Sebenarnya bukan masalah besar. Kami hanya sedikit bertikai tadi." "Ah, aku mengerti." Lalu kami saling diam lagi. Aku sendiri bukanlah orang yang sering mengusulkan sebuah topik duluan. "Sebenarnya ada beberapa hal yang belum kuberitahukan kepadamu, Ratu." Aku melihat Nertaja dengan menaikkan alis. "Apa itu, Nertaja?" "Saat pertama kali kamu tiba di sini, tepat saat kamu hampir masuk ke Candi Bajang Ratu, kamu melihat orang itu dan Kakanda, benar?" "Iya, itu adalah saat pertama kali kami bertemu." Nertaja menghela napas sebentar. "Sebenarnya saat itu, rakryan itu sedang menjodohkan kakanda dan adiknya. Tapi kakanda menolaknya secara halus. Tapi mungkin karena ditolak terlalu halus, ia jadi berpikir masih ada kesempatan. Karena itu ia mengikuti kakanda dimanapun dan kapanpun." Aku berdehem pelan mendengar cerita Nertaja. Pantas ia tidak suka dengan kehadiranku di sini. "Lalu semenjak kamu datang, kakanda sangat sering mendekatimu. Baru pertama kali ini aku melihat ia begitu gencar mendekati perempuan. Dan karena itu juga, rakryan itu mundur dari perjuangannya untuk menjadikan adiknya sebagai permaisuri kakanda. Mungkin karena itulah dia menunjukkan sikap yang menyebalkan kepadamu. Maafkan ia Ratu, aku sekadar mewakilkannya." Ah, pantas. Jika aku tidak tiba di sini, mungkin ia sudah menjadi kakak ipar Hayam Wuruk. Hawa hawa nya ga enak nih .999+ "Jadi Ratu, jika ia mengganggumu, segera kabari kami. Aku ataupun kakanda. Selain mengganggumu, ia juga berpotensi besar membahayakanmu. Tetaplah di sekitar orang banyak hingga hari pernikahan kalian." Astaga, bahkan aku menikah 3 tahun lagi. "Aku akan berusaha sebaik mungkin, Nertaja." Nertaja tersenyum sebentar, lalu melanjutkan kata-katanya. "Karena sebentar lagi akan ada perayaan tahun baru, mari keluar kerajaan. Sebelum aku benar-benar sibuk." "Hm, Baiklah." Setelah menyiapkan diri, aku dan Nertaja melangkahkan kaki bersama keluar kerajaan. Berbeda dengan Hayam Wuruk, Nertaja lebih mudah diajak bekerja sama untuk menyamar. Kami membawa dua orang pengawal dan dua orang dayang-dayang. Itupun kami menjaga jarak. Aku melewati jalan-jalan yang kulewati kemarin bersama Hayam Wuruk. Lalu tanpa sengaja aku melihat kakek itu, bersama seorang perempuan cantik, cantik sekali. Kulitnya seputih sutra, senyumnya semanis gula merah, kakinya jenjang, parasnya kemayu. "Nduk, bapak ke sawah dulu ya." "Iya pak!" Lalu aku melihat perempuan itu menyalimi kakek itu. Ah, jadi itu anaknya? "Ada apa Ratu?" Aku langsung menghadapkan mukaku ke arah Nertaja. "Tidak apa, ia terlihat sangat cantik." "Mungkin ia adalah kembang desa." "Pasti." Lalu kami melanjutkan perjalanan. Menemukan orang-orang dengan jajanan zaman dahulu. Benar-benar jawa tempo doeloe. "Aku sangat menyukai manisan." Ucapku secara tiba-tiba saat melihat manisan yang kubeli dan sekarang berada di tanganku. "Kakanda juga. Katanya, ia menyukai hal-hal yang manis karena rasa manis adalah kebahagiaan untuknya." Aku terdiam sejenak dan berpikir. "Seharusnya ia mencari perempuan yang manis agar bisa bahagia, bukan aku. Lagipula, ketika pertama kali ia mengumumkan pernikahan, aku pikir ia sedang membuat lelucon." Lalu Nertaja terkekeh pelan. "Lelucon seorang Raja adalah kebenaran Ratu. Lagipula, kamu tidak sadar bahwa kamu sangat manis ketika tersenyum?" Lalu aku tersenyum kikuk. Selama ini, aku masih tidak percaya dengan pernikahanku dengan Hayam Wuruk. Apakah artinya sejarah akan berubah? Kami berjalan hingga tiba di salah satu pondok kecil yang dekat dengan perkebunan rakyat. "Omong-omong Nertaja.." Aku menjeda kalimatku dan Nertaja menoleh ke arahku. ".. Jika aku menikah dengan Hayam Wuruk, bukankah sejarah akan berubah? Aku tidak tau banyak tentang kerajaan di Indonesia. Jadi aku lupa ia menikah dengan siapa, mempunyai anak berapa. Tapi jika ia menikah denganku, pasti sejarah akan berubah, bukan?" Nertaja tampak berpikir sejenak. "Jika kalian tetap menikah dan bersama hingga akhir hayat, percayalah. Bahwa pernikahan kalian itu, memang yang terbaik untuk masa depan. Namun, jika sesuatu terjadi, kurasa kalian memang tidak ditakdirkan bersama.  Apapun yang terjadi Ratu, aku akan selalu mendukungmu di garis terdepan." Aku tersenyum tipis. Terimakasih, Nertaja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN