LEMBAR 10

1136 Kata
  "Eh si Gilang ngajakin makan, mau ikut ga lu pada ?" Raniya sedang memberikan info tentang Gilang disaat semua anak kost kumpul di kamar Gigi. Raniya menatap Ariska yang sedang serius dengan tontonannya bersama Gigi. Dan Camellia membuat gerakan mengangguk menjawab pertanyaan Raniya tadi. "Ris, lo ga ikut ?" "Kapan ?" "Malam ini .” Raniya tersenyum saat melihat Ariska mengangguk kecil sambil memakan popcorn buatan Gigi. "Gue ga. Cowok gue ngajak gue nonton." Satu lagi kebiasaan Gigi. Tidak suka saat Raniya bercerita tentang cowok kenalannya. Dan Gigi tidak suka berkumpul bersama cowok - cowok kenalan Raniya. "Ya udah deh, gue siap - siap dulu. Lu sama si Camel dandan cantikan sana. Mayan 'kan di traktir," Raniya bangkit setelah berbicara pada Ariska, "seneng kan lo di traktir ?" Kata - kata terakhir Raniya di balas cengiran dari Ariska dan Camellia. Keduanya segera naik ke lantai atas untuk bersiap - siap. Tidak lupa, membereskan kamar Gigi. Ariska menimang - nimang untuk ijin pada Iqsa atau tidak. Hari ini hanya beberapa pesan saja mereka berbalas - balasan. Dan itu artinya, Iqsa sedang sibuk. Baiklah, ga usah minta ijin. Lagian, ijin ga ijin sama aja kalo urusan pergi bareng Raniya. Dilarang dan jangan pulang malam. Yah. Posesif emang. Mereka sudah sampai di foodcourt salah satu mall di Jakarta setelah perjalanan cukup canggung antara mereka di dalam mobil Gilang. Banyak pilihan menu dan Ariska memilih ramen untuk malam ini. "Makan aja yang kalian mau. Gue bayar semuanya," seru Gilang saat melihat Raniya menunjuk makanan yang lumayan berkelas seperti steak daging sapi tanpa lemak. Ariska nyengir di barengi kekehan Gilang. Saat makanan sudah tiba, Ariska berhenti tertawa bersama Camellia. Mereka sedari tadi menonton acara variaty show dari Korea yang bikin ngakak. Ariska tidak berhenti mengoceh saat bintang tamunya ganteng abis dan Camellia yang sibuk menutupi mulutnya karena malu jika tertawa terlalu keras. Maaf, Camellia punya malu tidak seperti Ariska yang urat malunya sudah putus. "Ris, makan dulu. Itu nanti aja," seru Raniya yang sudah menyuap makanannya. Ariska mengangguk, "iya kanjeng dorooo," kata Ariska kemudian. Gilang terkekeh kecil melihat kelakuan Ariska yang dengan konyolnya tidak tau malu walaupun hari ini adalah hari pertamanya bertemu. Dan Gilang merasa tersanjung atas ikatan tidak terlihat antara Raniya dan Ariska. Semalam, Gilang sempat membicarakan hal yang menurutnya bukan hal penting untuk Ariska tapi ini penting untuknya sendiri. Gilang sempat bilang bahwa dirinya tidak bisa menerima jika Ariska berbohong menyembunyikan aib Raniya. Gilang sempat bertanya pada Ariska di dm i********: tentang laki - laki yang dekat dengan Raniya tidak sedikit. Tapi Ariska malah menjawab, 'gini loh Gilang. Gue selalu ga suka ada orang yang punya hubungan sama temen gue. Terus gue jadi sasaran empuk buat di tanya - tanya ini sama itu. Kayak lo gini nih. Gue ga suka. Dan kalaupun gue bicara jujur atau bohong, gue ga peduli ini nutupi apa ngebuka aib. Yang penting ini yang gue bisa bilang sama lo. Gue ga ada peduli apapun sama hubungan lo sama Raniya. Dan plis, gue bukan orang yang baik. Gue ga bisa di tanya ini dan itu kayak lo. Kalo lo mau tau apa yang sebenernya terjadi, mending lo langsung hubungi orang yang bersangkutan, jangan sama gue.' "Ran abis ini gue mau ke gramed dulu di bawah lo ikut apa nunggu gue sama Camel di mobil?" Ariska sudah selesai dengan ramen level lima miliknya. Dia sedang menikmati s**u soda sisanya sambil melanjutkan menonton variaty show tadi. Kembali, tawanya terdengar renyah. Banyak orang di dekatnya ikut tertawa ketika mendengar tawa dari Ariska. Begitu pula dengan Gilang yang ada di depannya. Benar - benar konyol. "Gue ikut deh, lagian masih banyak waktu." Ucap Raniya melihat jam tangannya. Ariska mengangguki jawaban dari Raniya. Entahlah, tapi rasanya Ariska tau kalau Raniya sedang bosan. Ariska bukan tidak peduli tentang sikap Raniya yang satu itu. Tapi, Ariska tau ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan apa yang terjadi. Mereka sampai di gramedia, surganya buku. Sebenarnya, Ariska tidak tau apa yang bagus untuk di baca tapi Ariska sudah kehabisan bahan bacaan di kost. Jadi Ariska ingin membeli apa saja yang bagus untuk dibaca nanti. Mereka berkeliling, berpencar. Ariska kejejaran novel best seller, Camellia ke komik jepang, Raniya ke tempat buku kecantikan di ujung jalan yang Ariska tempuh. Dan Gilang, Ariska rasa mengikuti Raniya, karena Ariska tidak memperdulikan sekitar lagi setelah masuk ke beberapa dunia hasil fantasy miliknya setelah membaca beberapa sinopsis buku novel best seller yang ada di depannya. Ini adalah tahun 2017 di bulan November. Dan ini adalah awal bulan yang, ya tidak terlalu istimewa. Setelah kejadian yang Ariska alami baru - baru ini. Buku - buku novelnya hanya sebatas ini, teenfiction kebanyakan. Dan Ariska suka, tapi dia lebih suka ke action atau mungkin fiksi ilmiah. Seperti karya, Alexandra Bracken. Salah satu penulis yang menulis beberapa kasus dalam kegelapan, sihir dan fiksi menjadi favoritnya. Hanya saja cetakan buku aslinya sulit di dapat di Indonesia. Jikalaupun ada, harganya tidak main - main. Mahal. Sangat. Matanya diam memandang salah satu judul yang lumayan Ariska ingat. Ariska punya akun w*****d dimana penulis dari sana bisa memberikan akses yang baik untuk menuangkan hobinya. Dan jika hobinya ingin di bayar, ya mereka harus berusaha keras membuat cerita yang menarik untuk di baca dan tentunya di lirik oleh penerbit. Salah satunya ini, Hendra Putra, penulis laki - laki yang pernah Ariska kunjungi di halaman wattpadnya. Dia seorang laki - laki dan penulis. Ariska suka laki - laki jago nulis seperti Hendra Putra ini contohnya. Ariska membaca beberapa bagian di w*****d. Tapi tidak bisa. Sebagian ceritanya sudah di hapus. Waktu itu, Ariska sempat berkata kasar karena penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Dan sekarang, novelnya ada di depan mata. Sialnya, ini adalah best seller. Dan pastinya bakal sangat laku. Ariska mendesah kesal setelah melihat bulan terbit buku ini di info terbitan wattpadnya Hendra Putra. Sialnya sudah tiga bulan novel ini mejeng manis di tempat buku. Ariska berlari menuju penjaga buku di sudut ruangan. Dan apalagi yang sial setelah ini ? Buku penulis favoritnya bisa saja habis dan sekarang dirinya harus menubruk orang yang dengan tidak sengaja menjatuhkan beberapa buku dan membuat perhatian pengunjung yang tidak terlalu ramai menuju pada Ariska dan laki - laki di depannya. Laki - laki ini. "Gilang. Astaga. Sori - sori gue ga sengaja," kata Ariska lalu menunduk mulai membereskan beberapa buku yang terjatuh tadi.   Bukannya marah, Gilang malah tertawa dan ikut berjongkok membereskan buku yang terjatuh. Ketika buku terakhir di simpan Gilang, Ariska benar - benar ingin berteriak saat itu juga. Tidak bisa. Ini tempat buku bukan tempat sepi. Dia tidak bisa berteriak tapi lebih ke memukul Gilang gemas. "Ngapain dah lo ?" "Bawain buku itu," kata Ariska melihat wajah Gilang yang bingung. "Ini ? Kenapa sih ?" Ariska tidak tau, tapi dirinya benar-benar kalap memeluk buku itu sampai jingkrak-jingkrak. Tangannya mengepal lalu berusaha membuatnya masuk ke dalam mulut. Dan sialnya lagi, itu mustahil. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN