Ariska tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat buku yang masih dibungkus plastik itu bersender di rak dengan beberapa novel miliknya. Bahkan buku itu belum dibuka dari bungkusnya. Entah, sayang aja gitu. Padahal buku itu sudah seminggu ada di sana. Sialnya, Ariska tidak tega membukanya. Takut rusak aja gitu.
"Ris, kuliahkan setengah jam lagi. Lo udah rapi gini ?"
Ariska mengalihkan pandangannya pada Raniya yang sedang berbaring di kasurnya. Tadi malam Raniya naik ke atas tepatnya ke kamarnya dan menginap. Katanya ada yang mau dia certain. Dan ya, mereka bertukar cerita sampai - sampai mereka tidur tepat tengah malam. Seingat Ariska.
Ariska yang lebih dulu bercerita jika dirinya dan Iqsa sedang ada masalah. Dan begitupun Raniya dengan Gilang. Kata Raniya, dia sudah jatuh cinta pada Gilang. Tapi Gilang jarang menghubunginya sejak saat mereka bertemu terakhir kali di gramedia itu.
Raniya juga mengeluhkan dimana hal jarang komunikasi itu membuat Raniya mulai menganggap aneh hal itu. Hanya saja, Ariska tidak terlalu memperdulikan itu. Dan Ariska menagatakan hal itu biasa untuk ukuran laki – laki.
"Eh iya, kata Camel, lo di bayarin buku sama dia ? Kok bisa ?"
Ariska yang tahu jika yang dimaksud dia oleh Raniya adalah Gilang menaikkan bahunya. Lalu ikut duduk di pinggir ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Gat au gue. Pas gue bilang kalo buku itu adalah buku yang gue mau dan itu adalah cetakan pertamanya dan gue seneng bukan main. Eh tiba - tiba dia narik novel yang gue pegang terus jalan ke kasir. Gue mau kejar tapi si Camel manggil. Terus ya terus pas si Gilang balik, udah di kantong keresek aja tuh buku. Gue mau ganti, katanya gantinya kapan - kapan aja." Kata Ariska panjang lebar.
Raniya menarik nafasnya berat, "kok gue ga di beliin buku kosmetik gitu ya ? Padahal gue udah kode kalo gue suka beberapa buku. Tapi dianya ngeles aja sambil liatin hp.”
Sebenarnya, Raniya itu bermonolog tapi Ariska mendengar dan meresponnya.
"Lo minta kebanyakan kali."
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Iqsa sudah mulai bersikap sepreti biasa lagi pada Ariska. Malah Ariska yang kini terlihat seperti menjaga jarak. Ariska tidak tau kenapa tapi, Ariska masih cukup takut jika ada masalah seperti kemarin lagi. Menurut Raniya, Ariska harusnya biasa saja pada Iqsa. Dengan Ariska bersikap seperti ini, Ariska akan membuat Iqsa merasa jika Ariska ingin membuat masalah lagi. Dengan begitu, Ariska berusaha untuk bersikap biasa saja.
Iqsa libur kerja hari ini, dia sebenarnya ingin mengajak Ariska untuk tetap berada di apartemennya. Iqsa merasa ingin istirahat, tapi Iqsa juga ingin Ariska bersamanya di waktu yang bersamaan. Jadilah mereka disini. Ariska membeli beberapa makanan sebelum datang ke apartemen Iqsa. Iqsa masih ada di tempat tidurnya saat Ariska masuk ke apartemennya. Ariska masuk ke dalam apartemen yang sudah menjadi tempat yang biasa ia kunjungi setiap minggunya. Sebelum Iqsa yang sibuk dengan pekerjaannya tentu saja.
Iqsa melengguh kecil ketika usapan pada kepalanya membuatnya terbangun. Lalu dia tersenyum dan begumam selamat pagi untuk Ariska.
"Mau makan apa ? Roti dulu ? Aku tadi beli roti," tanya Ariska menyodorkan roti untuk Iqsa sarapan.
Iqsa mengangguk lalu menarik Ariska untuk berbaring di sebelahnya.
"Aku rindu." Katanya.
Ariska tersenyum kecil saat hembusan nafas Iqsa mengenai belakang lehernya. Sialnya, Ariska juga rindu Iqsa. Tentu saja yang seperti ini. Ariska berusaha beringsut dari tidurnya, tetapi rengkuhan di pinggangnya mengerat.
"Sa, aku mau masakin kamu nasi goreng dulu sebentar biar kamu bisa sarapan," kata Ariska memberikan alasan untuk lepas dari pelukan Iqsa.
Ariska bukan benci, hanya saja Ariska sedikit tidak nyaman dengan pelukan Iqsa. Biasa seperti ini, namun rasanya sekarang Ariska benar – benar ingin menjaga jarak sementara.
"Bentaran lagi aja sayang."
Hati Ariska menghangat. Rasanya sudah lama sekali Iqsa tidak berkata hal yang manis padanya. Iqsa memang seperti itu. Jarang sekali menunjukkan hal yang manis dan romantis. Terkadang Iqsa hanya mengeluarkan celotehan yang membuat Ariska tersenyum bahkan tertawa keras.
"Sa. Kamu sayang sama aku ?"
Iqsa mengangguk di belakang leher Ariska. Sesekali ia menggerakkan hidungnya atau meniup belakang telinga Ariska yang membuat Ariska bergidik geli. Kecupan yang di berikan Iqsa di bahunya membuat Ariska sadar bahwa Iqsa adalah sosok yang membuat dia menjadi dirinya sendiri. Tanpa perlu merubah sikap dan penampilan. Iqsa adalah Iqsanya Ariska.
"Kamu ganti sampo ?"
Ariska mengerutkan keningnya, Iqsa tidak sepeka ini dulunya. Ariska menganggukkan kepalanya seraya melepas pelukan Iqsa, lalu berbalik berhadapan dengan Iqsa.
"Aku lebih suka yang ini. Pakai terus ya ?" Tanya Iqsa pada Ariska.
Ariska mengangguk cepat lalu bangkit setelah mengecup pipi Iqsa singkat.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
"Ris, lo udah siapin lukisan lo ? Tinggal seminggu lagi 'kan ?"
Raniya mengingatkannya pada lukisan di kamarnya. Bahkan Raniya juga tidak diperbolehkan untuk melihatnya. Bukan karena kurang percaya diri, tapi, ada bagusnya jika belum seorang pun yang tau. Biarlah mereka tahu setelah mereka datang ke pameran nanti.
"Udah. Tinggal final touch, Ran." Kata Ariska menjawab pertanyaan Raniya.
Raniya mengangguk lalu dahinya berkerut, "Ris lo masih inget Gilang ?"
Kali ini Ariska yang mengangguki perkataan Raniya.
"Dia kayaknya ada cewek lain gitu ga sih ? Soalnya tiap gue ngehubungi dia, balasnya itu seabad. Lama banget. Terus mana dia bikin status cinta - cintaan lagi di WA," keluh Raniya untuk Gilang sambil menatap ponselnya.
Ariska mengangkat bahunya lalu kembali dengan novel di tangannya. Mereka memang sedang di perpustakaan kampus. Rencananya sih mau ngerjain tugas saat jam kosong. Tapi realitanya, Ariska dengan novelnya dan Raniya dengan handphonenya.
Selalu seperti itu.
Ariska semalam mendapat dm di instagramnya dari Gilang. Katanya dia minta kontak Ariska yang bisa di hubungi. Ariska tentu saja menolaknya karena, toh untuk apa hubungan dia dan Gilang berlanjut. Dan pertanyaan - pertanyaan itulah yang di bungkam dengan pernyataan 'gue suka sama lo' via dm dari Gilang.
Ariska tidak bisa membalas namun sialnya, Ariska sangat terhibur saat Gilang mengabarinya. Dan kebetulan sekali dirinya dan Iqsa sedang tidak berhubungan malam itu. Dan Ariska mungkin sedikit merasa terisi di waktu luangnya.
Dan bisa dikatakan, Ariska cukup senang akan kehadiran Gilang saat itu.