Melisa Kenapa?

1188 Kata
Alfath dan Fajri berjalan dengan kesal menuju kelas. Ingin rasanya mereka memaki dan melawan Nenti. Namun apalah daya, itu hanya sebuah keinginan yang tak sanggup mereka lakukan. Karena pada kenyataannya setiap mereka bertemu Nenti maka entah ke mana perginya nyali mereka. Nenti bagaikan sosok yang mempunyai daya yang sangat besar hingga mampu membuat siapa saja yang melihatnya akan tunduk hanya dengan melihat pelototan matanya yang sangat khas. Keduanya berjalan tanpa suara, bibir mereka bungkam tak terbuka. Namun keduanya berhenti ketika tanpa sengaja ada tubuh yang menabrak keduanya. Tanpa diduga ternyata itu adalah Melisa, guru bahasa Inggris yang baru. Namun, guru yang baru mendapatkan kursi di sekolah ini tampak terlihat tak baik-baik saja. Ada sebuah keanehan di wajah Melisa. Ada beberapa memar yang terlihat, padahal ketika tadi pagi Melisa mengajar di kelas, memar-memar tersebut tidak ada. Alfath dan Fajri juga melihat ada luka yang jelas sekali masih baru di sudut bibir Melisa. Pemandangan tersebut kontan saja membuat keduanya mengernyitkan kening mereka, terutama Fajri yang tampak khawatir dengan apa yang terjadi pada guru muda nan cantik tersebut. “Bu, Ibu kenapa?” tanya Fajri dengan sopan. Sedangkan Alfath hanya diam namun memperhatikan dengan detail wajah Melisa. Ia ingin bertanya tetapi malas untuk melakukannya. Apalagi ketika mendengar sahabatnya bertanya, Alfath merasa jika apa yang ingin disampaikan oleh mulutnya sudah diwakili oleh sahabatnya tersebut. Lantas keduanya langsung memerhatikan Melisa dengan intens. Dan keadaan Melisa masih tetap sama seperti semula, tampak tidak baik-baik saja. Sorot mata Melisa masih memancarkan ketakutan, napasnya pun masih tidak beraturan. Dan Fajri juga Alfath baru menyadari ada jejak air mata di pipi sang guru. Jejak-jejak air mata tersebut seolah menjadi bukti jika memnag telah terjadi sesuatu yang buruk menimpa Melisa. Dan sungguh, hal tersebut membuat Fajri dan Alfath semakin menatap penuh rasa penasaran pada guru tersebut. “Saya gak papa,” jawab Melisa dengan cepat. Meski ia berkata demikian, nyatanya suara yang ia keluarkan bergetar. Jelas sekali jika ia berbohong dengan menggunakan kata 'gak papa'. Melisa hanya merasa jika ia tidak perlu mengatakan pada orang lain mengenai apa yang telah dialaminya, apalagi itu kepada dua siswanya yang baru ia kenal. Setelah mengatur napasnya agar lebih teratur, Melisa memutuskan untuk pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Dan tingkahnya itu membuat Alfath dan Fajri penasaran. Mereka memandang kepergian Melisa sampai raganya tidak lagi terlihat. “Bu Melisa kenapa ya?” tanya Fajri pada Alfath. Tentu saja Alfath tidak tahu mengapa. Jadi ia hanya mengendikan bahunya dan kembali melangkah. Fajri yang tidak ingin ditinggalkan oleh Alfath pun segera menyusul. Namun otaknya berpikir keras mengenai Melisa. Bagaimana pun dirinya adalah seorang manusia yang mempunyai rasa keingintahuan mengenai urusan manusia lain. Apalagi jika ia mengenalnya. Alfath pun demikian, ia menaruh rasa penasaran namun tak ingin begitu menunjukkannya. Karena itu sama sekali bukan urusannya. “Kok gue kasian liat mukanya ya?” gumam Fajri dalam langkahnya. Alfath yang mendengar itu langsung menoleh dan menjawab, “Baguslah masih ada rasa kemanusiaan dalam diri lo!” “Emang lo gak kasian?” Alfath terdiam, apakah dia merasa kasihan? Jika ditelusuri lebih dalam maka sebenarnya ia memang merasa kasihan. Melihat memar-memar dan luka robek di sudut bibir seorang perempuan tentu saja membuatnya merasa miris. “Kasian kok.” Keduanya kembali melanjutkan langkah mereka dalam diam. Tak lama keduanya sampai di kelas. Dan masih belum ada guru yang masuk. Jika belum ada guru yang masuk ke dalam kelas, lantas mengapa Nenti sampai semarah itu tadi? Harusnya Nenti memarahi guru yang tidak disiplin terlebih dahulu sebelum memarahi murid. Jika para guru diperbolehkan terlambat, mengapa murid tidak?  Jika ada aturan yang tegas untuk murid maka seharusnya ada aturan yang tegas pula untuk guru. Bukankah itu adil? Ketika memasuki kelas, ingin rasanya Alfath menendang Keanu. Bisa-bisanya laki-laki itu kini tengah mendekati Najihan, kekasih Alfath. Karena merasa cemburu, Alfath langsung saja menghampiri mereka dan langsung menarik rambut Keanu seraya berkata, “Heh, Buaya! Ngapain lo deketin cewek gue? Udah bosen sekolah di sini?” Keanu menghadiahi Alfath senyuman terlebarnya. Ia tidak menyangka jika Alfath dan Fajri akan cepat datang ke kelas. Pasalnya Nenti tidak pernah melepaskan mangsa dengan begitu saja. “Kok kalian udah datang?” tanyanya seraya cengengesan. Alfath mendelik tajam seraya melepaskan rambut Keanu, ia kemudian duduk di samping Najihan yang hanya tersenyum menanggapi kecemburuan Alfath. “Kenapa? Lo berharap kita berdua dihukum biar bisa deketin Jihan?” “Iya—eh!” Keanu langsung menyadari kesalahannya ketika ia mendapat tatapan tajam. Ia menggulung lidahnya seraya mengalihkan pandangan. Fajri yang menyaksikan itu memilih berlalu ke bangkunya. Kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi, jadi ia tidak ingin meluangkan waktu untuk menontonnya. Alfath menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat sekeliling apakah banyak yang memperhatikannya atau tidak. Setelah merasa yakin bahwa tidak banyak yang melihat ke arahnya, Alfath memberanikan dirinya untuk merangkul sang kekasih. Pipi Najihan bersemu dibuatnya, ia tidak menolak karena memang menyukai perlakuan Alfath yang seperti ini. Di sekolah tentu saja mereka tidak bebas untuk memamerkan kemesraan. Jika itu sampai dilakukan maka mereka pasti akan langsung mendapat panggilan dari Nenti di ruang Konseling. Dan hal tersebut terlalu memalukan bagi Najihan yang mempunyai citra baik sebagai murid pintar. Berbeda dengan Alfath yang sudah berlangganan masuk ke dalam ruang Konseling. “Kata Keanu kamu dihukum sama Bu Nenti, kok udah balik? Atau jangan-jangan kamu mangkir lagi ya dari hukuman?” ujar Najihan dengan pelan. Jika berbicara dengan Alfath ia tidak senang menggunakan nada yang keras karena akan mengundang perhatian banyak orang. Bukan karena dirinya adalah gadis populer, ia sama sekali tidak memiliki popularitas. Namun statusnya sebagai kekasih Alfath membuatnya terbawa menjadi pusat perhatian setiap berada di dekat kekasihnya itu. Alfath tertawa kecil menanggapi tuduhan Najihan. Pantas Najihan berprasangka seperti itu karena ia memang sering melakukannya. Tapi tidak untuk kali ini, mungkin Nenti sedang dirasuki roh baik sehingga tidak memberikan hukuman apa-apa. “Enggak! Tadi Bu Nenti gak kasih hukuman, mungkin lagi kesambet kali ya? Marahnya juga gak lama, padahal biasanya bisa sampai setengah jam,” elak Alfath. Mata Najihan memicing curiga. Jika boleh berkata jujur maka sebenarnya ia tidak percaya ucapan kekasihnya barusan. Agak mustahil jika Nenti tidak memberikan hukuman. Dan bukan sesuatu yang mustahil jika Nenti sebenarnya memberikan hukuman namun Alfath memilih untuk kabur ke kelas. Melihat keraguan di mata Najihan membuat Alfath merasa gemas. Ia mencubit pipi kanan Najihan dengan pelan. “Kamu gak percaya?” Najihan cepat-cepat mengangguk. Dan hal itu membuat Alfath tertawa sejenak. “Kalau kamu gak percaya coba aja tanya sama Fajri.” “Ck, ya dia sih temen kamu. Bisa aja kalian bersekongkol buat bohong. Lagian kalian datang barengan, kalau kamu kabur berarti dia juga kabur,” balas Najihan yang masih meragukan kebenaran dari pengakuan Alfath. Alfath hanya tertawa ketika Najihan tidak mempercayainya. Ia kini duduk menyamping agar dapat melihat sang kekasih dengan jelas. Dan hal tersebut membuat Najihan merasa malu, meski mereka sudah lama menjalin hubungan namun tetap saja Najihan selalu merasa malu jika ditatap dengan lekat oleh Alfath. “Kamu cantik.” “Alfath jangan gitu aku malu!!!” Alfath tertawa menanggapi, jika saja sekarang mereka tidak berada di kelas maka sudah pasti Alfath akan memeluk tubuh Najihan dengan sangat erat. Ia selalu merasa gemas ketika melihat Najihan merona seperti sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN