Alfath Dijodohkan

1802 Kata
“Bu Melisa kenapa?” tanya Bandi, guru mata pelajaran Sejarah Indonesia. Kebetulan hanya ada dirinya ketika Melisa sampai di kantor guru. Kedatangan Melisa yang nampak terburu-buru juga wajahnya yang dapat dikatakan babak belur membuat Bandi merasa heran. Pasalnya tadi pagi ketika Melisa datang ke sekolah wanita itu baik-baik saja, tidak ada luka sedikit pun di wajahnya. Melisa menarik napas sejenak dan tersenyum, meski ia yakin itu tak akan melunturkan rasa penasaran di hati Bandi. “Saya baik-baik saja, Pak.” Setelah sempat bertatap muka dengan Bandi, Melisa memutuskan untuk kembali melangkah dan duduk di kursinya. “Ibu yakin tidak apa-apa?” “Yakin Pak.” “Tapi itu wajah Ibu? Apa ada murid nakal?” Bandi takut jika para pelajar di sekolah memperlakukan guru baru dengan tidak baik. Jika benar itu terjadi maka Bandi pasti akan memberikan hukuman yang sangat berat. Melisa segera menggelengkan kepala dengan tegas. “Tidak, Pak, ini ... masalah pribadi saya,” ujar Melisa dengan senyum tipis. Bandi yang mengerti jika Melisa membutuhkan waktu untuk sendiri pun akhirnya pergi meninggalkan Melisa setelah sempat tersenyum. Melisa kini termenung sendirian di dalam kantor guru. Jika tidak mengingat bahwa di ruangan ini terpasang kamera pengawas maka dirinya pasti akan segera menangis kembali. Wajahnya masih terasa perih, sudut bibirnya masih terasa sakit. Dan yang paling sakit di antara semuanya adalah hati dan perasaannya. Melisa mengingat kejadian sekitar tiga puluh menit yang lalu, ketika Marwan yang merupakan ayahnya datang. Pria itu meminta Melisa untuk mengajar di sekolah negeri, tapi Melisa menolak dan memilih untuk tetap berada di SMA Bima Karya. Ini adalah hari pertamanya mengajar, akan menjadi catatan buruk dalam kariernya ketika ia memutuskan untuk berhenti. Akibat penolakan yang dilakukannya, Marwan menampar pipinya berkali-kali hingga Melisa merasa jika giginya akan rontok. Bahkan kini sudut bibirnya sobek. Ini bukan pertama kalinya terjadi, ayah dan ibunya selalu memberikan hukuman ketika Melisa mempunyai kehendak yang berbeda dengan mereka. Hidup Melisa benar-benar diatur dan dikendalikan. Padahal sebagai seorang manusia, Melisa juga kerap kali memiliki keinginan dan pilihannya sendiri. Namun itu semua seakan tak berarti di mata kedua orang tuanya. Bagi mereka, pilihan Melisa selalu salah. Terkadang Melisa heran mengapa tidak pernah sekalipun ia dan kedua orang tuanya memiliki pemikiran yang sama. Padahal jika mereka memiliki keinginan yang sama mungkin Melisa akan merasa hidupnya lebih baik. Suara langkah kaki yang mendekat membuat Melisa menoleh ke sumber suara, ternyata orang tersebut adalah Nenti yang berjalan santai sembari memegang penggaris kayu berukuran satu meter. Sepertinya penggaris kayu adalah senjata Nenti selama berada di sekolah. “Loh, Melisa kamu kenapa?” tanya Nenti cukup khawatir ketika melihat keadaan wajah Melisa. Jika mereka sedang berdua, mereka terbiasa menggunakan bahasa yang tidak formal. Lagi pula, usia Melisa yang lebih muda dari Nenti membuat dirinya menganggap Melisa seperti seorang adik. “Aku baik-baik aja kok, Mbak.” Lagi-lagi hanya kalimat tersebut yang mampu Melisa ucapkan. Ia merasa belum cukup dekat untuk menceritakan apa pun dan kepada siapa pun. Nenti yang memang ketika kuliah mengambil jurusan Psikologi, tentu ia dapat merasakan ada sesuatu di balik kalimat 'baik-baik saja' yang Melisa ucapkan. Jangankan seorang psikolog, orang awam pun akan tahu jika Melisa kini tengah menyimpan kesedihan dan rasa takut yang luar biasa dalam hatinya. Semua itu tergambar jelas dari sorot matanya. “Gak papa kalau kamu gak bisa cerita sekarang, tapi Mbak harap kamu baik-baik saja. Sebaiknya kamu obati dulu wajah kamu sebelum masuk kelas selanjutnya,” ujar Nenti penuh pengertian. Terkadang ketika seseorang mempunyai beban namun ia sedang tak siap untuk menceritakannya, maka janganlah memaksanya untuk mengatakan apa pun. Karena ia akan merasa tertekan. “Iya, Mbak, makasih,” ujar Melisa dengan senyum tipis. Ia sudah mencuci wajahnya tadi. Dan Melisa merasa jika luka di wajahnya tidaklah parah. Lebih baik ia kembali mengoleskan bedak untuk menyamarkan memar-memar di wajahnya. Ia tidak ingin murid-muridnya melihat keadaan wajahnya yang seperti ini. Cukup Alfath dan Fajri saja yang melihatnya. 0o0o0o0o0o0o0 Seorang gadis cantik bernama lengkap Najihan Aulisya berjalan dengan santai menyusuri lorong sekolah setelah bel pertanda pulang berbunyi nyaring. Ia ditemani oleh dua orang temannya yang bernama Sri Ratna dan Ulfa Zania. Sri adalah sosok gadis periang, sangat berbanding terbalik dengan Ulfa yang pendiam. Selama perjalanan, Sri tidak henti berceloteh layaknya anak kecil. Mulutnya tidak henti bergerak untuk menceritakan banyak hal. Bahkan terkadang gadis itu menceritakan hal-hal yang seharusnya tidak diketahui oleh orang lain. Sri tidak pandai menjaga rahasia, bahkan rahasianya sendiri. “Gue kan pergi ke bioskop dong, biasa malam Minggu masa gue gak ke mana-mana, kan? Terus di sana ada mantan gue sama pacarnya. Gue gak cemburu sih, cuma gak suka aja sama ceweknya.” Sri menjelaskan mengenai malam Minggunya yang tak menyenangkan. “Kenapa gak suka sama ceweknya?” tanya Najihan. Pasalnya Najihan merasa heran bagaimana bisa Sri membenci seseorang yang dia tidak kenal. Sri tampak berpikir untuk memberikan jawaban terbaik dan masuk akal. Sebenarnya ia sendiri merasa bingung mengapa bisa ia merasa tidak suka pada gadis yang menjadi kekasih mantannya. Sri tidak memiliki kenangan buruk bersama gadis tersebut, tidak mengenalnya, dan bahkan tidak pernah saling bicara. Satu-satunya masalah bagi Sri adalah status gadis itu saat ini. Statusnya sebagai kekasih dari mantannya. “Ya ... emmm, gak suka aja pokoknya!” “Itu namanya gagal move on,” komentar Ulfa setelah ia memahami maksud ketidaksukaan dalam diri sahabatnya. Menurutnya, rasa tidak suka yang Sri rasakan tidaklah masuk akal kecuali gadis itu masih menyimpan perasaan yang mendalam pada mantannya. Najihan berseru menyetujui. “Nah bener itu, masa gak ada hujan gak ada petir tiba-tiba gak suka? Sri, lo itu bukan gak suka sama ceweknya. Tapi lo gak suka karena dia jadi pacarnya mantan lo. Jangan-jangan mantan terindah?” tebaknya. Sri menggeleng dengan cepat. Rasanya tidak mungkin jika ketidaksukaannya beralasan cemburu karena Sri merasa tidak suka pada setiap perempuan yang dekat dengan mantan-mantannya. Tidak mungkin bukan jika dia tidak bisa melupakan semua mantannya? Perasaan tidak sukanya memang tidak beralasan, dan Sri juga tidak bisa menjabarkannya. “Enggak dong! Masa iya masih ada rasa yang tertinggal, gak mungkin itu. Lagian gue ngerasa gak sukanya sama semua cewek yang deket sama semua mantan gue kok,” elak Sri. Ketiganya berhenti di depan gerbang sekolah. Sebenarnya Sri dan Ulfa membawa kendaraan mereka sendiri yang masih terparkir di parkiran. Mereka kini hanya mengantarkan Najihan yang dijemput oleh seseorang. Najihan menoleh ke arah jalan raya mencari keberadaan mobil yang menjemputnya, setelah mendapatinya Najihan langsung pamit untuk pergi. “Itu Om Ivan udah ada, gue pulang duluan ya. Bye!” Sri dan Ulfa melepas kepergian Najihan dalam diam, keduanya saling bersitatap sebelum kemudian sama-sama menghela napas kasar. 0o0o0o0o0o0o0 Setiap pulang sekolah tak pernah sekalipun Alfath langsung menuju rumahnya. Ia akan memanfaatkan waktunya untuk bermain bersama dengan kedua sahabatnya. Biasanya mereka akan nongkrong di pinggir jalan raya, terkadang mereka berkeliling menggunakan sepeda motor, atau hanya berdiam diri dan mengobrol di rumah Keanu. Keanu memiliki keluarga yang sangat sibuk, jadi rumah Keanu selalu menjadi pilihan untuk mereka berkumpul. Terkadang mereka sengaja membeli banyak makanan dan menyimpannya di rumah Keanu. Seperti saat ini, Alfath, Keanu, dan Fajri berkumpul di kamar Keanu yang didominasi oleh warna hitam. Hanya ada sedikit d******i warna putih di bagian bawah dinding. Jika boleh dikatakan, Alfath merasa lebih menyukai kamar Keanu daripada kamarnya sendiri. Padahal kamar miliknya sendiri pun tidak kalah luas dan bagus. Alfath mendesain sendiri kamarnya, tapi ia tetap tidak senang berlama-lama ada di dalamnya selain ketika tertidur. Alfath sedang bermain ponsel seraya berbaring, ia menyusun dua tiga bantal sekaligus untuk menopang kepalanya. “Nanti malem turun ke jalan yok!” ajaknya. Maksud dari perkataannya adalah mengajak Keanu dan Fajri untuk berkeliling kota mengendarai sepeda motor. Itu adalah salah satu hobi Alfath, meski ia harus merasakan pegal di bagian pinggangnya karena duduk di atas jok motor dalam waktu yang cukup lama. “Boleh aja, tapi jangan lewatin jalan yang biasa. Kita ke Bekasi aja gimana?” usul Fajri, ia merasa bosan dengan rute yang sering mereka lalui. “Boleh juga!” balas Alfath sekenanya. “Mending nongkrong aja, malam ini motor gue gak ada bensin,” keluh Keanu. Alfath terperangah seraya menoleh ke arah Keanu. Sahabatnya itu bersikap layaknya orang yang tidak punya uang saja. Jangankan untuk membeli bensin, membeli perusahaannya saja bisa ia lakukan hanya dengan menabung uang jajan. “Lo hidup jangan kayak orang susah kenapa! Beli bensin aja sampai berpikir seribu kali. Beli satu galon penuh juga gak bakal buat lo miskin, Bung!” Keanu tertawa, tentu saja ucapan Alfath benar. Hanya saja sebenarnya ia sedang merasa malas untuk mengendarai sepeda motor dalam jarak yang jauh. Dan malam kemarin mereka sudah melakukan perjalanan semalaman penuh. “Lagi males aja.” “Yang harusnya bilang gak ada duit buat beli bensin itu gue! Jatah uang jajan selama sebulan gue tinggal dua puluh persen lagi, sedangkan ini masih awal bulan. Bisa-bisa merana gue!” keluh Fajri. Uangnya ia habiskan untuk membeli pernak-pernik motor. Harusnya Fajri berpikir dua kali sebelum kalap membelanjakan uangnya. “Awas aja kalau lo minta-minta sama kita!” seru Keanu. Fajri hanya mendengus mendengarnya. Ia memang tidak berniat untuk mengemis pada Alfath ataupun Keanu, setidaknya untuk hari ini. Jika nanti uangnya sudah benar-benar habis maka tidak ada pilihan lain baginya. Jika ia meminta uang lagi kepada ibunya, maka ibunya pasti akan menyelidiki mengapa uangnya bisa habis lebih cepat. Dan jika ibunya mengetahui perihal pernak-pernik motor, bisa-bisa Fajri tidak akan mendapatkan uang jajan lagi seumur hidupnya. Alfath yang sedang memainkan ponselnya tiba-tiba bangkit seraya mengumpat heboh. “s**t!” Keanu dan Fajri yang melihat itu langsung merasa heran. Ada apa dengan Alfath hingga laki-laki itu mengumpat kasar? “Kenapa lo?” tanya Keanu. Alfath kembali menyandarkan tubuhnya pada bantal, matanya terpejam dengan napas yang coba ia kontrol agar normal. Matanya kembali terbuka, dan langsung kembali menatap layar ponsel yang ia pegang. “Papa gue menurut kalian kenapa?” “Apa?” tanya Keanu dan Fajri bersamaan. Pasalnya mereka tidak mengerti mengapa Alfath bertanya demikian. “Papa gue barusan kirim pesan, katanya malam ini gue gak boleh ke mana-mana karena gue mau dijodohkan.” “DIJODOHKAN?” teriak Keanu dan Fajri secara bersama-sama, lagi. Ketiganya terdiam untuk beberapa saat dan mencoba untuk mencerna sesuatu yang baru mereka tangkap dengan otaknya. Alfath akan dijodohkan? Tawa Fajri tiba-tiba terdengar, ia tertawa sampai terpingkal-pingkal membuat Alfath kesal dibuatnya. “Hahaha! Seorang Alfath Anderson dijodohkan? Pasti Papa lo mikir kalau lo gak laku!” Alfath menahan geraman, ingin rasanya ia menimpuk kepala sahabatnya itu dengan segepok uang. Ah tidak, itu terlalu baik. Akan lebih bagus jika Alfath menimpuknya dengan sekarung batu. “Gak lucu sama sekali!” Alfath beralih menatap Keanu dengan harapan jika laki-laki tersebut dapat memberikan respons yang lebih baik. “Menurut lo gimana?” “Mending lo turuti dulu, nanti ke depannya baru lo pikir lagi. Siapa tahu lo cocok sama ceweknya.” Keanu mencoba memberikan saran terbaiknya saat ini. “Lo lupa? Gue udah punya Jihan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN