Sekarang adalah hari ke-empat Melisa mengajar di SMA Bima Karya, tapi ia masih merasa gugup setiap menginjakkan kakinya di area pendidikan ini. Setelah kedua orang tuanya mengetahui bahwa calon suaminya Alfath bersekolah di sini, mereka tidak lagi meminta Melisa untuk mengajar di sekolah lain. Melisa merasa senang, setidaknya sekarang ia bisa melakukan pekerjaannya dengan tenang.
Berbicara soal Alfath, Melisa belum bertemu lagi dengan murid sekaligus calon suaminya itu. Tapi Melisa pernah melihat Alfath yang diseret ke ruang Konseling kemarin. Dan mungkin hanya itu pertemuan sepihaknya karena Alfath tidak melihatnya.
Melisa juga bingung bagaimana ia harus bersikap di hadapan Alfath. Rasanya pasti akan sangat canggung. Melisa merasa enggan untuk situasi semacam itu. Tapi siang nanti adalah jadwalnya untuk mengajar di kelas Alfath lagi. Melisa akan mencoba untuk bersikap profesional, berperan sebagai seorang guru yang dihadapkan pada muridnya. Melisa berharap agar Alfath pun bersikap demikian, dan semoga saja remaja tampan nan nakal itu tidak menceritakan apa pun kepada teman-temannya.
“Bu Melisa!”
Sapaan nyaring dari seorang pria membuat Melisa terpaksa memutar tubuh. Tampaklah Bandi dengan senyum ramahnya. Perlu diketahui bahwa sejak kemarin Melisa merasa jika guru mata pelajaran Sejarah Indonesia itu terus mendekatinya. Melisa yakin jika bukan dirinya yang merasa terlalu percaya diri, tapi Bandi memang benar-benar mendekatinya.
Dimulai saat pagi di hari kemarin, Bandi menyambutnya dengan senyuman hangat. Mungkin itu adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan jika saja Bandi tidak memberikan kotak sarapan. Gara-gara sarapan yang diberikan Bandi, beberapa guru terus saja menggoda Melisa.
Kemudian hari beranjak siang, ketika Melisa duduk di kantin dan menikmati secangkir teh. Tiba-tiba Bandi datang dan menemaninya. Ingin meninggalkan namun rasanya tidak sopan, jadi Melisa membiarkan waktunya berlalu bersama pria itu.
Terakhir saat pulang dari sekolah karena waktu mengajar yang sudah selesai. Bandi meminta—atau lebih tepat untuk dikatakan memaksa agar Melisa mau diantarkan pulang. Beruntung tak lama kemudian ada Marwan menjemput jadi Bandi tak bisa berkutik. Yang menjadi masalah adalah setelah kepulangan Melisa, ayahnya berprasangka jika Bandi mempunyai hubungan khusus dengan Melisa.
Alhasil Melisa harus menerima satu tamparan dan sederet kalimat menyakitkan dari mulut Marwan dan Nina. Akan kejadian tersebut, Melisa tidak menyalahkan Bandi. Karena ia memang sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu sejak lama.
“Ada apa ya, Pak?” tanya Melisa tak kalah ramah. Ia tidak mungkin menampakkan ketidaksukaan karena hal itu pasti menimbulkan kesan tidak sopan. Sebagai guru baru yang masih membentuk imej, Melisa tidak ingin bersikap lancang yang berpotensi merusak citranya.
“Selamat pagi, tidak ada apa-apa. Bagaimana kalau kita pergi ke kantor barengan? Ibu keberatan?”
Hatinya jelas menolak tapi kepala Melisa justru mengangguk. Ia memamerkan senyum yang pasti akan terlihat sangat canggung. Keduanya mulai melangkah berdampingan menimbulkan asumsi tersendiri pada para pelajar yang memperhatikan.
Melisa benar-benar merasa risi saat semua murid yang ada di koridor memperhatikannya dengan lekat. Otak mereka pasti menyimpulkan sesuatu yang tidak benar, dan tak lama lagi namanya dan Bandi akan disandingkan dalam setiap pembahasan. Melisa harus menutup telinga mulai sekarang.
“Sudah sarapan, Bu?”
“Sudah,” jawab Melisa singkat. Harapannya adalah Bandi tahu jika dirinya merasa tak nyaman untuk berdekatan apalagi menjadi pusat perhatian seperti sekarang ini.
“Wah, padahal saya bawa makanan lagi hari ini.”
Melisa menoleh dan berkata tegas, “Makanannya sebaiknya dimakan saja, Pak. Atau berikan pada guru lain. Mungkin Bu Nenti mau.”
“Ah, iya, betul juga.” Bandi mengangguk dengan ragu-ragu.
Tatapan mata Melisa kembali lurus ke depan. Ia merasa enggan untuk menatap Bandi lama-lama. Namun pilihannya ternyata kurang tepat, karena dengan menatap ke depan matanya justru langsung bersitatap dengan mata calon suaminya.
Alfath, pria itu berjalan melawan arah Melisa. Di belakangnya ada Keanu dan Fajri yang mengikuti. Seketika Melisa merasa gugup, ia pikir ia akan bertemu dengan calon suaminya itu saat jam pelajaran nanti. Tapi ternyata takdir mempertemukan mereka lebih cepat. Ketika jarak mereka semakin dekat, Melisa mulai menundukkan kepalanya. Sangat heran melihat Alfath yang bersikap biasa saja ketika bertemu. Melisa pikir jika muridnya itu akan bersikap canggung sepertinya.
“Eh, Bu Melisa.”
Melisa terpaksa menghentikan langkahnya ketika Keanu menyapa. Ternyata Keanu berniat untuk menyalami tangannya. Tentu saja dengan senang hati Melisa mengulurkan tangannya.
Tapi tidak seperti murid umumnya, Keanu memegangi tangan Melisa lama sambil mencium punggungnya membuat Melisa berontak pada akhirnya. “Lepaskan tangan saya, Keanu!”
Keanu membebaskan tangan halus dari belenggunya sambil tertawa. Fajri pun ikut menyalami tangan Melisa dan Bandi. Dan kejadian yang menurut Melisa menegangkan pun terjadi ketika Alfath menyalami tangan Bandi. Lalu calon suaminya itu menoleh ke arahnya dan hendak menyalami tangan Melisa.
Dengan sedikit gemetar yang tak bisa dikendalikan, Melisa mengulurkan tangannya bersamaan dengan jantungnya yang bertalu-talu. Hingga telapak tangan keduanya bersatu dan Alfath membawanya ke kening. Melisa dengan cepat menarik tangannya kembali dan hendak pergi. Tapi Keanu menahannya.
“Ehh! Bu jangan pergi dulu, kok buru-buru sih?”
“Saya mau ke kantor,” balas Melisa dan hendak kembali melangkah. Namun dengan refleks Keanu menahan tangannya.
Aksi Keanu terbilang lancang, terbukti dari Bandi yang langsung menepisnya. “Keanu! Kamu harus sopan kepada guru!”
“Bapak kok cemburu sih?” heran Fajri, lalu ia menutup mulutnya setelah mendapat tatapan tajam dari Bandi.
“Saya bukan cemburu, saya hanya memberi tahu bahwa kalian harus bersikap sopan kepada guru. Gak boleh main pegang-pegang aja seperti itu. Ngerti?”
Keanu mengangguk setuju, tidak mungkin baginya melawan Bandi. “Ngerti, Pak.”
“Kalau begitu saya permisi,” pamit Melisa.
Ia tidak ingin memperpanjang waktunya di sana karena merasa canggung pada Alfath. Melisa merutuki dirinya yang tidak bisa bersikap santai seperti Alfath. Tampaknya calon suaminya itu menganggap bahwa perjodohan mereka bukanlah suatu hal yang serius. Harusnya Melisa juga bisa bersikap seperti itu. Melisa harus mengingat jika selama berada di sekolah maka Melisa adalah gurunya dan Alfath adalah muridnya.
Terdengar suara orang berlari di belakangnya. Melisa tahu, orang tersebut pasti Bandi. Ingin sekali rasanya Melisa berbalik untuk melihat apakah Alfath memperhatikannya atau tidak. Tapi ia malu untuk melakukan itu karena takut jika benar calon suaminya itu tengah menatapnya. Punggungnya terasa panas, Melisa yakin jika setiap langkahnya pasti diperhatikan.
“Bu Melisa tunggu saya!”
Teriakan Bandi diabaikan olehnya, anggap saja Melisa sedang tuli kali ini. Tidak peduli jika Bandi akan menganggapnya tidak sopan. Yang Melisa tahu sekarang adalah dirinya harus segera pergi dari jarak pandang Alfath.
“Bu, tunggu saya!”
Tunggu! Tunggu! Tunggu!
Melisa muak mendengarnya. Kenapa Bandi harus berjalan berdampingan dengannya ketika pria itu jelas lebih tahu seluk beluk sekolah ini? Biarkan saja Bandi terus mengejarnya karena Melisa tak akan berhenti untuk menunggu.