Alfath tercengang mendengar persetujuan Melisa terhadap perjodohan mereka. Ia menatap lekat guru barunya dengan tatapan tidak percaya. Kenapa Melisa mau dijodohkan dengan muridnya sendiri? Padahal Melisa pasti sadar betul bahwa usia Alfath lebih muda dari usianya. Tidak mungkin jika gurunya itu sudah jatuh ke dalam pesonanya, bukan? Jika iya, maka Alfath merasa bahwa ketampanannya kini mendatangkan bencana.
Menoleh ke arah Fatih, ayahnya itu tampak senang dan puas mendengar jawaban Melisa. Alfath juga tidak habis pikir pada ayahnya yang menjodohkannya dengan wanita yang berusia lebih tua. Ia sempat mengira jika wanita yang akan dijodohkan dengannya itu sebaya dengannya. Tidak ingin Fatih gegabah mengambil keputusan, maka Alfath dengan segera angkat bicara.
“Bu Melisa masa mau dijodohkan sama saya, Bu? Ibu kan usianya lebih tua dari saya, emangnya Ibu mau menikah sama murid sendiri?”
Melisa enggan menatap muridnya yang berbicara, ia sendiri sangat ingin menolak perjodohan ini. Apalagi setelah tahu jika calon suaminya adalah muridnya sendiri. Sungguh terdengar konyol di telinganya, tapi inilah yang terjadi. Melisa tidak berani menolak, telinganya sudah dijejali berbagai ancaman oleh kedua orang tuanya sebelum mereka sampai di sini.
“Iya, saya mau,” jawab Melisa dengan pelan.
Alfath memukul meja dengan keras seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia merasa ada sesuatu yang janggal dari sikap Melisa. Meski ia tidak mengenal gurunya secara mendalam, tapi dengan terus menunduknya kepala Melisa itu sudah menunjukkan ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita itu.
Kepalanya menoleh ke arah tiga orang tua yang ada, ayahnya memberikan senyuman tipis dan santai, sedangkan orang tua Melisa tampak sedikit tegang.
“Gak bisa, ini gak bisa. Alfath gak mau dijodohin sama Bu Melisa. Nanti apa kata orang-orang di sekolah?” Alfath mencoba memperkuat alasannya untuk menolak. Dan semoga saja setelah ini Melisa juga menolak perjodohan ini.
“Kalian tidak perlu membeberkan dulu hubungan kalian sebelum kamu lulus, Nak,” Nina mencoba untuk mengambil alih pembicaraan. Di antara semua orang yang ada, dirinyalah yang paling menginginkan perjodohan ini terjadi karena ini adalah sebuah amanah.
“Kalian akan menikah siri, setelah kamu lulus baru kalian resmikan,” timpal Fatih.
Alfath mengacak-acak rambutnya sendiri, merasa pusing akan keadaan yang dia hadapi detik ini. Matanya berusaha menyorot Fatih lebih dalam dengan harapan jika ayahnya itu akan memahami dirinya. “Pa, Alfath belum bilang setuju. Dan memang gak akan setuju. Kenapa Papa mau Alfath cepat menikah? Aku ini masih muda Pa, masa depan aku masih panjang.”
Sekarang Alfath yakin jika Fatih tidak memikirkan masalah ini dengan matang. Ayahnya itu bahkan melupakan fakta jika usia Alfath masih terlalu muda untuk menikah. Pria itu juga tidak memikirkan masa depan Alfath yang masih panjang. Alfath ingin menikmati masa mudanya dengan bebas tanpa kungkungan apa pun dan dari siapa pun. Dan ketika nanti usianya sudah cukup matang untuk menikah, maka barulah ia akan menikah. Dan itu pun bukan dengan Melisa melainkan dengan gadis pujaannya, Najihan.
Pernikahan adalah suatu hubungan suci yang langsung dihadapkan pada Tuhan. Tidak akan baik hasilnya jika suatu pernikahan terjadi akibat pemaksaan. Alfath tidak ingin menjadi suami yang jahat hanya karena ia tidak bisa mencintai istrinya sendiri.
“Memangnya siapa yang bilang akan menghentikan masa depanmu? Menikah atau tidak, masa depan itu akan tetap ada jika Tuhan masih memberi waktu untuk hidup,” ujar Fatih. Ia menatap putranya dengan senyum tipis.
“Melisa tidak akan membatasi gerakmu, Nak,” seru Marwan meyakinkan.
Alfath tetap menggeleng. Bagaimanapun ke depannya, ia tetap tidak mau dijodohkan dengan guru mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolahnya. Ia ingin menikah ketika sudah siap dan itu pun dengan gadis pilihannya sendiri. “Alfath tetep gak mau!”
“Tapi ini permintaan terakhir mendiang ibumu.”
Alfath tiba-tiba terdiam setelah mendengar ucapan Nina. Ia menatap wajah wanita yang menjadi ibu dari Melisa dengan serius. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat ketika mendiang ibunya dibawa ke dalam permasalahan ini. Benarkah ini keinginan terakhir ibunya?”
“Naima itu sahabat baik saya, saat kamu lahir Naima berkata bahwa dia akan menjodohkan kamu dengan Melisa. Ibu kamu sangat menyayangi Melisa,” tutur Nani sedikit menceritakan kenangannya bersama sosok Naima yang tak lain adalah ibunya Alfath yang kini sudah tiada.
“Mama?” lirih Alfath seraya menoleh ke arah Fatih. Dan ayahnya itu memberikan sebuah anggukan kepala.
Alfath menarik napas dalam dan mencoba untuk berpikir jernih. Jika ini adalah keinginan mendiang ibunya maka Alfath tidak bisa berkelit. Selama ibunya itu masih hidup, Alfath tidak pernah memberikan kebahagiaan. Ia adalah anak yang nakal dan pembangkang. Namun di hari ketika ia mendapati tubuh ibunya sudah tak bernyawa, pada saat itulah Alfath mulai menyesali semuanya. Ia menyesal tidak menjadi anak yang penurut dan patuh kepada ibunya.
Penyesalan yang tidak bisa ia bayar karena ibunya telah tiada. Jika sekarang perjodohan ini adalah keinginan ibunya, maka dengan menerima perjodohan ini mungkin menjadi cara agar Alfath dapat menuruti satu keinginan ibunya meski raga wanita itu telah terkubur di dalam tanah.
“Kalau memang ini kemauan Mama, Alfath ... terima perjodohan ini.”
Raut wajah senang langsung tergambar, Fatih memeluk anaknya itu dan menepuk punggungnya beberapa kali. Ia merasa bangga akan keputusan yang diambil oleh Alfath setelah tahu jika perjodohan ini adalah keinginan mendiang Naima. Itu menunjukkan bahwa Alfath sangat menyayangi ibunya dan mencoba untuk menjadi anak yang berbakti.
Tak kalah bahagia dari Fatih, Marwan dan Nina pun tersenyum penuh kelegaan. Amanah yang mereka emban dari Naima akhirnya akan tuntas. Keduanya saling merangkul sambil melempar senyum ke segala arah.
Tapi berbeda dari kedua orang tuanya, Melisa menundukkan wajahnya dengan sendu. Alfath telah menyetujui perjodohan ini. Maka itu artinya ia akan menikah dengan muridnya sendiri.
Melisa berharap jika Alfath akan teguh pada pendiriannya untuk menolak perjodohan ini agar tidak terjadi. Karena dengan begitu perjodohan ini pasti dibatalkan. Mungkin jika saja Melisa mempunyai keberanian untuk menghadapi orang tuanya maka ia sudah pasti menolak sejak awal. Sayang sekali ia tidak berani untuk itu. Tubuhnya sudah terlalu sakit karena sering dipukuli.
Alfath mengangkat wajahnya dan ia menyadari jika tidak ada raut wajah kebahagiaan pada Melisa. Alfath merasa heran, bukanlah tadi Melisa lebih dulu menerima perjodohan ini? Lantas mengapa sekarang Melissa justru terlihat tidak senang dengan keputusan akhir ini?
“Kami harap pernikahan antara Melisa dan Alfath akan dilakukan dalam waktu dekat, “ujar Nina dengan semangat.
Marwan sedikit tertawa melihat antusiasme yang ditunjukkan oleh istrinya. “Semakin cepat semakin baik, bukan?” timpalnya.
Fatih mengangguk, ia juga setuju jika pernikahan antara Alfath dan Melisa dilakukan dalam jangka waktu yang dekat. Ia takut jika mengulur waktu terlalu lama maka bisa saja Alfath atau Melisa akan berubah pikiran. “Bagaimana kalau tujuh hari dari sekarang?”
Usulan yang diajukan oleh Fatih membuat Alfath terpekik kaget. Tujuh hari? Bukankah itu waktu yang terlalu singkat untuk mempersiapkan sebuah pernikahan? Setidaknya mereka harus memberikan waktu kepada Alfath dan Melisa untuk saling mengenal.
“Itu kecepatan, Pa! Mana bisa seminggu mempersiapkan pernikahan? Pasti banyak yang harus diatur,” cecar Alfath.
“Kalian hanya akan menikah siri di KUA, tidak perlu sewa gedung ataupun dekorasi. Tidak perlu ada tamu undangan. Nanti setelah kamu lulus sekolah baru resmikan pernikahan sekaligus resepsi,” jelas Fatih.
Alfath tidak mempermasalahkan jika pernikahannya dengan Melisa dilakukan dengan cara yang sederhana, tapi waktu yang ditentukan terlalu dekat. Ia melihat pada Melisa berharap jika gurunya itu juga meminta waktu. Tapi sepertinya Melisa tidak berniat mengulur waktu, wanita itu hanya diam dan tak berbuat apa-apa.
“Kalian juga tidak boleh memberitahukan pernikahan kalian kepada siapa-siapa sebelum kelulusan,” tutur Nina memberi peringatan.
Pada akhirnya Alfath mengangguk. Namun ia memiliki rencana lain mengenai pernikahannya. Ia tidak boleh selamanya terjebak dalam pernikahan konyol yang dipaksakan seperti ini. Suatu saat nanti ia harus bisa membebaskan dirinya. Yang terpenting sekarang adalah ia melaksanakan keinginan mendiang ibunya. Hanya itu, jika sudah terlaksana maka itu adalah urusannya ke depan. Akankah ia melanjutkannya atau justru mengakhirinya cepat.