Mama dan Putrinya

1049 Kata
Sepulang dari pertemuannya dengan calon suami yang ternyata adalah muridnya sendiri, Melisa termenung sendiri di dalam kamar. Memikirkan nasibnya ke depan, dan apa yang akan terjadi dalam hidupnya setelah ia menikah dengan Alfath? Sebenarnya Melisa sedikit merasa lega, ia sempat berpikir jika dirinya akan dijodohkan dengan seorang pria berumur yang kaya raya. Atau dengan seorang pria berusia cukup matang yang tampan dan berbahaya. Jika dugaannya tersebut benar maka kehidupan Melisa setelah pernikahan pastilah hanya akan diisi penderitaan. Tapi Melisa juga tidak merasa lega sepenuhnya. Yang akan menikahinya adalah seorang pria yang berusia lebih muda darinya. Pemikirannya pasti belum dewasa. Akankah mereka dapat menjalani biduk rumah tangga dengan baik sebagaimana seharusnya? Melisa akan berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi Alfath meski ia tidak ingin. Baginya status istri yang akan diemban olehnya itu adalah takdir yang telah Tuhan takdirkan. Meski pernikahannya nanti akan terkesan konyol bahkan oleh dirinya sendiri, Melisa akan tetap menjunjung tinggi makna dari janji suci yang akan ia ucapkan di hadapan Tuhan. Pernikahan bukan suatu ikatan yang dapat dimainkan. Bukan suatu hubungan yang dapat ditinggalkan ketika bosan. Dan bukan pula sebuah status yang bisa dihapus begitu saja. Jantungnya berdenyut kaget ketika sebuah suara gedoran pintu terdengar. Dalam kepanikannya Melisa mencoba untuk mengatur napasnya normal seraya membuka pintu kamar dan mempersilahkan seseorang yang menunggunya masuk. Itu adalah Nina, ibunya. Melisa berjalan sembari menunduk mengikuti ibunya yang melangkah mendekati kasur. Setelah keduanya duduk di pinggir ranjang pun Melisa tetap tidak mengatakan apa-apa. Ia menunggu ibunya untuk berbicara terlebih dahulu. Pandangan Nina berkeliling menatap seisi kamar putri kesayangannya. Rapi, sesuai perintahnya setiap hari. Nina adalah orang yang sangat mencintai kebersihan dan kerapian. Di rumahnya tidak boleh ada satu sudut ruangan pun yang ternoda. Segalanya harus bersih maksimal, bahkan tempat sampah pun harus bersih dan wangi. Ketika pandangannya jatuh pada sosok Melisa, Nina tahu jika putri semata wayangnya itu merasa takut pada dirinya. Nina tidak merasa sedih akan hal itu, karena memang hal seperti inilah yang diinginkannya. Bagi Nina, anak harus mempunyai rasa segan, takut, dan hormat kepada orang tua. Karena baginya hanya dengan begitu seorang anak akan benar-benar berbakti. Nina akui jika dia dan suaminya sering kali memukul Melisa ketika putrinya itu membangkang, melakukan suatu penolakan, atau mencoba memberontak pada pengaturan mereka. Tidak ada maksud lain dari perlakuan kasar mereka selain untuk membuat Melisa paham jika seorang anak harus patuh terhadap orang tua. Nina dan suaminya tentu sangat menyayangi Melisa, dia adalah putri satu-satunya. Mereka bersikap keras bukan karena tidak menyayangi Melisa, melainkan karena begitulah cara mereka mendidik. Setiap orang tua mempunyai cara masing-masing untuk mendidik anaknya. Dan orang lain mungkin tidak akan mampu untuk memahaminya. “Pernikahan kamu sama Alfath akan diadakan hari Minggu, tapi gak jadi di KUA,” ujar Nina membuka suara. Melisa tersenyum kecut, bahkan orang tuanya sudah membuat keputusan baru mengenai tempat dilangsungkannya pernikahan. Dan itu tanpa bertanya apa pun terlebih dahulu kepada Melisa selaku calon mempelai. Melisa merasa lucu dengan hidupnya sendiri, ia hidup tapi tidak mempunyai hak untuk hidup. Ia tidak bisa melakukan apa yang ia inginkan, segalanya harus sesuai dengan keputusan Nina dan Marwan. Melisa lebih dari paham mengenai jika orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi apakah harus dengan mengatur semua tahap kehidupannya? “Ma, kenapa gak di KUA aja?” Nina langsung menoleh tak suka pada Melisa. “Kamu nurut aja, soal pernikahan itu tanggung jawab orang tua. Yang penting nanti pas hari pernikahan kamu ada dan liat hasilnya.” Melisa mengernyitkan dahinya karena terbesit sebuah pertanyaan di benaknya. “Liat hasilnya apa?” Tatapan mata Nina beralih dari yang tadinya menatap Melisa kini menjadi menatap ke arah lampu yang tergantung di langit-langit. “Lihat hasil dekorasinya. Mama mau pernikahan kalian di rumah karena Mama mau ada kenangan di antara kalian. Ya, meski kalian nikah siri dulu dan gak ada tamu undangan. Tapi setidaknya bisa foto-foto. Masa anak Mama satu-satunya nikahnya gak dirayakan sama sekali?” Terkadang Melisa merasa jika kedua orang tuanya tidak menyayanginya. Tapi terkadang ia juga merasa jika Marwan dan Nina sangat menyayanginya. Seperti kalimat yang diutarakan oleh Nina barusan yang membuat Melisa merasa tersentuh. Dengan sedikit keberanian Melisa menyentuh salah satu punggung tangan ibunya. Dan ia berkata, “Ma, aku gak apa-apa kok kalau nikahnya di KUA. Gak perlu ada dekorasi apa-apa.” “Ya, tapi Mama yang gak suka. Seorang Ibu itu punya impian tersendiri untuk pernikahan putrinya.” Ingin rasanya Melisa menangis mendengar penuturan Nina, jika sedang seperti ini, Melisa sering kali merasa jika ia sangat disayangi oleh Nina. Meski tak lama setelah itu semuanya pasti akan kembali seperti semula—yaitu Nina akan acuh padanya dan sering berlaku kasar. Terkadang Melisa merasa iri pada anak-anak yang dimanjakan oleh orang tuanya. Sejak kecil Melisa tidak pernah merasakan itu semua. Bahkan ketika dulu saat ia masih berusia tujuh tahun, dia terjatuh dari atas pohon yang ada di taman. Bukannya merasa khawatir akan luka yang ada, Nina dan Marwan justru memarahinya karena tak hati-hati saat menaiki pohon. Parahnya lagi Nina justru mendorong tubuh Melisa kecil hingga tersungkur di tanah. Ibarat jatuh tertimpa tangga pula, begitulah kiranya yang Melisa alami dulu. “Mama sayang sama aku?” Pertanyaan lancang seorang anak kepada ibunya. Tidak seharusnya seorang anak meragukan kasih sayang yang ada dalam diri seorang ibu. Tapi Melisa benar-benar meragukannya jika mengingat setiap perlakuan kasar yang ia dapat. Jika Nina menyayanginya maka wanita yang sudah berumur itu pasti tidak akan tega untuk sekedar menjewer telinga Melisa. Raut wajah yang ditampilkan oleh Nina susah ditebak. Wanita itu hanya menatap putrinya dengan kosong. Mungkin ia merasa kaget akan pertanyaan putrinya. Atau mungkin juga ia merasa tidak suka dan tersinggung atas pertanyaan itu. “Ma?” tegur Melisa ketika ia tak kunjung mendapat jawaban. Melisa tertawa miris dalam hati, bahkan untuk menjawab pertanyaan sederhana seperti itu saja Nina sampai harus berpikir panjang. Hal itu jelas membuat Melisa semakin berpikir buruk bahwa dirinya tidak disayangi. “Yang namanya Ibu pasti sayang sama anaknya, kalau Mama gak sayang sama kamu, pasti sejak dulu kamu udah dibuang.” Nina langsung beranjak pergi meninggalkan Melisa. Dan ia menutup pintu kamar Melisa dengan kasar membuat pemilik kamar meringis. Apakah Melisa salah telah mempertanyakan hal tersebut? Karena respons yang ditunjukkan oleh Nina jelas menggambarkan bahwa wanita itu tidak menyukai pertanyaan. Melisa lalu membaringkan tubuhnya, kembali memikirkan pernikahannya yang akan digelar dalam jangka waktu dekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN