SUARA rintik pancuran bercampur isakan lirih. Uap hangat memenuhi kamar mandi, membuat kaca berkabut, tapi bayangan kejadian itu terus menempel di benak Akari. Dia duduk di lantai dingin, punggungnya menempel pada dinding keramik. Air yang mengguyur tubuhnya terasa menusuk kulit. Setiap tetesnya menyakitkan, seolah mengingatkan bekas merah di tubuhnya yang masih membakar dan tidak bisa dihapus. Tangannya menggosok lengan sampai perih. Rasa kotor itu tidak mau pergi. Bau sabun justru membuatnya mual, seperti mencium jejak parfum pria itu di kulitnya. “Kenapa... aku seperti ini?” tangisnya pecah. Dia tidak tahu apa yang membuatnya lebih putus asa. Kenyataan tubuhnya dijamah tanpa kuasa, ditambah sensasi aneh yang tersisa, membuatnya memukul kepala sendiri. “Bodoh... bodoh...” bisiknya,

