RANJANG luas bernuansa gelap itu berantakan. Seprai abu-abu muda yang kusut basah oleh keringat, air mata, dan noda kemerahan yang kontras. Akari terbaring miring, tubuhnya gemetar meski pagi sudah menyingsing. Setiap helaan napas terasa seperti sayatan. Bau samar menusuk hidung. Paduan anyir dan manis hangat mirip pandan, membuat perut Akari mual setiap kali menarik napas. Aroma itu menempel di kulitnya, membuat pikirannya makin tercekik oleh rasa malu. Seolah menandai tubuhnya dengan tanda yang tak kasatmata. Di antara pahanya, rasa lengket dan panas itu belum hilang. Perih dan menyengat, seperti luka yang tak bisa dihapus. Semua kenangan semalam terekam jelas, terus menghantam kepalanya. Layaknya luka yang dipaksakan melukai dirinya, rasa direnggut memenuhi jiwanya. Wajahnya pucat, a

