Kupu-kupu

1446 Kata
PINTU besar terbuka lebar. Akari masuk dengan langkah sempoyongan, menyeret tubuhnya ke dalam rumah. Mencoba bertahan dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Beruntung, dia masih bisa pulang dibantu orang lain. Rumah itu hening. Jam dinding di ruang tamu sudah melewati tengah malam. Lampu utama dimatikan, hanya lampu sudut yang menyala remang. Suara langkah menuruni tangga memecah kesunyian. Akari terdiam di depan pintu, dan perlahan menutupnya. “Kenapa baru pulang?” suara ibunya terdengar datar, seakan bukan pertanyaan melainkan teguran dingin. Midori Sato berdiri di ujung tangga. Wajahnya tanpa ekspresi, blus tidurnya rapi, dan satu tangannya menempel kaku di pagar kayu. Akari tidak menjawab. Terlalu lelah untuk bicara dan ingin cepat-cepat beristirahat, memilih berlalu menuju kamarnya. “Apa yang akan dipikirkan papamu, jika tahu kau selalu pulang malam.” Akari berhenti. Tidak melihatkah ibunya bahwa kakinya tanpa alas, luka-luka kecil mengotori lantai dengan bercak darah samar? Dia berbalik menatap wanita yang melahirkannya itu. Jelas. Wanita itu melihatnya. Bukannya khawatir padanya, namun Midori hanya khawatir pada pandangan sang suami. Akari membuang muka. “Aku akan berhati-hati,” ucapnya datar, lalu melangkah lebih cepat, seolah ingin kabur dari udara dingin yang mengekang rumah itu. “Pagi ini papamu akan ikut sarapan,” suara Midori menyusul dari belakang, tetap tenang dan kaku. Akari memejamkan mata sejenak, menghela napas. “Baiklah,” jawabnya singkat. Sementara Midori hanya menatap sekilas, lalu berbalik dengan dingin, seolah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Begitu masuk ke dalam kamar, Akari terhuyung ke atas kasur. Lampu tidak dinyalakan dan dia biarkan dingin menembus d**a. Menutup wajah dengan bantal, dengan tangan gemetar dia meremas bantal. Kakinya yang kotor tidak langsung dibersihkan, bahkan dia tidak terpikir untuk mengobati. Akari justru terlihat seperti kupu-kupu yang sayapnya basah, tidak bisa terbang dan hanya bisa merunduk ketakutan di sudut gelap kamarnya. “Aku selamat,” bisiknya, lalu berbalik menatap plafon kamar. “Setidaknya aku selamat,” ulangnya sambil mengangkat kedua tangannya yang masih bergemetar menyimpan kenangan menakutkan. “Sepertinya aku terlalu mabuk hari ini. Iya... bahkan aku melihat mama menyambutku hari ini.” Tubuhnya mulai diambang batas. Secara perlahan matanya tertutup. Seakan membaca situasi, tubuhnya mencoba untuk meyakinkan kalau kejadian hari ini hanya lah mimpi dan halusinasi semata. Mata Akari terbuka. Ketukan teratur itu tidak berhenti membangunkannya. Tirai jendela kamarnya terlihat terang oleh matahari. Akari segera bangun. Pusing di kepala segera menghantamnya, ketika ingin berdiri, tubuhnya langsung terjatuh ke lantai. Dia menatap kakinya yang bengkak hingga darah kering bersatu dengan kotor. Rasa perih itu menyadarkannya, kalau malam itu bukanlah mimpi. Tubuhnya bereaksi. Wajahnya menjadi pucat dan tubuhnya seakan tidak mampu bergerak. “Nggak! Itu hanya halusinasiku, aku terlalu mabuk,” ucapnya berulang kali, meski kakinya masih terasa sakit seolah benar-benar berlari tadi malam. Akari menutup telinganya, begitu jeritan dan hantaman keras itu terdengar jelas di telinganya. Hingga percikan darah itu mengenai kakinya. “AKH!!” pekiknya mencoba bergeser, seakan melarikan diri. Pintu kamarnya terbuka kasar, memutus jerit halusinasi yang masih bergema di telinganya. Midori berdiri di ambang pintu. Tatapannya datar. Pandangan wanita itu jatuh pada kaki Akari. “Obati lukamu. Turun. Papa menunggu,” beritahunya sebelum pintu itu tertutup kembali tanpa menunggu jawaban. Akari menurunkan tangannya yang masih bergemetar. Air mata jatuh perlahan. Ingin bersembunyi, tapi kamar ini terlalu dingin untuk menjadi tempat aman. Trauma itu menempel seperti bayangan. “Bagaimana ini?” gumamnya panik. “Apa papa mau membantuku?” Kemudian dia menggeleng, “Papa pasti hanya memarahiku yang berkeliaran malam-malam. Dan mama... hanya akan menurutinya.” Pandangan Akari tetap terpaku pada pintu kamarnya, seakan bayangan itu bisa menerobos masuk kapan saja. “Bagaimana jika dia mengejarku sampai di sini?” *** Di suatu tempat lain, jauh dari kamar dingin itu, ada seseorang yang justru menantikan bayangan malam itu. Jemari panjang itu mengetuk pelan permukaan meja kayu hitam. Irama ketukannya teratur, bagai menghitung detik jam pasir yang hampir habis. Di atas meja, tercetak jelas nama ‘Adrian Stove Layn’ dengan huruf perak mengilap. Ketukan berhenti ketika terdengar bunyi pintu diketuk dari luar. “Masuk.” Pintu terbuka, seorang bawahan melangkah membawa sebuah map hitam. “Tuan, ini data yang saya temukan.” Adrian meraih map itu tanpa menoleh. Jemarinya membuka lembar demi lembar, matanya bergerak cepat membaca detail. Ruangan sunyi, hanya suara kertas yang dibalik. Jemari Adrian berhenti di atas lembaran terakhir. Sebuah nama tertulis jelas. Senyum tipisnya semakin nyata. Namun tatapan dingin tetap mengunci wajahnya. “Ternyata dia dekat dengan jangkauanku.” *** Dan di sisi lain kota, nama itu sedang berjalan menapaki pagi yang cerah. Kaki Akari sudah sembuh, sekarang dia sudah bisa keluar untuk kuliah. Sudah cukup lama dia mengurung diri, inilah saat pertamanya keluar dari rumah setelah kejadian mengerikan malam itu. Dia berjalan dengan kemeja putih dan rok plisket warna soft. Terlihat sederhana, namun kainnya terlalu rapi untuk disebut biasa. Rambut panjangnya terurai lembut, dengan jepitan bunga kecil di sisi kanan yang memberi kesan manis di wajah kecilnya. Langkahnya ringan, sepatu flat berwarna nude yang dipakainya nyaris tak bersuara di trotoar kampus. Sejenak, siapa pun yang melihatnya mungkin hanya akan mengira dia gadis polos yang baru saja menikmati pagi cerah. Namun ada sesuatu yang lain di balik sorot matanya yang bening. Sesekali bergetar, seperti ada retakan halus di porselen yang indah itu. Bayangan gelap yang masih menempel di ingatannya membuat pesonanya terasa rapuh sekaligus tak bisa diabaikan. Sudah cukup lama Akari melawan mimpi buruknya, hingga membuatnya kesulitan tidur. Dia mengangkat wajah, menatap langit biru seakan ingin meyakinkan dirinya saat ini. Hingga angin bertiup pelan menyapu wajahnya dengan lembut. “Akari!” Tepukan di pundaknya membuatnya terkejut dan gemetar takut. “Eh, lo kenapa?” tanya Cindy menatap Akari dengan bingung. Akari memejamkan matanya dan menarik napas perlahan. “Nggak apa-apa, aku hanya terkejut,” ucapnya tersenyum kecil. Cindy mengangguk saja. “Btw, kok lo lama banget liburnya. Apa...” Dia berbisik sambil memperhatikan orang-orang sekitar, “Lo dihukum sama bokap dan nyokap lo, ya?” Akari tertawa terpaksa, “Yah... begitulah.” “Ya ampun! Kasihan banget Akari kita ini,” seru Cindy memeluk kepala Akari dan memainkan pipi wanita itu dengan gemas. Dan Akari hanya bisa pasrah, karena sudah terbiasa. “Lo itu kasihan atau mau nyiksa sih?” Doni baru datang menegur mereka. “Hai Akari, lama nggak jumpa.” “Hai!” balas Akari ceria segera berbalik menyapa Doni. Di saat itulah dia melihat sebuah mobil hitam terparkir tak jauh dari mereka. Gelap kacanya memantulkan bayangan pepohonan kampus, namun dari celah kaca yang perlahan turun, sekelebat senyum miring tampak. Terasa dingin, samar, tapi cukup untuk membekukan darahnya. Jantung Akari berdentum kencang. Mobil itu kemudian melaju pergi dengan tenang, seolah tak meninggalkan jejak, padahal kepergiannya menancap dalam di benaknya. Tubuh Akari seketika lemas, lututnya kehilangan tenaga. Dia terduduk di rerumputan. “Akari! Lo kenapa?” Cindy menunduk panik. Namun suara temannya itu hanya terdengar jauh dan bergema. Yang ada hanya satu pikiran menakutkan, “Dia nggak mencariku di sini, kan?” Cindy meraih bahunya, mencoba mengguncangnya. “Hey, lo ngomong apa sih? Dari tadi dipanggil nggak nyahut.” Doni menatap khawatir. “Lo sakit ya?” Lalu menyentuh kening Akari. “Wajah lo kelihatan pucat.” “Pucat?” Cindy melipat tangannya, menatap wajah Akari lebih dekat. “Emang lo bisa bedain mukanya lagi pucat sama enggak?” “Cin, serius. Ini lain,” desis Doni sambil menatap Akari. Menyadari kepanikan temannya, Akari hanya bisa tersenyum kikuk untuk menutupi semuanya, tapi pandangannya masih terpaku kosong ke jalan yang baru saja dilalui mobil hitam itu. Doni menghela napas. “Ya udah yuk kita masuk ke dalam, bentar lagi dosen masuk,” ajaknya merangkul kedua wanita itu pergi dari sana. *** Dari kejauhan, tatapan lain menempel pada sosok gadis itu. Tatapan yang tidak pernah disadari Akari. Di balik kaca mobil hitam yang terparkir teduh di bawah pohon besar, Adrian duduk tenang. Satu tangannya menopang dagu, sementara jemari lain mengetuk-ngetuk biodata mangsa yang kini menyita perhatiannya. Dia memperhatikan gadis itu tertawa bersama teman-temannya. Terlalu polos. Terlalu lepas. Senyumnya ringan, seakan tidak pernah ada ketakutan di balik matanya. Rambut hitamnya menangkap cahaya siang, berkilau sederhana. Cukup untuk membuat siapa pun lengah, percaya bahwa gadis itu tidak pernah retak. Adrian mengernyit tipis. Pikirannya melayang pada malam itu. Jeritan, darah, ketakutan yang dia lihat jelas di mata gadis itu. Malam kelam yang penuh erangan kini seakan tidak pernah ada. Bagaimana bisa seseorang berubah begitu jauh hanya dalam hitungan hari? Mata Adrian tidak berpaling, menelusuri gerak polos Akari yang tidak menyadari dirinya sedang diperhatikan. “Tatapannya... tidak seperti yang lain.” Dia menyandarkan tubuh, suaranya dalam dan datar, seolah berbicara pada bayangannya sendiri. “Dia polos. Rapuh. Cantik.” Senyum miring menggores bibirnya. “Kupu-kupu kecil...” bisiknya pelan. “Aku akan menangkapmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN