“AKARI!”
Akari yang sedang membaca buku sambil mendengarkan musik di kursi taman kampus terkejut, melihat kedatangan Cindy. Dia buru-buru melepaskan earphone dan menatap wajah antusias temannya.
“Kita harus datang!” seru Cindy, langsung meraih kedua tangan Akari dan mengajaknya berloncat-loncat bersama.
Akari hanya bisa tertawa mengikuti keceriaan temannya yang tiba-tiba ini. “Ke mana?”
“Lihat!” Cindy memperlihatkan layar ponselnya. “DJ idola gue bakal tampil di acara musik kampus kita! Gila, gue nggak nyangka! Gila banget!”
“Woah! Kok bisa? Bukannya dia mahal ya?”
Cindy mengibaskan tangan, “Nggak peduli! Pokoknya kita harus datang!”
“Tapi...” wajah Akari meredup pelan, bahunya ikut merosot.
“Kenapa?” Cindy berhenti meloncat, melepaskan tangan Akari.
“Papa aku ada acara malam itu.”
“Cukup!” Cindy mengangkat telapak tangannya dramatis, memotong kalimat Akari. “Jangan bilang... lo lagi-lagi diajak ke acara itu?”
Akari hanya mengangguk pelan. Cindy langsung mendengus kesal. “Oh s**t! Lo tuh bukan anak kecil lagi buat dipajang sama bonyok lo di setiap acara!”
“Ya... mau gimana lagi?” Akari tersenyum hambar, jari-jarinya gelisah meremas tali tas di pangkuannya.
Cindy mulai mondar-mandir gelisah, seolah sedang mencari cara untuk membebaskan temannya.
“Maaf ya, Cin,” ucap Akari lirih, memelas. Mata beningnya tampak mengilap menatap Cindy.
Cindy buru-buru membuang muka, menutup wajah dengan kedua tangannya. “Oh tidak! Jangan natap gue kayak gitu. Jangan sampai akal sehat gue jadi putus.” Kakinya terus bergerak kesana-kemari.
Akari terkekeh kecil, suara tawanya terdengar ringan, tapi jemarinya masih meremas tali tas di pangkuannya. “Jangan bikin aku malu!” kesalnya menarik tangan Cindy. Dia menatap sekitar, karena mereka jadi perhatian orang-orang.
“Oke-oke, gue tenang.” Cindy menghela napas, “Sumpah gue males banget kalau harus pergi berduaan sama Doni. Udah pasti gue bakal susah cari cowok di sana.”
Akari memperlihatkan wajah cemberutnya, “Bukannya kamu ke sana cuma karena DJ itu?”
“Sekalian aja.”
Mata Akari berputar malas, lalu menatap ke arah jalan sekitar kampus. “Cindy,” panggilnya.
“Hm?” sahut Cindy sambil memainkan ponselnya.
“Kamu merasa nggak kalau mobil hitam itu selalu ada saat kita di luar?” tunjuk Akari pada mobil yang dia maksud. Dia terlihat tidak nyaman dengan praduganya, meskipun sudah berusaha untuk berpikir positif.
“Oh itu?” Cindy menyempitkan matanya. “Kayaknya gue pernah lihat deh nomor plat mobilnya.”
“Tuh, kan!” Akari langsung meraih tangan Cindy, genggamannya erat, seolah mencari pegangan.
“Oh... itu! Itu mobil dekan 2.”
“Kamu yakin?”
Cindy mengangguk.
“Tapi...” Akari menatap kembali mobil itu. Namun tidak ada pergerakan apa pun di dalam sana. Jantungnya berdetak cepat. Perlahan rasa takut mulai muncul, saat tatapannya tak lepas dari mobil sedan hitam itu. Akari merasa mobil sedan hitam itu selalu ada di dekatnya, namun selama ini tidak terjadi sesuatu yang aneh. “Sepertinya aku terlalu paranoid.”
Cindy menaikkan satu alisnya, “Sepertinya akhir-akhir ini lo suka curigaan dan banyak terkejutnya ya?”
“Aku kayak gitu?” tanya Akari tidak menyadari itu.
“Yah, begitulah,” sahut Cindy acuh, lalu tidak lama dia mendadak antusias. “Acara sama bokap lo itu, nggak sampe tengah malam banget, kan?”
Akari mengedikkan bahunya, “Kalau nggak tengah malam banget pun, kami juga bisa nginap di hotel tempat acara itu. Emangnya kenapa?” tanyanya penasaran.
“Oke, gue punya cara.”
✦₊˚❖₊˚✦
Akari duduk di depan meja bundar sendirian sambil memainkan gelas jus di tangannya. Cairan dingin itu sudah lama mencair, tapi dia belum juga meminumnya. Matanya melirik kedua orang tuanya yang tampak ramah bercengkerama dengan kolega mereka. Senyum mereka terlihat hangat, sangat berbanding terbalik dengan sikap dingin mereka kepadanya.
Dia menunduk, bibirnya terkatup rapat. Jari-jarinya mengetuk ringan sisi gelas, mencerminkan kegelisahannya. Pandangannya lalu terarah ke sisi kiri, tepat di bawah balkon lantai dua. Ada sosok samar yang berdiri di sudut ballroom ini. Seperti sedang memperhatikannya.
Akari menggeleng kecil. “Mungkin itu hanya anak dari salah satu kolega papa,” gumamnya, meski bulu kuduknya sempat berdiri.
Dia kembali menyesap jus, sambil mengangkat wajah. Sosok itu masih ada. Pandangan itu membuat perutnya bergejolak, antara penasaran dan resah. “Apa aku ajak dia bicara saja, ya? Mungkin papa suka kalau aku berinteraksi dengan anak koleganya.”
Dengan perlahan, Akari berjalan sambil mengangkat gaun lilac muda yang mengembang lembut. Ujung jarinya meremas kain halus itu erat, sebagai cara menenangkan dirinya sendiri.
Di antara orang-orang yang dilewatinya, sosok samar di sudut ballroom itu seperti tak berkedip, tatapannya menahan langkah Akari. Namun saat dia hampir mendekat, bayangan itu lenyap, meninggalkan ruang kosong yang terasa lebih penuh dari keramaian pesta.
“Halo Nona Akari,” sapa seorang pria paruh baya bersama pria muda di sampingnya, menahan jalannya.
“Ah, halo.” Akari tersenyum sopan, meski matanya sempat melirik ke arah tujuannya.
“Nona Akari pasti lupa, karena terakhir kita bertemu saat Nona masih kecil. Perkenalkan saya Fahdi, dan ini putra saya Raymond.”
“Salam kenal Tuan Fahdi, saya Akari.” Dia menyambut salam keduanya, jantungnya sedikit berdegup karena gugup.
“Bagaimana kalau Nona Akari duduk bersama di meja kita. Tuan Bayu pasti sedang sibuk bercengkerama dengan yang lain,” tawar Fahdi sambil menunjuk ke arah meja yang tidak jauh dari mereka berdiri.
“Ta-tapi...” batin Akari bergejolak. Dia pasti akan kena marah kalau menolak. Dia menghela napas kecil, lalu mendapati sosok yang ingin dia datangi sudah menghilang. Kekecewaan muncul. Akhirnya dia mengangguk dan mengikuti Fahdi serta Raymond.
Namun, duduk di meja itu membuat Akari semakin tidak tenang. Apalagi dia itu terus diajak berbicara dan bertanya-tanya tentang ayahnya. Dia hanya bisa tersenyum kaku, sementara Raymond menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Membuat Akari semakin gelisah.
Senyumnya tampak sopan, tapi tatapannya licin, menelusuri tubuhnya dengan tenang. Akari bisa merasakan kulit tengkuknya meremang, seolah pandangan itu meninggalkan jejak.
Akari meremas gaunnya di bawah meja, menyalurkan kegelisahannya lewat genggaman. Hingga dia merasakan ada sentuhan samar di pergelangan kakinya.
Matanya melebar. Pandangannya langsung tertuju pada Raymond.
Pria itu tersenyum, lidahnya menyapu bibirnya singkat.
Akari menahan napas, tubuhnya menegang. Jantungnya seperti berhenti sesaat. Dia segera berdiri, “Maaf, sa-saya har—”
Suara gaduh dari samping memotong kalimatnya. Seorang pelayan menjatuhkan nampan minuman hingga berceceran di dekat meja mereka.
“b******k! Sepatu gue!” pekik Raymond marah.
Akari tersentak dengan makian yang tiba-tiba itu. Dia berjalan mundur perlahan, mencoba menjauh dari Raymond. Suara denting gelas, bisik-bisik tamu, dan teriakan Raymond bercampur jadi satu, membuat kepalanya berputar.
Hingga tiba-tiba—
“Ma-maaf.” Dia menabrak seseorang di belakangnya.
Ingin berbalik minta maaf, namun tangan asing itu menahan kedua pundaknya. Bayangan tubuh itu mendekat, suaranya berbisik di telinga Akari, rendah dan dingin. “Kau tidak terlihat menikmati pesta ini.”
Akari mengerjap, tubuhnya bergetar. Napasnya tercekat, seolah udara ballroom mendadak lenyap. “Ah... maaf, sepertinya saya sudah mengganggu anda.” Suaranya lirih, mencoba menjaga sopan santun untuk berbalik.
Namun genggaman di pundaknya justru semakin erat. “Nona Akari... orang lain memanggilmu begitu. Tapi di mataku, kau lebih mirip kupu-kupu kecil. Sangat rapuh... terlalu mudah tersesat.”
Degup jantung Akari pecah tak terkendali. Dia mencoba menoleh, namun orang itu sudah melangkah pergi. Yang tersisa hanya punggung menjauh dan detak yang semakin nyaring di dadanya.
“Apa dia mengenalku?”
Punggung yang menjauh itu berhenti, ketika seseorang datang menyapanya.
“Tuan Adrian, senang melihat kedatangan anda di sini.”
Adrian menoleh sekilas, senyum samar muncul di wajahnya. “Yah... banyak bunga indah di sini, tidak heran ada kupu-kupu kecil tersesat.”
Tatapannya bergeser, menembus sosok pria yang menyapanya barusan, dan berhenti tepat pada pasangan di sampingnya. Adrian mengulurkan tangan, seakan lupa pada uluran tangan pertama yang kini menggantung canggung.
“Malam, Tuan Bayu Putra Pradana dan Nyonya Midori Sato.”
Bayu menyambut dengan senyum tipis, genggaman sekadarnya, sedang Midori hanya menunduk sopan.
Adrian menahan dagunya dengan jari, senyum samar bersembunyi di balik tangan. “Anda tampak begitu cocok dengan kebaya khas Indonesia, Nyonya Midori. Anggun dan rapi sekali. Sayangnya, saya sendiri belum merasa pantas mengenakan beskap apalagi wafu Jepang... padahal ibu saya orang Indonesia asli.”
“Terima kasih. Anda sudah cocok dengan pakaian apa pun.”
Adrian tertawa lirih. “Ah begitu? Saya tersanjung. Seperti kebaikan hati Anda yang selalu menurun.” Ekor matanya melirik Akari yang tampak berjalan gelisah, mencari orang tuanya.
Suasana sempat hening. Bayu hanya diam, senyumnya kaku, seolah memilih untuk tidak meladeni. Sang pemilik acara yang berada di tengah berusaha mencairkan suasana dengan tawa canggung.
“Haha... anda sangat memperhatikan pakaian ya, Tuan Adrian. Mungkin darah Rusia anda memang kental. Jas hitam itu tampak sangat pas di tubuh anda.”
Tatapan Adrian bergeser padanya, dingin bagai pisau. Senyumnya menghilang. “Sepertinya saya harus pergi sekarang. Ada jaring yang perlu saya siapkan.”
Dia merapikan sarung tangannya, lalu menundukkan kepala singkat. Langkahnya menjauh, menyisakan udara berat yang membuat Bayu dan Midori hanya saling berpandangan sekilas, tanpa kata.