Empatpuluh enam

1955 Kata

Allo, apa kabar? Masih hobi jadi siders? Btw, beberapa bab lagi cerita ini end loh, kalian nggak mau kasih pesan dan kesan gitu? Kritik dan saran gitu? Wkwk Happy reading, guys! -D e m i K i a n- Kinan menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Ia menutup buku antologi puisi milik Joko Pinurbo yang baru saja ia beli. Gadis itu menyandarkan punggung pada sandaran kursi besi yang ada di taman dengan gemas. Sekali lagi Kinan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut taman yang bisa terjaungkau pandangan matanya. Kemudian kembali menghela napas kesal saat tak mendapati seseorang yang ia cari di area taman. Sedetik kemudian ia merogoh ponsel yang sejak tadi membisu, membuka beberapa aplikasi pesan dan tidak mendapatkan tanda-tanda apa pun di sana. “s****n! Ngapain juga gue mau disuruh datang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN