Diamku menangis. Diamku bertahan. Diamku mengerti. Diamku terluka. Menangis, tanpa air mata. Ketika raga yang lelah ini tidak bisa lagi bertahan lebih lama. Ketika hati ini tidak bisa bersabar untuk waktu yang panjang. Ketika luka ini tergores semakin dalam. Bertahan tanpa bantuan. Seolah berdiri sendiri di antara hujan badai. Tanpa ada rasa, pengertian dan kehangatan lalu raga ini menghilang. Bertahan tanpa ada yang melihat. Mengerti tanpa ada yang memahami. Menyakitkan ketika rasa peduli tidak dihargai. Hati ini seolah mati rasa tanpa kepedulian sesama. Ketika pemberontakan terjadi dalam masa singkat. Hati adalah satu-satunya yang kembali terluka. Luka.... Semakin dalam semakin pedih. Tanpa ada penawar rasa sakit. Hati yang rapuh ini bertahan sendi

