Beberapa hari kemudian Nina bermalasan di kamarnya. Ia tak bersemangat karena Aldio mendadak pergi luar kota. Harinya ada yang kurang jika pria itu tak ada dihadapannya, apalagi tidak bertengkar sehari dengan suaminya. Menyebalkan!! "Nina.." Nina menoleh kearah Namira yang masuk ke kamar dengan mengambil gaun putih sangat indah, bahkan lebih indah dari pertunangannya bersama Rey. "Bunda, aku lagi malas. Bunda mau ngapain?" Nina masih telungkup sambil kakinya menendang udara. Namira duduk samping putrinya yang harusnya bisa lebih dewasa, apalagi sudah memiliki anak tapi sikapnya masih saja sama. "Kamu lihat gaun ini cantik, bukan. Pasti kalau kamu yang pakai lebih cantik." Nina menatap malas, ia menduga pasti Namira mengajaknya ke sebuah pesta. Dia lebih baik di rumah bersantak daripa

