Entah nasib buruk apa yang menimpa Aldio saat ini. Ia sangat frustasi dengan masalah dia hadapi. Dio benar-benar tak mengenali wanita yang ia tiduri waktu itu. Apa motifnya menjebaknya.
"Dio.. Pikir Dio. Kalau lo nggak mikir rumah tangga lo hancur." Ujar Aldio yang pagi itu ia masih di ranjang. Ia tak bisa tidur dengan nyenyak memikirkan Nina, apalagi Dini tengah bersama Bryan. Nina pasti kesepian.
"Kak Dio.." Panggil Lea. "Sarapan dulu yuk. Kak Dio nggak ke kantor." Tambah Lea sambil mengetuk di balik pintu.
Dio menatap malas pintu yang tertutup, dia enggan sekali untuk berangkat ke kantor. Semangatnya runtuh begitu saja. "Hmm.. Nanti aku nyusul. Aku mandi dulu." Jawab Dio yang turun dari ranjang seraya mengacak rambutnya frustasi.
Aldio mengambil ponsel di atas nakas, ia coba menghubungi Nina kembali tapi seperti biasa istrinya belum mau menjawab telpon darinya. Dio tak bisa tinggal diam, ia harus cari tau siapa wanita itu.
Tanpa pikir panjang ia langsung bergegas mandi, kemudian keluar dari kamar yang sudah di sapa keponakan kesayangannya Kaffa. "Pagi Papa Dio." Sapa bocah itu sumringah. Dio menyambutnya dengan ciuman hangat.
"Pagi sayang.. Mau sekolah? Gimana kalau papa yang antar?" Kaffa langsung kegirangan, dia sudah lama tak diantar Dio.
"Mau.. Mau.." Tapi Lea memberi kode pada Kaffa meminta ijin lebih dulu pada Daddynya. "Boleh ya, Dad." Kaffa mengangguk setuju, dan kebetulan pria itu ada rapat pagi ini.
"Boleh sayang.. Tapi, ingat ya jangan nakal papa Dio lagi stress." Mendengar kata-kata Kaffa, Dio menatap penuh amarah pada Kaffa. Rasanya ia ingin menghajar adik iparnya kalau saja tidak ada keponakannya.
"Siap.. Daddy." Sahut bocah itu.
Lea tak mengubris kejadian di meja makan, karena putri kecilnya Fafa sangat rewel hari ini. Ia harus extra sabar, daripada mengurus mereka.
Pikiran Dio masih terusik tak menentu, ia harus cari kemana wanita yang tak dia kenal. Aldio memang begitu bodoh, harus memiliki kebiasaan ke klub malam.
Usai sarapan, pagi itu Dio telah mengantar Kaffa ke sekolah. Sejenak laki-laki itu berdiam diri di depan rumahnya tapi Aldio sama sekali tak berani masuk kedalam, Nina bisa mencaci makinya.
Sekarang dia harus ke kantor lebih dulu, pasalnya Zio bisa memarahinya jika dia hari ini tidak ke kantor. Nasibnya sekarang diujung tanduk.
Aldio sungguh merasa berada di fase terburuk, selama ini rumah tangganya baik-baiknya. Sebelum ia bertemu wanita yang sudah mengaku hamil darinya. Bertengkar dengan Nina hal biasa tapi kali Nina sangat marah padanya.
Pikirannya melayang tak tentu arah. Ia kembali melanjutkan perjalanan menuju kantornya. Scandal yang menimpa Dio kali ini cukup berat, padahal ia sudah membayangkan kebahagiaan mungkin menantinya karena Nina telah setuju mengikuti program hamil.
***
Sesampainya Aldio di kantor ia justru terkejut mendapatkan kemarahan Alzio. Dio tertegun menatap betapa beringas Zio menamparnya berulang kali. "Lo apa-apa!!" Protes Dio. Alzio langsung melempari Aldio dengan berkas hingga berserakan.
"Lo masih tanya kenapa, huh? Dio gue udah dengar kelakuan lo." Aldio tersentak, ia tak menyangka Nina akan mengadu dengan Zio begitu cepat.
"Ni--Nina cerita sa--sama lo." Dio terbata takut. Alzio langsung mencengkram leher Dio, Zio ditugaskan mendidik adiknya dengan benar, namun kelakuan Dio mengecewakannya.
"Bukan Nina! Tapi Stefi. Dia datang mengaku hamil dari lo! Lo punya istri, kelakuan lo ini nggak bisa dimaafkan."
Shit!! Dasar wanita jalang!! Jadi namanya Stefi..
Dio terlambat, wanita itu bahkan berani ke kantornya. Pantasnya semua karyawan memandangi rendah padanya. Ternyata wanita itu telah memberitahu Zio. "Gue nggak hamili dia. Lo harus percaya gue." Alzio melempari foto sebagai bukti mereka pernah tidur bersama.
Sial.. Dio sungguh terjebak, ia meremukkan foto tersebut. Dia masih merasa bersalah, dan tak mungkin melakukan hal itu.
Alzio tertawa nanar. "Haha.. Lo pikir gue bego. Justru gue kenal lo, gue tau kelakuan b***t lo. Ck.. Ck.. Aldio Zalfahri lo boleh adik gue, tapi kalau lo salah, lo harus mempertanggungjawabkan perbuatan lo."
Astaga.. Bagaimana Aldio jelaskan jika dia tak bersalah. Ah.. Percuma Alzio tak mungkin percaya padanya, Dio paham sekali sifat keras Zio seperti apa. "Gue akan buktikan, kalau gue nggak bersalah." Alzio bertepuk tangan meremehkan Aldio dengan lantang.
"Wah.. Dio!! Lo bisa apa? Mulai hari ini semua akses uang lo akan gue tutup. Jangan menginjak kantor ini sebelum buktikan lo hanya di fitnah." Dio. Menggumpal amarahnya di d**a. Ia tak percaya Zio akan menelantarkannya, tapi Dio tak menyerah, dia bahkan pernah mengalami hal seperti ini tanpa bantuan siapapun. Ia yakin bisa mencari uang tanpa bantuan Zio.
Aldio tanpa berkata apapun ia mengembalikan seluruh card yang ia miliki bahkan kunci mobil, dan uang kas yang dia miliki, tak perduli bagaimana dia pulang. Ia tidak memegang uang sama sekali, sedangkan tabungannya sendiri ia meminta Nina memegangnya.
Semua karyawan menatap sinis, ia tak bisa apapun. Kecuali Donny sahabatnya yang merasa iba, dia hanya menepuk pundak Donny mengisyaratkan jika dirinya baik-baiknya saja.
Nadia sepupu Nina juga ada disana, dia hanya merasa jika dia tak mungkin menyakiti Nina. Karena dia tau Dio mencintai Nina dengan tulus. Buktinya Aldio bisa menerima Nina dan Dini bahkan menjadi ayah sambung anak Nina dengan baik. Sekalipun Dio tak pernah menanggapi jika Dini anak tirinya.
Dengan langkah yang berat, Aldio keluar kantor milik keluarganya. Dia harus membuktikan dirinya tak bersalah, dengan begitu nama baiknya akan kembali bersih. "Yo.." Donny menahan Dio saat di lobby. Ia melihat kejadian di ruangan pria itu. "Gue percaya lo nggak bersalah, kalau ada yang bisa gue bantu bilang aja." Lirih Donny. Dio terkekeh dengan santai ia menanggapi sahabatnya.
"Dengan lo percaya sama gue, itu lebih dari cukup. Kalau lo mau bantu gue, pinjami gue uang buat balik ke rumah Kaffa." Donny tertawa kecil, ia langsung memberikan uang pada Dio.
"Sekarang lo tinggal rumah Kaffa." Dio mengangguk lemas sambil mengambil uang dari Donny. Gelar tajirnya kini menghilang begitu saja.
"Dimana lagi gue harus tinggal. Hanya Lea yang mau nampung gue, apalagi sekarang gue udah miskin." Kata Dio frustasi.
Gara-gara wanita yang bernama Stefi hidupnya hancur, bahkan ia ditendang Alzio. Saudara sendiri tak percaya dengannya.
"Prihatin gue sama hidup lo!" Komentar Donny. Aldio tak seperti biasa, pikirannya masih tak menentu arah.
"Gue pergi dulu ya." Dio berjalan sambil mencari taxi, yang harus ia lakukan saat ini pertama mencari pekerjaan. Ia butuh beberapa dokumen untuk melamar pekerjaan.