BAB 2

1152 Kata
"Pokoknya gue gak mau tahu lo harus bantu bersihin nama gue. Dan satu lagi selama Nina masih marah, gue akan tinggal di rumah lo." Kaffa mendengus sebal, bukan masalah dia menginap di rumahnya. Yang menjadi persoalan Kaffa harus menolong bersihkan nama Aldio itu artinya dia rela di repotin Aldio tiap hari. "Lo kan banyak anak buah andalan lo. Kenapa harus gue?" Aldio menatap seakan ingin menelan bulat bulat Kaffa. "Lo gak mau bantu gue! Gue teriak nih bilang Lea." Lea datang membawa minuman untuk Aldio, ia duduk mendarat di sofa samping Kaffa. "Kenapa Nina bisa marah banget sama Kak Dio. Coba deh ceritain sama aku, siapa tahu aku bisa nolong Kak Dio." Ujar Lea dengan lembut. "Aku gak butuh pertolongan kamu. Kamu minta suami kamu aja bantu aku, Dia gak mau bantu tu." Ucap Aldio dengan muka meringis sedih, langsung mendapat jitakan dari Kaffa. "Makin kurang ajar lo ya jadi adik ipar! Udah gak mau nolongin gue." Rungutnya. "Dasar tukang ngadu lo!" Umpat Kaffa kesal. Kalau saja tidak lupa ada Lea sudah pasti dia akan menggumpat Aldio lebih kejam. "Lagian kamu kenapa sih? Kak Aldio cuma minta tolong sama kamu. Susah banget!" Bukan mendapat pembelaan dari Lea, Kaffa malah di semprot istrinya. Aldio tersenyum, karena dia tahu Kaffa tak mungkin bisa menolak permintaan Lea yang menjadi sumber kelemahan Kaffa. "Jadi gimana? Lo mau nolongin gue kan." "Gue punya pilihan lain! Enggak kan." Gumam Kaffa kesal, dia tahu dari awal menolong Aldio dia kan mendapat masalah. Dan sekarang dia harus berakhir pasrah. Aldio memeluk adiknya, Lea memang terbaik, dan Aldio tak salah memilih dengan menginap rumah Kaffa. Kalau sampai Alzio tahu dia jadi tersangka tuduhan menghamili wanita lain, bisa miskin mendadak dia. Aldio pusing memikirkan Nina, dia tak pernah mencintai seseorang seperti Nina, dia sangat mencintai Nina. Memang kadang cinta terlalu bodoh hingga saat Nina marah Aldio selalu di usir. Seperti malam itu, Nina marah padanya karena Aldio lupa dia telah janji dinner bersama Nina dan Dini. Malam itu juga Nina tidak mengijinkannya untuk masuk rumah, seperti biasa daripada harus tidur di luar rumah. Dia lebih baik menghabiskan malam di klub malam dan tidur di hotel. Entah bagaimana caranya saat terbangun pagi hari di sebuah hotel, dia tidak mengenakan busana dengan perempuan tidak sama sekali tidak di kenali Aldio. Tanpa banyak berpikir hari itu Aldio sangat panik, Aldio meninggalkan seenaknya perempuan itu. Tapi dia ragu menceritakan kebenarannya sedetail mungkin. Bisa-bisa Kaffa mengadu pada Alzio, apalagi Kaffa dan Nina bersahabat baik. "Sekarang juga lo ceritakan kronologi." Ujar Kaffa Lea dan anaknya sudah tertidur. "Gue gak kenal sama tu perempuan." Kaffa ragu dengan kalimat Aldio. "Yakin lo? Lalu kenapa dia bisa ngaku hamil sama lo." Aldio dengan muka polos, bahkan seakan dia memang tak bersalah. "Mana gue tau! Mungkin dia suka sama gue kali, gue tampan, baik, pintar lagi." Kaffa tersenyum tipis. "Bisa lo saat gini masih bercanda. Lo pintar sampai kepintaran lo di manfaatkan dengan wanita. Dulu Sheila dan sekarang siapa lagi?" Aldio mendengus kesal. Seburuk apa pun laki-laki itu, dia tetap kekeh tidak bersalah. Dia yakin tidak menyentuh perempuan yang tak di kenalnya. Aldio hanya ingin dia minum sedikit, tapi dia tak tahu bagaimana dia bisa sampai di hotel. *** Nina mengamuk melempari barang barang di kamarnya. Dia masih tak terima Aldio menghamili perempuan lain, namun di hati paling dalam ada secercah harapan Aldio tidak mungkin mengkhianatinya. "Sampai kapan lo marah terus seperti sekarang. Kalau marah masalah lo selesai." Kata Nadia sepupu Nina dari Jerman, Nadia kebetulan bekerja di perusahaan Alzio. Mendapat telpon Nina menangis tersedu, Nadia langsung menemui Nina di rumahnya. "Aldio bresek! Gue benci sama dia." Nadia menggeleng dengan sikap kekanakan Nina. "Ini salah lo! Lo sering ngambek kuncikan Aldio dari dalam, wajar aja Aldio cari hiburan sendiri." Ucap Nadia asal tanpa menyaring lebih dahulu. "Diam lo! Aldio tu cinta banget sama gue. Kenapa dia khianati gue? Gue kurang cantik gitu." Sungutnya. "Lah tu lo tau! Aldio cinta sama lo! Tapi lo sendiri gak percaya sama laki lo." Nadia sendiri tak percaya Aldio berani mengkhianati Nina yang sering semaunya. Lagi pula, dia bekerja di perusahaan keluarga Aldio, tidak pernah dia melihat Aldio bersikap genit pada perempuan. "Perempuan itu bilang dia hamil! Kalau benar gak jauh beda dong Aldio sama Bryan. Ish.. gue kesal banget." "Ah.. daripada marah melulu. Mending lo bikinkan gue makanan, lapar gue nih." Nina dengan muka merunggut, ia pergi ke dapur untuk memasak mie, mood kurang baik untuk memasak. Dan sialnya Nadia menyuruhnya masak, walaupun hanya mie. Tapi tetap saja saat ini dia sangat marah, hatinya masih teremuk karena apa yang Aldio lakukan. Bodohnya dia sangat mencintai Aldio, sampai-sampai dia tak pernah terima jika Aldio dekat dengan siapapun. Sekarang malah Aldio menghamili perempuan lain. Nina semakin grasak grusuk memilu dirinya. Ia pernah di posisi hamil tanpa pernikahan. Itu membuatnya sangat sial. Indomie yang telah di masaknya telah siap saji di meja makan. Dengan muka ketus pada Nadia, ia meneriaki Nadia semaunya. "Nad! NADIA...!! MAKAN MIE LO TU." Pekik Nina geram, ia tampak sebal menatap sepupunya yang menambah kekesalannya menyulut. Padahal tadinya ingin curhat seharian pada Nadia. Tapi justru sepupunya itu sangat merepotkannya. "Baik banget lo! Tadi gue gak liat Aldio di kantor. Jangan-jangan dia tidur di rumah perempuan hamil itu." "Sembarangan lo! Gak mungkin Aldio berani." Geram Nina marah. "Mana lo tau! Aldio lo usir. Kebiasaan sih lo, seharusnya lo cari tahu perempuan itu siapa." Ujar Nadia menyusut indomienya. Penuturan Nadia ada benar juga, Nina menyesal kenapa harus mengusir Aldio dan bersikap kasar. 'Aldio tidur dimana ya? Apa tempat Lea? Atau Kak Alzio? Apa gue coba telpon Lea ya. Tapi..' Lirih Nina dalam hatinya. "Nyesalkan lo ngusir Aldio." Ucap Nadia setengah menggoda Nina. "Enggak juga.. Biarin aja dia di luar sana." Kilah Nina, ia terlalu gengsi untuk mengakui apa yang dia pikirkannya saat ini. "Yakin lo! Kasian banget Aldio punya istri galak kayak lo!" "Sekali lagi lo bicara. Gue usir lo!" Gertak Nina sebal. Nadia terkikih pada Nina, ia tahu sekali dari kecil Nina memang sudah seperti itu. Bawel, suka seenaknya, dan nantinya akan menyesal. "Ya udah gue balik kost aja, lo usir gue." "Lo gitu amat sih, nad. Gue kan sendirian di rumah. Masa lo tega sama gue." Kata Nina dengan muka yang melas. Mau bagaimana lagi, Nina harus rela memohon pada Nadia untuk tinggal sementara di rumahnya selama Aldio belum kembali. Nina mondar mandir di kamarnya di temani denguran Nadia yang sudah pulas, Nina mengambil ponselnya ia mencari nama Kaffa di kontak ponselnya. Me Kaf, Aldio di rumah lo? Kaffa Tadi lo usir? Sekarang lo nanyain dia? Me Jawab aja! Kaffa Gue gak tahu! Lo kebiasaan kalau marah, kasian Aldio. Kalau lo cinta seharus percaya sama Dio. Nina menjadi khawatir ke beradaan Aldio, dia teringat dengan perkataan Nadia yang mengatakan Aldio tidur di rumah perempuan itu. Nina menjadi resah hatinya, ia takut jika itu benar. Kalau saja dia tidak mengusir Aldio, dia tidak akan bimbang seperti ini. Sekarang dia harus menikmati kebodohannya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN