Tidak pernah terbayang oleh Aldio, dia akan bekerja di klub yang sering dia kunjungi untuk kesenangannya selama ini. Bahkan sekarang dia harus jadi pelayan di sana. Sungguh ini mimpi buruk yang tak pernah ia lalui sebelumnya. Dulu Aldio pernah meninggalkan rumah bersama Lea, dan dia bekerja sebagai pelayan biasa sebuah restoran, tapi klub malam, dia sendiri bingung apa mungkin melaluinya sendiri.
Akhirnya setelah menempuh jalan, Dio sampai juga di klub tersebut. Tampaknya masih keadaan tutup, namun bersiap untuk buka. Aldio sengaja memarkirkan mobil di ujung jalan dari klub, pasalnya ia tak mau karyawan lain melihat dirinya menggunakan mobil.
"Sore, Aldio. Akhirnya kamu datang juga." Sapa Rere ketika Aldio sudah memasuki klub yang suasana masih sangat sepi. Aldio tersenyum canggung, ia biasa menjadi berkunjung harus sejajar dengan para bartender di sini.
"Iya, Re. Maaf aku telat, tadi ada urusan sedikit." Jelas singkat Aldio membuat Rere mengerti. Rere terus menatap Aldio, hingga Aldio dapat beramsumsi jika Rere tampak tertarik padanya.
"Dio, perkenalkan ini Bagas. Dia akan mengajari kamu kerja di sini. Kamu beberapa bulan ini akan dalam masa percobaan, tapi kerja kamu bagus akan jadi karyawan tetap." Aldio hanya mengangguk, karena yang pasti dia tak mungkin kerja di sini selamanya. Tak mungkin dia hidupi istri dan anaknya sebagai bartender bisa mengamuk Nina padanya.
"Kebetulan kami sudah saling kenal. Aldio ini sering..."
"Kami teman lama, Re." Potong Aldio yang tak ingin Bagas memberitahukan dirinya sering kemari. Bagas menyipit matanya heran.
"Baiklah, saya senang dengarnya. Kalau begitu selamat bekerja." Ucap Rere tersenyum, lalu pergi ke ruangannya. Aldio bernapas lega, ia berharap yang dipikirkannya salah tentang Rere yang menyukainya, kalau tidak dia akan menambah masalah.
Bagas menoleh Rere yang sudah pergi menjauh, lalu kembali menatap curiga dengan Aldio. "Kenapa harus anda berbohong?" tanya Bagas membuat Aldio terkesan cuek.
"Karena Rere nggak perlu tau, kalau gua ering ke sini, dan satu lagi jangan terlalu formal, anggap saja kita berteman lama." Gumam Aldio. Bagas mengajak Aldio menuju meja bar, ia mengambil microfiber untuk membersihkan meja sebelum klub terbuka.
Kemudian Bagas mengambil beberapa gelas, ia membersihkannya. Aldio yang masih bingung mengikuti yang Bagas lakukan. "Lo udah lama kerja di sini?" tanya Aldio penasaran. Pekerjaan di sini sepertinya tidak mudah.
"Lumayan. Gua harus hidupi keluarga seperti ini, kalau gak keluarga gua makan apa?" jawab Bagas membuat Aldio berpikir, ternyata banyak orang yang sulit mendapatkan pekerjaan hingga bekerja tempat haram seperti ini. Sedangkan dirinya dulu, tidak perlual susah payah mencari kerja, bahkan ia sudah menjabat jadi wakil direktur dan memimpin salah satu perusahaan Bandung sebagai ceo.
"Lo hebat juga ya. Pasti lo udah nikah, suatu hari lo akan dapat kerjaan lebih baik dari ini." Bagas tak berharap, pasalnya selama setiap dia melamar pekerjaan selalu ditolak, padahal dia sendiri lulusan s1.
Senja mulai tertutup malam tiba begitu cepat, klub telah di buka dengan lampu sorot yang hidup seiring musik alunan terdengar keras. Para pengunjung juga berdatangan, Aldio sama sekali belum mengerti.
Salah satu pengunjung menghampiri meja bar, ia sudah sering datang kemari, bahkan hampir tiap hari. "Malam mbak Alin." Sapa Bagas yang sudah mengenalnya. Alin melihat Aldio, ia tersenyum dengan raut muka genit.
"Bagas, siapa dia? Anak baru? Hmmm?" tanya wanita itu penasaran dengan Aldio, apalagi Dio termasuk sosok laki-laki yang tampan.
"Iya, mbak anak baru. Baru hari ini bekerja, mbak Alin sendiri, kemana temannya yang kemarin." Aldio yang sibuk dengan alkohol yang Alin pesan, ia tidak terlalu menggubris wanita itu yang tampak ingin menggodanya.
"Ini minuman, jangan terlalu banyak minum, nanti mbak bisa mabuk." Ucap Aldio dengan sopan. Bagas tertawa, karena dia tahu Alin sudah langganan tiap hari di sini.
"Kenalkan aku Alin. Kamu harus tahu aku tiap hari berada di sini, masalah mabuk atau tidak itu sudah biasa, jadi jangan khawatir." Ucap Alin sambil mengelus lengan Aldio membuat pria itu terteguk seketika.
Aldio berpikir kerja tempat seperti ini, banyak sekali godaannya dibanding dengan dia menjadi pengunjung. Bagaimana Bagas bisa menangani godaan seperti ini.
Dasar racun dunia!!
Dengan cekatan Aldio menyingkirkan tangannya, agar Alin tidak melakukannya lagi. "Selamat menikmati minumannya. Permisi." Aldio bergegas ke toilet, belum juga sehari dia seperti mendapatkan banyak godaan.
Saat keluar dari toilet ia justru bertumbrukan dengan Rere, wanita itu yang hampir terjatuh dengan cepat Aldio menolongnya, ia merengkuh pinggang Rere. "Kamu nggak papa, kan." Rere yang tak berhenti menatap Aldio seakan tak berhenti terpesona dengan ketampanannya. "Rere." Aldio menguncang tubuh Rere yang tak merespon. Rere terkesiap kaget, ia membuyarkan segala lamunannya.
"Maaf.. Ya ampun, kamu udah nolongin aku. Makasih ya yo." Aldio mengangguk sambil tersenyum, lalu melepaskan tangannya dari pinggang Rere.
"Sama-sama. Kalau begitu aku duluan ya."
Aldio yang kembali meja bar, matanya mencari seseorang berharap Stefi ada di sana. Tapi kerumunan banyak orang, bagaimana ia bisa mencari wanita ular itu. Gara-gara prihal dia mengaku hamil, rumah tangganya di ujung tanduk.
"Yo, lo sini aja, gua akan tanya pesanan meja sana ya." Aldio mengangguk mengerti. Ia menyiapkan beberapa minuman alkohol.
Selama ini ia sering kemari, tapi ia tak memperhatikan banyak wanita dan pria berbuat maksiat tempat ini. Sedangkan dirinya hanya duduk sendiri menikmati minuman.
"Mbak, gak takut mabuk. Itu minumnya udah banyak banget." Ujar Aldio heran. Ternyata ada wanita seperti dirinya, sejenak Aldio berpikir dia sangat beruntung karena Nina tidak seperti Alin yang suka minum. Padahal Nina di besarkan di London.
"Aku sudah biasa, mau menemaniku minum." Aldio menggeleng, ia tidak akan menyentuh minuman demi adiknya Lea, karena Aldio sadar ia telah merepotkan Lea. Kalau dia minum, sama saja dirinya semakin membuat adiknya sedih.
Bagas tersenyum geli melihat Aldio, ia tahu seperti Aldio tak nyaman bekerja di tempat ini. Namun dia sendiri tak tahu alasan apa membuat Aldio sampai nekad bekerja, melihat kondisi Aldio dia bukan orang seperti dirinya tergolong sulit mencari uang.
Setelah melewati pekerjaan menyebalkan akhirnya ia selesai bekerja, jam tangannya sudah menunjukkan pukul 02.00. Sebenarnya Aldio ingin menanyakan tentang Stefi pada Bagas, tapi bodohnya Aldio, ia tak memiliki foto Stefi hingga sulit ia mencari informasi.
"Lo bawa kendaraan?" ucap Aldio dengan Bagas. Teman kerjanya itu menunjukkan salah satu motor. "Ya udah, gua balik duluan ya." tambahnya lagi.
"Eh.. Tunggu. Lo balik pakai apa?" Aldio mengaruk kepalanya, ia bingung beralasan apa.
"Egh.. Gua. Hmmm... Gua gampang, bisa naik ojek depan." Demi mencari tahu tentang Stefi, dia harus menutupi jati dirinya berpura, seolah-olah dia orang susah dan memang membutuhkan pekerjaan.
***
Sekarang sudah pukul delapan malam, tanpa sadar Nina terus mengurung dirinya sendiri di kamar dengan tangisan tak bisa dia hentikan. Hidup seperti tak ada yang berharga, Nina melengkukkan kakinya hingga lutut berada di d**a.
"Jangan nangis! malam ini juga kita pergi ke Bandung, Bunda kamu ada di sana." Nina bangkit dari ranjang. Bagaimana mungkin ayahnya bisa mengambil keputusan sepihak seperti ini.
"Nina, gak mau pergi. Ini rumah Nina." Bayu yang tak mau dengar bantahan, ia mengambil koper Nina. Kemudian dia memasuki seluruh pakaian Nina, tak perduli putrinya terus memohon.
"Nina, mohon jangan. Ayah kenapa tega seperti ini sama Nina." Nina menarik lengan Bayu, agar tidak memasukan seluruh pakaiannya.
"Ayah sudah bilang akan membawamu pergi dari rumah. Ayah rasa kamu tidak perlu memberontak." Cecar Bayu semakin terisak dalam tangisannya. Nina berharap Aldio datang untuk menghentikan ayahnya membawa pergi, Nadia yang berada di ambang pintu hanya bisa melihat kesedihan Nina tanpa berbuat apapun, karena dia sendiri telah diberikan ancaman.
'Maafin gua ya, Nin. Gua nggak bisa bantu apa-apa.' gumam Nina dalam hatinya, matanya berkaca-kaca melihat rasa sakit Nina.
"Tapi Dini... Nina harus mengambil Dini sebelum pergi." Nina berharap itu bisa membuat ayahnya menunda kepergian. Mungkin dia bisa pergi menemui Aldio agar suaminya bisa datang menyelamatkan dirinya.
"Masalah Dini, biar Nadia yang urus." Nina tak percaya ayahnya bahkan tak perduli dengan cucunya sendiri. Sekarang dia tak bisa bergeming, percuma dia bersih keras. Nina hapal betul ayahnya semakin memaksa kalau tidak menurutinya.
"Hiks... Suatu hari ayah akan menyesal karena telah salah menilai Dio, selama belum ada bukti yang kuat, Nina gak akan pernah ceraikan Dio, apapun yang terjadi." Dengan berani Nina memberikan peringatan pada ayahnya sendiri, dia harus pasrah ikut saat ini, pasalnya Nina tak punya pilihan lain.
"Ayah tahu yang terbaik untuk kamu." Tegas Bayu, kemudian pergi.
Saat Bayu pergi, Nadia masuk langsung memeluknya. Ia tak bisa membendung air matanya. Selama ini ia melihat Nina selalu bahagia dengan Dio, tapi entah darimana wanita itu datang merusak kebahagiaan Aldio dan Nina. "Hiks.. Hin, maafin gua. Gua nggak bisa bantu lo." Nina mengusap air matanya, ia tetap tegar meski badai menerpa dirinya.
"Ayah pasti udah ngancam lo, kan. Gua paham! Cuma.. Disini gua minta tolong, jaga Dini. Kalau lo kerja, Dini bisa lo titip dengan Lea." Nadia semakin sedih, betapa Nina berusaha tenang, meski dia terpaksa melakukan sesuatu yang sama sekali bukan keinginannya.
"Iya... Gua janji akan jaga Dini, lo nggak perlu khawatir. Dini akan aman, dan Dio."
"Jangan katakan apapun dengan Dio, gua udah janji sama Kaffa untuk gak ganggu Dio dulu."
"Kalau Dio nanyain lo, gimana? gua harus bilang apa. Pasti Dio curiga gua titip Dini dengan Lea."
"Lo bilang aja, gua harus tenangin diri sendiri. Gua nggak mau diganggu." Kalimat Nina sukses menyulutkan rasa iba di hati Nadia, ia memang tak bisa memberitahukan hal ini pada Dio, terutama Bayu sudah menekannya. Tambah lagi Nina yang tak ingin Dio tahu. Tapi satu hal Nadia bersumpah akan mencari tahu tentang Stefi.
Nina sudah berada di dalam mobil bersama ayahnya menuju Bandung. Rasanya pedih sekali harus meninggalkan rumah yang ia tempati bersama Dio dan Dini. Kehidupan akan seperti neraka tanpa Aldio, ia sendiri tak tahu rencana ayahnya dibalik semua ini. Tapi sampai kapanpun Nina tak ingin pisah dengan Aldio selama bukti yang kuat belum ada.
"Ada apa di Bandung?" pertanyaan itu terlontar, Nina yang memandang datar perjalanan menuju Bandung beberapa kali tak henti meneteskan air mata.
"Kamu harus jauh dari Dio. Di Bandung ada bunda yang bisa jaga kamu, karena ayah akan pastikan kamu dan Dio berpisah." Nina lelah berulang kali harus mengatakan jika dirinya tidak akan pernah bercerai dari Aldio. Ia tak bergeming.
Nina melihat langit malam itu yang tampak cerah, disinari bulan dan bintang. Rasanya ia ingin menjadi bintang agar terlihat cerah menemani malam. Wanita itu kembali teringat Dio, ia tersenyum kecil. Setiap kali dinner dengan suaminya, Aldio tak pernah berhenti jahil dengan dirinya. Tambah lagi mereka sama-sama tak mau mengalah, hingga dinner romantis selalu rusak karena suasana hati masing-masing. 'Dio... Jaga diri kamu ya sayang, aku percaya kamu bisa cari bukti.' lirih dalam hatinya.