Ada kerinduan yang sulit Nina jelaskan, ia seperti tak bisa menahan rindu. Rasanya ingin mendapatkan pelukan hangat Aldio adalah obat yang paling tepat mengurangi rasa sakit di dadanya. Ada rasa sesal menghinggapi dirinya, kejadian bertemu dengan Aldio membuat Nina sedih, dia ingin sekali bertemu Aldio walaupun hanya sebentar.
"Baru pulang kamu, Nina." Suara bariton sangat familiar mengejutkan Nina, matanya terbelalak melihat Bayu Darmawan sang ayah tiba-tiba berada di rumahnya.
"Ayah.. Kapan ayah datang?" lontar Nina. Bayu memandang datar sang putri. Walaupun tidak berada di Indonesia, tapi ia tahu apapun yang terjadi dengan Nina. Bayu selalu meminta suruhannya mengawasi Nina, karena tak ingin putranya tersakiti lagi.
"Belum lama. Mana suami kamu? Ayah belum melihatnya?" ujar Bayu membuat Nina menatap Nadia, ia pikir jika Nadia yang mengadu tentang rumah tangganya hingga sang ayah harus ke Indonesia.
"Aldio lagi pergi luar kota, ada kerjaan. Ayah, nggak sama Bunda." Bayu tersenyum intimidasi, ia tahu jika Nina berusaha melindungi Aldio.
"Duduk kamu!" perintah Bayu membuat Nina langsung menurutinya. Sedangkan Nadia tahu betul sifat Bayu Darmawan, ia lebih milih menghindari daripada ikut campur, yang ada ia akan ikut kena damprat. "Kamu jangan berbohong, Nina. Ayah tahu apa yang terjadi antara kamu dan Aldio, wanita mana yang suami kamu hamili." Nina tertegun, ia tak berani menatap mata sang ayah.
"Berita itu bohong, yah. Aldio sangat mencintai Nina, mana mungkin dia sampai berani hamili wanita lain." Sanggah Nina membela suaminya.
"Ayah sudah bilang jangan berbohong, bukan! Nina kamu sepertinya lupa siapa ayah." Nina masih merunduk, ia menahan air matanya akan terjatuh. Bagaimana dia menyembunyikan masalah Aldio pada ayahnya. Melihat raut wajah ayahnya masih datar sekilas, Nina tahu Bayu selama ini masih mengawasinya, hingga dia sampai mengetahui Aldio menghamili wanita lain.
"Itu semua fitnah. Nina yakin Aldio tidak bersalah, ini hanya salah paham." Bayu menyipitkan matanya sembari rahangnya mulai mengeras.
"Suami kamu itu hanya pembuat onar, percuma dia kaya, sukses tapi lihat sekarang dia menghancurkan perasaan kamu. Pria itu yang selama ini kamu perjuangkan, dia nggak pantas untuk kamu. Ayah menyesal merestui kalian, seharusnya ayah bisa lihat betapa brenseknya suami kamu." Cecar Bayu. Nina yang tadinya menahan air matanya, akhirnya tumpah juga tak terbendung. Rasanya sakit sekali mendengar ayahnya sendiri menghina Aldio.
"Hiks.. Cukup ayah! Aldio gak seperti yang ayah pikirkan. Dio sangat mencintai Nina, dia yang ada saat Nina terpuruk, bukan ayah yang jelas orang tua Nina. Hiks." Nina menjerit melepaskan amarah yang ia tahan sejak tadi, tak perduli dia akan mendapatkan kemarahan dari Bayu.
Plak.. .
Satu tamparan mewakili kemarahan Bayu, hingga Nina yang tadi sudah berdiri terjatuh.
"Hiks..." Nina terisak, tapi dia tak bisa menyakinkan ayahnya untuk tetap percaya pada Aldio. "Percuma aku jelaskan dengan ayah, di mata ayah Dio mungkin brensek. Tapi Nina akan tetap percaya dengan Dio." Nina masih merengut tak terima, ia tetap membela suaminya tanpa perduli tamparan yang Nina terima.
"Kamu sangat keras kepala, Nina. Ayah akan mengirim kamu ke London, kalau kamu masih bersikap seperti ini." Ucap Bayu tegas. Tidak suka dengan Nina yang terus membela suaminya, Bayu sepertinya ingin merencanakan sesuatu.
"Sekeras apapun ayah ingin memisahkan Nina dengan Dio, itu semua nggak akan pernah terjadi. Karena sampai kapanpun di hati Nina cuma ada Dio." Nina tak suka dengan Ayahnya yang mendadak datang, hanya untuk mengatur masalah rumah tangganya.
"Apa yang kamu harapkan dengan laki-laki tak berguna itu. Dia hanya biang masalah, Dio akan menyakiti kamu terus menerus seperti ini." Nina tak bisa diam karena ayahnya meremehkan suaminya. "Ayah sarankan secepatnya kamu ceraikan Dio, setelah itu ayah akan membawa kamu kembali ke London." Nina tak percaya ayahnya tega melontarkan kalimat itu, padahal tak pernah terpikirkan oleh dirinya untuk bercerai dengan Dio.
"Bagaimana kalau penilaian ayah tentang Dio salah?" Nina benar-benar marah dengan ayahnya yang selalu merendahkan Aldio.
"Suami kamu tidak akan bisa membuatmu bahagia, dia hanya pembuat masalah. Ayah dengar dia sering ke klub, bukan. Itu yang kamu bilang baik." Nina heran sejauh ini, kenapa ayahnya tak pernah percaya dengan dirinya hingga harus mengawasinya hingga sampai mengetahui banyak hal pribadinya.
Nina mengusap air matanya dengan kasar. "Hiks... Ayah tidak mengenal Aldio. Nina benci dengan ayah!" cecar Nina meninggalkan Bayu, lalu masuk kamarnya dengan menghempaskan pintu keras.
Nina melempari seluruh isi kamarnya, hingga jadi berantakan. Wanita itu berpikir ingin pergi dari ayahnya, tapi ia tak bisa meninggalkan rumah ini. Dia berharap Aldio akan datang kembali, ini rumah mereka. Matanya menyiratkan rasa benci, marah, sedih bercampur jadi satu.
***
Sore itu Dio bersiap untuk mencari tau tentang Stefi. Mungkin dia bisa menyelamatkan pernikahannya dengan cara itu. Dengan memakai celana kain hitam, atasan kemeja putih. Ia harus berpikir keras kejadian malam itu, ia sendiri bingung apa dia benar menghamili Stefi, walaupun dia minum, tapi Dio yakin jika dia sama sekali tidak menyentuh Stefi.
"Kak Dio, mau kemana?" tanya Lea melihat Aldio sudah rapih. Aldio tak ingin Lea tahu dia bekerja di klub, hingga ia menutupi kemeja yang ia kenakan dengan jaket.
"Ehm... Aku ada perlu, kamu jangan tungguin aku. Mungkin aku pulang malam banget." Ucap Aldio setenang mungkin. Kebetulan Kaffa baru pulang dari kantor, dia melihat Aldio yang sudah rapih.
"Mau kemana lo?" kali ini Kaffa yang bertanya. Dio melirik Lea memberikan kode pada Kaffa, ia tahu maksud Dio agar Lea tak mendengar mereka, Dio takut Lea malah semakin khawatir dengannya.
"Sayang... Kaffa dan Fafa udah mandi? lihat mereka masih main di luar rumah dengan Bibi." Lea sampai lupa, ia langsung bergegas meninggalkan kedua pria ini.
Seketika Aldio dapat menghela napas lega, akhirnya Lea sibuk dengan anak-anaknya, tanpa mengurus dirinya. "Kaf, gua kerja di klub. Tapi jangan sampai Lea tau, gua mau cari bukti kalau nggak bersalah." Kaffa menyipitkan matanya, ia ragu rencana itu berhasil.
"Lo yakin akan berhasil. Sebenarnya gua ada rencana, tapi gua nggak yakin lo setuju." Aldio menarik Kaffa ke kamarnya, ia tak mau Lea tahu rencana mereka. Apalagi sampai ikut membantu, Dio hanya tak ingin Lea dalam bahaya karena masalahnya.
"Gua masih coba, gua harap banget bisa cari bukti. Nggak sanggup gue kehilangan Nina." Kaffa memijit pelipisnya sejenak, ia rasa rencana Dio itu akan sulit.
"Gua paham situasi lo! Tapi rasanya cara itu sulit, kenapa nggak lo ikutin permainan Stefi?"
"Maksud lo?"
"Gitu aja lo nggak ngerti. Ini hanya pura-pura, Stefi minta tanggung jawab, lo lakukan itu. Kita bisa tahu rencana Stefi." Kaffa menjeda ucapannya, ia melihat reaksi Dio yang tampak tak setuju. "Lo bisa tahu pergerakan Stefi. Kalau lo kerja di klub, yakin bisa cari tahu tentang Stefi. Memang Stefi sering ke klub itu, yang gua tahu hanya lo sering ke sama." Aldio memutar otaknya, ia masih ragu. Tapi mungkin ia bisa memikirkannya lagi.
"Kalau Nina sampai tau bagaimana? Bisa tambah benci Nina sama gua."
"Lo tenang aja, masalah Nina biar gua yang atasi. Lo harus sedikit berakting sedikit." Aldio menghempaskan napas dalam-dalam, ia merasa dilema sendiri. Sekarang dia sudah terlanjur bekerja di klub. Apalagi dengan susah payah, ia menyakinkan Rere untuk menerimanya bekerja.
"Terus kerjaan gua gimana?" Kaffa tersenyum sambil menaiki alis.
"Lo tetap kerja di sana, siapa tahu suatu saat ada gunanya lo kerja di klub itu." Kali ini Aldio setuju, dia berharap Kaffa benar-benar membantunya.
"Enteng banget omongan lo! Ya udah, tapi ingat Lea jangan tahu gua kerja di klub." Kaffa mengangguk setuju.
Kaffa ingat dulu Aldio yang berjuang untuk dirinya dan Lea. Tak ada salahnya sekarang giliran dirinya menolong Nina dan Aldio yang sudah berjasa menyatukan Lea hingga sampai saat ini hidupnya telah bahagia.
"Oke Kak Aldio." Ucap Kaffa sambil mengejeknya.
"Mau jadi adik ipar durhaka lo!" balas Aldio kesal. Kaffa malah terkekeh puas.
Bruk..
"Auch.. " Kaffa kesakitan kepalanya, pasalnya Lea membuka pintu tiba-tiba membuat Kaffa yang berada di balik pintu kesakitan. "Lea, kamu apaan sih! Sakit akunya."
"Yah... Kamu ngapain balik pintu, aku cariin juga daritadi." Komentar Lea. Aldio tertawa geli, akhir secepat kilat Tuhan membalas Kaffa yang mengejeknya.
"Rasain lo! Makanya jangan kurang ajar dengan yang lebih tua." Aldio berkata sambil menyentil dahinya lalu pergi.
Sedangkan Lea bukan prihatin dengan Kaffa, ia justru mengejar Aldio yang hendak pergi. Padahal Kaffa kepentok pintu gara-gara dirinya.
"Kak Dio... Tunggu!" Aldio yang hendak pergi mencari taxi, malah Lea hentikan. "Ini kunci mobil, Kak Dio pakai mobil Lea aja. Ntar kalau pulang malam Kak Dio sudah cari kendaraan untuk pulang." Ini yang Dio hindari, Lea selalu khawatir berlebihan.
"Nggak usahlah, Le. Aku bisa pulang sendiri kok."
"Kalau kak Dio gak mau terima, aku marah sama Kak Dio." Paksa Lea membuat Dio tak punya pilihan lain. Ia mengambil kunci mobil.
"Makasih ya, Le. Aku berhutang banyak kebaikan sama kamu." Lea memukulnya dengan kesal. "Aduh...!! Le, kamu kok mukul aku sih." Lanjut Aldio protes.
"Habis Kak Dio ngomongnya gitu sih, kebaikan Kak Dio lebih banyak. Bahkan aku nggak terhitung lagi, Kak Dio dan Kak Zio adalah saudara terbaik yang aku punya." Aldio mengacak gemas rambut Lea.
"Kamu juga adik terbaik. Sekarang kamu urus Kaffa, ntar dia ngambek lagi. Bisa diusir aku sama dia, lihat tuh suami kamu udah kayak satpam ngintip depan pintu." Ucap Aldio enteng. Lea tertawa lucu, ada saja kelakuan Aldio membuat suasana hingga Lea terhibur.
Aldio pergi, ia melirik jam tangannya. Karena terlalu lama bicarakan tentang rencananya dengan Kaffa, ia sepertinya terlambat. Untungnya Lea berbaik hati meminjamkan dirinya mobil.
Sepanjang perjalanan menuju klub, Dio berpikir rencana Kaffa. Dirinya masih takut jika ini berakibat buruk dengan hubungannya dengan Nina. Apalagi jika Nina mengajukan perceraian, ia tak bisa bayangkan hancur hidupnya. "Nina, aku harap kamu percaya, kalau aku tak bersalah. Aku bahkan nggak kenal dengan Stefi."
Sebenarnya Aldio penasaran dengan Stefi yang mungkin menjebaknya. Pasti ada suatu yang membuat Stefi melakukan hal itu, atau ada yang menyuruhnya. Siapa yang menginginkan rumah tangganya hancur? selama ini hidup mereka tentram tanpa penganggu, hanya kadang Bryan seperti duri yang tak diundang.
"Apa Bryan? Masa sih dia, gua rasa nggak mungkin. Bryan udah berubah sekarang." Aldio terus bertanya pada dirinya sendiri. Banyak kemungkinan terjadi yang sulit ia sendiri pahami,