Bab 5

1614 Kata
Semua orang selalu berpendapat Aldio nakal, brensek dan buruknya lagi tak berguna. Laki-laki itu tak perduli dengan asumsi orang lain, namun hatinya runtuh ketika Nina juga menganggap sedemikian. Hancur sudah harapannya selama ini, Aldio selesai orang bodoh yang tak tahu arah jalan. Dio kalinya ini pergi mencari pekerjaan kecil, paling tidak bisa mencukupi hidupnya. Ia berhenti di depan klub malamKlubub yang sama Aldio bertemu Stefi, ia tersenyum iblis. Dia berniat mendapatkan pekerjaan di tempat tersebut. Mungkin ini cara ia bisa mencari tahu tentang Stefi. Ia dengan langkah kaki yang gagah, Aldio masuk padahal klub itu sama sekali belum buka, tapi ia tetap masuk. "Maaf, kami belum buka." Ujar seseorang yang tiba-tiba berada di hadapannya. "Ya.. Saya tau. Tapi saya ingin melamar pekerjaan di sini." Wanita yang di hadapannya memandangi penampilan Aldio dari atas hingga bawah kaki, ia mengeryit pasalnya melihat cara pakaian Aldio seperti orang kaya, dan tampak sekali dia orang kantoran. "Apa anda ragu dengan kemampuan saya?" ucap Aldio datar. Wanita itu kembali memandangi Aldio, ia memang terlihat sangat tidak yakin dengan kemampua Aldio. "Bukan begitu tapi.." "Saya bisa bekerja apapun di sini. Kalau memang anda ragu, anda bisa menguji kemampuan saya." Wanita itu mendengus berat. "Ikut saya." Aldio mengekori wanita yang ia tak ketahui namanya. Setelah memasuki ruangan yang tidak terlalu besar, wanita itu mempersilakan Aldio untuk duduk. Sebenarnya ia memang sangat ragu, namun melihat keras kepala Aldio ingin bekerja lagi, tak ada salahnya ia memberikan kesempatan Aldio. "Perkenalkan saya Rere, kebetulan saya manager di klub ini. Kalau kamu serius dengan pekerjaan ini, saya bisa memberikan kesempatan." Aldio tersenyum senang. Akhirnya dia bisa mencari tahu menjadi malam Stefi menjebaknya, ia tak akan membiarkan Stefi menang dalam jebakannya. "Terima kasih kalau Bu Rere bersedia mempekerjakan saya." Rere terkekeh, ia pertama kalinya dia dapat panggilan ibu. "Apa saya terlihat sudah tua, panggil saja saya Rere. Karyawan di sini juga memanggil saya nama, jangan terlalu formal." Ucap Rere. Aldio kembali mengulas senyum, ia pikir harus bersikap formal, sama seperti saat bekerja di kantor. "Baiklah kalau begitu. Kapan saya bisa mulai bekerja?" tanya Aldio. "Malam ini kamu bisa bekerja, tapi tolong datang sore. Karena kita harus siap-siap buka terlebih dahulu." "Sampai ketemu nanti, saya pasti datang." Rere sangat senang dengan antusias Aldio. Ia belum pernah melihat semangat karyawan saat melamar pekerjaan seperti dirinya. Tujuan Aldio hanya satu mencari tahu tentang Stefi, dan niatnya. Ia bahkan tak mengenal Stefi, hanya sekali mereka bertemu, mendadak Stefi mengaku hamil darinya. Ia tak percaya dengan kehamilan Stefi, dia sendiri akan membuktikan, ia akan mengembalikan kepercayaan semua orang lagi, termasuk Nina. Brak.. Aldio menabrak salah satu bartender genter, pria itu biasa yang memberikan minum pada Aldio setiap ia datang ke klub tersebut. "Pak Aldio.." "Egh.. Kamu.." "Bagas, Pak. Saya yang biasa memberikan minuman dengan bapak." "Oh.. Bagas, jangan panggil bapak karena saya akan bekerja di sini." Bagas mengkerut dahinya bingung, walaupun tak mengenal baik Aldio tapi dia tau laki-laki dihadapannya ini bukan orang biasa, apalagi membutuhkan pekerjaan yang bisa dibilang tak pantas untuk dirinya. "Bapak serius, pekerjaan di sini bu.." "Saya udah bilang jangan panggil bapak, panggil Aldio atau lebih akrab Dio." Gumam Dio santai. Bagas masih tak percaya tapi sepertinya Aldio serius tak main-main. "Ngomong-ngomong gue harus pergi. Gue duluan ya." Ucapnya lagi sambil menepuk pundak Bagas, lalu pergi. *** Nina sudah berada di kantor Kaffa, seperti biasa wanita itu dengan santai memasuki ruangan sahabatnya tak perduli Kaffa tengah sibuk. Padahal sekretaris Kaffa sudah memberitahu jika Kaffa tengah sibuk, tapi Nina tak perduli sama sekali dengan peringatan sekretaris dari Kaffa. "Kaffa!!" Nina berteriak kesal. Kaffa yang sedang rapat dengan kliennya dari Jepang, ia kesal atas kehadiran Nina yang datang tak mengabarinya. "Nina.. Ngapain lo?" geram Kaffa melotot memandangi yang masih depan pintu, ia langsung dengan cepat menyeret Nina keluar dari ruangannya agar tak membuat masalah nantinya. "Ish.. Apaan sih lo, Kaf. Gue mau ngomong sama lo. Lepasin!" sarkas Nina membuat Nadia yang berada di luar menggeleng tak percaya. "Lo bisa telpon gue dulu, kan. Gue ada klien dari Jepang, lo tunggu di sini." Ucap Kaffa sambil memandangi Nadia agar menjaga Nina jangan sampai masuk ke ruangannya lagi. "Kaffa!! Kaffa!!" Nina justru menjerit membuat para karyawan memandanginya. Nadia mendekap mulut Nina, ia meminta sepupunya untuk tenang. "Nin, malu jangan teriak di sini. Bisa-bisa Kaffa ngusir kita, bego!" bentak Nadia kesal dengan sikap Nina yang tak bisa mengendalikan emosinya. "Terus.. Gue harus gimana? Gue mau bicara dengan Kaffa." "Gue paham! Tapi lo sabarlah, ini perusahaan Kaffa, dia lagi sibuk." Timpal Nadia. Nina mendengus kasar, ia tahu saat ini Kaffa lagi sibuk, justru dia memaksa kehendaknya memancing kemarahan Kaffa. Akhirnya Nina mendengar nasihat Nadia, ia memutuskan menunggu Kaffa selesai rapat. Dia hanya butuh teman untuk bicara, ia yakin Kaffa tau sesuatu walaupun pastinya Kaffa akan tetap menyembunyikan Dio. "Kira-kira Kaffa lama nggak ya rapatnya." Nadia melirik, ia menenggelamkan wajah kesal. "Sabar aja." Hanya itu yang Nadia katakan. Nina lumayan lama menunggu Kaffa, terlihat klien Jepang Kaffa telah keluar membuat Nina antusias ingin bertemu pria itu. Ia bangkit berharap Kaffa keluar dari ruangannya. "Mbak Nina, silakan masuk." Ucap sekretaris Kaffa. "Nad, tunggu sini ya." Ujar Nina pada Nadia. "Hmmm." Kaffa menghela napas berat, untungnya kliennya tidak marah atas gangguan Nina beberapa saat lalu. Kalau tidak mengingat Nina sahabatnya, ia pasti akan melempar Nina keluar kantornya. "Kaf, gue masuk ya." Nina berkata sambil menampakkan kepalanya saja. "Masuk lo!" hardik Kaffa jengkel. Nina langsung masuk mendengar sahutan Kaffa. Ia mendarat duduk di sofa dengan muka melas. "Mau apa lo?" tanya Kaffa menyilangkan kakinya di atas lututnya. "Kaf, Kak Zio udah tau masalah gue dengan Dio. Lo tahu sekarang tinggal dimana?" Kaffa tersenyum sinis, ia bingung dengan pemikiran wanita sekarang, dia yang usir dan dia juga yang cari. Bukannya bego sendiri!! "Mana gue tahu Aldio dimana, dia itu suami lo, seharusnya lo yang lebih tau keberadaannya." Nina cemberut, ia pikir Kaffa tahu Aldio dimana. Kaffa sengaja tak memberitahu Nina, agar sahabatnya sadar akan kesalahan yang udah diambilnya. Meski belum ada bukti jika Dio tak bersalah, tapi harusnya Nina tak bersikap seperti itu. Bagaimanapun Aldio suaminya. "Bukannya terakhir kali lo sama Dio." Gusar Nina mengerucut mukanya, ia panik pemikirkan keberadaan Aldio. Suaminya tak memiliki pekerjaan, bukan itu saja dia harus tinggal dimana. "Terakhir gue antar dia ke hotel." Ucap Kaffa asal membuat Nina pusing sendiri. Seperti yang Nadia beritahu seluruh fasilitas Aldio telah dicabut Alzio, sekarang Dio mau bayar pakai apa menginap di hotel. "Lo bisa hubungi Dio? Gue khawatir sama dia." Padahal dari awal Nina mengusir Dio, saudara iparnya sudah menginap di rumahnya. Apalagi Lea memaksanya membantu Aldio, seperti biasa tak punya pilihan lain. "Nin, gue bukan nggak mau nolongin lo. Tapi, ini masalah rumah tangga lo, gue nggak mau ikut campur. Kalau aja lo percaya Dio, mungkin lo nggak perlu repot cari dia." Nina menyesal, dia sendiri telah menyakiti suaminya ketika bertemu beberapa saat lalu. "Hiks.." Tiba-tiba Nina merengek dengan tangisan. "Gimana ya, Kaf. Gue trauma, lo tahu sendiri dulu gue pernah sakit hati. Hancur perasaan gue waktu itu. Dan sekarang gue dengar dari wanita lain, kalau suami gue hamili dia. Lo bisa bayangkan dong!" Kaffa terdiam sesaat. Ia sendiri menyaksikan kepahitan yang Nina derita, tapi karena adanya Dio yang selalu berada di samping wanita itu. Kaffa berpindah duduk di sampingnya, ia merangkul Nina. Kaffa tak tega melihat Nina dalam kesedihannya sendiri. Walaupun baginya Nina tetap bersalah dalam situasi ini. "Jangan nangis lagi. Aldio baik-baik aja, karena dia ada di rumah gue." Sontak Nina mendorong Kaffa, jadi Kaffa berniat membohonginya. "Tadi lo bilang.." "Gue bohong karena lo nggak percaya sama Dio. Pikir deh, Nin. Aldio itu cinta sama lo, dia terima lo apa adanya, bahkan Dini yang jelas bukan anak kandungnya. Lalu pengorbanannya malah lo balas dengan ketidakpercaya. Itu nggak adil. Gue tahu Dio belum ada bukti, tapi gue dan Lea percaya Dio nggak bersalah." Nina tambah terisak, ia sungguh menyesal tapi bisa apa. Dia memang memiliki keraguan itu, Nina dulu pernah bodoh karena cinta Bryan. Kemudian dia terluka karena pengkhianatan, bahkan hanya menjadikan Nina pelampisan dendamnya pada Lea. Sungguh Nina masih takut hal buruk itu sampai terulang kembali. "Harusnya lo nggak perlu bohong. Lo tau gue khawatir banget sama Dio." Sungutnya. Kaffa menggeleng tak percaya, kalau bisa ia mengacak isi hati wanita, sudah dia lakukan, namun Kaffa tak bisa berbuat apapun selain membantu Aldio mencari tahu tentang Stefi. "Makanya jangan ngusir Dio. Tindakan lo itu salah, cari bukti dulu baru bertindak." Paling tidak Nina merasa lega, karena Aldio tinggal di rumah Kaffa yang sudah ia pastikan aman. "Lebih baik lo pulang, masalah Aldio biar gue yang urus, dia aman selama tinggal di rumah gue. Dan untuk saat ini jangan temui Dio dulu." Kaffa sendiri sudah memiliki rencana agar dia bisa tahu tujuan Stefi, meski dia yakin Aldio tak mungkin setuju. "Tapi, Kaf." "Nurut sama gue, jangan sekali-kali lo tunjukin penyesalan depan Aldio. Setidaknya dia merasa harus perjuangin lo demi membersihkan namanya sendiri." Nina pasrah, apalagi yang bisa dia lakukan selain ikuti kemauan Kaffa. Kebetulan Kaffa sudah tahu jika Aldio telah ditendang dari perusahaan, otomatis Aldio tidak memiliki pekerjaan, dia ingin Aldio memanfaatkan ini mencari tahu tentang Stefi. Apalagi Zio berpesan untuk membantu Dio, karena kakak ipar tertuanya sama sekali tak percaya jika Dio bersalah. Karena Aldio saudara Lea, dia tak punya pilihan lain. Apalagi Alzio telah menekannya. Sepanjang menuju parkiran Nina hanya termangu sendiri, padahal Nadia sepanjang jalan menggerutu menanyakan yang dia bicarakan tentang suaminya. "Nin, gimana? Kaffa tahu keberadaan Dio? Terus.. Kaffa bilang apa aja." Tidak ada satu jawaban membuat Nadia kesal, ia memukul pundak Nina. "Nina! Gue lagi ngomong sama lo bukan patung." "Kita langsung pulang aja." Nadia terganggang kesal, dia sama sekali tak diperdulikan. Tapi mau bagaimana lagi, Nina masih terlihat sedih walaupun telah bicara dengan Kaffa tak membuat suasana hatinya berubah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN