"Aku tau dia terus memperhatikanmu selama pertemuan berlangsung. Begitu keluar ruangan saja dia langsung memintamu bertemu secara khusus. Pasti dia juga tertarik padamu kan??? Wahh.. Bukannya dia tangkapan emas bagimu? Bukankah sangat sesuai kriteriamu?" Ucap Rey dengan ketusnya.
"Hah???" Kirana hanya tidak mengerti maksud perkataan Rey.
"Wanita sepertimu pasti lebih memilih pria sudah pasti kaya dari lahir bukan?" Kirana hanya melongo tanpa menjawab ucapan Rey.
"Jangan terlalu dekat dengannya! Kamu mau proposal kita terpengaruh karena hubungan kalian!?" Ucap Rey sinis pada Kirana. Matanya masih fokus jalanan. 'Dasar w*************a!'
Kirana mendengus kasar. "Ah. Iya maaf, pak Reyfano jika itu mengganggu bapak!" Kirana sangat kesal, dia masih tidak mengerti kenapa Rey berkata seperti itu. 'Apa Rey melihatku dengan Kak Zayn tadi?'
"Aku sama sekali tidak peduli dengan hubungan kalian berdua. Jangan sampai kamu campur urusan pribadimu dengan kerjaan! Dengar itu!"
Kirana membuang pandangannya ke luar jendela. Dia terdiam sepanjang perjalanan hingga ke kantor. 'Memangnya apa yang kulakukan? Apa Rey melihat kami sedang bicara tadi ya? Tapi biarlah. Toh itu bukan urusannya'
Sepanjang hari ini Rey sangat dingin kepada Kirana. Dia hanya berbicara seperlunya untuk urusan kerjaan.
Berbeda dengan Kirana. Dia bersikap seperti biasanya pada Rey. Dia cukup bersyukur Rey tidak menganggunya hari ini dengan bayang-bayang 'wanita itu'.
"Pak Reyfano, saya pesankan apa untuk makan siang bapak hari ini?" Ucapnya setelah memasuki ruangan Rey. Rey masih sibuk berkutat dengan kerjaannya.
"Tidak perlu. Kamu bisa langsung istirahat sekarang"
"Mmm.. Baik, pak" Kirana meninggalkan ruangan Rey begitu saja menuju Kantin. Dia sudah ditunggu Bella yang selalu menemaninya makan di kantin kantor.
"Ran, lo yakin pak Rey tidak mau makan siang?" Tanya Bella saat mereka mengantri untuk mengambil makanan.
"Entahlah, Bell. Dia hari ini aneh sekali! Memang sih dia dingin. Tapi hari ini lebih membeku!" Ucapan Kirana dibalas tawa ringan oleh Bella.
Rrring.. Rrriing..
Ponsel Kirana berdering. Nomor baru yang sangat dihafalnya kembali menghubunginya. Dengan cepat dia memencet tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo, kak?"
"Kamu masih simpan nomor kakak?"
"Tidak. Entahlah.. Cuma feeling" Kirana menahan tawanya.
"Kamu bisa aja! Nanti malam meet up yuk, Ran!"
"Boleh.."
"Nanti malam kakak jemput ya kerumahmu. Jangan lupa sharelok! Juga dandan yang cantik, oke!"
"Asiaaapp, boss!" Zayn menutup panggilannya. Kirana cengar-cengir sendiri setelah menerima panggilan Zayn.
"Sapa sih, Ran? Cengar-cengir. Ditelpon ayang beb ya?!"
"Bukan kok. Dia kakak gue. Gue baru saja bertemu dengannya hari ini setelah dia lulus kuliah duluan. Dia ngajak gue ketemuan malam nanti"
"Kakak senior lo? Ganteng gak sih?? Mau doong dikenalin!"
"Boleh. Kapan-kapan gue ajak ketemuan sama kak Zayn ya. Dia super duper baik orangnya!"
"Jadi namanya Zayn. Waah.. Baru denger namanya udah keliatan gantengnyaaa!"
"Dasar! Inget woeyy!! Katanya udah punya gebetan!?"
"Hey!! Kita harus pasang target sebanyak-banyaknya tau!"
"Terserah lo aja deh!" Kirana memilih mengabaikan celotehan Bella. Bella kalau sudah membahas soal laki-laki pasti suka lupa diri.
**
Mereka segera kembali ke kubikel masing-masing setelah menyelesaikan jam istirahat mereka. Kirana kembali memasuki ruangan Rey dan menemukan Rey tengah tertidur di meja kerjanya.
'Dia terlalu tampan untuk seorang yang sangat dingin' Tanpa sadar Kirana mendekatkan wajahnya pada Wajah Rey.
"Aku memang tampan. Kamu tidak perlu memperhatikanku sampai segitunya" Ucapan Rey mengejutkan Kirana yang tanpa sadar tengah memperhatikannya sedang tidur.
"Ah.. Apa.. Tidak kok! Saya t-tidak sedang memperhatikan bapak!" Ucap Kirana gemetaran karena ketauan sedang memperhatikan Rey diam-diam. "Baru saja saya akan membangunkan bapak"
"Aku ketiduran lagi" Rey menggeliat. Badannya terasa pegal karena posisi tidur duduk yang tidak nyaman sama sekali. Dia meregangkan tubuhnya dan lehernya. "Ran. Kamu bisa menolongku?"
"A-apa yang bisa saya bantu, pak?".
"Leherku sakit. Sepertinya salah posisi saat ketiduran tadi. Bisakah kamu memijit bahuku sebentar?"
"Hah?? A-aku????" Ucap Kirana tidak percaya dengan permintaan Rey. "Emm.. Anu pak, saya takut nanti salah urat malah tambah sakit. Bagaimana kalau saya panggilkan tukang urut?"
"Ini masih jam kerja, Ran. Aku tidak mau membuang-buang waktuku. Kamu saja yang pijit!".
Kirana celingukan, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. 'Gimana kalau ada yang lihat! Nanti orang bisa salah paham lagi!'
"Ran!?" Rey menunjuk-nunjuk bagian lehernya yang sakit.
"I-iya, pak" Kirana mendekat ke tempat duduk Rey dan memposisikan dirinya dibelakang tempat duduk Rey. Dia mulai memijit pelan bahu hingga leher Rey. 'Duhh.. Gak nyaman banget rasanya'
Rey yang merasa Kirana masih canggung itu segera menuntun tangan Kirana untuk memijitnya lebih keras. "Lebih keras, Ran". Rey sengaja menyuruh Kirana memijitnya, untuk memberinya hukuman karena sudah berani-beraninya memeluk pria lain di depan matanya sendiri.
Seolah mengerti dia mulai memijit bahu dan leher Rey dengan sungguh-sungguh. 'Keras juga bahu Rey, apa dia kurang tidur?' Kirana sebenarnya sedikit tau soal pijit memijit. Dia sendiri sering memijit bahu ayahnya jika sakit.
Dilihatnya Rey sangat menikmati pijitan Kirana yang memang sangat membuatnya nyaman. "Pak Reyfano, sepertinya bapak kurang tidur akhir-akhir ini. Bahu bapak juga keras sekali"
"Benarkah?" Rey bahkan tidak merasakan sakit di bahunya belakangan ini. Dia terlalu fokus pada kerjaan. "Pijitanmu lumayan"
"Bapak belum makan siang juga. Apa mau saya pesankan makanan?"
"Tidak perlu. Aku ingin makan masakanmu"
"Hah??" Tanpa sadar Kirana menekan bahu Rey terlalu kuat hingga membuat Rey tersentak.
"Awh, Ran! Kamu mau membunuhku!!?"
"Ah.. M-maaf, pak Reyfano. Saya tidak sengaja. Tapi apa maksud bapak tadi?"
"Aku mau makan siang. Tapi kamu yang masakin!"
"Hah??? Saya tidak salah dengar pak?"
"Apa sekarang telingamu sudah rusak!?" Rey kembali membuka laptopnya. "Cepat kamu buatkan saya makan siang!"
"T-tapi bagimana saya membuatnya?"
"Ya kamu masak lah sana! Susah amat! Sudah sana cepetan masakin!" Rey mengusirnya segera. Dia tau benar perasaan Kirana saat ini. Dia sengaja memberinya pelajaran. Rey cekikikan sendiri setelah melihat Kirana meninggalkan ruangannya.
Kirana beranjak pergi dari ruangan Rey dan menuju kantin kantor dengan perasaan bingung sambil menggerutu "Memangnya boleh ya masak sendiri di dapur kantin? Hissshh.. Rey ada-ada saja mintanya!"
**
Dalam dapur kantin kantor Rey.
"Permisi, bu. Saya Kiran. Sekretaris bapak Rey. Emm.. Boleh saya minta tolong?" Ucap Kirana agak ragu-ragu pada seorang koki yang masih berada di dalam dapur.
"Oh. Silahkan mba, ada yang bisa saya bantu?"
Kirana menjelaskan maksudnya pada koki kantin itu. Bu koki memahami apa yang Kirana maksud dan langsung memberikan izin untuknya memasak di dapur yang notabene kawasannya ibu koki.
Tanpa banyak bicara, Kirana langsung memakai beberapa bahan yang memang selalu tersedia di ruang penyimpanan dapur. Dia memikirkan masakan apa yang dia akan buat dengan bahan seadanya saja.
Setelah memilih dan memilah bahan-bahan di ruang penyimpanan, Kirana kembali ke dapur dan akan segera memasak. Dia memilih untuk memasak tumis brokoli kentang dan ayam kecap. Entah Rey suka atau tidak. Kirana hanya membuatnya saja. Soal suka atau tidak itu urusan belakangan.
Setelah 30 menit bergelut dengan celemek dapur. Kirana kembali ke ruangan Rey dengan membawa sebaki makanan untuk Rey.
"Permisi, pak Reyfano. Ini makanan bapak sudah siap" Kirana meletakkan piring nasi. Mangkuk tumis brokoli kentang dan mangkuk kecil berisi ayam kecap.
"Terimakasih. Tolong buatkan saya kopi" Ucapnya sambil matanya masih fokus pada layar laptop.
"Baik, pak" Kirana mendengus pelan. Bahkan Rey belum melihat masakan yang dia bawa. Rey hanya meliriknya sebentar dan melanjutkan pekerjaannya.
Tak berapa lama, Kirana masuk kembali ruangan Rey dengan membawa secangkir kopi panas. Rey masih saja sibuk dengan kerjaannya dan sama sekali belum menyentuh makanannya.
Kirana cemberut dan tanpa sadar mendengus keras. Membuat Rey sontak menoleh ke arahnya.
"Kamu mendengus padaku!?"
"Ah t-tidak, pak. Maaf!" Kirana kelabakan karena ketahuan kesal pada atasannya yang menyebalkan itu.
"Sedang apa kamu masih disitu? Kembali keruanganmu sana!"
"T-tapi, pak-? Ah.. Emmm.. Baiklah saya permisi" Kirana mengurungkan niatnya hendak meminta Rey segera makan masakannya. Sebenarnya dia ingin melihat Rey menyantap masakannya dan jika bisa dia juga ingin mendengar Rey memuji masakannya. Tapi sudahlah. Suka atau tidak, sama sekali tidak akan membuat Rey berhenti mengganggunya.
- Bersambung -