Siang tadi saat Kirana sedang memasak untuknya di dapur kantin. Rey menghampiri Bella dikubikelnya untuk mengajak pak Theo makan malam bisnis dengan klien.
"Pak Theo ada ditempat?" Ucap Rey cepat.
"A-ah. Pak Theo sedang dinas di luar kota untuk survei pembangunan pabrik baru dengan manager keuangan, pak Reyfano. Ada yang bisa saya bantu?"
"Bell, tolong sampaikan pak Theo, Mr. Peter meminta kita untuk datang makan malam bersama di resto hotelnya"
"Hah?? Malam ini juga, pak?" Bella sedikit terkejut. Mengingat Theo sedang berada di luar kota.
"Iya. Tolong kamu sampaikan pak Theo untuk langsung ke lokasi pukul 19 nanti malam. Akan ada pertemuan membahas kerjasama kita dengan perusahaaannya juga"
"Oh.. I-iya, pak Reyfano. Saya akan sampaikan pada pak Theo segera"
"Minta pak Theo konfirmasi langsung ke saya jika dapat hadir. Thanks".
"Baik, pak!" Rey segera berlalu setelah Bella menganggukkan kepalanya. Bella pun langsung memberi kabar pada Theo yang masih berada di luar kota. Sengaja memang Theo meninggalkan Bella disana karena urusan di pabrik baru hanya sebentar untuk memastikan pembangunan pabrik baru sudah dimulai.
**
Di kediaman Cakradhana.
Dewi yang masih sibuk dengan urusan kantornya. Dia mengerjakan semua tugasnya sebagai komisaris dirumah saja. Erik yang bertugas mondar mandir kantor-rumahnya untuk membawa dokumen atau hanya sekedar memberi informasi terbaru.
Dewi sangat mempercayai Erik. Begitupun Erik yang sangat menghormati Dewi. Karena berkat jasa keluarga Cakradhana lah dirinya mampu bangkit dari keterpurukan yang dulu dialaminya, setelah bercerai dengan ibunda Kirana, Natasya Dewani. Perusahaan yang dia rintis dari nol bersama Natasya telah gulung tikar karena dirinya yang hancur.
Setiap orang memiliki kenangan masa lalu yang kelam. Begitupun Erik, ayah Kirana. Saat Kirana masih belum genap berusia 1 tahun, Erik tertangkap basah sedang selingkuh dengan rekan kerjanya sendiri yang juga teman dekat Natasya. Natasya yang mengetahui kenyataan itu lantas pergi dan menceraikan Erik.
Semenjak itu hidup Erik berantakan dan bisnisnya pun ikut hancur. Dia sangat frustasi karena Natasya, istrinya adalah orang yang paling dia cintai telah meninggalkan dia. Dia tega mengkhianati cinta mereka berdua karena cinta sesaatnya dengan wanita jalang itu.
Saat itulah Erik bertemu Mahendra, suami Dewi, pemilik Cakradhana Group. Dia membawa Erik yang sedang terpuruk dalam hutang dan membuatnya bangkit kembali menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Karena itulah Erik sangat berhutang budi dengan keluarga Cakradhana.
"Terimakasih, Erik. Kamu yang selalu saya andalkan". Ucap syukur Dewi karena Erik begitu setia membantunya.
"Apa yang saya lakukan tidak akan bisa membalas kebaikan anda dan Tuan Mahendra, Nyonya. Saya sangat bersyukur bertemu dengan kalian."
"Saya juga senang bisa membantumu, Erik. Jangan sungkan jika kamu membutuhkan bantuanku, ya!"
"Baik, nyonya" Ucap Erik penuh hormat. Dia memang sengaja memanggil Dewi dan Mahendra dengan sebutan Nyonya dan Tuan. Sampai kapanpun dia harus tetap ingat dengan posisinya.
"Erik. Bagaimana dengan Kirana anakmu?"
"Kirana baik-baik saja, Nyonya. Dia masih bekerja sebagai sekretaris Rey"
"Apa dia betah disana? Saya harap begitu, Erik. Rey masih butuh banyak penyesuaian. Dan sepertinya Kirana sudah sangat cakap dengan pekerjaannya. Padahal dia masih sangat baru. Saya senang sekali saat melihatnya, Erik. Dia persis sekali denganmu yang selalu semangat untuk bekerja" Ucapan Dewi dibalas senyuman lebar Erik. Anaknya yang satu itu memang selalu menjadi kebanggaannya.
"Saya selalu bersyukur, nyonya. Dia tumbuh menjadi anak yang baik walaupun tanpa ibunya. Saya selalu diliputi rasa bersalah padanya jika mengingat masa lalu saya yang membuatnya harus terpisah dengan ibu kandungnya sendiri". Erik menundukkan kepalanya, kesalahannya lah yang membiarkan istrinya pergi meninggalkan dia dan Kirana.
"Sudahlah, Erik. Kamu membesarkannya dengan sangat baik. Makanya dia tumbuh menjadi anak yang baik. Tugas kamu sekarang adalah memastikan kebahagiaannya"
"Baik, nyonya. Terima kasih atas perhatian nyonya pada anak saya, Kirana" Rey pamit sambil membereskan dokumen yang selesai ditandatangani oleh Dewi. "Saya permisi kembali ke kantor, nyonya"
"Baiklah. Hati-hati dijalan, Erik". Dewi menatap pergi Erik yang menghilang dibalik pintu. Batinnya mengingat masa lalu Erik yang pontang panting membawa Kirana saat masih kecil. Dia membesarkan Kirana tanpa istrinya dan berusaha bangkit dari keterpurukannya. Perjuangannya sangat berat. Disisi lain dia kehilangan istri serta bisnisnya hancur dan di sisi lain juga dia harus menjadi ayah tunggal dari anaknya yang masih bayi.
**
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Hampir waktunya pulang. Tapi Rey masih juga belum menyentuh masakan Kirana. Sebenarnya bukan karena masakan Kirana tidak enak. Hanya saja memang Rey sengaja mengerjainya. Diapun sedang sangat sibuk. Jadi belum ada waktu untuk makan siang.
Kirana kembali ke ruangan Rey. Dia masih melihat masakannya utuh belum disentuh sama sekali oleh Rey. Sengaja Kirana menutup makanan Rey dengan plastik wrap agar nasinya tidak cepat kering dan makanannya tidak kotor.
"Pak Reyfano, ada yang bisa saya bantu biar pekerjaan bapak cepat selesai?" Rey mengabaikan pertanyaan Kirana. Dia masih serius dengan pekerjaannya.
"Pak Reyfano, bapak belum makan apapun sejak tadi pagi. Sarapan tadi pagi itupun juga kan cuma sedikit. Kenapa makanannya belum dimakan??" Kirana mengulangi menambah pertanyaannya dengan pertanyaan baru. Dia mulai khawatir bos nya itu telat makan. Jujur sekali Kirana sangat khawatir dan tidak ingin Rey sakit.
"Tadi pagi aku sudah menyuapimu. Sekarang gantian dong!"
"Apa????"
"Kiran!? Apa ucapanku begitu kurang jelas!? Kenapa kamu terus bertanya bukannya cepat dikerjakan!" Ucap Rey sedikit membentak Kirana. Dengan wajah setengah kesal, Kirana membawa makanan Rey ke meja kerjanya. Dia mendorong sebuah kursi dekat dengan kursi duduk Rey dan mulai menyendokkan nasi dengan sepotong ayam dan brokoli.
"Pak Rey? Hm..!" Kirana menyodorkan sendok yang berisi nasi itu ke bibir Rey. Matanya yang masih fokus ke layar laptop beralih melihat apa yang disodorkan Kirana padanya lalu dengan cepat membuka mulutnya dan melahab habis makanan itu.
"Ran?"
"Hmm? Iya, pak?"
"Kamu masih ingat makanan kesukaanku?" Rey terdiam, menatap lekat wajah Kirana.
"Makanan kesukaan bapak?" Kirana bingung dengan ucapan Rey. Matanya beralih ke piring makanan yang berada di tangannya.
"Aku paling suka brokoli tumis seperti ini, Ran!"
"T-tidak, pak. Saya hanya asal memasak tadi dengan bahan seadanya di dapur kantin"
Wajah Rey berubah murung dan tertunduk lesu. Dia berharap Kirana benar-benar ingat tentangnya lagi. Kirana merasa sangat bersalah pada Rey. Bayang-bayang wanita itu sangat lekat padanya. 'Kapan kamu hanya menatapku hanya sebagai Kirana yang berada didepanmu saat ini, Rey'
"Kok kamu tidak makan?" Rey berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa saya harus ikut makan, pak?" Tanya Kirana lesu.
"Mana aku tau kamu mungkin berniat meracuniku dengan makanan ini!"
Kirana mendengus sebal. Dia menyendokkan makanan untuknya juga lalu melahapnya. "Nih, pak. Saya sudah cobain makanan bapak! Nanti kalau bapak kenapa-kenapa, saya juga pasti kena!"
Rey tersenyum tipis. Memang begitu cara Rey membuat Kirana makan satu sendok dengannya. Disuapi Kirana langsung lagi. Makan siangnya kali ini terasa sangat istimewa karena Kirana sendiri yang memasaknya dan menyuapinya.
"Kamu yakin ini masakanmu sendiri? Jangan-jangan kamu minta bu Koki buat masak ini lagi!"
"Astaga, pak Reyfano! Saya sendiri yang sudah memasaknya di dapur kantin. Ibu koki juga melihatnya kok. Saya juga sama sekali tidak memasukkan racun dimakanan bapak!"
Rey tersenyum menang. Dia sekali lagi sukses membuat Kirana kesal dan kelabakan. 'Ini hukumanmu karena berpelukan dengan pria lain di belakangku, Kirana!'
Kirana terus menyuapi Rey hingga makanan dipiring Rey habis. Kirana masih saja cemberut meski begitu dia sangat senang bisa membuat Rey manja padanya. Keinginannya hanya satu. Membuat Rey melupakan 'wanita itu' dan membuatnya melihat bahwa inilah Kirana yang sebenarnya.
Rey memperhatikan ekspresi Kirana dengan rasa bersalah. Dia sangat bahagia jika Kirana mau menerimanya. Tetapi egonya lebih besar daripada dia harus memelas cinta dari perempuan yang sengaja melupakannya.
"Saya permisi mengembalikan piringnya dulu ke dapur, pak Reyfano" Ucap Kirana menunduk sambil membereskan peralatan makan yang sudah dilahab habis oleh Rey.
Dengan cepat Rey menarik tangan Kirana hingga dirinya terjatuh tepat di pangkuan Rey. Kedua tangannya menangkup pinggang kecil Kirana.
"Pak Reyfano! Tolong lepaskan!"
- Bersambung -