Dengan cepat Rey menarik tangan Kirana hingga dirinya terjatuh tepat di pangkuan Rey. Kedua tangannya menangkup pinggang kecil Kirana.
"Pak Reyfano! Tolong lepaskan!" Kirana memberontak, tangannya mencoba melepaskan pelukan Rey pada tubuhnya, namun dia hanya mampu berucap lirih tanpa berani berteriak. Dia takut ada orang lain yang memergoki mereka.
"Terimakasih makanannya, Ran" Rey menyandarkan kepalanya pada punggung Kirana yang berada di pelukannya saat ini. Dia merasa hangat. Kirana yang selalu bersikap dingin padanya adalah sumber kehangatannya yang selalu dia cari selama ini.
Rey mengabaikan Kirana yang memberontak, namun pelukan Rey semakin erat. Dia tidak perlu khawatir bila ada yang melihat. Ruangannya sudah tertutup tirai sejak dia meminta Kirana menyuapinya. Dan pintunya sudah pasti dia kunci terlebih dahulu.
"Pak Reyfano tolong! Ini di kantor! Bagaimana jika ada yang melihat!?"
"Aku tidak peduli. Aku hanya tinggal bilang kamu yang menggodaku. Selesai!"
Kirana melepas pelukan Rey dan dengan cepat bangkit dari pangkuan Rey. Dia menatap Rey tajam. 'Bisa-bisanya kamu mengatakan itu, Rey!' Batinnya mengerutuki sikap Rey padanya.
"Saya permisi dulu!" Ucap Kirana dengan cepat meraih remote kunci pintu otomatis yang berada di laci meja Rey dan berlari menuju pintu keluar.
"Cepat kembali. Saya ada pekerjaan penting buat kamu!"
Kirana berbalik badan dan mendengus kasar. "Baik, pak". Dia merasa sangat kesal namun dia berusaha profesional walaupun dirinya sedang diliputi rasa kesal karena sikap Rey. Dia kemudian berlalu meninggalkan ruangan Rey menuju dapur kantin
**
Di dalam ruangan kantor Rey.
"Nanti malam saya akan ada pertemuan dengan Mr. Peter di Resto hotel Universe bersama pak Theo. Reservasi sudah dibooking pak Theo. Tugas kamu tolong rapikan data yang sudah saya buat ini dalam bentuk serapih mungkin. Tampilannya tidak boleh terlalu berat. Karena acara malam ini sebenarnya hanya acara makan malam bersama. Yang penting kamu ambil intinya biar tidak terlalu panjang". Rey berjalan mondar mandir sambil menjelaskan apa yang harus dikerjakan Kirana.
Kirana duduk dikursi Rey dan segera mengerjakan perintah Rey di ruangannya tanpa banyak bertanya.
"Baik, pak" Ucap Kirana singkat. Netranya masih fokus menatap layar laptop untuk mengerjakan perintah Rey.
Rey yang sedari tadi belum istirahat, baru merasakan tubuhnya yang pegal-pegal karena terlalu fokus bekerja. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa panjang dengan posisi tidur. Wajahnya tepat menatap Kirana yang sedang sibuk mengutak atik laptopnya.
"Ran?" Ucapnya dengan posisi masih tetap berbaring.
"Iya, pak?" Kirana menoleh ke arah Rey yang berbaring di sofa panjang. Wajahnya memerah ketika mengetahui Rey memperhatikannya sejak tadi. Dia segera menundukkan kepala dan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Aku ingin tidur sebentar. Jika sudah selesai tolong kamu bangunkan aku"
"B-baik, pak"
Rey sudah memejamkan matanya tanpa banyak berkata-kata lagi. Tubuhnya cukup lelah dengan pekerjaannya hari ini. Dengan tidur sebentar saja cukup untuk mengurangi rasa lelahnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 lebih. Jam kerja mereka sudah habis satu jam yang lalu. Semua karyawan lain sudah meninggalkan kantor dan hanya tinggal Rey dan Kirana yang masih lembur. Kirana yang masih fokus dengan pekerjaannya diam-diam mengalihkan pandangannya pada Rey yang tengah tertidur pulas. 'Cepat sekali tidurnya. Pasti dia sangat kelelahan' Kirana menatapnya iba.
Kirana segera beranjak dari duduknya setelah menyelesaikan pekerjaannya dan menghampiri Rey yang masih berbaring di sofa panjang. Kirana dengan hati-hati melepas sepatu kerja Rey yang masih melekat di kakinya dan akan membiarkannya istirahat lebih lama lagi.
Dia mendekati wajah Rey dan mengamatinya dengan seksama. "Kamu sudah bekerja keras, Rey. Kamu pasti akan mencapai apa yang kamu inginkan" Kirana berbisik lirih pada Rey. Dia segera bangkit. Takut ketahuan Rey lagi jika dia tengah memperhatikan Rey saat sedang tidur.
"Kamu mau kemana?" Rey dengan cepat menarik kembali lengan Kirana yang hendak beranjak dari duduknya. Entah bagaimana caranya tubuh Kirana kini berada dalam dekapan tubuh Rey yang sedang berbaring. Rey mendekap erat tubuh Kirana dari belakang. Kirana mencoba meronta melepaskan diri dari pelukan Rey.
"P-pak Reyfano. Tolong lepaskan! Maaf saya tidak bermaksud membangunkan bapak tadi!" Ucap Kirana kelabakan. Dia merasa bersalah telah mengganggu tidur Rey.
"Aku sudah terbangun sejak kamu melepas sepatuku. Kamu harus tanggung jawab karena membuatku bangun!"
Kirana masih meronta mengabaikan ucapan Rey. Rey dengan sengaja mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Kirana hingga Kirana dapat merasakan ada sesuatu yang mengganjal mengenai di tepat di pinggulnya. Kirana mematung dan memejamkan matanya erat.
"Maaf, Ran. Aku masih belum bisa menahan diriku ketika dekat denganmu. Meski aku terus mengatakan hal yang buruk padamu. Tetap saja tubuhku masih menginginkanmu". Rey membalikkan tubuh Kirana dan tangannya meraih tengkuk Kirana. Posisi mereka masih berbaring di sofa panjang yang berada diruangan Rey dengan tubuhnya yang ditindih Rey. Rey menatap netra Kirana yang masih terpejam. Kirana tak berani menatap wajah Rey. Dia selalu takut jika semakin jatuh cinta pada Rey.
"Ran?" Rey meminta Kirana membuka matanya dan balik menatapnya. Kirana membuka pelan-pelan matanya. Dia refleks memalingkan wajahnya yang berada sangat dekat tepat didepan wajah Rey. Rey menahan tengkuk Kirana membuatnya tak bisa menjauh.
"Rey, please jangan seperti ini! Ini dikantor! Aku tidak mau orang lain melihat dan berfikir yang tidak-tid-, Eeummh-!"
Rey mengabaikan ucapan Kirana. Dia dengan cepat membungkam bibir Kirana dengan bibirnya. Tak hanya selesai dengan kecupan. Bibir Rey mulai nakal melumat habis bibir manis Kirana yang hanya dioles dengan liptint tipis beraroma stroberi. Tubuh Kirana seolah menjadi candu bagi Rey. Dia sama sekali tidak berminat menyentuh wanita manapun lagi selain Kirana.
"Eummh.. R-rey. Lepaskan!" Nafasnya terengah-engah. Dia berhasil melepaskan diri dari Rey. Hampir saja dia terlena dengan sentuhan bibir Rey yang menghipnotisnya. Kirana mendorong Rey dan segera beranjak keluar ruangan Rey untuk menjauhinya. Dia pergi dan mengunci dirinya dalam toilet wanita yang berada tak jauh dari ruangan Rey. Meninggalkan Rey sendiri dalam kekhilafannya.
"Ssial! Kenapa sangat sulit menahan diriku saat dekat denganmu, Ran!" Rey menggerutu pada dirinya sendiri yang selalu lepas kontrol jika bersama Kirana. Dia terduduk dan mendekap kepalanya yang tidak sakit.
"Mengapa kamu terus menghindariku, Ran!? Apa salahku padamu?"
**
Kirana kembali ke kubikelnya segera setelah hampir setengah jam mengurung diri di dalam toilet wanita. Dia tentu saja menghindari Rey. Semakin lama dia berada di dalam toilet mungkin Rey akan meninggalkan dia dan pulang lebih dulu. Dia mengintip dalam ruangan Rey. Namun semua sudah gelap dan terkunci, segera dia merapikan mejanya dan bergegas pulang tanpa berfikir apapun.
Waktu sudah hampir pukul 6 malam. Didalam kantornya sudah tidak ada orang satupun. Kirana ingin segera pulang dan mandi. Malam ini dia sudah berjanji pada Zayn untuk makan malam bersama. Dia menunggu di depan kantornya dan memesan ojek online yang akan mengantarnya pulang.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depannya. Mobil yang sangat dihafal Kirana. Tidak lain dan bukan adalah mobil Rey.
"Cepat masuk!" Ucap Rey dari dalam mobil dengan sedikit berteriak.
"Aku sudah memesan ojek online tadi, Rey. Kamu duluan saja!" Kirana terbata-bata masih sungkan untuk bersama satu mobil dengan Rey.
"Kamu harus ikut kerumahku. Satu jam lagi aku sudah harus sampai di hotel. "
"A-apaa??? Mengapa harus kerumahmu?" Kirana kebingungan mendengar ucapan Rey. Dia sudah memiliki janji dengan Darrel malam ini. "Rey. Aku sudah punya janji malam ini. Untuk apa aku harus ikut kerumahmu?"
"Makanya jangan suka langsung kabur!" Kirana bingung dengan apa yang harus dia lakukan. "Cepat masuk!"
"Baiklah-baiklah. T-tunggu sebentar, Rey. Itu ojek pesananku akan segera datang. Biarkan aku membayarnya dulu". Kirana tetap menunggu supir ojek yang sudah dia pesan tadi dan akan membayar ganti ruginya karena membatalkan sepihak. Selang 5 menit ojekpun datang. Kirana segera menghampiri ojek itu dan kembali ke tempat mobil Rey berhenti.
Kirana segera membuka pintu mobil dan duduk di kursi depan samping Rey yang akan mengemudi seperti biasa. "Rey, maaf. Tapi malam ini aku sudah punya janji. Apa yang bisa ku bantu?"
"Kamu harus tanggung jawab dengan pekerjaan kamu, Ran! Aku belum mengecek dokumen yang kamu kerjakan tadi. Aku sudah menunggumu lama di kantor dan kamu malah langsung kabur begitu saja!"
Kirana cemberut 'Salah kamu sendiri main peluk cium sembarangan' Batinnya mengerutuki sikap Rey tadi padanya. "Hm iyaa.. Baiklah aku ikut"
- Bersambung -