Rey melajukan mobilnya menuju kediaman Cakradhana. Ponsel Kirana berdering tanda satu pesan masuk. Dia segera membukanya setelah dilihatnya nama kontak Zayn muncul di layar ponselnya. Kirana melirik Rey yang masih fokus mengemudi.
From : Laoge
Sebentar lagi aku akan menjemputmu,
cantik.
Kirana membaca pesan Zayn membelakangi Rey yang ada disampingnya. Dia sangat tau Rey tidak akan menyukainya.
To : Laoge
Hmm.. Maaf kak, aku masih ada sedikit
urusan. Atau kita undur saja kak makan
malamnya?
Form : Laoge
Jangan dong, Ran! Aku sudah pesan
tempat untuk dinner kita malam ini.
Kamu tega membuatku kecewa?
To : Laoge
Maaf ya kak! Nanti kalau urusanku
sudah selesai aku kabari lagi ya?
Kirana menghela nafas panjang. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya dulu baru bisa bertemu dengan Zayn.
Rey yang sedari tadi fokus mengemudi tak hentinya memperhatikan Kirana yang sibuk dengan ponselnya. "Apa sepenting itu janjimu?"
"Hah? Emm.. Tidak apa-apa, Rey"
Rey mengerutkan dahinya. 'Pasti laki-laki. Kita lihat saja seberapa lama dia tahan menunggumu. Akan kubuat kamu sibuk denganku, Ran'
**
Tak berapa lama mobil Rey memasuki halaman kediaman Cakradhana. Kirana segera turun membawakan laptop dan tas kerja milik Rey dan menunggu Rey yang memutar mobilnya agar lebih cepat keluar nanti saat dia akan berangkat ke hotel.
Rey dan Kirana memasuki kediaman Cakradhana. Ini kedua kalinya Kirana datang kerumah Rey. Besar dan megahnya rumah Rey sudah cukup membuat Kirana berkecil hati. Kirana sama sekali tidak memikirkan harta atau kedudukan Rey yang sekarang sudah berbeda dengan kehidupannya dulu. Dia hanya merasa Rey semakin jauh diatasnya. Tidak mungkin dia mengharapkan sesuatu yang lebih dari Rey. Apalagi dihati Rey sudah ada wanita itu.
"Loh Rey? Kok kamu baru pulang jam segini?" Ibu Rey mendekati Rey yang langsung mencium punggung tangannya.
"Rey ada lembur hari ini, bu. Nanti pukul 19 Rey sudah harus pergi lagi buat dinner"
"Rey? Dia?" Windi melirik Kirana yang berada selangkah dibelakang Rey.
"Ah.. Emm Kirana masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, bu". Kirana menyunggingkan senyumannya pada Windi dan menundukkan kepalanya. "Rey masuk ke kamar dulu ya, bu. Ayo cepat, Ran!"
Kirana menganggukkan kepalanya pada Windi dan langsung mengikuti Rey yang sudah menaiki tangga rumahnya dengan langkah cepat. "Rey! Kenapa harus dikamar kamu? Aku bisa mengerjakannya diruang tamu".
"Kamu sudah selesai mengerjakannya. Kamu tinggal menjelaskannya padaku saat aku bersiap-siap. Kamu jangan berfikiran yang aneh-aneh! Karena begini lebih cepat". Sebenarnya Rey sudah mengerti benar isi dokumen yang dibuat Kirana. Tetapi dia sengaja mengulur waktu agar Kirana batal bertemu dengan janjinya.
Kirana mendengus kasar. Dia sangat sungkan jika harus masuk ke kamar pribadinya Rey. Saat Rey membuka pintu kamarnya dan mempersilahkannya masuk, Kirana hanya terdiam di depan pintu kamar Rey.
"Cepat masuk! Waktuku sudah hampir habis"
Dengan langkah ragu, Kirana memasuki kamar Rey. Netranya beredar ke seluruh penjuru kamar Rey. Sama seperti rumahnya. Kamar Rey juga besar dan megah. Hampir 3x ukuran kamarnya. Dengan nuansa abu hitam sarat akan kesan maskulin. Rey mempersilahkannya duduk di kursi kerja yang berada di kamar Rey.
"Tunggu disini, aku akan mandi dengan cepat".
Kirana hanya mengangguk. Dia segera membuka laptopnya dan membenahi dokumen yang akan Rey bawa nanti. Sesekali Kirana melirik pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar tidur Rey. Dia menelan salivanya berat. Takut tiba-tiba Rey keluar dan melihat yang membuatnya berfikiran kotor. 'Apaa sih yang ku pikirkan!' Kirana tanpa sadar memukul-mukul kepalanya sendiri.
Dan benar. Tak lama, Rey keluar dari kamar mandinya hanya dengan berbalut bathrobe dark grey dengan rambut basah yang masih acak-acakan. Rey sengaja menggoda Kirana, gadis yang selalu dicintainya kini berada berdua dengannya di kamarnya sendiri. Dia melirik Kirana yang memalingkan wajah darinya.
"Kamu bisa mulai menjelaskannya sekarang".
Kirana dengan terbata-bata menjelaskan semua inti yang harus dia ajukan nanti saat pertemuan. Dia sengaja memalingkan wajahnya saat menjelaskan tanpa melihat ke arah Rey yang juga sibuk berbenah. Kirana merasa gerah harus berada dalam situasi seperti ini dengan Rey. Berulang kali dia menarik nafas panjang. Rey tersenyum puas karena berhasil menggoda Kirana.
"Sudah, Rey. Hanya itu saja intinya" Ucap Kirana sambil membereskan kembali dokumen dan laptop milik Rey. Dia bergegas ingin segera keluar dari kamar Rey. "Aku permisi turun kebawah dulu Rey"
Kirana bergegas menghampiri pintu kamar Rey tanpa menghiraukan Rey. Kepalanya mengantuk tubuh Rey yang dengan sengaja berdiri menghalangi pintu keluar. "Aauh..!" Kirana mengelus dahinya dan mendongak ke arah wajah Rey yang berada tepat di depannya.
"Kamu mau kemana?!"
"Aku sudah selesai menjelaskan, Rey. Biarkan aku keluar" Kirana kembali berusaha meraih gagang pintu kamar Rey. Tetapi Rey menahannya.
"Kata siapa kamu sudah selesai? Kamu tidak mau mandi dulu disini?"
"Hah???" Kirana membelalakkan matanya. "Tidak perlu, Rey. Aku bisa segera pulang dan mandi dirumah"
Rey kembali memeluk paksa Kirana. Tetapi Kirana memberontak dan berhasil melepaskan diri dari Rey. Kesempatan berdua dengan Kirana di kamarnya seperti ini sangat berharga bagi Rey. 'Andai saja malam ini tidak perlu pergi dinner. Sudah kuhabiskan kamu, Ran'.
Kirana segera keluar dari kamar Rey yang terasa sesak walaupun kamarnya luas dan dingin. Berdua dengan Rey adalah hal tersulit baginya. Bernafas saja terasa sangat berat. Dia harus selalu menjadi bayang-bayang wanita itu bagi Rey adalah alasan yang terbesarnya untuk menjauhi Rey. Dengan nafas masih terengah-engah Kirana masih berdiri menenangkan diri didepan pintu Rey setelah ditutupnya kembali dari luar.
"Kirana?" Kirana terperanjat mendengar suara memanggilnya lembut. Dia sontak menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya.
"O-oma Dewi..". Kirana segera menghampiri Dewi yang juga terkejut melihat Kirana tiba-tiba keluar dari kamar Rey. Dia segera meraih punggung tangan Dewi dan menciumnya lembut. "M-maaf oma, s-saya.."
"Kamu baru saja pulang dari kantor kan? Pasti belum mandi juga! Ayo turun dulu! Kamu bisa memakai kamar tamu untuk mandi".
"T-taapi, oma-"
"Saya sudah tau kamu disini tadi datang bersama Rey. Kalau urusanmu dengan Rey sudah selesai. Ayo ikut makan malam disini dulu". Dewi meraih lengan Kirana dan membawanya ke kamar tamu di lantai bawah. "Mandilah dulu. Bersihkan dirimu. Pasti sangat lelah kan seharian ini bekerja dengan Rey".
Kirana tak sanggup berkata-kata. Dirinya sudah tak enak hati karena dengan lancang berada berdua di kamar Rey. Dia hanya sanggup mengiyakan permintaan Dewi.
Dewi mengantarnya ke kamar tamu untuk membersihkan diri. Dia meminta pelayan untuk mengambilkan baju ganti untuk Kirana. Tentunya baju yang baru. Kebetulan sekali Dewi baru saja menerima model baju keluaran terbaru dari desainer langganannya untuk fashion show di butik miliknya.
"Pakai baju ini, nak. Sepertinya ukuran baju ini pas untukmu"
"T-terimakasih, oma. Maaf merepotkan"
"Bukan kamu yang minta kan? Sudah dipakai saja. Kita tunggu di meja makan ya.."
Kirana mengangguk pelan. Dewi menutup kembali pintu kamar tamu yang ditempati Kirana. Dia teringat untuk memberi kabar pada Zayn tentang keterlambatannya.
To : Laoge
Kak, aku akan terlambat datang. Kakak
makan saja duluan. Urusan Kiran belum
selesai.
From : Laoge
Aku akan menunggumu, jadi cepatlah
datang! Oke!
Kirana segera membersihkan dirinya di kamar mandi dalam kamar tamu. Secepat mungkin karena dia juga harus datang menemui Zayn.
**
At James Mansion.
James duduk bersandar di sofa panjang ruang tengah mansionnya dan masih sibuk berkutat dengan ponsel terbaru miliknya. Dia tengah menunggu sang perempuan penggoda yang saat ini menguasai gairahnya itu turun dari kamarnya. Kinara, gadis yang dia beli dan dia sekap di kamar tamu lantai 2 mansionnya akan segera pergi bersamanya untuk menghadiri pesta salah satu kolega bisnisnya.
"Woaaaahh...! You look so damn georgeus, honey". Puji James pada Kinara. James sontak berdiri dari duduknya. Mata tajamnya kini tengah menatap wanitanya yang berdiri anggun dengan balutan dress sexy yang kekurangan bahan.
Dress panjang tanpa lengan itu menjulang hingga mata kaki, berwarna maroon dengan bahan kain satin premium dan nomer satu. Dress itu begitu memeluk tubuh Kinara yang terekspose sempurna. Gaun backless hingga pangkal punggungnya itu juga menunjukkan belahan p******a ranumnya yang menggoda. Dengan satu belahan samping kiri dari bawah hingga menyisakan satu setengah jengkal dari pinggulnya. "Kau yakin membawaku kesana dengan gaun ini?" Ucap Kinara sedikit ragu dengan apa yang dipakainya.
Selama ini memang Kinara selalu memakai pakaian sexy, tetapi kali ini benar benar-benar terlalu terbuka. Tubuhnya begitu tampak menggairahkan bagi lelaki manapun yang menatapnya.
"You're perfect, honey! Aku tidak bisa menahan diriku saat melihatmu memakai ini!". James meraih tubuh Kinara membelai tubuh sintal Kinara dengan tangannya yang lihai dari pangkal pahanya hingga kepunggung Kinara lalu dengan cepat dia meraih tengkuk Kinara dan melumat bibirnya rakus.
- Bersambung -