"T-tapi, kak!?" Kiran masih bingung dengan ucapan Siska. "Kenapa tiba-tiba Kiran?"
"Tubuh lo sempurna banget, say! Lo akan menjadi satu-satunya model gue asal Asia. Lo mau kan bantuin gue????????" Rayuan tingkat maut khas Siska yang selalu membuat siapapun tak bisa menolaknya. "Pliiisssss"
Kirana melirik kembali Zayn yang disambut dengan anggukan dan senyuman khas miliknya. "Tuh kan denger! Bukan cuma aku yang bilang kamu sempurna". Ucap Zayn berusaha meyakinkan Kirana yang masih ragu. Seperti sebelumnya, Zayn selalu menjadi pengagumnya. Ya, pengagum rahasia Kirana.
Wajah Kirana seketika merona mendengar kedua seniornya ini memujinya. Terlebih sang kakak. Lagi-lagi rasa mindernya lebih menguasai. "Kiran gak ada bakat sedikitpun jadi model, kak. Kiran takut nanti malah bikin malu kak Siska".
"Jangan panggil gue Fransiska kalo gue ga bisa bikin lo bersinar". Ucapnya percaya diri.
Zayn tersenyum meyakinkan Kirana, dia mendukung keinginan Siska untuk menjadikannya model karena dia sangat tau Kirana mampu meski dirinya sedikit introvert. Zayn hanya ingin dia lebih bisa mengekspresikan bakat dirinya.
Kirana pun hanya bisa menuruti keinginan Siska. Dia tau Siska adalah orang yang baik, sama seperti kakak kesayangannya, Zayn. Dia tidak akan mungkin mampu membuatnya kecewa.
"Oiya? Kog lo bisa dipinjemi baju oma Dewi? Lo masih sodaraan sama oma Dewi?"
"Ng-nggak kak, Kiran cuma mampir sebentar tadi setelah selesai lembur kerjaan dirumah oma Dewi, bos Kiran itu cucunya oma Dewi"
"Cucu? Cucu yang mana ya, say? Bukankah oma Dewi hidup berdua saja dengan suaminya?"
"Ooh.. Jadi ceritanya begini..." Kirana bercerita panjang lebar mengenai ditemukannya kembali cucu tunggal Cakradhana. Siska terlihat sangat antusias dengan cerita Kirana karena memang dia berhubungan sangat baik dengan oma Dewi yang dikenalnya dari mamanya. Oma Dewi juga salah satu langganan baju hasil designnya.
Kening Siska mengernyit seperti teringat sesuatu. Dia mengingat seseorang yang menabraknya tadi dan memberinya kartu nama. Senyum seringainya menghiasi bibir merahnya. 'Sepertinya aku akan segera bertemu dengannya lagi'
**
Hari ini seperti biasa Rey menjemput Kirana untuk berangkat ke kantor bersama. Aura pembunuh menyelimuti dirinya. Kejadian semalam cukup membuatnya emosi dan tidak bisa tidur dengan tenang.
Kirana membuka pintu mobil Rey setelah mengetuknya 2 kali setibanya Rey di depan gerbang rumahnya. Dan benar, Kirana merasakan ada yang aneh dengan Rey. Rey hanya diam dan segera melajukan mobilnya menuju kantor. Menatap kosong jalanan didepannya dan seringkali memukul kemudi tanpa sebab. Wajahnya sangat dingin dan penuh amarah.
"Rey?" Kirana memberanikan diri bertanya pada Rey. "Kamu baik-baik saja?"
Rey tidak menjawab sama sekali. Dirinya masih fokus pada jalanan dan amarahnya.
Setibanya di kantor, Rey masih diam. Tanpa sedikitpun senyum apalagi sapaan yang setiap hari dia berikan pada setiap karyawan yang dia temui. Semua menatap bingung dengan sikap Rey hari ini. Kirana hanya mengendikkan bahunya untuk menjawab setiap isyarat pertanyaan rekan kerjanya mengenai mood buruk atasannya itu.
Kirana berhenti di kubikelnya dan menatap atasannya itu memasuki ruangan dengan tanpa menghiraukan dia sama sekali. Dia semakin khawatir pada Rey.
"Ran? Kenapa tuh si boss? Auranya mencekam sekaliii"
Kirana menjawab tanpa meloleh ke asal suara karena sudah tau siapa pemilik suara cantik itu. "Entahlah, Bell. Dari tadi dia diem. Gak mau ngomong sama sekali. Sepertinya dia sedang ada masalah". Pandangannya masih tertuju pada Rey yang dengan asal melempar jas maroon yang senada dengan celananya hari ini ke sofa dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya dengan kasar.
"Ganteng-ganteng kalo lagi emosi kog ngeri yaa"
"Ya udah, Bell. Gue masuk kesitu dulu ya!"
"Hem... Doa yang banyak, Ran! Salah-salah lu jadi sasaran amukan lagi"
Kirana segera meninggalkan Bella yang masih kepo. Dia memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Rey setelah membuatkannya kopi.
Tok tok..
"Permisi pak Reyfano. Ini kopi pagi untuk pak Rey" Kirana memasuki ruangan Rey dengan penuh hati-hati. Benar kata Bella, salah dikit bisa jadi sasaran amukan. Dilihatnya Rey masih terduduk di kursi kerjanya dengan tangan kiri yang memijat keningnya.
Kirana hanya berdiri diam tak berani mengeluarkan sepatah katapun lagi setelah meletakkan kopi Rey di mejanya. Dalam benaknya muncul beribu pertanyaan. Namun tak satupun dia tanyakan.
"Kamu mau berdiri disitu sampe kapan ha!? Kenapa tidak segera kamu bacakan agenda saya hari ini!?!".
"Ah- i-iya, pak Reyfano. Maaf. Agenda bapak hari hanya meeting dengan ibu Celine dari bagian keuangan pukul 10 nanti terkait monitoring report financing". Ucap Kirana dengan sedikit mencuri pandang pada Rey yang bahkan tidak melihatnya sama sekali. "Oh. Iya pak Reyfano. Lusa bapak ada agenda kunjungan ke lokasi pembangunan pabrik baru di pusat kota bagian selatan. Bapak harus berangkat dari pagi karena karyawan cabang disana akan hadir dan menyambut bapak pukul 9, mengingat perjalanan ke tujuan memakan waktu hampir 2 jam".
Kirana masih memperhatian atasannya itu dengan penuh tanda tanya. Sudah sering kali Rey membuatnya bingung dengan sikap yang Rey tunjukkan padanya. Namun diam adalah salah satu yang Kirana benci.
"Pak Reyfano?". Kirana kembali memanggil Rey karena Rey belum memberikan respon pada agenda yang dia bacakan. "Bapak baik-baik saja?" Akhirnya dia memberanikan diri kembali bertanya setelah melihat Rey tak lagi memijat keningnya dan masih terdiam.
"Pak Rey, apa pertemuan kemarin dengan Mr. Peter terjadi masalah? Apa dokumen yang saya ringkas terdapat kesalahan, pak??"
Kirana membungkukkan badannya memohon maaf jika memang itu benar terjadi. "Saya akan bertanggung jawab jika saya melakukan kesalahan kemarin, pak!"
"Lupakan! Ini bukan tentang pertemuan dengan Mr. Peter". Jawab Rey masih ketus.
"Lalu ada apa dengan Pak Reyfano? Maaf jika saya melakukan kesalahan pada bapak. Saya mohon untuk langsung menegur kesalahan saya".
Ucapan Kirana sukses membuat kursi Rey berputar dan membuatnya menghadap Kirana yang masih berdiri di sebelah meja kerja Rey. Rey masih menatapnya tajam dan dingin.
"Keluarlah! Saya sedang tidak ingin bertemu denganmu". Kali ini dengan suara lebih tinggi. "Lebih baik kamu tinggalkan saya sendiri. Ingatkan saya nanti pukul 10".
Kirana hanya terpaku atas jawaban Rey. Dirinya merasa tidak melakukan kesalahan namun Rey bersikap seolah Kirana telah melukai hatinya parah.
Mau tidak mau dia harus meninggalkan ruangan Rey setelah Rey kembali memutar kursinya membelakangi Kirana. Dia kembali ke kubikelnya dengan rasa bersalah. 'Sebenarnya dia kenapa!? Aneh sekali'.
**
Setelah meeting dengan bagian marketing agenda Rey hari ini cukup senggang. Dia masih sangat emosi mengingat kejadian semalam dimana Kirana dinner hanya berduaan dengan Zayn. Api cemburu dalam dadanya masih berkobar-kobar. Dia sendiri bahkan tak nafsu makan sama sekali.
Setelah jam makan siang, tanpa instruksi, Kirana membawakan makan siang untuk Rey yang sedari tadi mengunci diri di ruangannya dan enggan diganggu siapapun, termasuk dia. Dia terpaksa masuk karena tau atasannya itu belum juga turun untuk makan siang.
"Pak Reyfano?"
"Ap-apa yang kamu lakukan!? Bukankah aku memintamu tidak menggangguku hari ini saja! Apa kau tuli!?"
"Maaf pak Reyfano, bapak akan sakit jika terus-terusan seperti ini. Tadi bu Komisaris menelfon dan memberi tahu saya untuk menghidangkan makanan untuk pak Rey. Kata beliau dari semalam pulang meeting bapak belum memakan apapun".
Rey hanya mendesah keras. Dia sadar jika sikapnya kini seperti anak kecil yang sedang merajuk. Tidak seharusnya dia bersikap seperti ini dan membuat orang lain khawatir.
"Letakkan makanannya disana!" Rey menunjuk meja panjang di depan meja kerjanya dengan dagunya untuk menunjukkan dimana Kirana harus meletakkan makanan untuknya.
"Pak Reyfano, apa ada yang bisa saya bantu lagi? Bapak kelihatan kurang sehat hari ini"
"Apa urusannya denganmu!? Sehat ataupun sakit kamu mana peduli denganku selagi kamu masih bisa bersenang-senang dengan lelaki lain diluar sana!!"
"Hah?" Kirana bingung dengan jawaban Rey 'Apa ini tentang wanita itu lagi?'
"Maksud bapak apa?"
"Berhentilah bersikap bodoh, Ran!!!" Ucap Rey sedikit membentak. Sadar teriakannya membuat karyawan lain di luar menoleh ke arahnya, dia segera memencet tombol untuk menutup tirai dan kunci pintu otomatis ruangannya. Dia kembali menghela nafas kasar.
"Kamu pikir karena siapa aku bisa bersikap seperti ini!?"
Kirana hanya menunduk dan terdiam. Percuma dia menjelaskan kembali hasilnya juga akan tetap sama.
"Kamu dengan mudahnya melupakan aku, Ran! Dan diluar sana kamu bebas tertawa dengan lelaki lain tanpa peduli perasaanku!". Rey menghela nafasnya kembali dan melanjutkan ucapannya. "Aku marah! Aku tidak terima jika kamu bisa bahagia dengan lelaki lain!"
Air mata Rey jatuh ikut membasahi pipinya yang sudah basah karena keringat dingin. Wajahnya juga semakin pucat.
"Rey? Wajahmu pucat sekali!"
"Jangan sentuh aku!" Rey mengangkis tangan Kirana yang berusaha menyentuh lengan Rey. "Memang apa pedulimu jika aku sakit hah!?"
"Rey. Maaf jika aku menyakitimu. Tapi aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu katakan!"
"Tidak mengerti!!??? Zayn. Dia bukan?? Targetmu kali ini!?"
"Zayn???"
- Bersambung -