- Flashback -
Dalam Resto Hotel Universe
"Terimakasih banyak atas waktunya, Mr. Peter". Rey mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Peter, kolega bisnisnya dan juga sahabat dekat kakeknya, Mahendra.
"Tentu saja, Rey. Senang sekali bisa berjumpa denganmu. Saya sangat terkesan dengan inovasi yang kamu ajukan. Kamu benar-benar mewarisi darah bisnisman dari kakekmu juga ayahmu. Jujur saya kaget melihatmu tadi, seperti melihat Beno kembali. Sampaikan juga salamku pada nenek dan ibumu."
Rey membalas ucapan Peter dengan senyumnya. "Pasti Mr. Peter. Saya permisi dulu. Mari pak Theo."
"Kami pamit dulu Mr. Peter. Senang kembali berbisnis dengan anda". Theo ikut berpamitan pada Peter dan segera undur diri mengikuti Rey keluar ruangan.
Langkah Rey terhenti setelah berbalik keluar dari pintu ruang VIP restoran yang dibooking oleh Mr. Peter. Tatapannya terpaku pada sepasang muda mudi yang sedang makan malam romantis berada di depan matanya. Pandangan tajamnya mengisyaratkan kebencian.
"Ah, Pak Theo. Saya ada urusan sebentar. Anda duluan saja". Rey meminta Theo untuk pergi duluan karena dia masih ingin mengawasi seseorang yang dilihatnya.
"Oh. Baiklah, Rey. Kalau begitu saya permisi dulu" Ucap Theo dibalas anggukan dari Rey. Rey memang meminta Theo untuk memanggil namanya saja jika sedang tidak dalam urusan bisnis atau diluar jam kerja.
Netra Rey kembali terpaku pada dua orang yang menyita perhatiannya kini. Kirana dan Zayn. Rey segera duduk di kursi meja nomor 11 yang tak jauh dari meja Kirana dan Zayn berada.
'Ada hubungan apa sebenarnya kalian ini! Sial! Zayn benar-benar player. Baru tadi pagi bertemu sudah mengajaknya makan malam berdua'
Rey tak hentinya mengerutuki mereka berdua. Hatinya berkecamuk melihat wanita yang sangat dicintainya berdua bersama lelaki lain. Mungkin sudah sering bagi Rey mendengar cerita tentang Kirana yang suka gonta ganti pasangan. Tetapi melihatnya dengan mata kepalanya sendiri ternyata jauh lebih menyakitkan bagi Rey.
"Kiran, awas kamu!" Rey mengepalkan tangannya seketika melihat Kirana yang begitu tertawa lepas dengan Zayn, apalagi melihat Zayn yang berani-beraninya mencubit pipi kiri Kirana. Rey merasa terbakar hatinya melihat semua ini.
Rey beranjak dari duduknya dan berbalik ingin segera keluar dari restoran. "Ah.. Maaf! Saya tidak sengaja!". Badan Rey tanpa sengaja menabrak seorang wanita yang tengah berjalan melintas dekat meja tempatnya duduk tanpa memperhatikan sekitar.
"Aakh..". Wanita itu terpekik dan tanpa sengaja menjatuhkan tasnya. Rey membantu mengambilkan tas wanita itu yang terjatuh karena bertabrakan dengan Rey.
"Maafkan saya nona, saya tidak sengaja. Anda baik-baik saja?". Ucap Rey sembari menyodorkan tas milik wanita itu. Rey sangat kalut hingga tidak fokus dengan jalannya.
"Mm.. Tidak apa-apa. It's okay!". Balas wanita itu yang menatap Rey dengan kagumnya sambil memeluk tangan kirinya yang tertabrak oleh Rey. "Tolong lain kali lebih hati-hati!"
"Saya sedang terburu-buru. Jika ada yang terluka, hubungi saja nomor ini". Rey menyodorkan kartu pengenalnya pada wanita itu. "Saya minta maaf sekali lagi. Permisi". Dia lalu pergi meninggalkan wanita yang sudah ditabraknya. Dia sadar kejadian tadi menyita perhatian orang-orang di sekitarnya.
'CEO?? Hmm.. Lumayan' Gumam wanita itu sambil memperhatikan kartu pengenal Rey.
**
"Siska!!!" Teriak Zayn pada wanita yang ditabrak oleh Rey sambil melambaikan tangan.
Kiran yang masih sibuk dengan makanannya tidak menyadari kejadian yang menimpa Rey. Diapun sontak menoleh kebelakang ke arah seseorang yang dipanggil Zayn dengan nama Siska.
Siska melambaikan tangannya pada Zayn dan segera menghampiri meja Zayn.
"Dia siapa kak?"
"Temen kakak, Ran" Hanya disambut anggukan Kirana tanpa menjawab.
"Heii.. Ga nyangka gue ketemu lo disini, Zayn. Udah lama juga gak denger kabar lo". Ucap Siska sesampainya di meja tempat Zayn dan Kirana makan malam. Yang menyambutnya dengan pelukan, dalam artian sahabat.
Zayn tersenyum mendengar ocehan Siska. Teman kuliah S1 nya yang kini mendalami fashion design. "Sorry, Sis. Gue sibuk bgt tau. Baru akhir-akhir ini gue bisa bernafas lega. Duduk gih". Zayn mempersilahkan Siska duduk kursi sebelahnya.
"Percaya deh.. Om Azhar pasti gak mau menyia-nyiakan putra bungsu kesayangannya yang cerdas ini buat bantu ngembangin bisnisnya". Siska melirik Kirana yang sedari tadi menyimak pertemuan Zayn dengan temannya. "Ngomong-ngomong.. Pacarnyaa ga dikenalin nih??"
"Ah. Bu-bukan kog kak". Jawab Kirana kikuk.
Siska mendelik tak percaya.
"Kenalin. Dia Kirana. Yang sering aku ceritain". Zayn menginterupsi.
"Jadi diaaa????" Siska kembali mengingat gadis manis yang selalu Zayn ceritakan semasa kuliah dulu. Gadis juniornya yang selalu menjadi topik utama curhatannya. "Hai Kirana! Saya Fransiska, calon pacar Zayn!" Ucapnya sambil tersenyum lebar. Sengaja Siska mengucapkan kata 'calon pacar Zayn' ingin menggoda Kirana yang menjadi pujaan hati Zayn sahabat terbaiknya.
"Hah??" Kirana terkejut mendengar ucapan Siska. "Ah. I-iya salam kenal kak. Senang bertemu kakak".
"Calon pacar dari Hongkong!" Bantah Zayn.
"Emang kita kan dari Hongkong, Zayn!" Siska tertawa lebar.
"Lo bikin mati pasaran gue kalo gitu! Terus sapa yang mau jadi pacar gue kalo lo ngaku ngaku terus!" Bantah Zayn yang diiringi senyum kecut Kirana yang sedari tadi heran dengan hubungan asli mereka.
"Gue udah sering banget nembak lo. Lo nya aja yang bego, gak bisa liat cewek cantik disamping lo ini". Oceh Siska yang dengan pedenya ikut mencomot makanan di meja Zayn.
Kirana masih tertegun melihat interaksi keduanya yang menurutnya sangat mesra. "Kak Siska, dulu teman kuliah kak Zayn?"
"Gak bisa dibilang temen sih, Ran. Musuh bebuyutan iyaa!" Bantah Zayn.
"Hhahaha bedtul!" Siska tertawa keras diikuti cengiran Zayn dan senyum manis Kirana.
"Kalian mesra banget!"
Ucapan Kirana sukses membuat Zayn dan Siska diam dan saling bertukar tatapan. Dan setelahnya tawa mereka kembali meledak.
"Maaf. Maaf... Ketawaku loss control lagi" Siska menetralkan mimik wajahnya yang masih kaku karena tertawa begitu keras. "Kamu orang pertama yang mengatakan hal itu pada kami"
"Siska ini temen kuliahku waktu S1 manajemen bisnis, Ran. Tapi dia pindah ke amrik nerusin kuliah fashion design disana. Dia jahil banget orangnya, awas jangan deket-deket ntar nular gilanya!"
"Asem lo! Lo pikir gue virus bisa nular nular!" Pekik Siska sembari tangannya mentoyor kepala Zayn.
Kirana hanya tersenyum melihat interaksi kakak kesayangannya ini dengan wanita cantik yang duduk didepannya. Wanita cantik dengan tinggi diatas rata-rata itu tampak sangat dewasa dengan seluruh outfit mahalnya. Sangat berbeda jauh dengan dirinya. 'Selamanya aku tidak akan mungkin jadi tipe kak Zayn' batinnya memelas diri sendiri.
"Oiya? Sedang apa kamu disini?". Tanya Zayn pada Siska.
"Gue lagi siapin Night Fashion Show perdana gue di Indo. Ech gak taunya ketemu kalian disini"
"Acaranya di hotel ini?"
"Hemm". Jawabnya asal. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanan milik Zayn dan Kiran. Siska memang sangat akrab dengan Zayn. Bahkan dulu saat kuliah Siska pernah beberapa kali menginap di apartemen Zayn setelah putus cinta. Tak heran bagi Zayn melihat kelakuan Siska yang bar-bar. "Karena udah ketemu kalian, kalian harus dan wajib dateng ya! Besok gue share undangannya"
Kirana yang sedari tadi menyimak teringat akan sesuatu. "Ah?? Jangan-jangan.. dress yang Kiran pake ini juga adalah karya dari kak Siska??" Kiran menunjukkan dress warna pink coral yang dia kenakan sambil beranjak dari duduknya. Mengingat nama designer dressnya yang diucapkan tante Windi.
Mulut dan mata Siska menganga tak percaya. "Wuaaaaaah... Iyaa....!! Kiraaan.. Darimana kamu mendapat dress ini?" Ucap Siska antusias karena mengenali dress yang Kiran kenakan.
"Emm... Oma Dewi yang meminjamkannya padaku"
"Benar dugaanku!". Tatapan Siska tak lepas dari Kiran yang sangat cocok memakai dress hasil rancangannya. "Baju ini launcing bulan lalu di Paris. Oma Dewi khusus memesan beberapa baju rancangan gue buat butiknya dan rencananya beliau pajang besok bersamaan dengan NFS gue".
Zayn dan Kiran menyimak. "Soalnya cuma butik oma Dewi yang gue kirim lebih banyak mode, terutama dress ini". Siska terpaku sadar akan sesuatu, dia memutari tubuh Kirana dari depan hingga belakang dan menatapnya dari atas hingga ke bawah.
"Kiran lo harus jadi model gue! Wajibbb!!!" Ucapan Siska tiba-tiba sukses membuat Kiran melongo. Tidak dengan Zayn yang masih bersikap biasa.
"Setuju" Zayn ikut memberi suara.
"T-tapi, kak!?"
- Bersambung -