#24 - Psikopat Gila

1257 Kata
"Apaan sih kakak! Bukan aku tau! Tapi pada heran tuh sama makhluk aneh kayak kakak!" "Aneh??" Zayn mengernyitkan dahinya. "Kok bisa?" "Iyaa lah aneh. Gantengnya kebablasan! Mundur dikit kek! Kesian tuh orang-orang jadi insecure kalo ada kakak!" "Kamu ada-ada saja!" Ucapan Kirana membuat senyum di bibir merah Zayn merekah indah bahkan tanpa polesan gincu. Lelaki didepannya ini memang sumber daya tarik siapapun yang melihatnya. Tingginya hampir 182cm. Dengan postur tubuhnya yang tidak terlalu kekar dan juga tidak cungkring. Dan yang paling bikin aneh, raut wajahnya yang kecil cenderung cantik bak aktor dracin Lin Yi yang membuat gadis manapun terpana. Kirana sedikit minder dengan perbandingan penampilannya yang sangat kontras dengan Zayn. Untungnya dia memakai baju yang dipinjamkan Oma Dewi padanya. Tanpa sadar Kirana menghela nafas panjang sambil tertunduk lesu. "Ai? Hey???" Zayn membuyarkan lamunan Kirana. "Kamu nggak nyaman ya? Apa.. Kita pindah tempat saja?" "A-ah.. Tidak, kak! Kiran nggak apa-apa kok!" "Iya sudah buruaan! Ini kamu mau nambah makan apa?" "Emm... Air putih aja deh kak! Hauss banget nih habis maraton malem-malem" Zayn hanya tersenyum. Dilihatnya gelas air Kirana telah kosong dilahab sang empunya. Dia segera memanggil pelayan dan memintanya menambahkan minuman segar pada pesanannya. Pelayan itu juga menuangkan kembali air pada gelas Kirana yang telah kosong. "Terimakasih" Ucap Kirana pada pelayan itu. Dia segera menengak kembali air minumnya hingga tinggal setengah. Tak lama hidangan yang dipesan merekapun datang. Kirana menelan salivanya berat. Setelah makan malam dirumah oma Dewi, perutnya sudah merasa sangat penuh hanya dengan makan separuh dari porsi makan Kirana biasanya. Ditambah semua hidangan mewah didepannya kini. Dia hanya mampu mengatakan pada perutnya agar menambah space sedikit untuk tempat makanan ini. Kirana tetap memakan makanan yang telah dipesan Zayn dengan biasa. Dia tidak ingin membuat kakaknya itu kecewa lagi. "Jadi?? Habis dari mana saja kamu!?" "Mmh.. Ituu.. Urusan kantor, kak. Ada yang harus diselesaikan malam ini juga. Jadi gak bisa ditunda lagi" "Gak berminat pindah haluan nih ke kantor kakak?" Kirana terdiam menghentikan aktivitas makannya dan menatap Zayn yang didepannya. 'Mungkin lebih nyaman bekerja dengan kak Zayn, tapi kenapa rasanya berat meninggalkan Rey?' Batinnya bingung dengan dirinya sendiri. "Makasih kak, atas tawarannya. Tetapi Kiran merasa belum cukup mampu untuk mendapat posisi sepenting itu di perusahaan kakak". "Kamu boleh kok meminta jabatan apapun di kantor kakak! Kakak jamin kamu bakal betah disana! Ya??" "Kiran masih belum lama bekerja disana, kak. Akan aneh rasanya jika tiba-tiba Kiran pindah ke perusahaan kakak, yang notabene klien besar kami". "Hmm.. Apa karena atasan gantengmu itu? "Ng-nggak kok kak! Kiran gak pengen punya catatan buruk di sana. Baru juga kerja sebentar masa udah resign aja..." "Baiklah kalau itu memang menjadi keputusanmu. Kakak akan menarik paksa kamu jika sampai sedikit saja Cakradhana menyia-nyiakan dirimu! Dengar itu!?" Ucap Zayn sedikit mengancam. "Ih apaaan sih kakak! Kiran kan hanya karyawan biasa, bukan bos disana. Jadi ya wajar kalo dikerjain!" "Ya habis kakak nggak rela dong, si cantik kesayangan kakak sampe menderita disana!" Ucap Zayn gemas pada gadis manis didepannya ini yang telah menguasai seluruh hatinya. Kirana tersenyum lebar mendengar gombalan yang sangat dia rindukan itu. Zayn gemas lalu mencubit mesra pipi tirus Kirana yang menampilkan lesung pipi khas miliknya ketika dia tersenyum. "Aaaaaarrrghh kakak!! Sakitt tauu!". Rintih Kirana sambil mengelus pipinya yang merah karena cubitan Zayn. "Lesung pipi ituu tuh yang bikin kakak kangen setengah mati kalo gak ngeliatnya!" "Kyaaa! Gajelaass apaan si!" Kirana tertawa geli mendengar gombalan Zayn selalu membuatnya tersenyum. Selama ini di negeri orang, hanya Zayn yang selalu ada di untuk Kirana. Sosok yang penuh perhatian dan sifat care nya selalu membuat rasa aman pada diri Kirana walau berada jauh dari rumah karena itulah hanya dengan Zayn dia berani bersikap manis dan manja. Zayn dan Kirana melanjutkan makan malam mereka. Pertemuan mereka kini menjadi ajang penyampaian rindu setelah hampir 2 tahun loss contact. Mereka hanyut dalam obrolan dan tawa masing-masing. Disudut lain restoran itu, seorang lelaki berjas hitam dan berpenampilan formal sedang menatap sengit aktivitas makan malam Zayn dan Kirana. Tangannya mengepal kuat. "Kiran... Awas kamu!" ** At Ballroom New Grand Hotel James bersama Kinara memasuki hall hotel mewah yang dipesannya beberapa hari lalu khusus untuk acara premiere film movie terbaru garapan Freddy Films. Memang tidak diragukan lagi sepak terjangnya di dunia entertainment. Selain menjadi produser yang cukup hebat, dia juga pebisnis yang handal. Meski sering kali dia menggunakan cara kotor dalam setiap bisnisnya. "Waaah..." Kinara sempat terkejut dengan hingar bingar didepannya yang membuat matanya terbuka akan dunia yang belum pernah dia temui. Memang hidup Kinara selama ini tidak jauh-jauh dari lingkup club malam, lelaki dan s*x. Baru kali ini dia mendapat mangsa kaum jetsetter. Atau lebih tepatnya dialah yang sedang dimangsa. Semua mata tertuju pada James dan Kinara. James, dialah aktor sesungguhnya dalam pesta ini. Semua aktor dan artis jebolan rumah produksinya berkumpul jadi satu. Beberapa dari mereka cukup familiar di mata Kinara karena nama mereka yang sering berlalu lalang di layar televisi. Tak sedikit juga dari mereka adalah aktor dan artis pendatang baru. Tidak mengejutkan beberapa dari artis jebolan rumah produksinya yang sudah di gagahi oleh bos mereka itu. Pandangan tidak suka jelas terlihat dari mata mereka, apalagi bagi seorang Kinara, sang ahli berakting. "James, aku gugup banget". Bisik Kinara yang masih setia menempel pada lengan kiri James. Mereka berjalan memasuki hall dengan tatapan seluruh tamu. Jelas dia menjadi sumber perhatian. Sudah gadis ke berapa yang James bawa untuk mendampinginya di acara seperti ini. "Tetap saja kamu yang tercantik, honey". James menunduk dan mencium pipi kiri Kinara yang sukses membuat pipi Kinara merona. Meski sudah memakai make up, tetap saja semburat merah pipinya tak dapat di tutupi. Dicium dimuka umum. 'Benar-benar memalukan'. Kelakuan James tidak berhenti pada ciuman saja. Dia sengaja meraba-raba tubuh sintal Kinara yang memang telah terekspose sempurna lekuk tubuhnya karena dress minim bahan yang dia kenakan. Sering kali dia melihat tatapan liar para lelaki m***m yang siap menerkamnya. Meski dihadapan orang lain James memperlakukan Kinara bak Ratu. Tetapi saat berdua, dia tidak lebih hanyalah sebatas jalang yang harus melayaninya. Memang jalang adalah pilihan hidupnya, tetapi dia benci jika harus dikekang. "James sudah cukup! Kalau kamu terlalu banyak minum nanti kamu mabuk!" Cegah Kinara berusaha menghentikan James minum minuman lebih banyak lagi. "Diam kau jalang! Aku tidak mabuk sama sekali! Kau itu hanya sampah yang aku pungut dari tong sampah. Jangan berlagak mengajariku!" Ucapan James membuat beberapa rekan James menoleh dan menatap sengit padanya. 'Sial kau James. Berani-beraninya menyebutku jalang dan menghinaku di depan umum!' "Heiiii! Kau mau kemana haah!??!" "Mengambilkanmu air!" Saat Kinara hendak menjauhi James. Lebih cepat bodyguard James menghadangnya dan memberikannya segelas air minum. 'Dasar siaalan!!' Kinara kembali dan memberikan segelas air minum untuk James. Rupanya toleransi alkohol tubuh James sangat rendah. Baru minum beberapa gelas wine, dia sudah mabuk berat. Keinginannya untuk hidup bergelimangan harta akan terwujud jika dia berhasil menguasai James. Sebenarnya mudah saja bagi Kinara untuk hanya melayani nafsu James yang gila, namun dia sangat benci di kekang. Tidak jarang James membuat Kinara terluka tanpa sebab dan tiba-tiba menyesali perbuatannya tanpa dosa sedikitpun. James sendiri adalah pemain yang sudah terkenal tidak segan berbuat kasar jika keinginannya tidak terpenuhi. Penggila s*x bebas yang hanya mau menang sendiri. Hampir semua artis jebolan rumah produksinya terlebih dahulu menjadi simpanannya. Dia akan membuat siapapun jadi bintang jika berhasil membuatnya senang dan membuangnya begitu saja jika sudah bosan. Kinara tidak ingin menghabiskan hidupnya bersama orang gila seperti James. Apalagi menjadi simpanan yang terkurung dalam sangkar emas. Sangat jauh dari kehidupan Kinara yang bebas dan tak ingin di kekang. 'Psikopat gila!! Setelah ini, aku harus segera bertindak cepat. Kesempatanku untuk kabur tidak boleh di sia-siakan' - Bersambung -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN