# 10 - Private Party

1390 Kata
Di sebuah private party. Kinara datang bersama sang kekasih barunya a.k.a atm berjalannya saat ini, Rafael. Dia terlihat sangat anggun, dengan balutan dress merah delima panjang tanpa lengan dengan belahan hingga ke pangkal paha, dress backless yang menampilkan punggung sempurnanya. Tingginya yang semampai, body goal yang di gandrungi para lelaki hingga wanita yang melihatnya. Rambut di sanggul ke atas menyisakan beberapa helai rambut depannya yang terurai. Dia memang bak bidadari. Apalagi Rafael yang menggandengnya terlihat sangat tampan. Dia mengenakan tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu berwarna senada dengan dress Kinara. Mereka menghadiri acara private party yang diadakan oleh rekan bisnis Rafael, James Freddy. Dia adalah seorang produser terkenal. Semua film dan sinetron yang dia produksi laris manis dipasaran. Namun, dibalik kesuksesannya, dia memiliki sisi gelap yang tidak banyak orang ketahui. Acara malam ini untuk merayakan kesuksesan film baru produksinya. Meskipun banyak artis dan aktor ternama yang hadir. Namun semua mata yang hadir teralihkan dengan kedatangan Kinara dan Rafael. Termasuk James. "Wah.. Wah.. Wahh.. Kita kedatangan dewa dan dewi malam ini!" Puji James kepada Kinara dan Rafael. Merekapun mendekat dan memberikan selamat atas kesuksesan James. "Congrate, my bro. You're unbelievable!" Rafael memuji James. Kinara yang sedari tadi menggandeng tangan Rafael ternyata mencuri perhatian sang produser. Matanya tak berkedip menatap Kinara. "Wooh.. Yours is so damn georgeus, bro!" Celetuknya tanpa menghiraukan ucapan Rafael. Dia menatap Kinara dengan m***m. Apalagi belahan d**a dan paha Kinara yang membuatnya meneteskan liurnya. Kinara pun membalas tatapan James dengan mata menggoda. James mengulurkan tangannya meraih punggung tangan Kinara dan menciumnya. "Whats your name, pretty?" "Kirana Shafia Rudiatmaja. Panggil saja, Kiran" Seperti biasa, Rafael mengerti apa yang ada di benak James. Si maniak s*x. 'Dia mengenai umpanku!' ** At James mansion. Pesta berjalan meriah. Semua menikmati acara private yang diadakan James di kediamannya ini. Artis dan aktor serta para rekan bisnis James yang hadir memang sudah mengerti aturan setiap private party yang diadakan James. Party with s*x is allowed. Budaya barat James selalu dia terapkan dimanapun dia berada. Kebebasan. Banyak pasangan dan bahkan bukan pasangan yang ikut hanyut dalam pesta itu. Kinara dan Rafael lebih senang menghabiskan pesta malam ini dengan berenang bersama. Mereka asik bercengkerama didalam kolam renang sambil sesekali berpelukan dan berciuman mesra. Rafael tak jarang menyelam kedalam air, entah apa yang dia lakukan didalam sana. Ternyata, kegiatan mereka tak luput dari pandangan James yang sedari tadi mengawasi mereka. Rafael pun menyadari jika sang produser mengincar wanita yang sedang bersamanya. Rafael sengaja membawa Kinara untuk dikenalkan kepada James, seperti biasa untuk menghasilkan lebih banyak uang. Dia sangat tau James paling tidak tahan dengan wanita sexy seperti Kinara. James mengirim pesan pada Rafael melalui pelayannya yang mengantar minuman pada Rafael. Dia ingin bernegosiasi tentang harga. Rafael yang paham pun langsung mengiyakan pesan James dan segera beranjak keluar kolam. "Rafael, kamu mau kemana!?" Mereka beranjak dari kolam renang. "Ada yang harus ku lakukan sebentar, sayang. Kemarilah kamu sudah kedinginan" Rafael mengambilkan bathrobe putih dan memakaikannya pada Kinara yang hanya memakai bra dan celana dalam untuk berenang. "Mandilah dulu, segera ke kamar tempat kita tadi ganti baju. Aku akan segera kembali, sayangku". Dia mencium bibir Kinara dan mengambil handuk untuk menutupi celana pendeknya lalu beranjak meninggalkan Kinara. "Jangan lama-lama". Kinara merengek manja pada Rafael. Rafael meninggalkan Kinara dan segera menuju ruang tengah setelah berganti baju. Ruangan dimana James berada. Disana James masih setia ditemani para artis pendatang yang haus akan uang dan ketenaran. "Berapa yang kamu inginkan?" Ucap James setelah mengusir pergi para dayang-dayangnya. Rafael tersenyum sinis pada James. Seakan mengerti apa yang dia maksudkan. 'Gotcha!' "Tidak banyak, Boss. Kau tau lah harga yang pantas untuk gadis seperti dia". Rafael pun memberinya isyarat dengan mengangkat sebelah alisnya dan mengacungkan 1 jari. James mengeluarkan selembar cek lalu menuliskan sebaris angka dengan banyak nol dibelakangnya. "Apa segitu cukup?" Rafael tersenyum lebar 'Waauw fantastik!' matanya terbelalak melihat nol yang terlalu banyak dibelakang angka 1. "Ini sedikit berlebihan, tapi boleh lah untuk permulaan" Rafael mengipas-kipaskan lembaran ceknya sembari mencium aroma kertas yang membuat bangkit semangatnya. "Tinggalkan dia disini" "As you wish, my boss" Rafael dengan gayanya bak pelayan kerajaan itu lalu pergi meninggalkan James. Dia menuju kamar tempat Kinara mandi. Dikamar Kinara. "Sayang? Aku ada urusan sebentar dengan temanku diluar. Kamu tunggu disini dulu tidak apa-apa kan? Daripada kamu bosan menungguku. Malam ini kita bisa menginap disini" Rafael mencari alasan untuk meninggalkan Kinara karena James menginginkannya. "Lalu apa yang akan aku lakukan disini selama kamu pergi, Rafael?" "Aku ada job bernilai fantastis! Kamu tidak mau kan kalau aku sampai kehilangan kesempatan kali ini?" Rafael mendekati Kinara, berbisik ditelinganya "Aku sudah mentransfer komisi untukmu" Dilanjutkan Rafael menggigit kecil telinga Kinara disertai erangan yang keluar dari bibir Kinara. "Kamu memang yang terbaik, Rafael. Cepatlah kembali, kecuali kalau kamu ingin tidurmu malam ini kedinginan!" Rafael meninggalkan Kinara di kamar sendirian seraya melambaikan tangannya. 'Dasar wanita cantik, tapi bodoh' Dia menertawai kebodohan Kinara yang dengan polosnya percaya kepadanya. ** Di dalam sebuah gedung pertemuan milik Cakradhana. "Terimakasih semuanya atas kehadiran kalian. Saat ini mungkin saya masih banyak kekurangan, namun kedepannya saya sangat berharap bimbingan dari semuanya agar saya dapat menjadi pemimpin yang lebih baik untuk kemajuan perusahaan kita". Rey menyambut para karyawan yang hadir pada pesta perayaan yang diadakan khusus untuknya. Semua yang hadir bertepuk tangan. Semua sangat antusias dengan hadirnya Rey, pimpinannya yang baru. Bukan hanya wajah baru yang dimiliki perusahaan mereka. Tetapi wajah rupawan dan kharisma Rey yang dapat memukau siapapun. Kirana yang berada dibalik layar hanya terdiam menatap Rey. 'Dia sangat berbeda saat di depan semua orang dengan saat dia bersamaku. Mengapa dia bersikap kasar hanya kepadaku?'. Kirana hanya termenung meratapi nasibnya. "Hey, Ran! Ngelamun aja disini. Lagi ngapain? Pak Reyfano udah turun tuh mau ambil makan! Buruan samperin sana!" Bella memecah lamunan Kirana. Kirana segera bergegas menghampiri Rey yang sedang duduk meja paling depan bersama para direksi. "Anda ingin makan apa, pak? Biar saya yang ambilkan" Ucap Kirana pada Rey dengan sedikit membungkuk. "Tidak perlu. Ayo ikut ambil makan bersamaku". Rey berdiri hendak menuju stand makanan yang telah tersedia prasmanan dengan berbagai jenis masakan. Kirana termenung sejenak 'Tumben lembut jawabnya' "Ayo, cepetan!" Rey menoleh kebelakang setelah menyadari Kirana tidak mengikutinya. "Ah.. I-iya. Baik, pak" Rey tersenyum ramah pada semua orang yang menyapanya. Kirana yang mengikutinya mengambil makanan juga ikut tersenyum. 'Dia ramah juga. Tapi-' "Kiran" Rey memecah lamunan Kirana. "Ah.. I-iya, pak Reyfano?" "Makan yang banyak! Aku tidak mau memiliki sekretaris yang kurus. Nanti tidak kuat bekerja, aku yang kerepotan." Ucap Rey sambil memasukkan banyak makanan ke piring yang dipegang Kirana. "C-cukup, pak! Sepertinya masih banyak yang belum makan. Ini terlalu banyak. Daripada nanti buang-buang makanan, kan sayang" "Iya, sayang!" Bisik Rey sedikit mendekat ke telinga Kirana. Kirana terkejut mendengar jawaban Rey. Refleks dia menoleh kanan kiri takut ada yang mendengar. 'Dasar orang aneh! Bisa-bisanya dia bicara seperti itu' Kirana mengerutuki kelakuan Rey yang kekanak-kanakan. Rey melangkahkan kaki menuju mejanya sambil terkikik. Acara berakhir pukul 11 malam. Kirana masih menunggu taksi di depan gedung. Rey yang datang sendiri tanpa sopir, menghentikan mobilnya tepat di depan Kirana berdiri. "Masuk!" Rey membuka jendela mobilnya menyuruh Kirana untuk masuk tanpa melihat ke arah Kirana. "Saya akan naik taksi, pak. Silahkan bapak duluan. Sudah malam takutnya bapak kemalaman pulangnya" "Masuk, Kirana!" Ucap Rey sedikit membentak. Perintah Rey seolah seperti hukum bagi Kirana. Tidak ada pilihan lain selain menuruti kemauannya. Kirana segera masuk kedalam mobil Rey. Duduk di kursi depan, disamping kemudi. Rey segera melajukan mobilnya dan mengantar Kirana pulang terlebih dahulu. ** Dalam perjalanan pulang, Kirana tidak berani mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Dia hanya memilin tali tas yang tergerai dipangkuannya. Rey yang melihat gelagat Kirana, memulai pembicaraan. "Kamu jangan salah sangka. Aku mengantarmu pulang hanya karena menghargai om Erik. Aku tidak mau om Erik khawatir karena anak gadisnya pulang sendirian larut malam" "Ooh.. Iya. Terimakasih" Rey menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Kirana. Kirana yang hendak turun, kebingungan karena pintu mobil Rey masih terkunci. "Pintunya tolong, masih terkunci" Ucap Kirana yang masih berusaha membuka pintu. Rey mendekati Kirana perlahan. Kirana yang kembali menoleh ke arah Rey terkejut karena wajahnya kini tepat di depan wajah Rey. "Ap-apa yang kamu lakukan?" Kirana memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil berusaha menghindari Rey. Rey meraih dagu Kirana. Dia mencium tepat di bibir Kirana, tangan kirinya meraih tengkuk Kirana. Menekannya hingga sama sekali tidak ada jarak antara mereka. Kirana yang terkejut refleks memukul d**a bidang Rey, membuat Rey semakin gemas. - Bersambung - 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN