#9 - Penyambutan

1443 Kata
Selama perjalanan Kirana hanya terdiam. Dia lebih memilih tidak memulai perdebatan daripada harus menambah sakit hati karena ucapan Rey. Rey pun enggan berbicara. Sampai akhirnya Kirana memecah keheningan. "Jadi, nama kamu Reyfano?" "Kamu benar-benar lupa atau sengaja melupakanku, aku sekarang tidak peduli!" "Bisakah kamu bicara baik-baik denganku sedikit saja?" "Tentu aku bisa pada orang lain. Tapi tidak denganmu!" "Memang apa salahku padamu?" "Salahmu?" Rey mendadak menghentikan laju mobilnya dan menepi kepinggir jalan. "Kamu masih bertanya apa kesalahanmu!!? Kamu ini benar-benar polos atau bodoh sebenarnya?" Kirana menghembuskan nafas berat. "Aku minta maaf, Rey. Jika wanita yang kamu anggap aku itu telah menyakiti perasaanmu. Tapi tidakkah kamu berlebihan jika melimpahkan semua kekesalanmu padaku? Aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali sebelumnya!" "Jadi kamu pikir aku salah orang!? Tidak. Aku sangat mengenalmu! Bahkan setiap lekuk tubuhmu masih terngiang dikepalaku! Jadi berhentilah berpura-pura!" "Tapi, Rey. Aku-- Eeeungghh" Rey mencium paksa bibir Kirana membuatnya menghentikan ucapannya. Dia meraih tengkuk Kirana hingga dia tidak mampu meronta. Kirana terus berusaha melepaskan dirinya tetapi tenaga Rey jauh lebih kuat. Tubuhnya seolah terhipnotis. Lumatan bibir Rey semakin dalam dan memaksa masuk ke dalam bibir Kirana. Kirana hanya terdiam, tenaganya tak mampu melawan Rey. "Ummghhh". Rey menggigit ujung bibir Kirana, membuatnya mengerang dan membuka bibirnya. Lidah Rey menguasai dan mengabsen satu per satu gigi Kirana dengan sesekali menggigit bibirnya gemas. Rey melepaskan lumatannya sesaat untuk saling menghela nafas dengan kening Rey tetap pada kening Kirana. "Dengar Kiran. Kamu cuma milikku! Akan ku pastikan kamu menderita jika berani bersama lelaki lain!" Kirana terisak, untuk kedua kalinya Rey menciumnya dengan kasar. "Aku akan pulang sendiri naik taksi" Dengan air mata membasahi wajahnya, Kirana membuka pintu mobil dan segera berlari keluar. "Tunggu, Kiran!" Rey keluar dari mobil dan membanting pintu mobilnya, berusaha mengejar Kirana yang segera berlari menjauh dari tempat mobil Rey berhenti. Rey segera menarik lengan Kirana lalu memeluknya erat dari belakang. Kini emosinya sedikit menurun. "Aku akan mengantarmu pulang. Ayo masuk lagi ke dalam mobil!" "Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri" Kirana hendak berlalu meninggalkan Rey. Tapi Rey membopongnya kepundak dan membawanya ke mobil. "Rey. Turunkan aku! Ku mohon Rey. Biarkan aku pulang sendiri!" "Masuk mobil atau ku cium kamu lagi!" Nyalinya menciut. Tidak ada pilihan lain Kirana selain menuruti ancaman Rey. Rey segera menyalakan mobil dan memgantarnya pulang. Tidak ada satu obrolan lagi hingga mobil Rey berhenti tepat di depan gerbang rumah Kirana. ** Di dalam kamar Kirana. Kirana masih terisak dengan air mata yang masing menggenang di sekitar mata. Dia masih sangat bingung dengan keadaan ini. Lagi-lagi dia menatap bingung wajahnya ke cermin. 'Siapa dia? Bagaimana bisa dia memakai namaku? Semirip apa dia denganku? Apa dia saudara kembarku? Dan Rey. Dia sangat mencintai wanita itu. Tapi mengapa semuanya dia lampiaskan padaku!?' Kirana merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Besok dia akan bertemu dengan atasan barunya. Dia lalu beranjak, "Astaga! Jangan-jangan? Rey? Dia yang akan menjadi atasan baruku??" Kirana kembali berdiri, berjalan mondar mandir di kamarnya. "Apa yang harus aku lakukan jika benar atasanku adalah Rey!?!" ** Kirana memasuki kubikelnya dengan setengah hati. Hari ini adalah hari pertama Rey menjabat sebagai direktur utama. Lebih tepatnya atasannya langsung. Dia menghela nafas panjang berulang kali. Belum waktunya masuk jam kerja, tapi rasanya sudah sesak sekali. Hari penyambutannya, semua karyawan diminta untuk menyambutnya di sepanjang jalan dari pintu masuk hingga sampai ke ruangannya. Semua karyawan berantusias dengan kehadiran pemimpin mereka yang baru. Jam hampir menunjukkan pukul 07.45, semua karyawan sudah bersiap di tempat masing-masing. Kirana berada di deret paling ujung di temani Bella. Rey memasuki pintu masuk gedung, menuju kantornya yang memang berada di lantai paling atas kantor milik perusahaan Cakradhana ini. Dia ditemani oleh Theo, Erik dan para direksi lainnya yang membuntutinya dibelakang. Pemandangan yang hampir jarang para karyawan lihat. Karena penyambutan direktur baru sangat jarang terjadi. Mengingat direktur sebelumnya adalah nenek dari Rey sendiri. "Selamat pagi, bapak direktur!" Sapa dari seluruh karyawan. Dibalas senyuman dan anggukan dari Rey yang berlalu menuju ruangannya. Rey tetap berjalan lurus sesuai arahan Erik yang menunjukkan tempat ruangannya berada. Di ujung jalannya dia menghentikan pandangannya pada seorang gadis yang berdiri menunduk. 'Kiran?' Rey berhenti tepat di depan Bella berdiri, menghadap Kirana yang masih tertunduk. Rey bertanya-tanya dalam hati, dia menoleh ke arah Erik dengan pandangan penuh pertanyaan. "Kirana, dia adalah sekretaris pribadi anda". Ucap Erik pada Rey dengan hormat mengingat posisinya dikantor kini adalah atasannya. Rey melangkah meninggalkan Kirana menuju ruangannya dengan wajah kesal. 'Dia sekretarisku? Bagaimana bisa!?' Erik segera undur diri setelah mengantar Rey masuk ke dalam ruangannya. Karena memang pekerjaannya bukan menetap di kantor. Dia menyerahkan urusan Rey dikantor pada Kirana. "Kiran, tolong kamu urus sisanya, ya. Ayah pamit dulu." "Iya, yah". Kirana mencium punggung tangan Erik. "Hati-hati dijalan". Erik segera meninggalkan kantor. Dia memiliki pekerjaan di kediaman Dewi, mengurus berkas-berkas peninggalan Mahendra. Waktu menunjukkan tepat pukul 8. Belum apa-apa dia sudah berkeringat dingin. Kirana menarik nafas panjang, mengumpulkan keberaniannya memasuki ruangan Rey. Tok.. Tok.. "Masuk" Suara dari dalam mengisyaratkan Kirana untuk masuk ke dalam ruangan. Dia membuka pintu perlahan dan memasuki ruangan dengan hati penuh was-was. "Permisi, pak Reyfano" Ucap Kirana saat memasuki ruangan Rey. "Saya, Kirana. Sekretaris pribadi bapak. Saya akan membacakan agenda anda hari ini" Lanjutnya sambil berdiri mendekap buku agenda hariannya, mendekati Rey yang sedang berdiri menghadap keluar jendela. "Kamu sengaja bekerja disini karena tau saya adalah cucu keluarga Cakradhana?" Rey masih membelakangi Kirana, dia sama sekali tidak memperdulikan agendanya hari ini. "Maaf, pak Reyfano. Agenda anda hari ini-" "Cukup! Apa kamu berani membantahku? Bukankah sangat lancang bagimu untuk mengabaikan pertanyaanku?" Kirana refleks menutup matanya karena terkejut dengan bentakan Rey padanya. "Saya mohon maaf, pak-" "KIRAN!" Rey membentaknya dengan keras. Hingga para karyawan lain yang diluar ruangan mendengar teriakannya itu refleks menoleh ke arah ruangan Rey. Ruangan Rey memang dibatasi dinding kaca tebal, namun tidak meredam suara sepenuhnya. Kirana yang berdiri didepannya hanya menunduk memejamkan mata ketika mendengar namanya di bentak. Dia tidak berani mengambil suara lagi. Rey segera mengambil remote dan menutup tirai jendela kemudian mengunci pintu rapat. Dia sadar tengah menjadi perhatian di hari pertamanya bekerja. Dia mendekati Kirana yang masih tertunduk dihadapannya. Dia mengendurkan dasinya seolah merasa sesak. "Aku tidak peduli lagi denganmu. Bahkan aku sangat muak jika harus melihat wajahmu setiap hari!" Kirana menghela nafasnya berat. "Saya akan mengajukan pengunduran diri saya. Anda bisa kapan saja menyetujuinya" Kirana menyodorkan selembar amplop berisi surat pengunduran diri yang diambilnya dari dalam buku agendanya. "Agenda anda hari ini, anda harus menghadiri rapat pemegang saham pukul 10 dan menghadiri pesta pengakraban dengan karyawan selepas pulang kerja nanti. Saya mohon maaf jika kehadiran saya mengganggu bapak. Tapi saya tidak bisa langsung mengundurkan diri karena, setidaknya selama 1 minggu saya harus melimpahkan pekerjaan saya dulu kepada pengganti saya. Jadi selama itu, mohon pengertiannya". "Kiran? Apa sekarang kamu memaksaku bersamamu?" "Tidak, bapak Reyfano. Memang seperti itulah kebijakan perusahaan" "Saya bisa langsung memecatmu sekarang juga!" Kirana terdiam. Lalu memberanikan diri mengucap "Jika itu yang anda inginkan. Saya akan menerimanya" Kirana menutup kembali buku agendanya dan meletakkan surat pengunduran dirinya di meja Rey. Rey hanya terdiam. "Kalau sudah tidak ada yang anda sampaikan, saya mohon permisi" "Tunggu!" Kirana membalikkan badan menghadap kembali pada Rey. "Ada yang bisa saya bantu, pak Reyfano?" "B-buatkan saya kopi" "Baiklah. Saya permisi" Rey menatap kepergian Kirana hingga menghilang dibalik pintu. Dia sangat kesal dengan sikap Kirana yang seolah-olah tidak pernah terjadi apapun diantara mereka. "Sial!" Rey membanting remote yang sedari tadi dipegangnya ke atas sofa. "Kamu memang pandai sekali berakting. Lihat saja, Kirana. Kamu akan menyesali perbuatanmu!" "Ran. Kamu baik-baik aja? Kenapa dia bisa semarah itu sama kamu?" Bella mendekati Kirana yang tertunduk lesu setelah keluar dari ruangan Rey membawakannya kopi. "Tidak apa-apa kok, Bell. Sebenarnya pak Reyfano baik. Hanya saja memang tadi kesalahanku. Makanya sampai membuat pak Reyfano marah" "Kamu yakin?" "Iya, Bell. Kembalilah bekerja. Aku baik-baik saja" Kirana kembali menunduk. 'Aku harus cari pekerjaan lain. Aku tidak bisa terus-terusan berada disini. Atau Rey akan semakin membenciku'. Dia membentur-benturkan kepalanya ke meja. Bingung dengan apa yang akan dia lakukan nanti. Dirinya kembali menyemangati diri. 'Aahhhhh.. Sudahlah. Sekarang saatnya bekerja. Jangan lengah, Kirana! Kamu harus kuat' Batinnya sambil mengepalkan jari-jarinya yang menuntunnya untuk lebih semangat lagi. Dibalik dinding kaca, Rey yang sedari tadi sudah membuka kembali tirainya, mengamati Kirana yang sedang tertunduk dimejanya sambil membentur-benturkan kepalanya ke meja kerjanya dengan menikmati segelas kopi yang buatan Kirana. 'Kiran, Maafkan aku'. Ada sedikit rasa menyesal bergejolak di dadanya. Sebenarnya dia sangat senang Kirana lah yang menjadi sekretarisnya. Tapi di sisi lain rasa bencinya mengalahkan ego-nya. Saat Kirana terus berusaha mengelak, ingin rasanya dia meraih tengkuk Kirana dan melumat bibirnya hingga dia tak sanggup berkata-kata lagi. Bahkan juniornya terasa sesak dibawahnya ketika dia bertemu Kirana. Rasa cinta yang begitu besar hingga membuatnya hilang akal. 'Siaal!' - Bersambung -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN