Hampir seminggu sudah Kirana bekerja dengan masih di bimbing oleh Theo dan Bella. Namun Kirana sudah cukup cakap untuk menghandel semua pekerjaannya sendiri. Dia pun masih belum bertemu atasannya yang baru. Bahkan belum pernah bertemu Dewi dirut yang lama. Mereka hanya pernah bersapa melalui telepon.
Kabar duka datang dari kediaman Cakradhana, sang komisaris besar telah berpulang pada Sang Kuasa.
Seluruh karyawan dan pemegang saham menghadiri pemakamannya. Termasuk Kirana.
**
Di kediaman komisaris besar.
Sore ini, para tamu berdatangan silih berganti. Karangan bunga banyak terpajang di sepanjang jalan menuju rumah. Bahkan tumpah ruah hingga ke jalanan. Mahendra Cakradhana, sang komisaris besar telah berpulang. Meninggalkan duka untuk keluarganya dan juga di kalangan pebisnis serta para jetsetter. Beliau juga dikenal sangat kompeten dibidangnya dan senang bersaing dengan sehat. Tak heran banyak sekali kolega bisnisnya yang menjadi teman baiknya datang melayat.
Sepulang bekerja Kirana dan rekan-rekannya datang untuk melayat. Ketika Kirana akan memasuki halaman rumah, tiba-tiba suara ponsel Kirana berdering. Panggilan dari salah seorang rekannya yang masih berada di kantor. Dia meminta rekan-rekannya untuk masuk duluan dan memilih masuk belakangan. Dia segera menuju taman di pojok depan rumah.
"Hah?? K-kamu....? Sedang apa kamu disini!?" Kirana terkejut pada seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakangnya setelah menerima panggilan tadi.
"Apalagi yang dilakukan seorang penjual kue kering di rumah mewah seperti ini, selain mengantarkan kue kering pesanan...?? Tidak sepertimu. Apa kamu kesini karena panggilan? Atau kamu diam-diam berkencan dengan pemilik rumah ini juga?". Rey yang sedari tadi ternyata melihat Kirana yang sedang menerima panggilan berusaha mendekati Kirana. Dia merasa geram atas sikap Kirana yang selalu dingin kepadanya.
Kirana menghembuskan nafas berat mendengar perkataan Rey. "Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Maaf, aku permisi dulu"
"Apa seperti itu ternyata dirimu yang sebenarnya?"
Baru beberapa langkah berbalik, Kirana menghentikan langkahnya. "Apa lagi maksudmu?" Kirana menatap Rey kesal.
"Kamu bisa terus berpura-pura. Saat di klub malam juga bukannya kamu melihatku? Tapi kamu malah asyik mencumbu lelaki lain!" Rey semakin geram. Dia menarik lengan kiri Kirana kasar.
"Aaakh.. Lepaskaan! Sakiit!! Apa yang kamu katakan?? Aku sama sekali tidak mengerti! Klub apaa!?"
"Tidak akan!! Wanita sepertimu memang seharusnya diperlakukan seperti ini! Kamu memasang wajah tidak berdosa saat siang. Dan jika malam kamu menggoda para lelaki hidung belang!"
"Jaga bicaramu!" Kirana hendak melayangkan tamparan pada pipi Rey. Namun Rey mencegahnya. Rey menarik tangan kanan Kirana mencengkram kuat kedua lengan Kirana.
"Tolong lepaskan" Kirana memohon lirih. "Kamu menyakitiku!"
"Sadar Kiran! Kamu itu wanita jalang yang sok polos! Menggoda lelaki.. berkencan dengannya.. lalu apa? Kamu tidur dengannya juga?? Kiran.. Ingat wajah orang tuamu saat kamu melakukan hal bodoh seperti itu!"
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu katakan! Lepaskan sekarang juga!"
"Kiran mengapa kamu menjadi seperti ini..!!?" Rey memeluk Kirana meluapkan kembali perasaannya yang sesungguhnya. "Aku yang tulus mencintaimu. Bukan seperti lelaki yang datang lalu pergi saat kamu butuhkan! Tapi mengapa kamu tega berbuat seperti itu? Jawab aku Kiran? Apa bedanya aku dengan lelaki itu? Apa karena aku miskin, Ran?"
"Lepaskan, toloong!"
"Aku tidak akan melepaskanmu, sampai kamu mengatakannya!"
"Lepaskaan!"
"Katakan Kiran! Katakan!"
"I-iyaa benar! Benar semua katamu! Kamu puas!!!? Sekarang lepaskan aku!". Kirana melepaskan diri setelah Rey melemaskan pelukannya. Kirana berbohong lagi. Hanya agar dia berhenti memaksanya.
Kirana berhenti dibalik dinding. Dia terisak. Memikirkan apa yang dia lakukan hingga lelaki itu memandang dia serendah itu. Tapi disisi lain dia merasakan sakit. 'Siapa wanita yang dia maksud? Mengapa memakai identitasku untuk membohongi lelaki itu? Padahal cintanya sungguh tulus. Andai saja benar yang dia cintai seperti itu adalah aku'. Kirana kembali terisak mendekap sakit yang mencekam dadanya.
Di acara pemakaman tersebut juga menjadi salah satu acara perkenalan sang pewaris Cakradhana. Semua orang yang datang memberi salam duka pada Dewi dan Windi yang duduk dekat di pintu masuk. Termasuk Erik dibarisan paling ujung depan.
"Kiran?" Erik melihat putrinya datang dengan mata sembab dan wajah pucat. Baru saja akan memasuki rumah.
"Ayah???" Kirana segera memalingkan wajahnya, menyembunyikan wajah sebamnya lalu kembali menuju ayahnya. "Sedang apa ayah disini?" Kirana terkejut melihat ayahnya berada di rumah bos nya.
"Ini rumah bos ayah. Tuan Mahendra. Sedang apa kamu kesini?" Erik heran dengan kedatangan anaknya yang tidak disangkanya.
"Ayah.. Ini rumah bos Kiran. Kiran sekarang kan bekerja di perusahaan Cakradhana."
"Jadi ternyata-"
"Siapa dia, Rik?" Dewi mengejutkan Erik yang sedang berbincang dengan putrinya.
"Oh nyonya, ini Kiran. Dia putri sulung saya" Senyum Erik segera memperkenalkan putrinya kepada Dewi. "Kiran kenalkan, ini Bu Dewi. Bos ayah. Dan ini menantu bu Dewi. Namanya bu Windi"
"Saya Kiran." Kirana mengulurkan tangannya hendak mencium punggung tangan Dewi memberi hormat. Begitupun pada Windi.
"Kiran?" Windi bergumam.
"Cantik sekali putri kamu, Rik..." Dewi tersenyum menatapnya kagum
"Siapa nama lengkapmu, nak?" Tanya Windi penasaran.
"Nama saya Kirana. Kirana Shafia Rudiatmaja"
"Hah??" Windi terkejut mendengar nama Kirana. 'Apa dia Kirana wanita yang Rey maksud?'
"Nama yang cantik, secantik orangnya. Benar kan, Win?" Dewi mengalihkan pandangannya ke arah Windi yang termenung setelah mendengar nama Kirana.
"Ada apa Win? Mengapa wajahmu menjadi pucat begitu setelah mendengar nama Kirana?"
"Ah.. Tidak mami, namanya bagus... Seperti nama seseorang" Ucapnya lirih.
"Apa, Win?"
"Ah tidak ada apa-apa, Mi". Windi mencoba mengalihkan perhatian Dewi.
"Ternyata Kiran sudah hampir seminggu ini bekerja di kantor, nyonya. Saya sendiri baru saja mengetahuinya hari ini." Erik menambahkan seraya mentertawakam diri sendiri.
"Oh. Benarkah, nak? Tunggu?? Apa kamu Kirana sekretaris yang baru? Kita sudah pernah conference call kemarin, ya kan?"
"Benar, bu Dewi. Saya Kirana, sekertaris yang baru"
"Kalau begitu, silahkan masuk dulu, nak. Nikmati jamuannya. Nanti saya akan kenalkan kamu pada cucu saya!" Dewi menggandeng Kirana masuk ke dalam rumah. Diikuti Windi dan Erik dibelakang.
Mereka duduk di meja tamu. Melanjutkan pembicaraan yang tadi tertunda.
"Saya dengar kamu baru saja lulus kuliah di luar negri, nak?" Tanya Dewi sambil masih memegang tangan Kirana. Kirana senang tetapi masih sungkan. Dirinya seperi diistimewakan oleh bosnya itu. Karena karyawan yang lain pun tidak mendapat perhatian seperti itu dari bosnya.
"Emm.. Iya bu Dewi" Kirana menjawab malu seraya tersenyum pada Dewi.
"Mengapa kamu memanggilku seperti itu?? Panggil saja oma.. Erik itu sudah seperti keluargaku sendiri. Kalau tidak ada dia, keluarga ini tidak akan bisa sampai sekarang ini"
Kirana tersenyum mendengar penuturan Dewi. Mungkin itu yang membuatnya lebih spesial dibandingkan karyawan lainnya. Karena jasa ayahnya pada keluarga ini.
Kirana memang mengetahui pekerjaan ayahnya sebagai pengurus serta sekretaris pribadi. Namun dia sama sekali tidak tau dimana ayahnya bekerja.
"Tolong, kamu panggilkan cucuku, Rey kemari!" Ucap Dewi kepada bik Sani, pelayan pribadinya.
Tidak lama, Rey masuk ke dalam rumah. Betapa terkejutnya Kirana melihat lelaki yang terus memaksanya itu memasuki ruangan dengan wajah dinginnya.
"Ini cucu Oma satu-satunya, nak! Kenalkan namanya Reyfano" Kirana terbelalak mendengar perkataan Dewi. "Kemarilah, Rey. Kamu harus berkenalan dengan putrinya Erik!"
Rey terdiam matanya masih terpaku pada Kirana. Begitupun Kirana menatapnya bingung. Cukup lama mereka saling memandang dengan berbagai pertanyaan dalam pikiran mereka masing-masing.
"Kalian saling mengenal?" Dewi penasaran dengan sikap mereka berdua yang seolah saling mengatakan sesuatu.
"Emm.. I-itu..-" Kirana hendak menjawab ragu, namum Rey kembali menginterupsi.
"Tidak, oma. Kami tidak saling mengenal". Rey berbohong, dia merasa tidak ingin mengenal Kirana lagi. "Kami sudah bertemu tadi diluar hanya memberi salam". Kirana hanya menatapnya bingung.
'Apa yang dia lakukan? Mengapa dia bilang tidak mengenalku?Ah, tapi baguslah. Memang itu yang aku harapkan dengan begitu aku tidak akan berurusan lagi dengannya.'
**
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kirana keluar rumah untuk menenangkan diri setelah kejadian menyesakkan dadanya tadi.
"Sedang apa kamu diluar sendirian, nak?" Erik menghampiri putrinya yang menyendiri di teras samping rumah Rey.
"Ayah, bisakah Kiran pulang duluan? Kiran merasa tidak enak badan"
"Tapi, nak. Ayah masih harus disini menemani para tamu. Atau ayah izin sebentar untuk mengantarmu pulang ya?"
"Tidak, yah. Jangan! Biar Kiran pulang sendiri saja naik taksi"
"Biar saya saja yang antar, Om. Lagipula ini sudah malam. Tidak baik anak gadis berada diluar sendirian malam-malam begini" Rey datang tiba-tiba menginterupsi menawarkan diri untuk mengantar pulang Kirana.
"Tidak perlu. Terimakasih, saya bisa pulang sendiri"
"Kamu tidak perlu sungkan begitu. Bukankah lebih baik saya yang antar, om. Daripada Kiran pulang sendirian?"
"Benar, Kiran. Kamu pulang saja diantar, Rey. Tidak baik pulang sendirian malam-malam. Maaf ya Rey, om jadi merepotkan kamu. Hati-hati dijalan ya!"
Akhirnya Kirana mengalah. Lebih tepatnya menuruti keinginan ayahnya. Jika ayahnya tidak memaksa, tentu sekarang dia lebih tenang jika naik taksi sendirian.
- Bersambung -