Di sebuah apartemen.
"Sayaang.. Kamu setrong banget sih! Aku sampe capek tau dede kamu gak ada off nya!" Kinara meracau manja pada sosok lelaki disampinganya. Rafael, lelaki yang baru ditemui ya beberapa hari yang lalu.
"Habisnya kamu itu sangat menggoda, Kiran. Aku tidak bisa berhenti jika bersamamu."
"Tapi kan aku juga capek. Butuh refreshing gitu. Ngapain kek!"
"Tenang, sayang. Kamu bisa refreshing sepuasmu hari ini. Aku sudah transfer uang buat shopping kamu!" Bisiknya pada telinga Kinara yang di sertai teriakan manja Kinara kegirangan karena lelaki itu tau maksudnya.
"Kamu memang paling de best pokonya! Muach muuach! ". Kinara menciumi pipi Rafael dengan senangnya. 'Akhirnya kena juga'. Kinara mencium bibir Rafael gemas. Dibalasnya dengan ganas hingga turun ke leher.
"Rafael. Bukannya kamu harus kerja hari ini?" Kinara menghentikan nafsu rafael yang makin memuncak.
"Kamu benar, Kiran sayang. Hari ini aku masih harus mengurus kantor cabang. Sungguh melelahkan sekali, kenapa kantor kecil jelek seperti itu masih diurus sih!" Rafael menggerutu tentang pekerjaannya. Dia dipindahtugaskan pada kantor cabang karena reputasinya yang buruk itu. Masih baik dia belum dipecat mengingat dedikasinya dulu. Namun sikapnya masih belum berubah.
Kinara mengelus d**a Rafael mencoba menenangkan. Kalau Rafael masih bekerja, tentu pundi-pundi uangnya tetap mengalir. Dia harus membuat Rafael bertekuklutut padanya.
**
"Sekarang ini juga adalah rumah kamu, nak!" Dewi mengajak Rey dan ibunya mulai saat ini untuk tinggal bersamanya. Mereka datang bersama Erik dan seorang sopir yang membawanya. Dia dituntun oleh Rey masuk ke dalam rumahnya.
Rumah mewah nan megah dengan 2 lantai namun luas. Di bagian depan terdapat taman yang dikelilingi jalan memutar. Ada kolam ikan dan air mancur yang cukup besar di tengahnya. Disamping rumah juga terdapat kolam renang pribadi. Terlihat sekali jika rumah ini sangat terawat walapun luas.
"Opa kamu sudah menunggumu di kamarnya". Merekapun melewati ruang tamu langsung menuju ruangan kamar Mahendra yang memang berada di lantai bawah. Mahendra pun terkejut dengan kedatangan tamu yang dia sangat nanti-nantikan.
"Windi, anakku!" Mahendra menyambutnya dengan tangan terlentang ingin memeluk sang menantu yang telah lama meninggalkan mereka. Windi pun langsung menghampiri Mahendra dan membalas pelukannya. "Tolong maafkan sikapku padamu, nak. Papi benar-benar menyesal. Mengapa kalian menghukum papi sampai seperti ini...." Air mata merekapun tidak tertahan. Saling meluapkan emosi masing-masing.
"Papi, ini Rey. Anak kami. Cucu papi". Windi menoleh ke arah Rey yang sedari tadi dibelakangnya. Rey segera menghampiri Mahendra yang sedari tadi masih terduduk di ranjangnya, masih dalam kondisi lemas karena sakitnya.
"Cucuku. Kemarilah, nak!". Rey menghampiri kakeknya yang menyambutnya dengan pelukan hangat. "Kamu sudah sebesar ini, nak. Terima kasih anakku, kamu sudah membesarkannya sendiri hingga dia menjadi lelaki dewasa yang sangat tampan." Ucap Mahendra sambil tersenyum bahagia karena keluarganya yang menghilang kini kembali kerumahnya lagi. "Siapa namamu tadi, nak?"
"Rey, Opa. Reyfano Pratama".
Dewi yang sedari tadi menyaksikan mereka turut menitihkan air mata kebahagiaan. Erik juga bersyukur akhirnya tuannya itu kini telah menemukan keluarganya kembali.
Memang sudah menjadi keputusan Beno dulu untuk meninggalkan rumah dan membawa serta istrinya. Windi dengan rela mengikuti suaminya pergi dari rumah. Ternyata saat mereka pergi, Windi tengah mengandung Rey yang saat itu berusia 2 bulan dalam kandungan. Beno memutuskan meninggalkan rumah dan perusahaan papinya karena pertengkaran hebat yang terjadi antara ayah dan anak itu. Beno dan Windi memulai hidup baru sebagai keluarga yang sederhana di suatu daerah kecil dan memulai bisnis kecil-kecilan.
Windi sama sekali tidak menyesal karena meninggalkan rumah. Dia ingin berbakti pada suaminya, namun di sisi lain dia sangat sedih karena suaminya lebih egois mementingkan diri sendiri daripada orang tuanya. Tapi apalah daya. Ini keputusan suaminya, jadi dia harus berusaha hidup sendiri setelah suaminya meninggal 10 tahun yang lalu karena kecelakaan.
"Mengapa kamu tidak mencari kami, nak? Pasti sangat sulit hidup sendiri tanpa suamimu, membesarkan anakmu sendirian". Dewi menangis memikirkan nasib mereka.
"Tidak begitu sulit, mi. Saya dan mas beno sudah memiliki rumah sendiri hasil dari kerja keras mas Beno, juga mas Beno lah yang membuatkanku toko kue itu untuk kesibukanku dirumah. Maafkan Windi, mi, pi. Bukannya Windi tidak menganggap kalian. Hanya saja mas Beno berpesan padaku untuk tidak perlu menyulitkan mami dan papi lagi".
"Anak itu sungguh keras kepala. Dia tetap dalam pendiriannya sampai kapanpun" Mahendra menghela nafas panjang dan menahan isakannya. "Papi menyesal, nak.. Karena kesalahpahaman itu membuatku terus menyalahkan Beno atas kerugian besar yang terjadi".
"Andai saja dia tau, selama ini metode yang dia cetuskanlah yang membuat perusahaan kini berkembang sangat pesat. Kalau saja dia dulu lebih sabar menghadapi papi dan papi juga tidak terlalu keras padanya. Mungkin kalian juga tidak akan hidup susah seperti itu. Kalian berdua mau kan maafkan semua kesalahan papi??". Mahendra mengingat kembali masa lalunya dulu yang sangat kejam mengusir anak dan menantunya sendiri dari rumah karena keegoisannya.
"Sudahlah, pi. Tidak apa-apa. Semua sudah terjadi. Tidak ada yang perlu di sesali lagi". Windi mencoba menenangkan hati mertuanya itu, karena Windi tau kondisinya yang tidak begitu sehat karena jantungnya yang semakin lemah.
"Sekarang sudah saatnya papi mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik kalian!" Mahendra memanggil Rey mendekat padanya. "Rey, kamu nantinya yang akan menjadi pewaris tunggal semua bisnis opa. Sebelumnya oma kamu lah yang menghandle semua pekerjaan opa. Jadi mulai sekarang kamu bisa mulai belajar mengelola perusahaan". Rey memeluk erat lelaki tua yang kini menjadi sosok kakek kandung yang selama ini tidak pernah dia ketahui keberadaannya.
"Erik, dia adalah sekretaris pribadi opa dan oma mu. Kami sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Mulai sekarang juga beliau yang akan menjadi mentormu. Dia akan mengajarimu bagaimana mengelola perusahaan dari nol. Kamu bersedia, nak?" Lanjutnya.
"Rey akan berusaha, opa". Rey tersenyum memandang Erik. Dia sangat berterima kasih pada Erik, dia beruntung telah bertemu Erik dan juga karenanyalah dia bertemu dengan keluarga ayahnya. Erik seolah mengerti dan menganggukkan kepalanya pada Rey sambil membalas senyumannya.
**
Erik sampai kerumahnya disambut oleh putrinya yang menunggunya dari tadi. Sebentar lagi waktu sudah hampir petang. Kirana sudah sampai dirumah lebih dulu daripada ayahnya.
"Anakku, sedang apa kamu diluar?"
"Ayah sudah pulang?" Kirana mencium punggung tangan ayahnya. "Tidak ayah, Kiran hanya menunggu ayah tadi."
"Ada apa, sayang? Mengapa menunggu ayah?"
"Ayah, sebenarnya Kiran sudah mulai masuk bekerja dari kemarin. Hanya saja Kirana belum sempat memberitahu ayah karena ayah kelihatan sibuk sekali akhir-akhir ini!"
"Oh maafkan ayah, nak. Ayah sedang mengurus sesuatu yang penting" Erik mengelus rambut Kirana lembut.
"Tidak apa-apa. Oh iya ayah, Kiran sekarang sudah mulai bekerja sebagai sekretaris loh, yah. Rekan-rekan Kiran sangat baik pada Kiran"
"Benarkah? Ayah bersyukur atas hal itu. Ayah jadi tenang kalau kamu betah dengan pekerjaan barumu. Oiya dimana tempat kamu bekerja, nak?"
"Kiran sudah bekerja di-"
"Suamiku, kamu sudah pulang kenapa tidak segera masuk rumah?" Fella menatap sinis Kirana. Penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Ini juga mau masuk. Ayo, nak kita bicara saja di dalam" Ajak Erik. Kirana sebenarnya sungkan jika ada ibu tirinya saat dia sedang bicara dengan ayahnya. Pasti akhir-akhirnya selalu tidak menyenangkan.
Fella sebenarnya sudah tau soal pekerjaan Kirana. Kirana sendiri yang sudah memberitahunya. Tetapi dia memilih cuek. Bahkan untuk memberitahu suaminya. "Kamu pasti sudah lapar kan suamiku, ayo cepat sana mandi. Kita segera makan malam bersama".
Kirana masih memilih diam tidak meneruskan pembicaraannya tadi dengan ayahnya. Seolah dia memang merasa bahwa ibu tirinya sangat menjauhkan ayahnya darinya dan tidak suka jika ayahnya sedang bersamanya. Mungkin lebih baik memberitahukannya lain kali. Dia pun segera ke dapur dan mempersiapkan makan malam.
- Bersambung -