#6 - Pekerjaan Baru

1375 Kata
Di sebuah club malam. Kerlap kerlip dan sorot lampu menghiasi ruangan gelap yang penuh sesak dengan muda-mudi pecinta malam. DJ musik tak lelah memainkan dentuman musik yang membuat siapa saja ditempat itu terbawa suasana asyik. "Grace, gue ke toilet dulu!" Kinara membisik keras di telinga temannya itu. Dia hanya menganggukkan kepalanya dan mengacungkan jempol tanpa menjawab Kinara. Grace pun masih asyik larut dalam dentuman musik keras yang memenuhi ruangan. "Aakh.. Sakitt!" Kinara terjatuh dan mengerang kesakitan saat tubuhnya sengaja dia tabrakkan pada seorang lelaki bertubuh tinggi berotot, tampan dan ber-uang. Dia baru saja keluar toilet dan menemukan mangsa baru. "Ah maaf, aku tidak sengaja nona..?" Lelaki itu mengkode Kinara dengan mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. "Kirana, panggil saja Kiran". Kinara mengulurkan punggung tangannya kepada lelaki itu. "Dan anda?" Lelaki itupun menyeringai menerima uluran tangan Kinara lalu mencium punggung tangannya dengan menggoda. "Rafael. Nona Kiran yang cantik. Saya sedang kesepian sekarang. Maukah kamu menemaniku malam ini?" "Tentu, tuan Rafael" Yes. Mangsa baru. ** "Udah dong Rey. Lo jangan menyiksa diri lo kayak gini. Lupain aja cewek itu. Masih banyak cewek lain yang jauh lebih baik daripada dia". Gilang mencoba membujuk Rey yang sedari tadi melampiaskan frustasinya pada alkohol. Dia hampir setengah mabuk. Hanya diam dan terus menenggak minuman yang ada di gelasnya. "Lo bukannya udah lama berhenti minum Rey?" Radit heran dengan sikap temannya yang satu ini, karena setau mereka Rey paling anti menyentuh minuman-minuman keras seperti teman-temannya. "Biarkan gue kali ini aja bro. Gue bener-bener frustasi. Gue nggak tau lagi apa yang harus gue lakuin." Pandangannya mulai kabur, kepalanya terasa berat, namun dia berusaha tetap tersadar. "Kiran!". Dia terbangun dari lamunannya, sontak berdiri saat melihat seseorang yang membuatnya frustasi itu tiba-tiba melintas melewatinya dalam pelukan seorang lelaki. Meninggalkan teman-temannya yang juga terkejut melihat Rey mengejar seorang wanita. "Kiranaa!" Rey berusaha memanggilnya dan mengejarnya dengan terhuyung-huyung karena pengaruh minuman yang membuatnya sulit mengejar. Kinara terkejut seseorang memanggilnya. 'Hah. Dia kan??? Rey??? Cihh.. Sedang apa dia disini! Sial aku!'. Kinara segera menarik Rafael yang memeluknya sedari tadi untuk bersembunyi dengan menciumnya sampai ke belakang sebuah tirai besar. Rafaelpun tidak curiga sama sekali dengan tingkahnya. Dia menerima Kinara mencumbunya dengan ganas. 'Aku yakin dia Kiran! Aku tidak mungkin salah lihat!' Rey mengepalkan tangannya, melampiaskan emosinya pada tembok yang tidak bersalah. "Sial!" 'Wanita itu benar-benar bersama lelaki lain!' Kinara yang mendengar teriakan Rey mengintip dibalik tirai sambil tetap melanjutkan aksinya. 'Dasar cowok gembel! Buat apa dia masih mencariku!' ** Another day. Mobil mewah berhenti di sebuah rumah dengan toko kue kecil didepannya. Seorang wanita tua turun dari dalam mobil. Dia memandangi rumah sederhana yang terpampang di depannya. Perasaannya iba. Sedih bercampur senang. "Benar ini rumahnya, Erik?" "Benar nyonya. Mari kita masuk!" Erik menuntun Dewi mendekat ke dalam rumah. Seorang lelaki keluar dari dalam rumah dan menerima kedatangan mereka. "Om Erik!" Rey langsung menyalami Erik yang membalasnya dengan senyuman. "Ada perlu apa om Erik kemari?". Rey menatap Erik penuh pertanyaan, pasalnya dia membawa seorang wanita datang kerumahnya. "Ibu kamu ada dirumah Rey? Ada seseorang yang ingin bertemu dengannya". "Oh, ada om Erik. Silahkan masuk!" Rey mempersilahkan tamunya masuk dan memberinya duduk. "Tunggu sebentar, om. Saya akan panggilkan ibu, beliau sedang membuat kue kering di dapur". "Nak, biarkan saya ikut masuk kedalam." Dewi beranjak dari duduknya berniat menghampiri Windi yang sedang membuat kue. Rey pun mempersilahkan Dewi masuk ke dapurnya. "Windi!" Dewi memanggil ibu Rey yang masih sibuk menggiling adonan. Windi terkejut melihat tamu yang datang mencarinya. Matanya terbelalak tidak percaya apa yang dilihatnya. "Mami..????" Windi seketika menangis, tubuhnya tersungkur dilantai dan menunduk tanpa berani memandang wajah Dewi. "Anakku..." Dewi memeluk Windi yang masih terisak. Rey memandang mereka dalam kebingungan. 'Siapa wanita ini sebenarnya?' ** Setelah suasana tenang. "Rey, kemari nak. Beri salam pada Oma-mu! Beliau nenek kandungmu" Rey tidak menyangka. Nenek yang dianggapnya sudah tiada kini berada tepat di depannya. "Rey? Apa dia benar cucuku???" Dewi memegang wajah Rey dengan kedua tangannya. "Kamu tampan sekali nak. Persis sekali dengan ayahmu." Dia mencium kening Rey dengan hangat lalu memeluknya. "Maafkan Oma ya, nak. Oma terlambat menemuimu." "Tidak, oma... Rey sangat senang bisa bertemu Oma" "Win, mami mohon kamu ikut mami pulang ya, nak! Disana juga rumah kalian. Dan sudah seharusnya kalian berada disana!". "Tapi mami, mas Beno.. " "Saya sudah mendengarnya dari Erik, Win. Saya dan papimu sudah ikhlas. Semoga Beno tenang di alam sana." Dewi menggenggam tangan Windi erat. "Maafkan mami ya nak. Maafkan papimu juga". "Iya mi. Windi mengerti..." "Erik, tolong kamu bantu mereka berkemas ya." Dewi berlalih menatap Rey dan ibunya "Hari ini juga kalian pindah kerumah Oma, kerumah kalian juga." ** Sementara itu, Kirana. "Hari ini kamu langsung saja bertemu pak Theo. Bapak Theo adalah wakil direktur utama. Karena atasan kamu nantinya adalah direktur utama yang baru, jadi sementara ini penyesuaian tugas sesuai pekerjaan pak Theo. Kamu bisa koordinasi langsung dengan Bella sekretaris pak Theo." Ibu HRD cantik itu menjelaskan sesekali membetulkan kacamatanya. "Baik, bu. Maaf bolehkah saya bertanya?" "Iya, silahkan" "Apa saya bisa tau siapa atasan saya nantinya, bu?" "Kalau soal itu, saya juga belum mengetahuinya. Rencananya 1 minggu lagi beliau akan mulai memimpin. Jadi sebisa mungkin kamu harus sudah menguasai pekerjaan kamu sebelum beliau masuk, oke?" "Saya akan usahakan, bu" Kirana menundukkan kepalanya "Terimakasih banyak" Kirana segera menuju ruangan wakil dirut yang ditunjukkan ibu HRD. Wajahnya sedikit pucat, ini pertama kalinya dia mendapat pekerjaan di Indo dan dia tidak ingin mengecewakan pilihan ibu HRD. "Maaf, apakah bapak Theo ada di tempat?" Kirana bertanya pada seorang gadis cantik yang sedang duduk anggun menghadap laptop. 'Cantik sekali, tampak sangat berkharisma' Batin Kirana memandang sekretaris cantik yang duduk di meja depan ruangan wakil dirut. "Beliau sedang di tempat. Ada yang bisa saya bantu?" "Saya Kirana. Sekretaris baru. Ibu Fitri HRD sudah membuatkan janji temu saya dengan bapak Theo sekarang." "Oh. Silahkan Kirana. Bapak Theo sudah menunggu anda." Bella tersenyum manis memandang Kirana. "Ssstt.. Jangan kaku-kaku amat! Kita kan bakal sering barengan! Hhihi" Celotehnya berbisik pada Kirana dengan menutupi mulutnya dengan tangan. "Semangat!" Kirana menyungggingkan senyuman manisnya pada Bella. 'Ternyata dia asyik orangnya'. Kirana pun segera mengetuk pintu. Seseorang mempersilahkannya masuk. "Oh, kamu Kirana? Salam kenal. Saya Theo. Selamat bergabung di perusahaan kami!" Mereka berjabat tangan dan saling memandang sekilas dengan senyuman. Theo menjabat sebagai wakil direktur Cakradhana Group dan juga adalah tangan kanan Mahendra dikenal sangat ramah dan humble pada siapapun. Namun sangat bijaksana dan adil saat berurusan dengan pekerjaan. Dia mungkin hampir seumuran dengan ayahnya. "Untuk hari ini, Bella akan membantumu mempelajari tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Jadii jangan mengeluh dulu ya, tetep semangat dan siapkan banyak tenaga! Oke?" "Baik, pak Theo" Kirana keluar ruangan Theo dan segera menuju meja Bella. Bella sudah menunggunya, dia merasa senang mendapat rekan baru. Karena selama ini dia bekerja sendirian di kantor direksi. "Haii.. Kirana, kenalin aku Bella!" "Hai Bell. Panggil saja Kiran. Mohon kerjasamanya ya!" "Siapp bu!" Ekspresinya seperti prajurit menerima tugas atasannya. Bella memang lebih tua 1 tahun dari Kirana, mengingat dia juga fresh graduate sebelum dia bekerja di sini selama 1 tahun belakangan ini. Namun dia tidak sungkan. Karena Bella akhirnya punya rekan ngobrol selain pekerjaan. Mengingat lokasi kerjanya, tentu sedikit terpisah dari karyawan lainnya. Dan Bella terlihat sangat profesional saat sedang bekerja. "Eh, Ran. Denger-denger bapak dirut yang baru adalah cucu tunggal pemilik tempat ini loh! Gimana orangnya ya? Apa dia sudah galak? Atau tampan seperti lee kin ho si aktor korea itu lohh yang kayak di drama-drama?" Bella mulai berfantasi. Kirana hanya tersenyum dengan tingkah Bella yang ekspresif. "Memang siapa dirut sebelumnya, Bell?" "Ooh.. Itu istri bapak komisaris, Ibu Dewi namanya. Beliau akan mengundurkan diri sebagai dirut digantikan cucunya yang baru saja ketemu". "Ketemu? Maksud kamu apa?" "Emmh.. Entah bagaimana ceritanya aku juga belum banyak tau. Nanti kamu cari tau saja sendiri sama orangnya langsung sambil pedekate. Denger-denger juga dia masih berusia 25 atau 26 gitu deh". "Ooh.. Begitu." "Ran, kenalin temen cowok kamu dong. Cowok chinese pasti cool-cool!" "Eemmh boleh. Kapan-kapan ya! Emang lulusan korea nggak ada yang bikin kamu kecantol apa?" Bella sendiri adalah lulusan manbis salah satu univ di Korea "Hehe. Banyak sih. Tapi aku ga suka! Aku lagi pengen cari produk import aja dari china". Celetuk Bella disertai tawanya yang renyah. Obrolan random mereka membuat keduanya semakin dekat. Bahkan pekerjaan yang seharusnya membuat pening kepala, bagi mereka sangatlah menyenangkan. - Bersambung -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN