Kinara hari ini masih bersembuyi dirumah Grace teman baiknya yang paling dia percaya. Meski Grace kadang sering mengejeknya dan membuatnya jengkel, namun tetap saja cuma Grace yang paling bisa mengerti Kinara.
Dari sisi baik sampai buruknya, dari luar hingga dalamnya Kinara, semua hanya Grace yang tau. Kecuali satu hal yang memang dari dulu Kinara tidak pernah ungkap pada siapapun.
"Kin...!?" Grace menginterupsi kesibukan Kinara yang sedang menipedi kuku jari tangannya. Kuku jari yang sudah lama tidak dia rawat karena si b******k James.
"Hem??" Jawabnya singkat dengan wajahnya yang masih fokus mengikir setiap ujung kuku jarinya.
"Kenapa sih lo mesti pake nama Kirana Shafia setiap lo kenalan sama cowok!? Kenapa nggak pake nama lo sendiri. Kinara Shelia. Kan lebih bagus!"
Sebenarnya Grace heran mengenai hal itu dan seringkali bertanya langsung pada Kinara, tetapi wanita satu itu selalu berkelit dengan jawaban yang tidak pasti.
"Kirana nama kembaran gue.."
"WHAAATTT?????" Grace membelalak tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "A-apa lo bilang???"
Kinara mendengus kesal. "Kenapa lo kaget sampe segitunya!?"
"Lo..!?? Lo punya kembaran??? Kembaran dari Hongkong!!!?" Grace tertawa keras karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Emang bener dari Hongkong" Jawabnya acuh dan singkat tanpa ekspresi.
Grace berhenti tertawa melihat keseriusan Kinara saat ini, dia mengernyitkan dahinya masih tidak percaya. "Gue temen lu dari kecil. Dan setau gue tante Nat cuma punya lo!"
"Dia ikut bokap gue"
"Om Dirga?"
"Bokap kandung gue"
"WHAAATT!!?? Kinar berhenti bercanda! Gak lucu deh! Sejak kapan om Dirga berhenti jadi bokap lo!"
Kinar mendengus kesal mendengar ocehan gak jelas teman kecilnya itu. Lalu dia menceritakan semua kejadian yang terjadi saat dirinya dan Kirana masih sangat kecil. Tentunya cerita yang dia dapat dari Natasya ibu kandungnya itu, sedikit berbeda dengan realita yang Erik dan Kirana alami.
"Jadi... Bokap kandung lo sekarang masih hidup?? Bersama saudara kembar lo?"
Kinara mengangguk mengiyakan. "Hmb.."
"Terus??? Kenapa lo nggak balik aja sama bokap kandung lo! Semenjak nyokap lo meninggal bukannya lo udah gak mau ikut om Dirga lagi?"
"Belum saatnya.. Nanti jika tiba, gue bakal muncul dan mengambil kembali apa yang seharusnya gue dapat dari dulu!"
"Oiya, Kin? Ngomong-ngomong soal om Dirga, gue masih gak percaya kalo doi bukan bokap kandung lo. Secara gitu, doi sayang banget sama lo. Sampe sekarang aja doi masih rutin kirimin lo duit buat kebutuhan lo lewat gue!"
Kinara mengentikan aktifitasnya sejenak mengingat sosok Dirga. Memang dari kecil, Dirga, ayah sambungnya itu sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan di dalam kesulitan ekonomi yang membelit keluarga mereka dulu, tetap saja membuat Dirga bertanggung jawab sepenuhnya pada Kinara dan mendiang ibunya.
"Gue gak suka sama dia!"
"Gak suka gimana!?"
"Dia terlalu munafik! Pokonya gue gak suka! Ada orang lain yang bersikap seolah-olah dia ayah kandung gue! Padahal ayah kandung gue aja gak peduli sama gue! Bahkan menganggap gue gak ada! Palingan juga baik sama gue karena pengen body gue!"
"Kok bisa sih lo mikir keg gitu!"
Kinara mengendikkan bahunya acuh. Sebenarnya dia sangat tau bagaimana Dirga menyayanginya, namun dia seolah membantah semua kenyataan itu dengan dalih tidak ada satu orangpun yang bisa dia percaya selain uang. Bahkan keluarga dan Grace, teman baiknya sendiri.
**
- Flashback 6 tahun yang lalu -
"Kinar kembali sekarang atau ayah akan seret paksa kamu!" Dirga mengancam Kinar yang kini mulai berontak.
"Coba saja kalau bisa!"
Kehidupan hingar bingar dan gemerlap malam kini menjadi teman hidup Kinara sehari-hari. Bukan tanpa sebab dia mengubah haluan hidupnya seperti ini. Gadis manis yang selalu ayahnya itu banggakan, kini berubah 180 derajat berbalik membencinya.
Semenjak tanpa sengaja dia bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengannya itu di sebuah mall perbelanjaan di kota.
Saat itu, dia tengah hang out bersama teman-teman sekolahnya. Dia melihat seorang gadis muda, cantik nan anggun tengah berjalan bergandengan dengan seorang laki laki tampan paruh baya. Matanya terus memperhatikan kemana arah mereka pergi dengan raut di wajah mereka yang bahagia.
Sejak itu, dia membuntuti gadis yang mirip dengannya hingga kesehariannya yang menjadi anak orang kaya raya. Tinggal dirumah dua lantai yang cukup mewah dan halaman yang luas. Senyuman yang tak pernah luntur dari wajah manis nan anggun yang selalu menghiasi setiap apapun yang dia lakukan.
Kinara mengerutuki nasibnya yang berbanding terbalik dengan gadis yang mirip dengannya itu. Ingin sekali dia bertukar posisi dengannya dan menikmati semua kemewahan yang orang tuanya berikan.
Bersama ibunya, Natasya Dewani, dia dibesarkan dalam keluarga yang berada di garis kemiskinan. Dirga ayah sambungnya hanya seorang guru honorer dengan gaji minim. Sedang ibunya hanya mampu menjahit dengan sedikit kemampuannya yang dia miliki. Dia hanya mampu bersekolah di sekolah swasta yang minim peraturan. Menjalani kehidupan tanpa kemewahan sedikitpun. Tidak seperti teman-teman sekolahnya.
"Kinar! Berhenti membuat keributan! Kembalikan perhiasan ibumu! Itu satu-satunya harta yang dia miliki, nak! Jangan ikuti teman-temanmu! Mereka membawa dampak buruk buatmu!" Dirga masih mencoba membujuk Kinara yang lagi-lagi mencuri uang dan perhiasan milik orang tuanya untuk berfoya-foya.
"Siapa lo nasehati gue! Lo itu bukan siapa-siapa gue! Gue tau... Sebenarnya lo cuma pengen tubuh gue kan dari dulu!"
"Kinar! Jaga bicaramu!" Dirga tersulut emosi karena tuduhan Kinara yang sangat keji dan tidak berperasaan.
"Kenapa?? Karena tepat sekali bukaaaan???" Jawab Kinara dengan nada mengejek.
Kinara mulai tidak menyukai ayah sambungnya itu sejak dirinya memaksa Natasya ibunya untuk menceritakan semua kejadian yang sebenarnya. Dan alasan mengapa ibunya harus menikah lagi dengan orang miskin seperti Dirga Pahlevi.
Dirinya adalah putri dari Natasya dan Erik yang bercerai karena suatu hal. Natasya menggugat cerai Erik yang telah berselingkuh di belakangnya. Erik saat itu menjabat sebagai pemilik perusahaan yang tengah berkembang. Perusahaan yang telah mereka rintis bersama dari nol. Natasya pergi membawa Kinara dan meninggalkan Kirana yang lemah dan sakit-sakitan pada Erik.
Bukan tanpa alasan Natasya memilih meninggalkan Kirana pada Erik. Tentunya dari segi ekonomi Erik lebih mampu dari pada dia yang pergi tanpa membawa apapun. Dia tidak mampu untuk merawat dua anak sekaligus sebagai ibu tunggal.
Kinara merasa ibunya telah salah membawa anak. Seharusnya dia yang merasakan hidup berkecukupan bersama ayahnya. Bukan dengan ibunya yang sakit-sakitan dan ayah sambung yang miskin. Dia menumpahkan semua kemalangan yang terjadi di hidupnya kepada ibu kandung dan ayah sambungnya itu.
"Berhenti membuat ulah, Kinar! Ayah sadar, ayah ini bukan ayah kandung kamu! Tapi rasa sayang ayah tulus padamu!"
"Halaaaaah! Omong kosong!! Gue gak mau dengar semua ocehan lo! Lo sama ibu yang bikin gue jadi seperti ini! Gue menderita hidup sama kalian! Jika gue bisa milih, mending gue hidup sama ayah kandung gue!"
"Kinar! Jaga bicaramu! Kami sudah berusaha mencukupi kebutuhanmu dan membahagiakanmu semampu kami. Bukan seperti ini balasan yang ingin kami terima darimu!"
"Oooh... Sekarang lo mulai bahas jasa lo di hidup gue!? Hah!!?? Terus lo mau balasan apa dari gue!??" Kinar dengan berani berjalan angkuh mendekati Dirga yang sedari tadi mengejarnya. "Lo mau tubuh gue???" Lanjutnya lirih dan sedikit menggoda tepat di depan telinga Dirga.
"Hentikan omong kosongmu, Kinar!! Kembalikan milik ibumu!" Dirga meraih tangan Kinar berusaha mengambil kembali milik istrinya namun segera di tepis oleh Kinara.
"Ambil saja kalau bisa!" Kinara mengoda ayah sambungnya itu. Meski usia Dirga terpaut lebuh muda 2 tahun dari ibunya, wajah muda dan tampangnya lumayan menggoda. Kinara sendiri hampir menyukai ayah sambungnya itu karena menurutnya lebih pantas menjadi teman ranjangnya daripada ayah sambungnya.
"Berikan kembali Kinar!"
"Tidak akan!" Dirga terus mencoba merebut perhiasan milik istrinya itu dari tangan anak sambungnya. Dia tanpa sengaja mendorong tubuh Kinara hingga keduanya jatuh bersamaan di ranjang kamar milik ayah dan ibunya.
Natasya yang baru saja pulang dari berbelanja mendengar keributan yang terjadi dari luar rumah. Dia bergegas masuk kesumber suara berisik dan menemukan hal yang sangat membuatnya terguncang.
Lagi. Natasya mendapati lelaki yang dia cintai bersama wanita lain selain dirinya dalam ikatan rumah tangganya. Di saat kondisi tubuhnya yang semakin lemah karena jantungnya yang semakin tidak bersahabat. Dia harus mendapati kenyataan suaminya kini b******u dengan putri kandungnya sendiri dikamar pribadinya.
"MAS DIRGA! KINARA!! APA YANG KALIAN LAKUKAN!!!"
"Natasyaaa!!????
"Ibu!!!??"
Keduanya saling bertatap muka. Kondisinya sekarang Kinara sedang berada dibawah tubuh Dirga yang mengungkungnya di ranjang. Mereka segera bangkit mendapati Natasya yang tiba-tiba masuk dan memergoki mereka di saat yang salah.
"Ka-kaaliaan....aaakkkghh.!!" Suara Natasya melemah. Jantungnya mendadak berdetak tidak karuan. Tanganya mendekap erat dadanya. Tubuhnya ringsut karena tidak mampu lagi menahan sakit yang teramat di dalam d**a dan hatinya.
"Istriku!!! Bangun Nat!! Ini tidak seperti yang kamu lihat!!" Ucap Dirga yang berlari menangkap tubuh Natasya yang tersungkur lemah.
Mata Natasya tak mampu mengerjap. Hanya gelap yang menyelimuti tubuhnya. Dirga kalap dan bingung dengan apa yang terjadi pada istrinya.
"Kinar! Tolong bantu ayah! Panggilkan ambulans cepat!!" Bentak Dirga pada orang yang sudah tidak tampak lagi batang hidungnya. "Kinaar?!!????" Mata Dirga mengitari sekitar namun tak ada jawaban dari orang yang dicari. Dia baru sadar bahwa Kinara kabur setelah dipergoki ibunya sendiri.
Kinara pergi tanpa arah. Dia telah membawa seperangkat perhiasan dan uang tunai milik orang tuanya. Didalam hatinya hanya cukup membawa semua itu untuk bekal hidup mandirinya. Dia ingin kembali kepada ayah kandungnya setelah dia siap.
- Bersambung -