#36 - Semakin Dalam

1265 Kata
"Siapaa sih tengah malem gini gedor-gedor pintu rumah orang!!!" Grace dengan wajah kusutnya turun dari ranjang terganggu tidurnya karena ulah seseorang di depan pintu rumahnya. "Iyaa.. Iyaa sebentar!!" Grace membuka kunci pintu rumahnya tanpa curiga sedikitpun setelah dia mendengar namanya dipanggil dengan suara yang tidak asing ditelinganya. "Kinar!!!!" Grace terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sahabatnya yang saban hari mengganggunya menghilang begitu saja tanpa kabar dan kini kembali. Wanita yang tampak lusuh dengan gaun tidur hitam, rambut acak-acakan, lutut terluka dan tanpa alas kaki. Kinar memasuki rumah Grace tanpa dipersilahkan tuannya. Dia melenggang masuk dengan terhuyung-huyung dan merebahkan tubuhnya di sofa empuk ruang tamu rumah Grace. "Ya Ampun, Kinaaar!!!? Kemana saja lo selama ini?! Dan apa yang terjadi sama lo sampai lo seperti ini!!!!??" Kinara tidak langsung menjawabnya, dia masih mengatur nafasnya yang terengah-engah karena berlari cukup jauh dari mansion James ke rumah Grace. "Kinar lo kemana aja!? Gak ada kabar sama sekali! Gue cariin lo mana-mana sampe ke kosan Rafael.. Gue juga sambangi saban club-club yang biasa kita datengi. Tapi semua nihil! Sekarang lo pulang malah dengan keadaan keg gini!!" Kinara menghena nafasnya kasar. "Gue ketemu sama psikopat b******k m***m gilaa!!!! Aaaaaaarrrggkkhhh! Menyebalkaaaannn!!!" "Hah!!???? Kok bisa!??" Kinara kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi padanya itu dengan sifatnya yang bar-bar dengan penuh emosi. Dari awal pertemuannya dengan James hingga akhirnya dia dijual Rafael pada James. Grace sama sekali tidak menyangka sahabatnya yang sangat dikenalnya mudah menakhlukan pria ternyata malah dikalahkan oleh seorang psikopat. "Ya Ampuun, Kinar.. Kasian banget lo....!" Grace mendengar cerita Kinara itu prihatin pada sahabatnya, namun juga lucu baginya. Dia tidak dapat menahannya lagi dan tertawa terbahak-bahak didepan sahabatnya itu. "Gilaa ya lo! Tega ketawain gue yang lagi sengsara!" "Sorry, Kin sorry...! Ya abisnyaa... Ini bukan kayak lo yang biasanya. Kinar yang gue kenal itu sangat beringas... Liarr... Dan penakhluk pria. Sedangkan ini!!??" Grace kembali terkikik. "Lo udah kayak anak perawan yang lari habis diperkosa tau gak!!" "Asem ya lo!!" "Si Rafael kebangeten parah, Kin! Gue nggak nyangka wajah bak malaikat keg dia ternyata dalamnya iblis!" "Pokoknya.. gue gak bakalan tinggal diam! Gue bakal cari Rafael sampai ketemu! Kalo dia gak mau balikin duit gue! Gue pastikan akan membunuhnya dengan tangan gue sendiri!!!!" Grace bergidik ngeri. Dia memang sangat paham sikap Kinara seperti apa, namun mendengarnya mengatakan hal semengerikan itu membuatnya merinding. Rafael membawa pergi uang 1 miliar yang didapatnya dari James setelah menjual Kinara pada James untuk menjadi b***k s*x nya. Kini Kinara kehilangan jejak Rafael yang berada entah dimana. Bahkan menurut Grace sahabatnya, Rafael sudah tidak menempati kosannya yang dulu. "Awas saja lo, Rafael! Gue pastikan lo bakal terima pembalasannya!!" ** Netra Kirana mengerjap memutari sekitar tempat tidurnya. Ya, dia mengingat kini dia tidak sedang berada di kamarnya melainkan di hotel. Bersama- "Rey???" Kedua tangan kekar melingkar pada perutnya yang rata. Wajahnya tepat berada dibalik ceruk leher Kirana yang membuat setiap hembusan nafasnya terasa hingga ubun-ubun. Lelaki itu memeluknya erat dari belakang. "Selamat pagi, Ran" Ucap Rey masih memeluknya. "Rey, kenapa kamu tidur disini??" Kirana kaget bukan main dengan apa yang dilihatnya pagi ini. Selain tidur dalam pelukan Rey, dia juga terkejut melihat Rey tidur memeluknya hanya dengan menggunakan celana boxernya dan bathrobe yang sudah terbuka. "Hoaaaaammmhf.. Entahlah.. Seingatku semalam.. aku.. dan kamu.. Kita...." "Kita apa!??" "Menghabiskan malam berdua dengan indaah.." 'Hehh?? Apa mungkin semalam kita..??? Itu nggak mungkin!' "Kenapa sayang?? Kamu tidak mengingatnya???" Rey mendekatkan tubuhnya pada Kirana yang sudah beranjak dari tidurnya dan memeluk pinggulnya dari samping. "Jangan bercanda, Rey! Kita tidak mungkin melakukan apapun!" "Kenapa tidak mungkin? Lalu siapa yang semalam merengek, menangis memanggil namaku dan memintaku memeluknya??" Kirana membelalak tidak percaya 'Nggak mungkin aku kan?? Atau semalam mimpiku itu? Nggak! Nggak mungkin' "Kamu semalam mengigau, berteriak teriak memanggilku, menangis dan memintaku kembali padamu". Rey menatap kembali wajah Kirana yang berusaha dia alihkan dari pandangan Rey. "Lalu kamu tertidur kembali setelah berada dalam pelukanku" 'Mimpi itu.. Benar adanya terasa seperti nyata dia memelukku' Kirana memberanikan diri bertanya apa lagi yang dia igaukan semalam. "Memangnya apa yang aku katakan??" Ucapnya lirih. "Kamu bilang padaku untuk percaya padamu dan tidak pernah meninggalkanmu" "Hah?? Mana mungkin aku berkata seperti itu!" Kirana menertawakan diri sendiri dan melepaskan pelukan Rey lalu menjauh darinya. Dia sangat malu, ternyata apa yang dia mimpikan semalam, terbawa sampai mengigau. "Kamu gak percaya?" "Disini" lanjut Rey. Rey meletakkan satu jari telunjuknya tepat dibibirnya. "Kamu menciumku semalam" 'Bahkan dibawah sadarku sudah mencintai kamu sampai seperti ini, Rey... Apa yang akan aku lakukan jika kamu menemukan kembali wanita yang kamu cari..' Kirana merenung dalam diamnya. Cupp!!! Rey mendaratkan bibirnya tepat di bibir Kirana dengan cepat lalu menyunggingkan senyuman tampannya. "Morning kiss!!" "Astaga, Rey..!" Sontak Kirana menjauhkan tubuhnya dari Rey, namun Rey menariknya kembali. "Hentikan! Rey!!" Kirana mendorong tubuh Rey hingga terjerembab. Dia mengaduh kesakitan karena luka bengkak di punggungnya. "Aawkkh... Ran..!" Ucapnya dengan nada memelas. Dia menahan tubuhnya dengan satu tangan. "Punggungku masih sakit.." "Maaf!! Aku lupa kalau punggungmu terluka!" "Sepertinya jadi tambah parah setelah kamu dorong tadi" Rey memasang mimik sedih dan sedikit meringis. "Kamu harus tanggung jawab!" Kirana teringat kembali pada saleb yang dimintanya dari pihak hotel semalam. "Berbaliklah!" Ucapnya setelah mengambil sesuatu dari dalam nakas tepi ranjang. Rey segera berbalik badan tanpa banyak protes. Tubuhnya yang memang sudah toples tak perlu ribet lagi membuka kancing dan kemeja. Terlihat jelas disana, luka memar sebesar kepalan tangan yang tampak membiru. Dengan penuh hati-hati dan was-was, Kirana mengeluarkan sedikit saleb dan mengoleskannya ke luka memar di punggung Rey. Saleb thrombophop yang diberikan pihak hotel itu berbentuk gel yang sangat ampuh untuk mengurangi peradangan akibat pembekuan darah. Rey dengan cepat berbalik setelah merasakan sentuhan jemari Kirana terangkat dari punggung Rey. Dia meraih tangan Kirana dan menarik kembali tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Perasaan cintanya yang begitu dalam membuatnya menjadi pria gila yang sangat terobsesi untuk memiliki Kirana seutuhnya. "Ran, ingatlah kembali aku dan semua kenangan kita dulu... Aku mohon!" Kirana masih tak habis pikir. 'Sampai kapan kamu berhenti memikirkan dia, Rey? Sebegitu besarnya kah cintamu pada wanita itu??' "Rey??" Panggil Kirana. Rey lalu melepaskan pelukannya. "Apa.. Kamu benar-benar mencintai wanita itu?" Tanya Kirana setelah menghela nafasnya panjang. "Wanita itu??" Rey mengernyitkan dahinya bingung. "Kirana yang kamu maksud..." "Kamu, Ran orangnya.. Kamu yang dulu dan sekarang selalu aku cintai!" Kirana terdiam karena tak tau lagi harus berkata apa. "Tapi...-" "Selama kamu juga mencintaiku.. Semua hal buruk yang sudah terjadi akan ku lupakan dan akan tetap mencintaimu..." "Aku hanya ingin kamu menganggapku sebagai aku yang sekarang, Rey" "Memang apa bedanya, Ran????" 'Karena aku bukan dia' Kirana hanya menjawab dalam hati dengan tatapan matanya yang dalam kepada Rey. "Aku mencintaimu..." Kirana tak sanggup lagi berkata-kata. Dia memalingkan wajah kecewanya pada Rey. Meski benar perasaan Rey tulus kepadanya, tetapi dengan bayang-bayang wanita di masa lalu Rey membuatnya selalu berpikir bahwa semua perasaan itu bukan untuknya. Rey menarik kembali dagu Kirana untuk menatapnya. "Berjanjilah untuk tetap bersamaku mulai sekarang!" Kirana menganggukkan kepalanya lemah, dia hanya ingin menuruti apapun yang diucapkan Rey. 'Terserah kamu saja, Rey.. Asal kamu bahagia'. Dia selalu berharap Rey bisa benar-benar mencintainya dan mulai melupakan wanita itu. "Kita harus segera pulang, Rey.. Aku tidak ingin ayah khawatir" "Baiklah kita checkout 1 jam lagi" Rey sudah bersiap-siap akan checkout setelah membersihkan dirinya dalam kamar mandinya karena air sudah mengalir deras. Jadi dia tidak perlu menunggu Kirana yang masih mengunci diri di kamar mandi. "Cepat kemasi barangmu, sebentar lagi kita berangkat" Ucap Rey pada Kirana yang terlihat lebih segar setelah mandi. Kirana memakai kembali gaun warna coral pink pemberian oma Dewi untuknya dan juga jas kerjanya hari ini. Karena tidak mungkin dia mengenakan kemejanya yang kemarin. "I-iyaa tunggu sebentar, aku segera berkemas"   - Bersambung -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN