#35 - Satu Kamar

1289 Kata
Kinara berlari secepat yang dia mampu. Malam masih sangat gelap. Dia bahkan berlari hanya mengenakan piyama tidur berbentuk gaun terusan lengan pendek tanpa outer. Kakinya terluka, dia sendiri baru menyadarinya karena terlalu terburu-buru untuk kabur. "Sialan! Dia bahkan tidak memberiku jaket! Mana dingin banget lagi!" Gerutu Kinara pada wanita yang membantunya keluar sambil terus berlari kecil dengan terpincang. Kakinya terluka saat dia melompat keluar dari tembok pagar mansion James yang tingginya hampir satu setengah kali tubuhnya. Tanpa alas kaki dia berjalan terhuyung-huyung sambil merasakan kakinya yang kesakitan. Dia tidak mengamati sekitarnya, karena memang sangat gelap. Dia berjalan melewati jalanan sepi yang jarang lalu lalang mobi lewat. TIN TIIIIINN!!!! Bunyi klakson kencang mengagetkan Kinara yang menyeberang jalan setengah terhuyung-huyung hampir terjatuh karena kaget. "ASTAGA!!!! LO BUTA YA!! Bisa hati-hati tidak kalo mengemudi!!" Teriaknya dengan seluruh tenaganya pada pengemudi mobil. Kinara langsung saja menyelonong pergi tanpa rasa bersalah. "DASAR SOPIR GILA!!" Teriaknya lagi saat dia sampai di tepi jalan. "Dia yang salah nyebrang gak lihat-lihat kok malah dia yang marah! Aneh...." Ucap sopir Delon yang masih terkejut. "Orang gila mungkin pak, biarkan saja!" Ungkap Delon yang berada di kursi depan melihat wanita berbaju gaun tidur hitam itu marah-marah dengan banyak rambutnya yang terurai menutupi sebagian wajahnya. "Siapa tadi pak Delon??" Tanya Rey yang duduk di kursi belakang bersama Kirana yang tengah tertidur. "Hanya orang lewat, pak Rey. Aneh sekali dia. Dia yang nyebrang gak pake lihat kanan kiri kok malah dia yang marah-marah" "Itu tadi orangnya, pak Delon?" Rey menunjuk wanita yang berjalan terhuyung-huyung dengan kakinya yang sepertinya terluka. "Dia sepertinya terluka. Apa perlu kita bantu?" Rey tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Selain karena malam yang sangat gelap juga karena wajah wanita itu tertutupi rambut panjangnya yang tergerai. "Jangan, pak Rey. Bisa saja dia penjahat yang berpura-pura mau mencari mangsa. Biarkan saja dia!" "Ooh.." Rey hanya membalasnya singkat. Dia melihat kembali wanita yang kini duduk disampingnya di kursi jok mobil belakang. Dia masih tertidur lelap padahal tadi sempat ada kejadian mobil berhenti mendadak. 'Dia bahkan tidak terganggu dengan kejadian tadi. Dia pasti sangat lelah setelah seharian ini' Sopir Delon kembali melajukan mobilnya menuju hotel setelah tadi sempat berhenti makan malam di warung pinggiran. Rey mengambil inisiatif meraih kepala Kirana yang masih tertidur itu dan menyandarkannya di bahunya. ** Sesampainya di hotel. "Saya bantu reservasi dulu ya pak?" "Tidak perlu, pak Delon. Anda bisa langsung pulang. Kami bisa urus sisanya. Maaf kami merepotkan bapak" "Tidak-tidak! Justru saya merasa disini pak Rey dan bu Kirana menjadi tanggung jawab saya juga. Saya akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu hal buruk pada kalian berdua." Ucap Delon khawatir. "Tidak apa, pak Delon. Maaf sudah menganggu waktu bersama keluarga bapak" Delon menghela nafasnya. "Baiklah jika itu keinginan bapak. Oiya. Katakan saja pada resepsionisnya jika kalian mendapat rekomendasi dariku" "Ok. Terimakasih" "Sama-sama, pak Rey, bu Kirana. Saya pamit duluan" Rey dan Kirana tiba di hotel hampir pukul 11 malam setelah Delon memaksa mereka untuk makan terlebih dahulu. Mereka memutuskan untuk check in hotel karena tak lagi ingin merepotkan Delon. Kirana lebih banyak diam sejak kejadian di pabrik tadi. Tubuhnya sangat lelah, seharian ini dia belum istirahat sama sekali. Dia merasa tubuhnya sangat lengket dan kotor. Ingin rasanya dia mandi dan berendam cukup lama. Rey kembali menghampiri Kirana yang menunggunya di sofa tamu. "Sudah ku pesankan kamar. Ayo masuk" "Rey? Mana kunci kamarku?" "Ini" Rey menenteng 1 kartu kunci untuk 1 kamar tidur. Kirana terbelalak. 'Jangan bilang dia hanya memesan 1 kamar!' "Ayo cepat. Sudah hampir tengah malam! Kamu mau tidur diluar!?" "Tapi Rey? Mana mungkin kita bisa tidur 1 kamar. Kita bukan pasangan" Ucapnya lirih. Rey mendekati Kirana yang terdiam dibelakangnya. "Aku mendaftarkanmu sebagai istriku. Jangan berani macam-macam jika kamu tidak ingin kita berakhir digrebek sama satpol pp!" Rey tersenyum menyeringai dan mengancam Kirana yang sukses membuatnya ciut. Tentu saja Rey berbohong. Dia memesan 1 kamar dengan 2 bed terpisah didalamnya. Tentu atas rekomendasi Delon, dia dapat memesan kamar dengan leluasa. "Aku janji tidak akan macam-macam. Kecuali jika kamu yang menginginkannya lagi" Kemudian Rey berlalu diikuti langkah ragu Kirana dibelakangnya. Mereka masuk kedalam kamar hotel tipe Family Suite Room. Sengaja Rey memesan 1 ruangan dengan 2 kamar tidur yang terpisah agar dia tetap bisa mengawasi Kirana dengan dekat tanpa membuatnya canggung berada satu kamar dengannya. Lengkap dengan segala fasilitas first class nya. "Itu kamarmu" Rey menunjuk sebuah ruangan di dalam kamar hotel itu untuk Kirana. Ada 1 pintu kamar lagi yang akan dipakai Rey. Setidaknya itu awal rencananya. Rey langsung membaringkan tubuhnya sejenak di atas ranjang kamar disebelahnya. Dia juga sangat lelah hari ini. Ditambah juga dengan siksaan dari Kirana yang sulit dia tahan. Juniornya yang sedari tadi memberontak ingin di puaskan. Kirana menutup pintu kamarnya dia segera menuju kamar mandi ingin membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket. Dia masih sangat mengingat perasaan aneh yang muncul saat Rey menyentuhnya. "Kamu pasti sudah gila, Ran!!" Gumamnya. Tok tok Kirana yang sedang berendam terkejut mendengar ketukan pintu kamar mandinya. Ya, pasti Rey. "Ran??" Panggil Rey dari luar pintu. "I-iyaa, Rey???" Teriak Kirana dari dalam bathtube. "Air dikamar mandiku mati. Kamu masih lama?? Aku... Ingin buang air" Ucapnya agak ragu. 'Hah??? Yang benar saja!!?' Kirana kelimpungan mencari bathrobenya. Sialnya dia melepas semua bajunya dan meletakkannya asal di ranjang. "Se-sebentar, Rey" Kirana membuka pintu kamar mandinya perlahan. Dilihatnya Rey sudah berdiri didepan pintu. Degg Rey hanya diam menatap lekat Kirana yang berdiri di balik pintu kamar mandi yang kini terbuka. Dia hanya mengenakan bathrobe dan mengikat simpulnya asal. Rambut basah dan WHAT!! Sesuatu, bukan! Karena bukan hanya satu, tapi dua yang menonjol dibalik bathrobenya tampak sangat menggiurkan bagi Rey. "Ada apa, Rey?" Rey menelan salivanya berat. Dia mengabaikan pertanyaan Kirana dan segera menarik Kirana keluar kamar mandi dan masuk mengunci pintunya dari dalam. 'Sial! Cari mati aku!! Ini lagi junior gak mau tidur! Air kamar mandiku pake mati segala lagi!' Dia mengerutuki dirinya sendiri yang sulit menahan nafsunya. Apalagi melihat tubuh Kirana yang masih basah karena air dan hanya berbalut bathrobe tanpa memakai sehelai baju apapun. Segera dia membuang hajatnya dengan susah payah, kemudian membuka bajunya dan melemparnya asal. Dia menggunakan bathtub Kirana, mendinginkan otak m***m dan juniornya dalam rendaman air hangat. Kirana penasaran. Dia mencoba mengecek kamar mandi Rey. Ternyata benar, airnya tidak keluar sama sekali. "Ooh... Pantas saja" Kirana memutuskan untuk tidur saja. Dia memakai kembali baju dalamnya, kemeja dan celana kerjanya tadi pagi. Tentu saja tidak mungkin dia akan memakai gaun pink coral rancangan Fransiska dari oma Dewi untuk tidur. Ada untungnya juga belanjaan semalam tertinggal dimobilnya Rey. Jadi dia tidak perlu keluar untuk membeli benda pusaka wanita malam-malam karena dia masih kedatangan tamu bulanannya. Dia segera merebahkan tubuhnya ke ranjang king size berselimut broken white yang empuk dan lembut itu. 'Nyaman sekali....' Meski prosesi mandinya belum usai, dia tidak peduli. Tubuhnya sangat lelah. Bahkan dia tertidur dengan rambutnya yang masih basah dan dibiarkan tergerai. Rey keluar kamar mandi 20 menit setelah dia cukup memuaskan juniornya dengan tangannya sendiri. Dilihatnya Kirana tengah tertidur pulas di ranjangnya dengan rambut tergerai yang masih basah dan baju yang asal dipakainya. Kemeja yang telah kehilangan 2 mata kancingnya karena kelakuan Rey. Disana Kirana sengaja menyematkan 2 jarum kait untuk mengganti kancingnya yang dia minta dari pihak hotel. Rey mendekati Kirana, memandangnya intens. Dia tersenyum lebar, tampak jelas tanda merah di beberapa tempat di leher jenjang Kirana hasil karya Rey. Dia sangat merindukan saat-saat kebersamaannya dengan Kirana dulu. Melihatnya tidur pulas seperti ini, membuatnya lupa akan semua sikap buruk Kirana padanya. "Ran...??? Kamu tau?? Kamu selalu berharga untukku. Meski terkadang aku marah dan membentakmu. Aku hanya ingin kamu kembali padaku seperti dulu. Tidak ada lain lagi yang kamu harapkan selain aku. Hanya itu" ucapnya lirih sambil mengusap pelan rambut basah Kirana. Dia mengecup lama kening Kirana yang terasa hangat dibibirnya.   - Bersambung -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN