Teguh memandangi makan siang yang sudah tertata rapi di meja dapurnya. Aroma lezat menyeruak masuk ke indra penciuman laki-laki itu. Sejak ia tinggal di rumah ini, belum pernah ada hidangan yang tertata di meja sedemikian rupa yang berasal dari dapur rumahnya sendiri. “Aku yang memasaknya,” sela Hanum. Teguh menoleh ke belakang. Di tatapnya Hanum yang mengenakan baju kaos pemberiannya tadi. “Dari mana kau dapatkan bahannya?” tanya Teguh penasaran. “Aku pakai uang yang Bapak beri tadi untuk berbelanja. Bapak belum makan siang, ‘kan?” Hanum berjalan mendekat, mengambil piring dan mengisi piring tersebut dengan nasi dan lauk ayam. Teguh menarik kursi dan duduk, ia menerima piring pemberian Hanum. “Kau sudah makan?” tanya Teguh. “Belum.” “Duduklah! Kita makan bersama.” Hanum mengambi

