Di tengah perjalanannya menuju tempat Aarick, ponsel Mela berbunyi. Wanita itu merogoh ponsel dari dalam tasnya. Nama Teguh berkedip di layar ponselnya. Mela berbalik, ia mengangkat panggilan Teguh. “Mas....” “Sudah dimana?” “Bandara, Mas. Lima belas menit lagi take off,” ujar Mela memberi tahu. “Nanti pulang mau di jemput?” tawar Teguh. “Nnggg....” Mela menggigit bibir bawahnya, ia ragu mengatakan pada Teguh kalau ia pulang bersama Reyno dan sudah di jemput oleh orang Reyno di bandara. “Ya udah, kabari saja kalau sudah sampai di rumah.” Teguh langsung memotong dan berkata, hati kecilnya tidak bisa di bohongi. Mela pasti bersama Reyno dan dia tidak mau lagi ikut campur, bukan... bukan tidak mau ikut campur, istilah itu terlalu kejam bagi orang seperti Teguh. Pria itu sudah menata h

