Perhatian Teguh

1241 Kata
Teguh terdiam mendengar penuturan dokter yang ada di depannya, sementara Siska menatap pintu ruang dimana Mela masih ada di dalamnya. Teguh dan Mela sama-sama larut dalam pikiran masing-masing, pikiran yang sama. Kehamilan Mela. “Biar saya yang tebus resepnya.” Teguh mengambil kertas resep yang diberikan dokter. “Kau bisa membawanya keluar, ‘kan?” tanya Teguh pada Siska, wanita itu menganggukkan kepala. “Tunggu aku di mobil,” perintahnya lagi. Teguh keluar setelah mengucapkan terima kasih pada dokter yang telah memeriksa Mela. Siska membantu Mela keluar, ia memapah Mela yang masih tidak bertenaga berjalan keluar menuju mobil Teguh sembari menunggu Teguh menebus obat. “Aku mendengarnya,” ucap Mela pelan. “Apa itu mungkin? Kami baru sekali melakukannya.” Mela melanjutkan ucapannya. Siska mengenggam erat tangan Mela. Ia memberi kekuatan pada Mela lewat genggaman tangan tersebut. Sebagai seorang sahabat, ia sangat mengerti perasaan Mela sekarang. Seandainya ia tidak kehilangan Rayan, pasti kehamilan ini adalah hal yang paling bahagia yang mereka terima. “Tidak ada yang tidak mungkin jika tuhan sudah menghendakinya. Kau harus berbahagia karena ada Rayan kecil bersama mu sekarang,” hibur Siska. Mela menunduk, ia melihat perutnya yang masih datar. Rayan telah pergi meninggalkannya, tapi ia meninggalkan Rayan kecil di dalam perutnya, buah cinta mereka. Air mata Mela menetes keluar, siapa bilang dia tidak bahagia. Mela sangat bahagia, hanya saja Mela memikirkan bagaimana dengan nasib anaknya nanti yang tidak pernah melihat wajah ayahnya. “Mas Rayan... kau bahagia di sana, ‘kan? Ada buah cinta kita yang akan hadir kedunia ini.” Lalu Mela menangis terisak setelah mengucapkan kata tersebut. Mela menangis dalam pelukan Siska. Teguh memandangi kedua karyawannya itu dari jauh, ia fokus menatap punggung Mela yang naik turun karena menangis. Tangannya yang mengenggam kantong berisi obat terkepal kuat. Ingin rasanya Teguh membawa kepala gadis itu kepelukannya, seperti yang pernah ia lakukan pada istrinya dulu. Teguh mendekat setelah ia berhasil menguasai perasaannya, ia lalu memberikan kantong obat pada Siska. Tanpa bicara, pria itu melajukan kendaraannya membawa keduanya keluar dari area rumah sakit. Teguh memutuskan untuk membawa Mela pulang ke rumah, sebagai atasan ia memiiki kuasa untuk memberikan Mela cuti kerja. Disaat Mela sadar kalau mobil yang dibawa Teguh mengarah ke rumahnya, gadis itu malah meminta untuk kembali ke kantor. “Kau perlu istirahat,” ucap Teguh menolak permintaan Mela. “Tapi ada yang mau aku ambil di kantor,” pinta Mela lagi. “Aku akan minta Aqil membawakannya nanti sewaktu ia mengantarkan karyawan pulang. Atau kalau kau mau cepat, aku bisa minta Aqil mengantarkannya sekarang.” Teguh mengambil ponsel yang terletak di dashboard, ia kemudian menghubungi Aqil. Mela hanya bisa diam ketika mendengar Teguh meminta Aqil untuk mengambil tas miliknya di kantor dan menyuruh Aqil untuk mengantarkannya ke rumah Mela. Sebenarnya bukan itu yang diharapkan Mela. Ia teringat pada dua kotak salad buah yang ia simpan di dalam kulkas kantor. Mela masih menginginkannya. Sekarang Mela paham, kenapa Mela merasa sangat ingin memakan salad buah tersebut. Ini adalah permintaan dari bayi yang sedang ia kandung. Reflek Mela mengusap perutnya, bersamaan dengan tatapan Teguh melalui kaca spion depan mobil. “Kau lapar?” tanya Teguh pada Mela. “Tidak,” jawab Mela. “Kalian sudah sarapan? Siska?” Lagi Teguh bertanya, kali ini ia menatap tajam pada Siska. “Belum, aku ingin makan.” Teguh tersenyum kecil ketika Siska menjawab pertanyaannya. Ia bersyukur Siska ternyata mengerti dengan apa yang ia sampaikan lewat tatapan mata ketika bertanya tadi. Kemudian ia membawa mobilnya ke sebuah toko roti. “Kalian tunggu di sini, kasihan Mela kalau harus ikut jalan kesana,” perintah Teguh. “Mel,” panggil Siska ketika Teguh sudah memasuki toko roti. “Hhmmm.” “Kau sadar gak, kalau ada yang lain dari Pak Teguh?” tanya Siska. Mela menautkan kedua alisnya, ia lalu menggelengkan kepala. Mela memang tidak memperhatikan Teguh karena ia masih merasa sedikit pusing. “Pak Teguh sangat perhatian. Biasanya ia kan jarang bicara dan sedikit cuek,” ucap Siska lagi. “Ia sangat cemas melihat kau tadi pingsan,” lanjut Siska. “Mungkin karena aku pingsan tiba-tiba.” Mela menjawab dengan malas. “Sudahlah! Jangan berfikir macam-macam. Kebetulan kalian yang pertama kali melihat aku pingsan, wajar kalau Pak Teguh yang menolong. Jika aku di temukan oleh Agus, mungkin Agus juga akan melakukan hal yang sama.” Siska tidak lagi merespon ucapan Mela karena ia melihat Teguh sudah berjalan ke arah mereka. Ada benarnya juga yang disampaikan oleh Mela, ini hanya karena mereka yang pertama kali melihat Mela pingsan di kursi kerjanya, mungkin Siska salah mengartikan perhatian Teguh pada sahabatnya itu. “Ini untuk kalian.” Teguh memberikan dua kantong berisi roti pada Mela dan Siska. Keduanya lalu mengucapkan terima kasih. Siska membantu Mela masuk ke kamarnya. Mela awalnya menolak, ia meminta cukup diantarkan sampai depan rumah saja namun Siska dan Teguh sepakat untuk mengantarkan Mela sampai ke dalam dan memastikan Mela beristirahat dulu di kamarnya sebelum mereka kembali ke kantor. “Istirahat ya, Mel. Makan roti yang dibelikan Pak Teguh, biar kau ada tenaga.” Siska mengambilkan sepotong roti dan memberikannya pada Mela. “Aku gak ada selera makan, Sis.” Mela menggeleng. “Kau harus makan, kalau tidak... aku dan Pak Teguh akan tetap di sini menemani sampai ayahmu pulang,” ancam Mela. Mela mengambil roti dari tangan Siska, memotong sebagian kecil dengan tangannya lalu memasukkan bagian itu ke mulutnya. Siska kemudian duduk di samping sahabatnya itu. “Mel... kau tau kan? Setiap yang diberikan tuhan kepada kita adalah kebaikan yang pantas untuk kita terima. Meskipun kadang, kita menganggap takdir yang telah kita terima itu sebagai cobaan... tapi itulah yang paling baik untuk kita.” Siska mengusap pelan lengan Mela, bagaimanapun... sahabatnya itu memang terlihat tenang dari luar tapi Siska merasakan jika Mela sedang dalam keadaan tidak baik. Ia sedang merasa bahagia dan sedih dalam waktu bersamaan. Bahagia karena ia baru saja mengetahui sedang dalam keadaan hamil dan sedih karena ia harus berjuang sendiri menjaga kehamilan tanpa ada Rayan di sisinya. “Jangan khawatir, Sis. Aku kuat!” Mela tersenyum kecil. “Aku tau kau mampu menghadapinya.” Siska balas tersenyum, ia melihat roti yang di tangan Mela sudah habis, senyum Siska semakin lebar karena halitu. “Aku akan kembali ke kantor,” ucap Siska. “Pak Teguh terlihat tidak tenang, ia sangat khawatir, ia tidak seperti biasanya. Mel... ini seperti perhatian istimewa,” Siska melanjutkan. “Sis... jangan mulai.” “Baik... baik... istirahatlah! Jangan banyak berfikir, sayangi Rayan junior yang sedang timbuh dalam perutmu. Ia masa depanmu.” Mela mengangguk. “Aku pamit, kalau kau membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi aku.” Siska menutup pintu kamar Mela, gadis itu menghampiri Teguh yang sedang menunggu di luar rumah. “Bagaimana keadaannya? Apa ia masih menangis?” tanya Teguh dengan raut muka khawatir. “Sudah lebih baik, Pak. Ia juga sudah memakan roti yang Bapak belikan tadi.” “Syukurlah.” Teguh tampak lega. “Apa tidak masalah ia tinggal sendirian? Kalau kau mau... kau bisa menemaninya. Aku akan buatkan surat cuti untuk kalian berdua.” Siska memikirkan tawaran yang Teguh berikan, kemudian ia menggeleng. Mela pasti butuh waktu sendiri untuk menerima kenyataan yang ia terima ini, kehadirannya akan memperumit keadaan karena Mela tidak akan bebas meluapkan perasaan yang sedang ia rasakan. Bersamaan dengan Teguh dan Siska akan meninggalkan rumah Mela, Aqil datang membawakan tas Mela beserta dua kotak salad buah di tangannya. Siska kembali masuk dan memberikannya kepada Mela, kemudian mereka kembali ke kantor setelah memastikan kalau Mela sudah bisa ditinggal sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN